Sequel Novel "The End Of Before"
"Satu sayatan mengakhiri Hidupnya, satu dekapan memulai penebusannya."
Satu sayatan dalam di pergelangan tangan menjadi titik terakhir bagi Elowen Valerio. Baginya, kematian adalah satu-satunya jalan keluar dari jeratan cinta terlarangnya. Setelah Setahun pelarian bersama Jeff Feel-Lizzie tak cukup membasuh lukanya.
Namun, takdir berkata lain saat Ezzra Velasquez, seorang pria yang sedang menjalani hukuman sebagai pelayan hotel, menemukannya bersimbah darah.
Ezzra menyadari Elowen adalah labirin berbahaya. Dan Elowen sendiri merasa
menghadapi kenyataan bahwa maut jauh lebih ramah daripada Pria Bernama Ezzra Velasquez.
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#18
Langit di ufuk barat mulai berubah warna menjadi jingga keunguan, membiarkan sisa-sisa hujan siang tadi menguap dari aspal yang masih lembap.
Perjalanan pulang dari area observasi terasa jauh lebih tenang dibandingkan keberangkatan mereka yang penuh emosi. Elowen menyandarkan kepalanya pada kursi kulit mobil Ezzra, sesekali melirik pria di sampingnya yang menyetir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap menggenggam jemarinya dengan posesif.
"Kau lapar?" tanya Ezzra, suaranya terdengar jauh lebih lembut sekarang. Ketegangan soal Felix tadi seolah sudah terkubur, setidaknya untuk sementara.
"Sedikit. Dan aku butuh air minum. Rasanya tenggorokanku kering sekali setelah bicara banyak dengan informan tadi," jawab Elowen.
Ezzra memutar kemudi menuju sebuah minimarket di pinggir jalan raya. Ia memarkirkan mobilnya dengan santai, mengabaikan tatapan beberapa orang yang terpesona melihat mobil sport hitam yang tampak mencolok di depan toko kecil itu.
Mereka melangkah masuk. Hawa dingin dari pendingin ruangan langsung menyambut kulit mereka. Elowen berjalan menuju rak minuman, mengambil dua botol air mineral dan beberapa kantong cemilan cokelat. Sementara itu, Ezzra berjalan di belakangnya, tangannya sesekali masuk ke saku jaket denimnya, matanya menyapu rak-rak dengan tatapan bosan yang dibuat-buat.
Namun, saat mereka sampai di depan meja kasir untuk membayar, langkah Ezzra tertahan. Matanya terpaku pada deretan rak kecil yang terletak tepat di samping mesin kasir—rak yang memajang berbagai kotak kecil dengan berbagai warna dan aroma. Pengaman.
Ezzra menatap deretan kotak itu cukup lama. Ada kilatan nakal sekaligus penuh damba di matanya. Ia tidak menyentuhnya, namun ia juga tidak memalingkan wajah. Ia seperti serigala yang sedang menatap mangsa di balik etalase kaca.
Elowen, yang menyadari keterdiaman Ezzra, mengikuti arah pandang pria itu. Ia tahu persis apa yang sedang dipikirkan Ezzra. Bayangan tentang malam panas mereka dan pembicaraan di telepon semalam mendadak memenuhi kepalanya. Ia melihat bagaimana rahang Ezzra mengeras, seolah pria itu sedang menahan diri dari godaan yang sangat besar.
"Apa kau ingin membelinya?" tanya Elowen tiba-tiba. Suaranya tenang, hampir tanpa beban. "Beli saja."
Ezzra tersentak. Ia menoleh ke arah Elowen dengan mata membelalak, benar-benar terkejut dengan keberanian gadis di sampingnya. "Apa kau... serius mengizinkannya, Sayang?"
Elowen mengangguk perlahan. Ia menatap mata gelap Ezzra, mencoba mengirimkan sinyal bahwa ia tidak sedang bercanda. Di bawah lampu neon minimarket yang terang, Elowen menyadari satu hal: ia tidak ingin kembali ke mansion dengan rasa haus yang belum tuntas. Ia ingin melarikan diri, meski hanya untuk beberapa jam lagi.
"Iya, aku serius," ucap Elowen lagi, suaranya kali ini lebih tegas.
Tanpa membuang waktu, Ezzra menyambar dua kotak sekaligus dengan gerakan cepat dan meletakkannya di atas meja kasir bersama air mineral dan cemilan Elowen. Kasir pria yang masih muda itu hanya melirik mereka sekilas, lalu mulai memindai barang-barang dengan ekspresi datar, meskipun dalam hati mungkin ia mengagumi kecocokan pasangan "berbahaya" di depannya ini.
Setelah membayar, mereka kembali ke mobil dalam keheningan yang sarat akan ketegangan. Begitu pintu mobil tertutup, Ezzra tidak langsung menyalakan mesin. Ia menatap Elowen yang sedang membuka botol air mineralnya dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Matikan teleponmu, El," ucap Ezzra. Nadanya bukan lagi sebuah saran, melainkan perintah yang sarat akan rencana.
Elowen menelan air minumnya perlahan, lalu menoleh. "Kenapa? Kita kan akan langsung pulang?"
"Tidak, kita tidak akan langsung pulang," Ezzra menyeringai, matanya menunjuk ke arah sebuah bangunan hotel butik yang terletak hanya beberapa ratus meter di seberang jalan dari minimarket tersebut. "Jeff punya akses ke GPS ponselmu, kan? Dia akan curiga kalau melihat titik koordinatmu berhenti terlalu lama di depan hotel itu."
Elowen terdiam sejenak. Ia melihat bangunan hotel itu. Itu bukan hotel mewah bintang lima yang biasa dikunjungi keluarga Valerio, melainkan hotel butik yang tampak privat dan tersembunyi. Tempat yang sempurna untuk sebuah pengkhianatan yang manis.
Elowen tidak membantah. Ia merogoh tasnya, mengeluarkan ponselnya, dan tanpa ragu menekan tombol daya hingga layar itu menggelap sepenuhnya. Ia memutuskan koneksinya dengan Jeff, dengan keluarganya, dan dengan dunia yang menuntutnya untuk menjadi sempurna.
Ia menunjukkan layar ponsel yang mati itu ke hadapan Ezzra dengan senyum tipis yang mematikan.
Ezzra tertawa rendah, sebuah tawa yang penuh dengan kepuasan. Ia menyalakan mesin mobilnya dan memutar arah menuju hotel tersebut.
"Kau benar-benar luar biasa, Elowen Valerio," gumam Ezzra sambil melajukan mobilnya. "Jeff akan gila jika dia tahu kekasihnya baru saja mematikan radarnya untuk masuk ke dalam kandang serigala."
Mereka tidak butuh waktu lama untuk melakukan check-in. Ezzra memilih kamar yang paling privat, jauh dari lift dan keramaian. Begitu mereka masuk ke dalam kamar, Ezzra langsung mengunci pintu dan menyandarkan tubuh Elowen ke sana.
Suasana di dalam kamar itu sunyi, hanya ada suara napas mereka yang mulai memburu. Lampu kamar yang remang memberikan efek dramatis pada wajah mereka.
"Kau tahu apa yang baru saja kau lakukan dengan mematikan ponsel itu, kan?" bisik Ezzra, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Elowen.
"Aku tahu," sahut Elowen, tangannya mulai naik meraba jaket denim Ezzra. "Aku baru saja memilih untuk menghilang sebentar."
"Kau memilihku, El. Bukan Jeff, bukan Felix," Ezzra menekankan setiap kata. Ia meraih dagu Elowen, memaksanya untuk menatap matanya yang berkilat penuh gairah. "Di sini, tidak ada bayangan mereka. Hanya ada kau dan aku."
Ezzra mencium Elowen dengan penuh intensitas. Ciuman itu bukan lagi tentang kerinduan seperti semalam, melainkan tentang klaim kepemilikan yang nyata. Elowen merespons dengan sama liarnya, seolah ia sedang mencoba melampiaskan seluruh rasa sesak yang ia rasakan selama setahun ini di bawah kendali Jeff.
Di hotel butik itu, di tengah sore yang mulai menjemput malam, Elowen Valerio benar-benar melupakan siapa dirinya. Ia tidak lagi peduli pada tuntutan ayahnya, kasih sayang ibunya, atau obsesi Jeff yang diam-diam mengawasinya. Ia hanya peduli pada tangan Ezzra yang kini mulai menelusuri lekuk tubuhnya, dan suara serak pria itu yang terus membisikkan kata-kata yang membuatnya merasa benar-benar hidup.
"Biarkan dia mencarimu, El," bisik Ezzra di sela-sela cumbuan mereka. "Biarkan Jeff merasa kehilangan kendali. Karena malam ini, kau adalah milikku sepenuhnya."
Elowen hanya bisa mengangguk, tenggelam dalam lautan gairah yang ia pilih sendiri. Ia tahu, saat ia menyalakan ponselnya nanti, ia akan menghadapi badai besar dari Jeff. Namun untuk saat ini, di bawah perlindungan Ezzra Velasquez, badai itu terasa sangat jauh dan tidak berarti.
Sore itu menjadi bukti bahwa Elowen tidak lagi hanya sekadar mangsa. Ia adalah pemain yang mulai menikmati permainannya sendiri, meskipun ia tahu risiko dari permainan ini adalah kehancuran total bagi semua orang yang terlibat. Namun baginya, kehancuran bersama Ezzra terasa jauh lebih indah daripada keselamatan yang diberikan oleh Jeff.
biasanya si laki yg dibikin babak belur di ceritamu kak....
poor elowen...