NovelToon NovelToon
Takdir Di Ujung Janji

Takdir Di Ujung Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Menikahi tentara
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: NonaAns

Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.

***

Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 : Vidio Viral

"Dokter Aira, ada pasien kecelakaan dua menit lagi sampai! Siapkan bed dan peralatannya!" ucap Genta usai menerima panggilan telepon dari ambulance yang akan menuju ke Rumah Sakit Pelita.

Aira berujar siap. Ia segera berlari membawa brangkar IGD dan menunggu di lobi IGD. Tak berselang lama, sebuah ambulance melaju kencang dan berhenti tepat di depan lobi IGD.

"Pasien tidak sadarkan diri. Saturnasi oksigen rendah dan ada besi yang menancap di leher pasien," ucap petugas ambulance memberikan laporan kondisi pasien pada Aira.

Aira mengangguk paham. Ia meminta salah seorang perawat senior untuk memegangi benda asing menancap itu.

"Ganjal dengan kassa! Cepat! Jangan sampai besinya bergeser satu mili pun!" ucap Aira dengan suara lantang.

Petugas IGD segera melakukan perintah Aira. Memberikan kassa tebal dan menekan luka di bagian leher pasien agar besi yang menancap tidak bergeser. Aira dan perawat lainnya memindahkan pasien ke brangkar IGD dan mulai melakukan pemeriksaan dengan cepat.

Aira mengambil senter kecil, mulai melihat kedua mata pasien, mengamati kuku, dan bibir pasien, lalu mendekatkan telinganya ke hidung dan mulut pasien.

"Bersiap untuk intubasi! Mbak Rita! Segera hubungi dokter bedah, pasien butuh eksplorasi leher darurat!" ucap Aira memberikan arahan usai melakukan pengamatan dan pemeriksaan singkat.

Ia melakukan prosedur intubasi agar membantu pasien agar dapat bernapas kembali. Keringat membasahi wajah dan tubuh Aira. Berhadapan dengan pasien gawat darurat dan berada di ujung maut memang membuat adrenalin bermanuver cepat.

"Mbak Rita, segera hubungi ruang OK," ucap Aira seraya menekan kantong udara konstan sesuai dengan denyut nadi pasien.

"Dek Alma, ambil 4 kantong darah uncrossed O - pos sekarang! Kita nggak ada waktu untuk crossmatch! Pasien darurat dan sudah kehilangan banyak darah," lanjut Aira tegas.

Aira melirik jam tangannya. Satu menit berlalu, tapi ia belum mendapat laporan apapun dari ruang operasi.

"Mbak Rita, gimana ruang OK? Sampaikan kalau ada pasien gawat darurat harus segera ke OK 1!" Teriak Aira tegas.

"Belum ada respon, Dok!"

"Ergh!" Aira menggeram kesal. Ia meminta perawat lain untuk memegang kantong intubasi sementara itu Aira menghubungi ruang operasi dengan bersungut-sungut.

"Butuh OK segera, Mbak! Pasien darurat! Nggak bisa CT Scan, kondisi pasien nggak stabil. Kalau tim OK siap, saya dorong pasiennya sekarang!" ucap Aira tegas.

Aira membuang napas kasar. Ia meminta Rita untuk menunggu panggilan telepon dari ruang operasi. Aira kembali pada pasiennya, memeriksa kembali saturnasi oksigen dan denyut nadi pasien.

"OK 1 siap! Dokter Alina, standby!" ucap Rita.

Tanpa menunggu, Aira bersama dua orang perawat lainnya mendorong bangkar pasien ke ruang operasi.

"Wah, chaos sekali," ucap Alina saat melihat kondisi pasien dengan besi yang menancap di lehernya.

Aira mengangguk. Ia memberikan laporan singkat mengenai kondisi pasien seraya menekan kantong intubasi sebelum pasien masuk ke ruang tindakan.

Alina melepaskan kantong intubasi itu, lalu menyerahkannya pada perawat di ruang bedah.

"Aira, kami kekurangan orang. Entah mengapa hari ini banyak sekali operasi. Jadi asop (asisten operasi 2)," ucap Alina seraya mencuci kedua tangannya.

Aira tertegun. Ia terdiam sejenak.

"Boleh, Dok?"

Alina tersenyum. Ia mempersilakan Aira untuk mencuci tangan dan mempersiapkan diri menuju ruang operasi.

"Perkenalkan ini Dokter Aira. Dokter IGD. Anak buah Dokter Genta. Dia saya perbantukan jadi asop 2. Kamu bisa sambil belajar,Aira. Mana tahu setelah ini mantap merapat ke bedah," ucap Alina.

Aira tersenyum di balik masker operasinya. Operasi pun dimulai. Bius diberikan perlahan oleh dokter anestesi. Beberapa kantong darah sudah dipersiapkan.

"Prosedur MTP (Massive Transfusion Protocol), Dok?" tanya Dokter Anestesi saat membantu meremas kantong darah pasien.

Alina menatap Aira yang sedang bersiap memegang suction.

"Good job, Dokter. Keputusan melakukan MTP keputusan bagus," lanjut Alina seraya menatap jaringan tubuh pasien yang terluka. Mencari pembuluh darah arteri karotis dan vena jugularis di bawah luka untuk memasang vascular clamp agar saat besi yang menancap itu dicabut, pasien tidak terlalu kehilangan banyak darah.

"Bersiap untuk prosedur pencabutan. Dokter Aira siap-siap untuk suction. Bu Wida, kassa jangan sampai habis!" ucap Alina tegas.

Alina berpindah posisi mendekati Aira dan mencoba melihat posisi besi. Ia tampak menahan napas sejenak dan memposisikan kedua tangan pada besi. Alina mencabut besi perlahan-lahan, seiring dengan itu darah segae mulai merembes dari samping besi.

"Suction."

Setelah besi dapat dikeluarkan seluruhnya, Alina dengan cekatan melihat kondisi luka dan menjahit pembuluh darah yang rusak. Semua yang dilakukan Alina tidak lepas dari pengamatan Aira. Sudah sejak lama Aira mengagumi sosok istri seniornya itu.

Operasi berjalan lancar meski memakan waktu cukup lama. Namun, Aira lega karena kondisi pasien stabil.

"Kerja bagus, Dokter Aira," ucap Alina usai melepas jas operasi dan membersihkan diri.

"Terimakasih untuk kesempatannya, Dok."

Alina tersenyum. Ia menepuk bahu Aira beberapa kali sebelum melangkah pergi.

Aira mengangkat kedua tangan keatas melakukan peregangan setelah kondisi chaos tadi. Aira menatap keluar jendela, hari sudah gelap dan waktu menunjukkan pukul 19.00. Ternyata ia sudah melewati jam jaganya.

Aira berlari menuju ruang IGD. Aira merasa heran saat beberapa perawat yang bertugas di sana menatapnya dengan sorot mata yang sedikit mengganggu. Aira sempat bingung, tapi tidak ia hiraukan. Aira pun menuju ruang loker. Mencari ponselnya, tapi di ruang kerja Genta ia melihat Genta dan Sinta juga menatapnya dengan sorot yang tidak biasa.

Aira mengerutkan dahi saat Sinta mendekat ke arahnya.

"Ada apaan? Gue dicari Dokter Genta? Tadi diminta asops sama Dokter Alina," ucap Aira seraya tersenyum.

Senyum Aira memudar saat raut wajah Sinta tidak berubah dan justru tampak makin serius. Sinta juga menyeret Aira menuju ruang loker dan tidak biasanya gadis itu menutup ruang loker dan menguncinya.

"Ada apa, Sin? Kok dikunci?" tanya Aira heran.

Sinta menatap Aira lekat-lekat. Beberapa kali ia menggigit bibir bawahnya, ragu dengan yang akan ditanyakannya.

"Ada apa? Lo nggak usah bikin gue takut, deh!" ucap Aira sedikit kesal.

"Lo udah tahu?"

"Tahu apa? Dari tadi gue di ruang OK nggak tahu apa-apa," jawab Aira bingung. "Lo nggak usah bikin penasaran, deh? Apaan sih?"

Sinta mengeluarkan ponselnya. "Lo duduk dulu, deh. Pesen gue, lo harus tetap tenang. Oke?"

Aira kian mengerutkan dahi usai ia duduk di bangku. Ponsel pun ditunjukkan dan sebuah headline besar membuat napas Aira tercekat.

Breaking News : Seorang Perwira menghamili mahasiswi. Kabur saat diminta tanggung jawab.

Mata Aira membulat saat ia melihat sebuah vidio berdurasi lima menit. Vidio yang berlatar cafè itu diunggah sekitar dua jam yang lalu dan langsung ramai di jagad maya. Aira memicingkan matanya. Meski wajah sang perwira dan mahasiswi disamarkan, tapi Aira dapat membaca nametag di dada kanan sang perwira yang bertuliskan 'Baskara'.

Aira membekap mulut dengan tangannya. Napasnya terasa sesak. Ia tersenyum miris. Ia ingat betul siapa mahasiswi yang dimaksud dalam vidio tersebut. Pakaian yang dikenakan masih sangat Aira kenal.

"Ini nggak mungkin Baskara, kan?" tanya Aira dengan suara bergetar.

"Gue nggak tahu mau bilang apa, tapi nama di dada kanannya nggak bisa bohong, Ra. Lo ingat, kan, tadi pagi waktu kita ketemu Baskara sama anak Danyon itu? Pakaian mereka sama, Ra," ucap Sinta pelan.

Aira menahan napas sejenak. Ia mengerjap beberapa kali mencoba untuk memahami keadaan yang terjadi. Ia cepat-cepat berdiri dari tempatnya dan mengambil ponsel yang ia simpan di dalam loker. Tangan Aira gemetar, jantungnya berdegup kencang saat ia mengaktifkan ponselnya, banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari keluarganya. Namun, satu nama yang ia cari dari sekian banyak pesan yang masuk, Baskara.

Aira fokus pada ponselnya, mengulir hingga ke atas beberapa pesan masuk pada ponselnya.

13.20

Baskara : Bisa aku menelpon?

13.30

Baskara : Tolong jawab teleponku.

14.00

Baskara : Ai, tolong angkat teleponku.

15.00

Baskara : Lebih baik, untuk sementara jangan datang ke asrama. Tinggallah di rumah mama sampai aku menjemputmu.

15.45

Baskara : Ai, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menyeretmu dalam masalah ini.

___________________

1
Ema Soleha
ceritanya bagus,tapi iklanya MasyaAllah....bikin nyebut,iklanya udah ngelebihi apliksi novel berbayar
Ana Dww
/Sob/maaf bas, wanita punya prinsip sedia payung sebelum hujan walau itu kemarau
NonaAns: 🤣 iya lagi wkwkwkwk
total 1 replies
Nasyya
👍🏻👍🏻
Nasyya
wadidauw 🤣
Ana Dww
waittt!
Ana Dww
kalau nggak, paling parah jelita hamil anak orang😶
Ana Dww
ya emang jelita bohong!
Ana Dww
/Determined/
Ana Dww
😭😭😭😭 Istri lo abis ngamukkk
Ana Dww
tetap negatif thinking jelita bohong karena suka ibasss
Ana Dww
😭😭😭
Agustinus Wisnugroho
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!