NovelToon NovelToon
Wanita Miskin Pengganti Nyonya Mahesa

Wanita Miskin Pengganti Nyonya Mahesa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Duda
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Quin

Nadira, gadis miskin dari desa, datang ke kota demi biaya pengobatan ibunya. Hidupnya berubah ketika ia menemukan seorang wanita tewas di pinggir jalan dan tanpa sengaja menjadi tersangka pembunuhan karena DNA-nya ditemukan di tubuh korban.

Korban itu adalah Nayla Adiprana, istri Mahesa Adiprana, pengusaha kaya yang dipenuhi duka dan amarah. Sebagai hukuman, Mahesa memaksa Nadira menikah dengannya dan hidup menderita di rumahnya.

Namun seiring waktu, Mahesa mulai melihat ketulusan Nadira yang merawat putranya dengan penuh kasih. Saat benih cinta tumbuh, kebenaran mengejutkan terungkap.

Akankah Nadira memaafkannya atau justru Nadira akan menjauh darinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10

Lima hari kemudian

Bi Siti terlihat merawat Nadira di rumah sakit. Sudah lima hari berlalu, tubuh Nadira semakin membaik. Nadira sudah bisa berjalan dan bergerak. Selama lima hari ini ia di jaga oleh bi Siti. Sementara Mahesa, dia tak pernah terlihat lagi setelah pertemuan terakhir lima hari yang lalu.

Nadira merasakan kebebasan, ia bisa bernafas lega dan bahkan bisa menghubungi ibunya dengan ponsel bi Siti. Nadira bersyukur ternyata Mahesa belum mengatakan yang sebenarnya pada ibunya.

Nadira penasaran kemana Mahesa, pasalnya pria itu tidak mungkin membiarkan nya bebas begitu saja. Selama bi Siti di sini Nadira tak pernah menanyakan tentang Mahesa, dan bi Siti juga tidak menceritakan apapun tentang pria itu.

Terlintas rasa penasaran di hati Nadira tentang keberadaan Mahesa.

Nadira memutuskan untuk bertanya.

" Bi, kemana tuan Mahesa? Apa dia sudah membebaskan ku?."

Bi siti meletakkan buah yang sedang ia kupas.

" Sejak lima hari ini, tuan Mahesa sedang menjaga tuan muda Keano di rumah sakit. Tuan muda selalu menangis hingga ia sakit. Sekarang tuan Mahesa ada di lantai bawah rumah sakit ini." Ujar bi Siti.

Nadira terkejut, ternyata Mahesa juga ada di sini, dan putranya sedang sakit.

Nadira terbayang wajah polos dan imut bayi itu, ia merasa kasihan saat mendengar bayi itu sedang sakit.

" Lalu bagaimana keadaan bayi itu bi? Apa dia sudah sembuh?."

Bi Siti menggeleng dengan sedih. " Bagaimana mau sembuh, setiap saat selalu menangis hingga suaranya hilang. Bibi sangat kasihan padanya. Tak ada yang bisa menenangkannya." ujar bi Siti.

Nadira semakin merasa kasihan, ia ingat saat ia menggendong bayi itu, dia langsung berhenti menangis. Terbesit rasa ingin membantu dari Nadira, tapi ia masih trauma dengan kejadian yang menimpanya.

" Bi, apa yang terjadi setelah aku dibawa ke rumah sakit?". Tanya Nadira penasaran.

Bi Siti kembali menghentikan aktifitasnya. " Tuan telah menghukum satpam itu dua kali lipat. Dia di pukuli dengan tongkat yang memukul anda sebanyak seratus kali. Tuan Mahesa sendiri yang melakukannya. Kemudian dia di kurung dalam gudang tanpa diberi makanan selama dua hari. Setelah itu dia di pecat dan di usir. Kalau nyonya besar, dia juga mendapat hukuman karena tidak mendengar perintah tuan Mahesa. Nyonya besar tidak diizinkan meninggalkan rumah selama sebulan, dan nyonya besar tidak dibiarkan memerintah pelayan, nyonya besar harus melakukan semua pekerjaan dan kebutuhannya sendiri seperti memasak, mencuci baju dan lain lain."

Nadira terkejut, ternyata Mahesa membalas perbuatan ibunya dan juga satpam itu. " Apa dia membelaku?."

***

Hari sudah berganti malam, Nadira sangat gelisah. Pikirannya masih mengarah pada bayi mungil itu. "Dia masih kecil, aku sangat khawatir. Apa aku datang saja menemuinya?." Nadira begitu bimbang.

Kemudian ia teringat dengan Mahesa yang membelanya. " Aku tidak mengerti kenapa dia melakukan itu padaku. Walaupun dia kejam, tapi bayinya hanyalah anak yang tidak tahu apa apa. Aku harus menemuinya." gumam Nadira.

Ia menatap bi Siti. " Bi, di ruang mana putra tuan Mahesa di rawat?."

" Nadira mau ke sana?." tanya bi Siti panik.

" Iya, saya mau lihat bayinya."

" Sebaiknya jangan Nadira, tuan Mahesa akan marah, nanti kamu di hukum lagi." ujar bi Siti khawatir.

Nadira tersenyum. " Aku tidak akan mendekat bi, aku hanya melihat dari jauh."

Bi Siti tak punya pilihan, ia akhirnya menuntun Nadira ke ruang perawatan Keano.

Tak berselang lama mereka tiba di depan ruangan, Nadira melihat dari balik kaca pintu. Ia bisa melihat Mahesa yang sangat kacau, keadaannya tidak baik baik saja. Mahesa terlihat lesu, sementara bayi yang ada di atas gendongan pengasuh terlihat masih menangis.

Hati Nadira kembali merasakan iba melihat keadaan bayi itu.

Nadira melihat Mahesa yang tertidur di sofa, kemudian matanya beralih pada bayi yang sedang di tenangkan oleh pengasuh.

Bayi itu terus saja menangis, Nadira tak tega melihatnya.

Nadira akan masuk, tapi tangannya di tahan oleh bi Siti.

" Jangan masuk Nadira, kamu akan kena masalah lagi." ujar bi Siti khawatir.

" Hanya sebentar bi, tuan Mahesa juga sedang tidur dia tidak akan tahu."

Bi Siti melepaskan tangannya, ia membiarkan Nadira masuk walaupun kekhawatiran melanda hatinya.

Nadira memasuki ruangan, tak lupa ia menutupnya kembali.

" Bisa aku gendong dia?." tanya Nadira pada wanita yang sepertinya seorang pengasuh itu.

" Tuan muda sedang sakit, saya tidak bisa memberikannya pada anda." tolak sang pengasuh.

" Aku...bibinya." ujar Nadira.

Sang pengasuh menatap Mahesa yang sedang tertidur di sofa, kemudian ia memberikan Keano pada Nadira.

Tubuh Keano sudah merah karena terus menangis.

Nadira menggendong Keano, kemudian mulai mengarahkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri seperti mengayun pelan. Ia juga bernyanyi kecil sambil menepuk nepuk bokong Keano dengan pelan.

Sang pengasuh mulai khawatir, ia takut Mahesa akan bangun.

Tapi setelah beberapa saat kekhawatiran nya hilang karena Keano mulai berhenti menangis. Keano bahkan mulai tertidur mendengar nyanyian merdu dari Nadira.

Bi Siti yang melihat dari luar merasa heran karena Keano langsung berhenti menangis saat Nadira menggendongnya.

Sang pengasuh juga sama herannya, Keano begitu tenang di gendongan Nadira.

"Tidurlah bayi kecil, jangan menangis lagi ya... semuanya akan baik baik saja...anak baik...sudah tidur ya..."

Mahesa dapat mendengar suara Nadira, ia kemudian membuka mata perlahan. Tak ada suara tangisan bayi, yang ada hanya nyanyian kecil dari seorang wanita.

" Nadira..." gumamnya pelan.

" Keano... berhenti menangis?." Mahesa terlihat tak percaya dengan apa yang terjadi. Keano bahkan tertidur dalam gendongan Nadira.

Nadira belum menyadari Mahesa sudah terbangun.

" Dia sudah tidur, letakkan dia di ranjangnya." Nadira memberikan Keano kembali pada pengasuh karena Keano sudah tidur.

Tangan pengasuh terulur, ia mengambil Keano. Tapi tak berselang lama Keano kembali terbangun dan menangis.

Nadira panik, ia kembali membawa Keano kedalam pelukannya. Ajaib sekali, Keano langsung berhenti menangis dan kembali tidur.

Mahesa menutup mulutnya dengan tangan, ia tak pernah melihat kejadian seperti itu. "Nadira...disukai Keano..."

" Bobok ya sayang, jangan menangis lagi. Kamu sudah capek nangis terus. Suaranya juga sudah mulai hilang..." ucap Nadira lembut.

Namun saat sedang mengayunkan badannya, Nadira melihat Mahesa sudah terbangun dan menatap ke arahnya. Nadira panik, ia mulai merasa takut.

" Aku...hanya ingin membantu... Aku tidak..."

" Lanjutkan, aku mengizinkan mu menggendongnya." Mahesa memotong ucapan Nadira.

Nadira menatap tak percaya, Mahesa mengijinkan nya menggendong putranya. Padahal saat terakhir kali ia menyentuh bayi itu, ia di hukum.

" Mulai sekarang...kamu yang jaga Keano!."

Nadira terkejut, Mahesa memintanya untuk menjaga Keano. Padahal Mahesa sudah menuduhnya sebagai seorang pembunuh.

Mahesa berdiri, ia berjalan pelan ke arah Nadira. Kemudian mencium Keano yang tertidur di dalam gendongan Nadira.

" Putraku sudah sakit sejak lima hari yang lalu, dia terus menangis hingga demamnya tidak turun turun. Tak ada yang bisa menenangkannya seperti ini. Kamu...telah memenangkannya dengan mudah. Aku... berterimakasih padamu." ucap Mahesa.

Nadira mematung, ucapan Mahesa terdengar tulus. "Apa dia sudah tidak menganggap ku sebagai pembunuh!."

" Tapi, jangan salahgunakan kepercayaan ku. Kalau sampai kamu mencelakai putraku, aku tidak akan segan membunuhmu!."

Deg

Nadira menelan ludah dengan susah payah.

Mahesa kembali duduk di tempatnya, ia kemudian memerintahkan pengasuh untuk meninggalkan ruangan itu.

Kini tinggal Nadira, Mahesa, dan bayi mungil dalam pelukan Nadira dalam ruangan itu.

" Duduk di sampingku!."

1
NN
lanjut
Quin: okeyy best👍😍
total 1 replies
Ma Em
Semoga kebenarannya segera terungkap agar Nadira bisa cepat bebas dari siksaan Mahesa , dan bisa pulang kerumah ibunya .
Quin: terimakasih 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!