NovelToon NovelToon
KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Elsa Sefia

Florence, gadis panti yang polos, tak sengaja melihat pembunuhan oleh Lucifer Azrael—miliarder dingin yang diam-diam menguasai dunia hitam. Ia diculik ke pulau pribadi Lucifer dan dijadikan tahanan.

Di sana, Lucifer menerapkan aturan kejam dan menyebut dirinya Tuhan. Tapi di balik sikap beku itu, Florence menemukan luka masa kecilnya: ayahnya melatihnya membunuh dan membunuh ibunya di depan matanya.

Kebaikan Florence mulai meruntuhkan tembok Lucifer. Ia merawat, memasak, bahkan melukis Lucifer sebagai manusia biasa, bukan monster. Namun ketika kedekatan itu tumbuh, Lucifer membohongi dan mengurungnya lagi, takut kelemahan akan membunuhnya.

Kisahnya adalah benturan antara iman dan trauma, belas kasih dan kekuasaan. Mampukah mawar putih yang tumbuh di neraka bertahan, atau justru ikut layu bersama rajanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Iblis Menjenguk Tawanannya

Hari ke-33

Pintu baja kebuka. Bukan jam nampan.

Florence refleks bangun dari lantai, nyiut ke sudut. Badannya kurus, rambut kusut, gaun kotor. Dia udah nggak kenal kaca. Nggak mau. Takut lihat mayat hidup yang jadi dirinya.

Yang masuk bukan pengawal.

Lucifer.

Sebulan nggak lihat muka itu. Masih sama. Tampan, tinggi, kekar, mata biru. Tapi sekarang, di mata Florence, itu muka malaikat pencabut nyawa.

Lucifer diem di ambang pintu. Hidungnya mengerut halus. Kamarnya bau. Bau keringat, bau darah kering dari kuku Florence yang mengaruk dinding, bau putus asa.

Matanya nyapu seluruh ruangan. Ke 33 goresan di dinding. Ke nampan pecah yang belum dibersihin. Ke mawar kering. Terakhir, ke Florence yang lagi gemeteran di pojok kayak binatang kelaparan.

“Keluar,” perintah Lucifer ke pengawal di belakangnya. Pintu ditutup. Sekarang cuma mereka berdua. Tawanan sama sipirnya.

Hening. Sakit.

Lucifer jalan mendekat. Setiap langkahnya bikin Florence makin nyiut. Dia berhenti 1 meter di depan Florence. Nggak jongkok. Nggak sejajar. Dia tetap di atas. Selalu di atas.

“Katanya mayat,” suaranya datar. Dingin. “Mayat masih bisa nafas ya?”

Florence nggak jawab. Nggak berani natap mata itu. Matanya fokus ke sepatu Lucifer. Mengkilap. Mahal. Nginjek lantai yang jadi tempat dia tidur.

Lucifer jongkok. Akhirnya. Tapi bukan buat nyaingin. Buat Mengangkat dagu Florence paksa pake dua jari. Sama kayak di kapel. Tapi sekarang, nggak ada ragu. Cuma kuasa.

Kondisi Florence bikin rahang Lucifer menegang sepersekian detik. Pipi tirus, mata cekung, bibir pecah. Aset rusak.

“Aku ke sini mau lihat,” bisik Lucifer, “separah apa barangku rusak kalau nggak diurus.”

Brang. Itu lagi.

Air mata Florence jatuh. Nggak bersuara. Dia udah nggak punya energi buat nangis kejer.

“Puas?” suaranya serak, hancur. “Puas lihat aku kayak gini? Ini mau kamu kan? Mawar layu. Dibuang.”

Lucifer lepas dagunya. Jijik? Mungkin. “Belum. Mawar layu masih bisa jadi pupuk. Kamu? Kamu bahkan nggak guna buat pupuk.”

Kata-kata itu nancep. Dalam. Florence ketawa. Histeris. Pelan. Ketawa orang yang udah lewat batas waras.

“Terus... ngapain kamu ke sini?” Dia angkat wajah, mata coklatnya nyala benci. “Mau mastiin aku belum mati? Takut utang nyawa nggak lunas? Tenang aja, Tuan. Aku nggak bakal mati sebelum...”

Dia berhenti. Hampir keceplosan. Sebelum aku kabur.

Tapi Lucifer nangkep. Mata biru itu nyipit. Bahaya.

“Sebelum apa, Florence?”

Florence gigit bibirnya yang pecah sampe berdarah lagi. Darah netes ke dagu.

Lucifer lihat darah itu. Sesuatu di matanya gerak. Bukan kasihan. Gangguan.

Dia berdiri. Ngerogoh saku jasnya. Ngeluarin sapu tangan putih bersih. Mahal. Terus... dilempar. Ke lantai. Di depan Florence.

“Lap. Jorok.”

Itu lebih sakit dari tamparan. Disuruh lap darah sendiri pake barangnya, tapi dilempar kayak ke anjing.

Florence Tidak nyentuh sapu tangan itu. Dia malah ngelap darah pake punggung tangan kotornya. Nantang.

Bibir Lucifer melengkung. Bukan senyum. “Masih galak. Bagus. Berarti belum rusak total.”

Dia jalan ke meja nakas. Ngambil mawar kering itu. Meremasnya sampai hancur jadi bubuk di tangannya. Debunya jatuh ke lantai.

“Lihat? Gini jadinya kalau nggak nurut.” Dia buka tangannya, nunjukin bubuk mawar. “Hancur. Tidak ada yang ingat. Tidak ada yang nangisin.”

Terus dia jalan ke pintu. Mau pergi. Kunjungan iblis selesai. Tujuannya tercapai: mastiin Florence hancur, mastiin Florence Tidak lupa siapa yang berkuasa.

Tapi di pintu, dia berhenti. Tidak menoleh.

“Kata dokter,” suaranya balik lagi ke datar, ke dingin, “kalau seminggu lagi kamu nggak makan bener, orgamu mulai gagal. Mati pelan-pelan.”

Hening.

“Kalau kamu mati, Florence,” lanjutnya, “aku rugi $287,450. Plus waktu. Plus...” Dia nggak lanjutin.

Cuma satu kalimat terakhir sebelum pintu kebanting.

“Makan. Jangan bikin aku rugi dua kali.”

BRAK!

Pintu baja ketutup. Kunci diputer dua kali. Lebih kenceng dari sebelumnya.

Florence masih di lantai. Napasnya putus-putus. Badannya gemeter. Bukan takut. Marah. Frustasi.

Aset. Rugi. Rusak. Pupuk.

Itu yang dia lihat. Bukan gadis. Bukan manusia.

Dia ngerayap ke sapu tangan putih Lucifer yang tadi dilempar. Dipungut. Digenggam erat. Terus... dia robek. Kuat-kuat. Sampe suaranya keras. Sobek jadi dua, jadi empat, jadi delapan.

Setiap sobekan, dia bisik: “Kabur. Kabur. Kabur. Kabur.”

Air matanya udah kering. Sekarang yang ada cuma dendam. Dendam yang ngasih tenaga.

Dia natap pintu baja itu. 33 hari dia dikurung. 33 hari dia dibunuh pelan-pelan.

Cukup.

Malam ini. Atau besok. Atau kapan pun pengawal lengah sedetik aja. Dia bakal keluar.

Bukan buat hidup. Buat ngebuktiin ke iblis itu... mawar layu pun bisa jadi duri. Dan duri bisa nusuk Raja Neraka sampai berdarah.

Di luar kamar, Lucifer bersandar di pintu. Kepalan tangannya berdarah. Bukan karena mukul tembok. Karena Meremas bubuk mawar terlalu kuat tadi.

Sial. Kenapa lihat dia hancur... rasanya gue yang dibakar?

Dia ngusap wajah kasar. Jangan lemah. Dia musuh. Dia ngungkit kuburan Mama. Dia harus bayar.

Tapi di saku jasnya, ada satu kelopak mawar kering yang nggak sengaja ikut kegenggam. Nggak dia buang.

 

1
Agatha soul
kasian juga tau cerita masa kecilnya
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hayo loh kalian, gimana kalau tawanannya mati, kalian akan mati juga
mmmmuuuuu
hukuman atau..🙄
Aii Flow🌷
Nggak kuat kalau aku ada di posisi dia, makan aja nggak nafsu😭🤧
arsyila putri
sejarah kelam kenapa Lucifer bisa sejahat dan sebengis inj
arsyila putri
ini paham atau padam kak?
Nyai Aksara 👩‍🦯
Ah, kenapa dia masih jahat juga sih, greget aku
mama Al
semoga ga ada yang menemukanmu,. Florence
☠️⃝🖌️Deep ⃟🌴
asekkk, ahhh, kosa katanya, diksinya, sukaa bangettt akuuu... nyastra2 roman🤗🤗
Mutia Kim🍑
Gimana ya kalau mau kabur, takut banget ih😭
DreamXimaginatioN😴
alamak makin menjadi jadi Lucifer setiap ini itu yang di lakuin MC nambah terus peraturan nya
Agatha soul
anjay bener aja keren dong
Agatha soul
pasti bagus hasil lukisannya
mmmmuuuuu
nyimak aja dulu 🤗
mama Al
Sepertinya akan bergeser hatinya Lucifer
mama Al
ayo Florence
kabur
kabur
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
demi apa 33 hari dan badan jadi kurus kering begitu,, menyerah saja deh, pasrah aja jangan sampai jadi mati konyol
Nyai Aksara 👩‍🦯
Ayo, lanjutkanlah melukis
Aii Flow🌷
Takut banget, kalau aku di posisi itu. Auto pingsan tiap ada Lucifer muncul😭😭
arsyila putri
kak, tata bahasamu aku suka😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!