NovelToon NovelToon
Lara Di Tapal Batas

Lara Di Tapal Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat
Popularitas:39.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sopaatta

Mengulik kisah seorang pria bernama Rafael yang menerima kesepakatan menjadi bapak rumah tangga dan membiarkan istrinya berkarier di luar rumah.

Seiring bertambah usia pernikahan, kesepakatan mereka perlahan mulai mengusik ego dan jadi dilema bagi Rafael sebagai laki-laki.

》Apakah Rafael bisa bertahan menjalani aktivitasnya sebagai bapak rumah tangga dan melihat kesuksesan karier istrinya?

》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Lara Di Tapal Batas"

Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗

Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10.

...~•Happy Reading•~...

Setelah Juano turun dari mobil, Papanya meneruskan perjalanan ke kantor. "Rafa, terima ini. Mungkin kau akan langsung diterima bekerja." Papa Juano memberikan selembar uang 50 ribu. Rafael melihat Papa Juano dan ragu menerima.

"Terima saja, supaya kau bisa makan siang di kantin." Papa Juano mendesak, karena tahu Rafael belum punya uang dan agak berat menerima uang darinya.

"Terima kasih, Pak." Rafael menekan rasa tidak enak dan menerima dengan kedua tangan. Dia mengerti yang dikatakan Papa Juano, mungkin dia akan makan siang sendiri di kantor, tanpa Papa Juano.

"Pak, saya jadi ingat uang saya." Ucap Rafael sambil memasukan lembaran uang yang sudah dilipat ke dalam saku celana.

"Ingat uang apa?" Papa Juano jadi melirik Rafael.

"Saya baru ingat tabungan saya, Pak. Buku tabungan dan ATM dicuri, tapi saya masih menyimpan uang di tabungan..." Rafael menjelaskan sambil mengetok pinggiran kepalanya, menyesal. Tas dan semuanya hilang membuat dia stres, sehingga lupa pada yang lain.

"Mengapa kau tidak bilang hari itu? Supaya tabungannya diblokir." Papa Juano terkejut.

"Saya tidak ingat nomor rekening, jadi berpikir tidak bisa lagi, Pak." Rafael menjawab sambil memegang pinggiran kepalanya.

"Kalau begitu, nanti minta ijin keluar, atau istirahat siang ke bank tempat menabung. Mungkin pihak bank bisa bantu."

"Jangan lupa copy surat kepolisian, supaya pihak bank tahu kebenarannya..." Papa Juano menjelaskan yang bisa dilakukan Rafael dan pihak bank.

"Iya, Pak. Semoga mereka belum bobol tabungan saya." Rafael jadi berharap akan tabungannya masih aman, sebab uang tunai yang dibawa sudah pasti hilang.

"Iya. Kalau sudah dibobol, buat rekening baru. Jika kau diterima kerja, butuh nomor rekening buat transfer gaji...." Papa Juano menjelaskan lagi apa yang perlu disiapkan, berkenaan dengan status sebagai karyawan perusahaan.

~••

Setelah diterima kerja, Rafael bekerja dengan sepenuh hati sebagai rasa terima kasih atas pertolongan orang tua Juano.

Tidak terasa waktu berlalu, dia telah bekerja tiga minggu sebagai OB di perusahaan tempat Papa Juano bekerja.

Dia bersyukur, tabungannya tidak dibobol oleh pencuri. Jadi dia punya cukup uang sebelum gajian. Dia tidak berharap akan menemukan dokumen pribadi setelah belum ada kabar dari pihak keamanan stasiun.

Hari ini adalah akhir pekan ke empat Rafael tinggal bersama keluarga Juano. Dia tinggal sendiri di rumah, karena orang tua Juano sekeluarga menghadiri acara keluarga.

Seperti biasa, dia pergunakan waktu libur akhir pekan untuk membersihkan lantai atas, terutama halaman. Ketika membersihkan halaman, dia melihat botol air mineral dan galon kecil diletakan begitu saja di halaman.

Dia segera masuk ke dapur untuk mencari Bibi. "Bi, kalau ada botol dan galon begini, jangan buang di halaman, ya. Tolong dibawa ke atas..." Rafael menjelaskan yang dia maksud, sebab khawatir Bibi akan membuang saat dia pergi kerja.

"Iya, Kak Rafa. Maaf, Bibi lupa tanya. Padahal sudah lihat potongan botol di atas." Bibi mengatupkan kedua tangan di dada.

"Tidak apa, Bi. Saya yang lupa ingatkan. Lain kali saja." Ucap Rafael, lalu meninggalkan dapur sambil membawa botol dan galon kosong di tangan.

Saat menuju tangga, dia terkejut melihat Laras baru keluar dari kamar. Sebab dia mengira, Laras pergi bersama Juano dan orang tuanya.

Laras juga yang baru selesai mandi dan sedang merapikan handuk membungkus kepalanya, sangat terkejut melihat Rafael.

Sehingga handuk yang sedang dirapikan tidak membungkus sempurna dan mengganggu pandangannya. Tetesan air dari rambut yang belum kering jatuh ke lantai membuat dia terpeleset, hilang keseimbangan dan terjengkang.

Rafael refleks melepaskan semua yang ditangan dan menopang punggung Laras dengan kedua tangan. "Lepaskaaann!" Teriak Laras yang terkejut dipegang oleh Rafael.

Secara refleks, Rafael melepaskan tangan dari punggung Laras, hingga tubuhnya meluncur ke bawah seperti manekin. Laras mencari pegangan dengan wajah memutih dan mata terbelalak.

Rafael kembali merai punggung Laras sebelum menyentuh lantai. "Kalau minta dilepaskan, seharusnya sudah pasang kuda-kuda." Rafael jadi marah, hingga tulang rahangnya mengeras. Dia menyadari, hampir terjadi kecelakaan.

Dia mendorong punggung Laras agar bisa berdiri tegak, lalu merai botol dan galon kosong di lantai. Kemudian dengan emosi yang tidak bisa ditahan, dia naik ke lantai atas meninggalkan Laras yang berdiri kaku sambil memegang dada dengan kedua tangan.

Laras sangat terpukul dan jantungnya berdegup kuat atas kejadian yang hampir membuat kepalanya menyentuh lantai tanpa daya dan gaya. "Nona, ini handuknya." Ucap Bibi yang melihat Laras masih berdiri diam dengan rambut terurai basah dan handuk jatuh di lantai.

"Iya, Bi. Tolong pel." Laras mengambil handuk lalu masuk ke kamar. Dia kembali membungkus kepala dan duduk di kursi meja rias sambil melihat wajahnya yang pucat pasih.

Apa yang dikatakan Rafael dengan nada dan wajah marah terus mengganggu pikirannya. 'Kalau minta dilepaskan, seharusnya sudah pasang kuda-kuda.' Jantungnya berdegup makin kuat ingat merai pinggang Rafael untuk cari pegangan. "Bodooo..." Ucapnya sambil memukul dadanya yang masih berdebar, kuat.

Sedangkan Rafael yang sudah berada di lantai atas, meletakan botol dan galon kosong begitu saja di lantai. Dia berdiri diam sambil memegang panggul dan melihat ke jalanan. Suasana tenang taman di depan rumah tidak bisa menurunkan emosinya. "Huuuuu... Hampir saja." Jantung Rafael berdegup tidak teratur, ingat kejadian yang hampir mencelakai Laras.

'Apa jadinya, kalau kepalanya...' Rafael tidak meneruskan, membayangkan kepala Laras membentur lantai. Dia kembali menghembuskan nafas kuat.

Tanpa menunggu, dia kembali turun ke lantai bawah dan mengetok pintu kamar Laras. "Keluar..." Ucap Rafael saat Laras membuka pintu.

Laras terkejut melihat Rafael di depan pintu dengan wajah yang sama, masih marah. "Egomu bisa bikin kau celaka. Pikir dulu sebelum meminta."

"Mengapa kau marah? Aku yang hampir celaka."

"Kau tidak pikir kalau kepalamu membentur lantai? Tidak ada guna isi kepalamu." Rafael makin marah, karena Laras mengganggap itu biasa. Padahal dia sedang ketakutan, karena orang tuanya tidak ada di rumah dan dia hampir membiarkan Laras alami kecelakaan.

Laras jadi terdiam melihat Rafael kembali naik tangga sambil mengepalkan kedua tangan untuk mengendalikan emosinya. 'Mengapa dia perjelas? Aku sendiri sedang ngeri. Dasar...' Laras menggerutu, sebab dia sendiri sedang membayangkan yang terjadi.

Detak jantungnya belum mau tenang, apa lagi melihat amarah Rafael. Sesuatu yang belum pernah dia alami, dibentak dan dimarahi tanpa memperdulikan perasaannya.

Laras tidak memikirkan apa yang sedang dirasakan Rafael sebagai orang yang menumpang di rumah itu, dan hampir mencelakai penghuni rumah. Rafael kembali berdiri di lantai atas untuk menurunkan tensi emosi dan menenangkan detak jantungnya.

'Mengapa aku memarahi dia?' Rafael bertanya pada dirinya, setelah bisa berpikir baik. Dia jadi ingat wajah Laras yang masih pucat dan nafas memburu.

Ketika melihat Juano turun dari mobil untuk mendorong pagar, Rafael masuk ke kamar untuk berdiam diri. Agar emosinya tidak dilihat oleh Juano yang pasti akan naik mencarinya.

...~•••~...

...~•○♡○•~...

1
Risa Yayang Selamanya Bahagia
Alhamdulillah Laras hamil artinya Rafael dan Laras sebentar lagi jadi orang tua
Risa Yayang Selamanya Bahagia
Hendi dan istrinya sekarang minta maaf tadi istrinya Hendi langsung jambak Laras beruntung Laras ngga mendorong istrinya Hendi sampai jatuh
Risa Yayang Selamanya Bahagia
Laras itu sangat mencintai Rafael bahkan sebelum menikah Rafael di godain cewek cewek juga Laras cemburu, ngga mungkin Laras godain suami Ibu
Risa Yayang Selamanya Bahagia
Laras kamu harusnya bersyukur punya suami yang pengertian seperti Rafael, kalau selain Rafael pasti ngga bakal membuatkan minuman kopi buatmu
Risa Yayang Selamanya Bahagia
Rafael kamu harus sabar hadapi Laras karena sepertinya Laras cuma tahunya karier doang
Suamiku Paling Sempurna
Rafael sepertinya belum tahu kalau Laras itu belum ingin punya anak ya
Suamiku Paling Sempurna
Sebenarnya motif Hendi itu apa kenapa datang ke rumah Laras apa dia mau menjelekkan nama baik Laras
Suamiku Paling Sempurna
Ibu ngga usah langsung menjambak Laras soalnya Laras orang baik ngga pernah rebut suami orang bahkan pacar orang juga ngga pernah di rebut oleh Laras
Suamiku Paling Sempurna
Laras sepertinya belum bisa apapun bisanya cuma jadi wanita karier tapi ngga bisa mengerjakan pekerjaan rumah
Suamiku Paling Sempurna
Rafael kamu suami yang baik buat Laras bahkan kamu ngga ingin bertengkar sama Laras
Risa Istri Cantik
Rafael kamu senang banget tahu kalau Laras sedang hamil tapi kenapa reaksi Laras ngga seperti kamu ya
Risa Istri Cantik
Ternyata Hendi itu staff pak Hotlif ngapain datang ke rumah Laras apa mau caper ke Laras
Risa Istri Cantik
Laras kenapa kamu ngga jambak rambut ibu tersebut atau kalau perlu kamu dorong tubuh ibu tersebut sampai jatuh tersungkur
Risa Istri Cantik
Laras sepertinya belum bisa melakukan pekerjaan dapur, bahkan mungkin menyapu lantai juga belum bisa
Risa Istri Cantik
Rafael kamu beli stok kesabaran yang banyak kalau perlu sebelum habis kamu beli lagi stok kesabaran di supermarket
Yayang Suami Risa
Laras mengabari orang tuanya kalau dia sedang hamil Rafael kelihatan bahagia mengetahui Laras hamil berbeda dengan Laras yang reaksinya berbeda
Yayang Suami Risa
Laras dengarkan omongan suami kamu jangan menyepelekan omongan suami kamu ingat jangan mudah percaya ke orang ya
Yayang Suami Risa
Ibu jangan fitnah Laras karena Laras cuma mencintai Rafael makanya Laras menyuruh Rafael menikahi Laras pasti suami ibu yang genit ke Laras
Yayang Suami Risa
Laras ngga usah bikin drama deh kasihan Rafael dia suami yang baik buatmu lagian Rafael menikah sama kamu juga karena kamu yang menyuruh Rafael menikahi kamu dalam waktu dekat
Yayang Suami Risa
Rafael kamu luar biasa punya kesabaran yang tinggi untuk menghadapi Laras istri kamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!