Demi menghindari perjodohan gila dengan rentenir tua pilihan ibu tirinya, Alana nekat menyewa seorang pria asing di pinggir jalan untuk menjadi suami pura-puranya dengan bayaran 5 juta sebulan. Pria itu tampak seperti pengangguran tampan yang sedang butuh tempat sembunyi.
Alana bekerja keras siang malam untuk menghidupi "suami miskinnya" itu. Ia bahkan rela membelikan pria itu kemeja obralan agar terlihat rapi saat menemaninya.
Namun, Alana tidak pernah tahu bahwa pria yang setiap malam tidur di sofa sempit apartemennya adalah Xander, pemimpin kartel mafia paling ditakuti sekaligus CEO triliuner yang kekayaannya tak berseri. Saat keluarga tiri Alana mencoba menginjak-injak hidup gadis itu, mereka tidak sadar bahwa mereka telah membangunkan iblis kejam yang sedang menyamar.
"Siapa pun yang berani menyentuh milikku, bersiaplah kehilangan nyawa." — Xander.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Malam Pertama di Istana Leonidas
Deru baling-baling helikopter perlahan mereda saat burung besi itu mendarat kembali di atas helipad atap kediaman utama Leonidas. Perjalanan pulang dari dermaga barat dilalui dalam keheningan yang sarat akan ketegangan emosional. Alana menatap jemarinya yang bertumpu di pangkuan. Rasa lega karena runtuhnya Melinda masih menyisakan sedikit debaran aneh di dadanya. Pikirannya beralih pada kalimat terakhir yang diucapkan Xander sebelum mereka meninggalkan dermaga tadi.
Di kamar kita.
Xander turun terlebih dahulu, lalu dengan gerakan posesif yang mulai terasa familier, ia menuntun Alana menyusuri lorong-lorong megah istana hingga kembali ke depan pintu ganda kamar tidur utama. Begitu melangkah masuk, suara pintu yang menutup otomatis di belakang mereka terdengar bagaikan ketukan vonis bagi jantung Alana.
Suasana kamar kini jauh lebih remang. Lampu kristal besar telah dimatikan, digantikan oleh pencahayaan hangat dari lampu tidur tersembunyi yang memancarkan aura intim.
Alana langsung berjalan menuju balkon, mencoba mencari udara segar demi mendinginkan wajahnya yang mendadak terasa panas. Angin malam berhembus lembut, memainkan helai-helai rambut indahnya. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Ia bisa merasakan kehadiran sesosok tubuh tegap yang perlahan mendekat dari arah belakang.
GREP.
Sepasang lengan yang kokoh dan hangat tiba-tiba melingkar sempurna di pinggang ramping Alana. Xander menyandarkan dagunya di bahu kecil Alana, menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya yang menenangkan. Tubuh Alana menegang seketika, namun anehnya, ia tidak menolak dekapan tersebut.
"Kau masih gemetar, Istriku," bisik Xander dengan nada suara baritonnya yang rendah dan serak, bergetar tepat di dekat daun telinga Alana. "Apakah udara malam ini terlalu dingin, atau kau masih takut padaku?"
Alana menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberaniannya yang sempat tercecer. Ia memutar tubuhnya di dalam kungkungan lengan Xander, terpaksa mendongak untuk menatap langsung sepasang mata obsidian yang selalu tampak misterius itu.
"Aku tidak takut padamu, Rexander," ucap Alana tegas, meskipun detak jantungnya berkata sebaliknya. "Aku hanya... masih tidak percaya dengan semua ini. Dua puluh empat jam yang lalu, aku hanyalah seorang desainer junior yang dikejar-kejar hutang ibu tiri. Dan sekarang, aku berdiri di istana ini, menyandang nama belakangmu."
Xander menatap lurus ke dalam manik mata Alana. Ibu jarinya bergerak lembut, mengusap bibir mungil Alana yang tampak sedikit pucat.
"Dunia ini bergerak sangat cepat bagi mereka yang memiliki kuasa, Alana," sahut Xander dengan intensitas yang mendalam. "Dan mulai saat ini, kau harus terbiasa berjalan di sampingku dengan kecepatan yang sama. Kau bukan lagi korban dari kekejaman orang lain. Kau adalah pelindung mereka, karena kau memegang kendali atas diriku."
Alana tertegun mendengar kalimat terakhir pria itu. "Memegang kendali atas dirimu? Pria berkuasa sepertimu tidak akan pernah bisa dikendalikan oleh siapa pun, Xander."
Xander tersenyum miring, sebuah seringai tipis yang sarat akan pesona maskulin. Ia meraih tangan kanan Alana, lalu menempelkan telapak tangan kecil gadis itu tepat di atas dada kirinya. Di balik kemeja sutra mahal yang tipis, Alana bisa merasakan detak jantung Xander yang berdegup dengan ritme yang sangat kuat dan konstan.
"Jantung ini semalam berdegup kencang bukan karena ancaman tiga algojo Bahar," bisik Xander, menundukkan wajahnya hingga jarak di antara bibir mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. "Tapi karena melihat seorang gadis kecil dengan berani berdiri di depanku, mencoba melindungiku dengan tubuh mungilnya. Sejak detik itu, Rexander Leonidas sudah menyerahkan kendali hidupnya kepadamu, Nyonya Leonidas."
Kata-kata itu bagaikan sihir yang meruntuhkan sisa-sisa dinding pertahanan di hati Alana. Rasa asing dan curiga yang sempat ia rasakan perlahan menguap, digantikan oleh kehangatan aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Pria di depannya ini mungkin adalah iblis yang kejam bagi musuh-musuhnya, namun di dalam kamar ini, ia hanyalah seorang suami yang menatap istrinya dengan penuh pengabdian mutlak.
Xander melepaskan pelukannya di pinggang Alana, lalu berjalan mendekati meja rias mewah yang terbuat dari kayu mahoni. Ia membuka sebuah laci kecil dan mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam berukuran sedang. Pria itu kembali mendekati Alana dan membuka kotak tersebut di hadapannya.
KILAU.
Di dalam kotak itu, terletak sebuah kalung mahakarya dengan mata berlian biru berukuran besar yang dikelilingi oleh ratusan berlian putih kecil. Potongannya begitu sempurna, memancarkan cahaya yang sangat memukau di bawah temaramnya lampu kamar. Sebagai seorang desainer perhiasan, Alana langsung tahu bahwa benda di depannya ini adalah The Blue Hope, salah satu permata paling langka dan paling mahal di dunia yang sempat dinyatakan hilang dalam lelang internasional tahun lalu.
"Ini... ini permata legendaris itu?" Alana menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya berbinar takjub.
"Ini adalah hadiah pernikahan resmi dariku," ucap Xander sembari mengeluarkan kalung itu dari kotaknya. Ia memberi isyarat agar Alana berbalik menghadap cermin besar di balkon.
Dengan gerakan yang sangat lembut, Xander menyibakkan rambut panjang Alana ke samping, lalu memasangkan kalung mewah itu di leher jenjang sang istri. Dinginnya logam mulia itu kontras dengan sentuhan jari-jari hangat Xander yang sempat menyapu kulit lehernya, membuat Alana merinding pelan.
Xander menatap pantulan diri mereka di cermin. Kombinasi antara kecantikan alami Alana dan kemegahan berlian biru itu menciptakan perpaduan yang sangat sempurna.
"Sangat indah," puji Xander tulus, matanya terkunci pada pantulan wajah Alana. "Perhiasan ini akhirnya menemukan pemilik yang pantas."
Alana menyentuh permata biru di dadanya, lalu menatap pantulan mata Xander di cermin. "Terima kasih, Xander. Ini terlalu mewah untukku."
"Tidak ada yang terlalu mewah untuk istriku," sahut Xander mutlak. Pria itu kemudian membalikkan tubuh Alana kembali menghadapnya, lalu mengangkat tubuh mungil gadis itu dalam satu gerakan halus, membawanya menuju ranjang king size yang empuk.
Alana memejamkan matanya saat tubuhnya menyentuh kasur sutra yang lembut. Malam ini, di bawah perlindungan sang penguasa dunia bawah, Alana akhirnya bisa tidur dengan perasaan aman yang sesungguhnya, mengetahui bahwa tidak akan ada lagi hari esok yang dipenuhi oleh ketakutan.
Namun, saat sinar matahari pagi keesokan harinya mulai menyelinap masuk dari celah gorden, sebuah realitas baru sudah menanti Alana. Hari ini adalah hari pertamanya kembali ke kantor Viora Jewelry, bukan lagi sebagai desainer junior yang bisa ditindas, melainkan sebagai istri sah dari pemilik tertinggi perusahaan tersebut.
(Bersambung...)