NovelToon NovelToon
Tolong Sayangi Aku

Tolong Sayangi Aku

Status: tamat
Genre:Dunia Masa Depan / Balas Dendam / Ketos / Tamat
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: canny***

"Duniaku gelap, tapi aku tidak butuh lampu. Aku hanya butuh seseorang yang tidak memalingkan wajah saat aku memanggil 'Papa'."
Di kediaman Tenggara yang megah, Aurora Alandriana adalah sebuah anomali. Di tengah kesuksesan sang Ayah dan dominasi keempat kakak laki-lakinya—Eros, Gavin, Juna, dan Arvin—Aurora hidup seperti hantu. Baginya, rumah itu bukan tempat berteduh, melainkan sebuah pengadilan yang menghukumnya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan: lahir ke dunia.
Tiap sudut rumah adalah pengingat akan kebencian. Meja makan adalah tempat penghinaan, dan lorong sekolah adalah tempat ia harus berpura-pura tidak mengenal darahnya sendiri. Terutama Arvin, kakak keempatnya yang paling dekat jarak usianya, yang memilih untuk menjadi perundung paling kejam di sekolah hanya untuk membuktikan bahwa Aurora tidak punya tempat di hidupnya.
Namun, saat sebuah rahasia besar di balik kematian sang Ibu mulai terkuak, dan saat tubuh Aurora yang rapuh mulai mencapai batas kemampuannya untuk ber

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Aroma disinfektan yang tajam menusuk indra penciuman Arvin saat ia berlari menyusuri lorong rumah sakit dengan tubuh Aurora dalam dekapan lengannya. Seragam basketnya yang tanpa lengan kini ternoda darah adiknya yang mulai mengering, meninggalkan jejak merah kecokelatan yang mengerikan. Di belakangnya, Bimo menyusul dengan napas terengah-engah, membawa tas sekolah Aurora yang terasa sangat ringan—seolah isinya memang tidak ada, persis seperti hidup pemiliknya.

"Suster! Tolong! Adik saya pingsan dan keluar darah!" teriak Arvin kalap. Suaranya yang biasanya terdengar sombong kini pecah oleh kepanikan yang tak bisa ia sembunyikan lagi.

Beberapa perawat segera datang membawa brankar dorong. Tubuh Aurora dipindahkan dengan cepat. Arvin sempat merasakan jemari adiknya yang dingin menyelip di antara sela jarinya sebelum akhirnya pegangan itu terlepas. Aurora didorong masuk ke dalam ruang instalasi gawat darurat (IGD), meninggalkan Arvin yang terpaku menatap pintu yang tertutup rapat.

Arvin jatuh terduduk di kursi tunggu koridor yang dingin. Tangannya gemetar hebat. Ia menatap telapak tangannya yang masih menyisakan sisa darah Aurora.

"Vin, lo nggak apa-apa?" Bimo duduk di sampingnya, menyodorkan sebotol air mineral.

"Dia... dia tadi bilang sakit, Bim," gumam Arvin tanpa menoleh.

"Gue pikir dia akting. Gue pikir dia cuma mau cari perhatian supaya gue nggak laporin dia ke Papa. Tapi badannya dingin banget, Bim. Dingin kayak..." Arvin tidak berani melanjutkan kalimatnya.

Satu jam berlalu seperti ribuan tahun. Di tengah keheningan yang menyiksa itu, ponsel Arvin bergetar. Sebuah nama muncul di layar: Papa.

"Halo, Pa..."

"Arvin! Apa yang kamu lakukan?!" Suara Bramantyo menggelegar dari seberang telepon. "Kaila menelepon Papa! Dia bilang kamu membuat keributan, mendorongnya, dan membawa Aurora pergi tanpa izin sekolah? Kamu tahu ini mencoreng nama keluarga?! Bawa anak pembawa sial itu pulang sekarang juga!"

Arvin memejamkan mata, air matanya hampir jatuh. "Papa, Aurora di rumah sakit. Dia muntah darah di lapangan. Dia kritis, Pa."

Hening sejenak di seberang sana, sebelum terdengar dengusan sinis. "Rumah sakit? Berapa biaya yang dia minta kali ini untuk sandiwara pingsannya? Bilang sama dia, jangan coba-coba memeras Papa dengan drama murahan. Bawa dia pulang, atau Papa akan blokir semua kartu kredit kamu!"

Pip.

Sambungan diputus secara sepihak.

Arvin melempar ponselnya ke lantai hingga layarnya retak. Rasa marah, kecewa, dan benci bercampur menjadi satu. Ia menoleh saat seorang dokter keluar dari ruang IGD.

"Keluarga Aurora Tenggara?" tanya dokter paruh baya itu dengan wajah serius.

Arvin segera berdiri. "Saya kakaknya, Dok. Gimana kondisi adik saya?"

Dokter itu menghela napas panjang, menatap Arvin dengan tatapan prihatin. "Adik Anda mengalami gagal jantung kongestif akut. Kondisi jantungnya sangat lemah, seolah-olah sudah mengalami kerusakan dalam waktu yang lama. Ditambah lagi dengan tanda-tanda malnutrisi dan kelelahan yang ekstrem."

"Gagal jantung? Dok, dia baru enam belas tahun! Mana mungkin?!" seru Arvin tak percaya.

"Faktor genetik dan stres yang berkepanjangan bisa memicu ini. Darah yang keluar dari hidungnya tadi adalah akibat dari tekanan pembuluh darah yang pecah karena beban kerja jantung yang terlalu berat. Kami sudah menstabilkannya, tapi dia harus dirawat intensif. Apakah ada riwayat penyakit jantung di keluarga?"

Arvin terdiam. Ia ingat ibunya meninggal karena komplikasi jantung saat melahirkan Aurora. Jadi... penyakit ini adalah warisan? Sebuah warisan yang dibayar dengan nyawa ibu mereka, dan kini sedang menagih nyawa Aurora?

"Saya perlu bicara dengan orang tua Anda untuk tindakan lebih lanjut," lanjut Dokter.

"Papa saya... Papa saya sedang sibuk, Dok. Lakukan saja apa pun yang terbaik. Saya yang akan tanggung biayanya," ucap Arvin dengan suara serak, meskipun ia tahu kartunya mungkin akan segera diblokir.

Arvin diizinkan masuk untuk melihat Aurora sejenak.

Di dalam ruangan yang sunyi, Aurora tampak begitu kecil di tengah peralatan medis yang rumit. Kabel-kabel menempel di dadanya, dan masker oksigen menutupi separuh wajah pucatnya.

Arvin berjalan mendekat, duduk di samping tempat tidur. Ia meraih tangan Aurora yang terasa sangat rapuh, seolah-olah jika ia menggenggamnya terlalu keras, tangan itu akan hancur menjadi debu.

"Ra... bangun," bisik Arvin. Air matanya benar-benar jatuh sekarang, membasahi sprei putih rumah sakit. "Gue minta maaf. Gue nggak tahu lo sesakit ini. Bangun, Ra... marahin gue, bentak gue, tapi jangan diam kayak begini."

Pintu kamar terbuka. Eros dan Gavin masuk dengan wajah gusar. Bukannya mendekati tempat tidur adiknya, mereka justru berdiri di ambang pintu dengan tangan bersedekap.

"Berapa lama lagi drama ini akan berlangsung?" tanya Eros dingin. "Papa marah besar. Dia bilang ini cuma trik Aurora supaya kita merasa bersalah soal kejadian kemarin."

"Drama?!" Arvin berdiri, menatap kedua kakaknya dengan tatapan tajam. "Dokter bilang jantungnya rusak, Kak! Dia hampir mati di lapangan tadi! Lihat dia!"

Gavin berjalan mendekat, menatap wajah Aurora yang tertutup masker oksigen dengan tatapan datar. "Dia memang selalu punya seribu cara untuk menarik perhatian. Sejak kecil dia sudah merenggut Mama dari kita, dan sekarang dia mau merenggut ketenangan kita?"

"Cukup, Kak Gavin!" bentak Arvin.

"Vin, sadarlah," sela Eros. "Jangan biarkan emosimu dimainkan olehnya. Begitu dia sadar, kita bawa dia pulang. Papa sudah menyiapkan pengobatan di rumah, dia tidak perlu dirawat di sini hanya untuk masuk berita headline bahwa anak Tenggara sakit."

Aurora yang sedang dalam pengaruh obat-obatan, perlahan membuka matanya. Ia melihat ketiga kakaknya sedang berdebat di atas kepalanya. Suara mereka terdengar kabur, tapi kata-kata "drama" dan "pembunuh" tetap sampai ke pendengarannya.

Aurora tersenyum di balik masker oksigennya—sebuah senyum yang sangat tipis dan menyedihkan. Air mata mengalir dari sudut matanya, membasahi bantal. Ia ingin bicara, ingin mengatakan bahwa ia benar-benar sakit, tapi suaranya tidak keluar.

Dalam hatinya, Aurora berbisik, 'Jika kalian pikir ini drama, maka biarkan aku mengakhirinya dengan kematian yang paling nyata, agar kalian puas.'

Arvin menyadari Aurora sadar. Ia segera mendekat. "Ra? Lo dengar gue?"

Aurora hanya menatap langit-langit, lalu memejamkan matanya kembali. Ia tidak ingin melihat mereka. Ia ingin kembali ke dalam kegelapan, di mana rasa sakitnya tidak ada, dan di mana ia tidak perlu meminta cinta dari orang-orang yang menganggap napasnya sebagai sebuah kesalahan.

1
ArchaBeryl
Terimakasih kak untuk ceritanya
Banyak pelajaran yg bisa kita ambil dari cerita kk
sungguh sangat sedih dan menguras air mata🥹🥹🥹
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭🥹🥹🥹🥹
Neneng Lesmana
sedih
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭😭😭
ArchaBeryl
Alur ceritanya bagus kak
tapi gak kuat bacanya
soalnya sedih banget 😭😭🥹🥹
ArchaBeryl: Pastinya kak💪💪💪
total 1 replies
ArchaBeryl
sedih pakek banget😭😭😭😭
syina chan
hi
ArchaBeryl
sedih kak🥹🥹🥹🥹🥹
ArchaBeryl
lanjut kak tetap semangat 💪💪💪
ArchaBeryl
lanjut kak penasaran
ArchaBeryl
mana lanjutnya kak
merry
hbs in hdp dgn baik Rora nikmati kekayaan kluarga mu 😄😄😄 ,,, ksh kesempatan buat abng mu Bpk mu yg bodoh Percy takhayul itu wlpun gk mudah ya 🙏🙏🙏
merry
aihh sedih yaa /Sob//Sob//Sob//Sob/kluarga kaya raya tp Rora hrs gmbr di akun rahasia y supaya dpt uang,, emng kluarga latnah ra kluarga mu
merry
harusnya ada 1 palwan setelah in bw Rora pergi dr mrkk krn percm dekt dgn abng y nyata y abng y monster bagi Rora ap Bpk y
merry
bodoh klian tu gk ketulungan,,, skrg nikmati penyesalan klian😄😄😄😄ngurung nenek peot klian percm krn bntr lg juga msk lubang kubur seblm nikmatin hukumm ya,,,
Ridhasulistiasih
jd bingung.. nenek lastri bukannya asisten rumah tangga dan dia sayang sama aurora ya
merry
hati klian gk tergerak,, kalian gk pyn hati nurani ajj ,, bodoh juga sekolah tinggi cm Percy tahayul bgtuan,,, pdhl klo mkr pkai otak aku rsa klian gk bkln menyesal seperti skrg krn klian saudra satu rahim sm mmu msk gk ada hati nurani dikit pun
Ridhasulistiasih
kakaknya yg satu lg kemana thor?? si gavin kok gak diceritain lg??
Ridhasulistiasih: bukan, ituloh dibab awal dijelasin punya kakak 4: eros sisulung yg kaku, gavin si atletis tempramental, juna si jenius yg pendiam dan arvin si pemberontak...nah si gavin kemana? trus yg waktu disekolah ad alumni dtg itu si gavin kan, yg buat aurora dihukum lari keliling lapangan...
total 2 replies
merry
bpk bajingann iblis ajj gk gt x sm ank ya,,, bisa ap si ank kcil sampai bunuh istri mu,, penyesalan mu gk ada gunanya pak
merry
/Awkward//Awkward//Awkward//Awkward/buat lh mrk penyesalan bgtt dh nyiksa adiku sndri klo pun sdr buat aura gk ingt siapa mrk lgg gk ingt itu saudranya mungkin itu lh hukuman terberat buat saudranya Aurora
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!