Ternyata, Aku Cinta Pertamanya!
Bagi Lettu Kowad dr. Shaneen Kamila Mari, cinta adalah masa lalu yang penuh luka dan benteng pertahanan yang harus dijaga ketat. Namun, dunianya yang kaku dan perfeksionis seketika runtuh saat Letnan Kolonel Reyes Adrian Miguel—seorang Komandan Batalyon raksasa, dingin, dan berkuasa—datang membawa taktik perang kilat untuk melamarnya secara resmi.
Shaneen mengira ini hanyalah perjodohan birokrasi militer biasa. Ia tidak pernah tahu, di balik ketegasan dan perlindungan senyap sang Letkol, ada rahasia besar yang tersimpan rapat sejak masa berseragam putih-abu-abu. Di balik labirin berkas pernikahan dinas yang kaku, Shaneen akhirnya harus menghadapi kenyataan manis yang tak pernah ia duga seumur hidupnya bahwa pria tangguh itu tidak sedang mampir, melainkan sedang menjemput takdir yang sempat tertunda.
Sebab bagi Letkol Reyes, Shaneen bukanlah sekadar pilihan. Sejak awal, ia adalah satu-satunya misi yang harus dimenangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Jantung yang Berkhianat
Malam semakin larut, namun bising di kepala Shaneen Kamila Mari justru kian menjadi-jadi. Setelah rombongan keluarga Miguel berpamitan, atmosfer di dalam rumah utama keluarga besar Shaneen tidak lantas mendingin. Di ruang tengah, sang ayah masih duduk bersama adiknya, Jenderal Aydan.
Ayah Shaneen berdiri kokoh sebagai kepala keluarga yang teramat menyayangi putrinya. Kehadiran Jenderal Aydan malam ini di ruang tengah bukanlah tanpa alasan. Sebagai saudara sekandung yang tinggal bertetangga di dalam kompleks yang sama, Jenderal Aydan langsung dihubungi oleh ayah Shaneen begitu Ibu Sofia menelepon untuk bertamu secara baik-baik.
Sebagai sesama pria dewasa, sesama figur seorang ayah yang memiliki seorang anak, ayah Shaneen tentu tidak ingin gegabah. Beliau mengajak sang adik mengobrol panjang lebar di ruang kerja sebelum tamu mereka tiba, membuka lembaran demi lembaran berkas dan mencari tahu rekam jejak mengenai siapa sebenarnya Letnan Kolonel Reyes Miguel ini.
Hasilnya? Bersih tanpa cela. Dari sudut pandang militer, Reyes adalah perwira muda dengan karier yang melesat bak meteor, disiplin tinggi, dan dihormati. Dari sudut pandang kehidupan personal, dia adalah pemuda yang tidak hanya baik, tetapi juga teramat mapan secara mandiri sebagai penerus A Corp. Tentu saja, orang tua mana yang tega menolak jika pria yang datang mengetuk pintu adalah versi terbaik yang dikirimkan takdir untuk putri mereka? Apalagi, latar belakang keluarga Miguel adalah keluarga terpandang yang terhormat. Bisa dikatakan, secara strata sosial dan martabat, mereka berada di posisi "sebelas dua belas" alias setara dengan keluarga besar Shaneen. Tidak ada alasan untuk berprasangka buruk.
Namun, semua fakta logis itu sama sekali tidak membantu meringankan beban psikologis yang sedang mendera Shaneen di dalam kamarnya.
Gadis bertubuh mungil itu kini mengunci diri di dalam kamar atas. Dia duduk di tepi ranjang dengan kedua lutut ditekuk, menatap kosong ke arah lantai motif kayu. Benaknya benar-benar mati kutu. Di dalam kepalanya yang perfeksionis, biasanya selalu ada rencana cadangan atau analisis taktis untuk setiap masalah. Tapi malam ini, sistem pertahanannya runtuh total.
Sama sekali tidak ada inisiatif dari jemari Shaneen untuk menyentuh ponselnya. Dia tidak berniat menghubungi Reyes, mengirim pesan ketus seperti biasa, atau sekadar bertanya dengan nada menuntut. Kenapa Letkol Reyes melakukan semua ini? Apa maksudnya? Toh, mau bertanya apa lagi? Semuanya sudah terpampang nyata di ruang tamunya beberapa menit lalu.
Shaneen mendadak merinding saat menyadari satu hal yang teramat sakral. Kejadian malam ini bukankah adalah visualisasi nyata dari doa yang baru saja dia ubah polanya? Shaneen merasa bulu kuduknya meremang. Dua fajar terakhir, sejak hari Minggu di rumah kakek hingga subuh tadi di mess, dia meminta dengan nada yang sedikit jujur agar jalannya dilembutkan jika pria yang selalu mengusiknya itu adalah jodohnya. Dan malam ini, Tuhan langsung mengirimkan satu batalyon jawaban beserta ibunya ke rumah Shaneen.
"Ini gila. Ini pasti mimpi," bisik Shaneen dengan suara parau.
Dengan gerakan panik, Shaneen bangkit dari tempat tidur. Langkah kakinya yang tidak mengenakan alas kaki terburu-buru berlari ke arah kamar mandi. Dia menyalakan keran wastafel, meraup air dingin yang segar dengan kedua telapak tangan, lalu membasuh wajah mungilnya untuk yang kesekian kalinya malam ini. Air dingin menetes dari ujung dagu dan membasahi helai rambut di sekitar pelipisnya.
Shaneen menatap pantulan dirinya sendiri di dalam cermin wastafel. Wajah mungil dengan tahi lalat cantik di bawah mata kanan, sepasang mata sayu yang kini melebar panik, dan bibir mungil yang bergetar. Dia mencoba mencubit pipinya sendiri dengan pelan. Sakit.
Rasanya ini benar-benar seperti mimpi, namun kenyataan instan ini menampar kesadarannya. Dan di balik seluruh rasa panik, syok, dan bingung yang mendera, ada satu hal terlarang yang tidak bisa Shaneen ingkari lagi dari lubuk hatinya yang paling dalam: ada seberkas kecil kebahagiaan yang terlintas di benaknya.
Ya, kebahagiaan yang murni. Sekeras apa pun Shaneen mencoba menyangkal, kilasan-kilasan memori tentang Reyes mendadak berputar lambat seperti rol film tua di kepalanya. Pria jangkung dengan rahang tegas dan tatapan mata sekelam malam itu, walaupun kehadirannya selalu dibalut dengan gangguan-gangguan kaku yang menyebalkan, selalu menyisipkan perhatian-perhatian kecil yang teramat detail. Perhatian yang selama ini dilewati begitu saja oleh radar kewaspadaan Shaneen, namun kini menjelma menjadi bukti nyata yang tak terbantahkan.
Roti gandum rendah kalori siang tadi, minuman iced matcha latte dingin yang sengaja dipesankan karena khasiat antioksidannya untuk kulit wajah, atau bagaimana pria itu selalu memastikan mobilnya berada di spion tengah Shaneen setiap kali mereka pulang dinas dari markas. Semua itu bukan sekadar formalitas atasan kepada bawahan.
Shaneen menyandarkan kedua tangannya di tepi wastafel, menunduk dalam sembari memegangi kepalanya yang mulai terasa pening.
Sesi saling balas pesan singkat kemarin malam kembali terngiang. Demi Tuhan, kemarin Shaneen benar-benar berpikir bahwa itu hanyalah percakapan aneh, kaku, dan sedikit menjengkelkan bersama atasannya yang kurang kerjaan di malam hari. Namun, siapa yang mengira? Siapa yang mengira bahwa di balik kata "Hai" dan dua baris kalimat kaku itu, ada sebuah strategi penyerangan tingkat tinggi yang sudah disiapkan Reyes dengan matang?
“Apa jangan-jangan... Letkol Reyes memang menyukaiku? Sejak kapan?”
Pertanyaan itu membuat dada Shaneen berdesir hebat. Ingatannya melompat pada kalimat Reyes kemarin.
“Dokter Shaneen, bagaimana kalau ada yang menyukai anda?”
Waktu itu Shaneen menjawab dengan ketus bahwa dia malas memulai hubungan yang ujung-ujungnya putus dan bikin sakit hati, dia maunya langsung menikah. Dan Reyes hanya membalas dengan dua kata penutup.
“Oh, oke.”
Shaneen memukul dahinya sendiri dengan pelan. "Bodoh banget kamu, Shaneen! 'Oh, oke' itu artinya dia setuju untuk langsung melamarmu!" gerutunya pada diri sendiri di depan cermin, merutuki ketidakpekaannya yang luar biasa. Sepasang lesung pipi unik di pipi atas dan sudut bawah bibirnya mendadak muncul samar karena ekspresi frustrasinya yang menggemaskan.
Kini, masalah baru yang jauh lebih besar dan mengerikan langsung membentang di depan mata Shaneen. Bagaimana dia harus berhadapan dengan pria pengacau itu besok pagi di pangkalan?
Hari Selasa besok rutinitas seleksi pemeriksaan anggota baru TNI masih berjalan. Sebagai kepala tim Rikkes, Shaneen dipastikan akan berada di area yang sama dengan Reyes. Bagaimana kalau besok pria jangkung berbaret miring itu tiba-tiba datang menghampirinya dengan langkah tegap, berdiri di depan mejanya, lalu menatapnya dengan senyuman kemenangan yang menyebalkan dari balik rahang tegasnya? Bagaimana Shaneen harus bersikap formal di depan para bintara dan siswa jika wajahnya sendiri pasti akan langsung memerah seperti kepiting rebus?
Shaneen berjalan kembali ke arah ranjang, lalu menjatuhkan tubuh mungilnya ke atas kasur empuk dengan posisi telentang. Dia meletakkan lengan kanannya di atas mata, mencoba menghalau cahaya lampu kamar yang terasa terlalu terang.
Di dalam keheningan malam kamarnya, Shaneen bisa merasakan dengan sangat jelas bagaimana detak jantungnya berdegup dengan ritme yang teramat cepat, tidak beraturan, dan liar. Dadanya bergemuruh hebat, memompa darah dengan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuh. Kondisi hati dan jantungnya malam ini seolah-olah telah melakukan kudeta militer besar-besaran, berkhianat dari kendali logikanya sendiri. Dia yang biasanya selalu skeptis dan dingin pada pria, kini justru dibuat tak berkutik hanya oleh bayangan nama seorang Letkol.
"Sialan kau, Reyes. Benar-benar pengacau," umpat Shaneen lirih ke arah langit-langit kamar, menyembunyikan senyuman pasrah yang perlahan terbit di bibir mungilnya di balik keheningan malam.
Di luar jendela kamar, angin malam kota berembun dingin meniup dedaunan, seolah ikut merayakan runtuhnya benteng pertahanan terakhir dari seorang dokter militer Virgo yang perfeksionis. Operasi senyap sang Letkol telah berhasil mencapai sasaran tanpa perlu menembakkan satu pun peluru.