Rafael Adinata, adalah aktor terkenal yang terjerat skandal memalukan dengan aktris pendatang baru.
Rafael terpaksa menikah dengan wanita biasa demi menyelamatkan reputasinya. Gita Larasati, seorang editor buku yang hidupnya sederhana. Dengan terpaksa menerima tawaran Rafael pernikahan kontrak dengan sang aktor demi melunasi hutang keluarga.
Sebuah pernikahan dimulai, tanpa cinta hanya sebatas hitam diatas putih.
Mampukah Rafael dan Gita menjalani pernikahan kontrak mereka yang penuh liku-liku? berpisah setelah masa kontrak habis, atau justru saling jatuh cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSYILA qirani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : Teror
Di luar hujan rintik-rintik saat jam kantor usai, orang-orang mulai merapikan meja kerjanya dan bersiap untuk pulang. Sedangkan Gita, masih duduk dikursinya sambil menatap layar kosong. Jarinya dingin dan kepalanya berat sejak siang tadi.
"Git" Diana menepuk pundak Gita pelan, ia sedikit tersentak.
"Lo gak pulang?" tanya Diana lagi, "Muka Lo pucat banget, mau gue anter ke klinik?" tanya Diana khawatir, dari jauh nampak Sella melenggang.
"Serius Git, muka Lo kayak mayat hidup!" celetuk Sella.
"dih lebay." Gita tertawa menanggapi.
"Bukan lebay, makanya pulang yuk. Gak usah lembur nanti malah yang ada Lo pingsan lagi." Diana mengajak Gita pulang.
"beneran gue, gak apa-apa kok." Gita tersenyum ia beruntung mempunyai teman-teman yang sangat peduli padanya.
"bener ya, kalo Uda nyampe rumah chat gue!" perintah Diana. Gita hanya mengacungkan jempolnya tanda oke.
Setelah sella dan Diana pergi, ruangan menjadi sunyi hanya tinggal Gita sendiri. Ia menekankan tombol shut down pada komputernya, lalu merapikan. Meja dan memasukan barang-barangnya ke dalam tas.
Saat ia berdiri, matanya tanpa sengaja menangkap Arjusena yang sedang mengobrol dengan manager di ujung ruangan. Pria itu tertawa santai. Mata mereka bertemu. Gita langsung menundukkan pandangan. Bagaimana tersengat listrik, Gita mulai gemetar. Ia berjalan cepat menuju lift. Butuh beberapa waktu hingga pintu lift terbuka, dengan panik Gita menekan tombol agar pintu lift tertutup.
Namun sebuah tangan dengan jam tangan berantai perak, menahan pintu lift. Mata Gita membola, pria dengan rambut sedikit berantakan berdiri dihadapannya. Senyum miring khas pria itu membuat Gita mual, Arjusena.
"kamu menghindar dari saya?" Arjusena bertanya mengintimidasi Gita.
Gita menggenggam erat tali tasnya, lalu mundur beberapa langkah kebelakang. Arjusena berjalan mendengan, suara sepatunya terdengar mencekam ditelinga Gita
"kamu takut sama saya?" Tanya Arjusena berbisik tepat di telinga Gita, membuat Gita semakin merinding.
"Maaf pak," Gita mendorong Arjusena keras, tapi Arjusena hanya terhuyung beberapa langkah. Wajahnya mengeras emosi. Diraihnya tangan Gita kasar. Gita ketakutan ia hanya menunduk gemetar.
"beraninya kamu....." belum sempat meneruskan kata-katanya suara lift berdenting. Lift sampai di basement, Gita terselamatkan. Ia berlari kecil menuju tempat motornya terparkir. Suasan ramai pegawai. Gita yakin Arjusena pasti tidak akan berani macam-macam.
Hujan mulai turun semakin deras. Jakarta malam itu sedikit macet dan penuh dengan suara klakson. Gita mejalankan motornya pelan-pelan.
Namun perasaannya tidak tenang ia seperti sedang di perhatikan. Gita melirik kaca spion, mobil hitam berjalan dibelakang motornya. Awalnya Gita berpikir itu hanya kebetulan saja. Tapi saat ia berbelok ke arah lain, mobil itu tetap mengikuti. Napas Gita mulai memburu.
"Nggak.... nggak mungkin." gumamnya pelan.
Tangannya tiba-tiba kram, jarak mobil itu semakin dekat. Gita panik dan hampir saja kehilangan fokus. Dan tiba-tiba ponsel dalam saku jaketnya bergetar. Mata Gita mengedar di sekitar. Ia melihat minimarket yang cukup ramai karena banyak orang berteduh disana. Gita memarkirkan sepeda motornya di halaman minimarket, dengan lutut gemetar ia memasuki minimarket.
Napas Gita naik turun.
Panggilan masuk.
Rafael
Gita segera mengangkatnya.
"halo" sapa Rafael diseberang sana.
"baru pulang?"tanya Rafael suaranya terdengar berat disana cukup berisik.
"iya."
"suara kamu kenapa?" Gita otomatis melihat kearah jalan.
Mobil hitam itu berhenti tak jauh dari mini market. Napas Gita terasa sesak.
"Git?"
"Aku....kayaknya ada yang ngikuti aku." suara Gita parau, sontak membuat khawatir
"Kamu sekarang dimana?" tanya Rafael ia memegang pelipisnya, syutingnya baru kelar besok siang tidak mungkin ia pulang begitu saja.
"Supermarket."
"oke jangan pulang dulu. Pokoknya kamu harus ditempat ramai." Rafael mengintruksi.
"Tapi...." suara Gita terdengar serak, Rafael yakin Gita sedang ketakutan sekarang.
"Gita dengarkan aku, jangan kemana-mana tunggu sampai aman yang ngikutin kamu gak bakal berani kalo banyak orang." Gita tidak menjawab.
"kalo sudah dirasa aman, kamu pesan ojol buat anterin kamu sampai apart. Oke." Rafael melanjutkan instruksinya.
"Rafael .... Aku takut." kalimat itu membuat dada Rafael seperti remas keras, tangan Rafael mengepal ia hanya bisa khawatir dan mondar-mandir di lokasi syuting.
"Rafael ayo mulai syuting, seorang kru berteriak padanya." Rafael menganggung, ia harus selesaikan syutingnya hari ini, agar ia bisa pulang ke Jakarta besok.
"Git, ingat kata-kataku. oke. Tenang jangan panik oke, aku tutup dulu telponnya." sudut mata Gita masih mengamati jalanan dekat supermarket dimana penguntit itu, memarkirkan mobilnya. Cukup lama, akhirnya mobil itu jalan. Gita segera, pesan ojol seperti apa yang di perintah oleh Rafael.
***
Gita menarik selimut hingga ke leher, sejak semalam tubuhnya menggigil. Tenggorokannya terasa sakit dan badannya demam. Sialnya Gita tidak siap Paracetamol di rumah. Sepertinya karena kehujanan kemarin. ingin rasanya terpejam lagi tapi tenggorokannya kering kerontang. "Bahkan mengambil minum saja tidak ada tenaga " gerutu Gita.
Gita meneteskan air mata, ia teringat ibunya. Ia pasti akan jadi gada terdepan saat Gita seperti ini. Ia juga rindu Anin yang pastinya ia bisa suruh-suruh. Suara tangisnya semakin nyaring, ia ingin melepaskan semua beban di hatinya. karena kelamaan menangis tubuh Gita menjadi semakin lemah dan akhirnya tertidur.
...****************...
Syuting scene di Bali selesai, Rafael memicingkan mata debur ombak pantai Kuta sangat indah. "Kapan-kapan ia ingin mengajak Gita kemari." pikirnya. Rafael tersadar sejak kapan ia jadi peduli dengan perempuan itu. Ujung bibirnya tertarik ke bawah. " mungkin karena dia memang gampang iba dengan semua orang, ya benar seperti itu.
"Pesawat berangkat jam berapa?" tanya Rafael, kini ia sudah sampai di hotel. Andra memasukkan barang pribadi Rafael ke dalam koper, sedangkan Rafael duduk di sofa hotel sambil menikmati kopi yang ia pesan.
"Jam 3 harus sudah sampai bandara " jawab Andra.
"Lo kenapa gak cari assisten aja sih, kerjaan gue jadi dobel-dobel gajian tetep single." Rafael mencebik.
"Ya makanya kalo cariin gue assisten itu yang bener, dan jangan cari asisten cewek." Rafael memperingatkan.
"oke siap bos!" ucap Andra sambil menutup koper.
Satu jam perjalanan Jakarta-Bali dengan pesawat dan satu jam perjalanan dari bandara ke apartemen Rafael. Cukup membuatnya sakit pinggang. Matahari sudah mulai terbenam saat Rafael sampai apartemen. "Sepi, sepertinya Gita belum pulang." gumam Rafael. Lalu terdengar suara batuk dari dalam kamar Gita.
Rafael, mendekatkan telinganya ke pintu kamar. Suara batuk lagi, "Git," Rafael membuka pintu perlahan. Melihat Gita terbaring lemah dengan wajah pucat membuat Rafael panik. Ia tidak punya obat atau apa.
Rafael meraba kening Gita tangannya terasa terbakar panas sekali.
"CK...kalo deman kenapa malah nyalain AC nya." omel Rafael sambil mematikan AC kamar Gita. Lalu ke dapur menyiapkan air hangat dan kompres. Dan segera mengompres Gita.
" sudah makan?" Gita menggeleng.
"Rafael , haus" lirih Gita lemah, matanya sayu memohon pada Rafael
"Bentar." Rafael duduk di sebelah Gita dan membantunya minum. Tubuh Gita gemetar. Rafael mengambil ponselnya dan membuka aplikasi makanan online. "bubur ayam." ia memesannya dua porsi kebetulan Rafael juga lapar.
Berulang kali gagal, tidak dapat driver Rafael makin kesal.
"Git, tunggu ya. Aku beli makan dulu." pamit Rafael. Namun Gita menahannya dengan menarik kelingking Rafael.
"pesan online aja ya, jangan tinggalin." Gita mulai mengeluarkan air mata. "oke" Rafael kembali duduk dan mencoba memesan kembali.
"kamu jauh-jauh dari aku, nanti ketularan." Gita mendorong dada Rafael.
"katanya mau ditemenin sekarang suruh jauh-jauh." protes Rafael
"maksudnya kamu jangan kemana-mana. Di sini aja temenin tapi jangan dekat-dekat." jelas Gita
"udah sakit, banyak maunya lagi." gerutu Rafael.
"Rafael." Gita menggeram.
Bersyukur tak lama bubur ayam pun datang, bersamaan dengan dering ponsel Gita dengan nomor tidak diketahui, lagi.