NovelToon NovelToon
Something Between Us

Something Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Idola sekolah
Popularitas:23
Nilai: 5
Nama Author: NitaLa

Mungkin kebanyakan orang bilang menjadi orang kaya adalah hal paling gampang dilakukan. Tapi tidak jika dikaitkan dengan Some, ditengah terkaan dia malah diberi harapan panjang untuk menikah. Hal itulah menjadi awal - awal Some mengenal cowok - cowok yang lahir dengan keluarga sama darinya. Hanya cowok itu yang menerima seornag wanita mempunyai penyakit, namanya Dinner. Dari Dinner, Some dapat menerima segala sesuatu yang menimpanya. Meski bukan hal mudah ketika harus operasi beberapa kali, tapi Dinner menemaninya seperti seorang pacar. Pacaran bahakn menjalani hubungan dengan Dinner, seperti dijodohkan ini, menjadi pertanyaan besar apakah Dinner akan sanggup ?

•untuk kisahnya sudah tamat dari tahun lalu. dan masih bisa dinikmati dengan dukungan like, dan komentar kecil kalau ada kesalahan. thanf for one.

•karya original dari Nita Juwita

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NitaLa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Between 28

Tersenyum dan Menangis

**

Paska selesai dengan date yang berujung Brian pulang duluan, Some akhirnya sampai di depan rumah sakit besar. Ia baru saja turun dari mobilnya, dengan pak Supratman yang sedang bersiap untuk keperluan gadis itu.

"Non diam aja di depan, nggak masuk duluan?" tanya pak Supratman ketika ia selesai memasukan baju dan peralatan nonanya yang mungkin beberapa hari akan menginap di rumah sakit ini. Ia membawanya dengan sebuah kantong kanvas yang ukurannya besar.

"Pak apakah bapak yakin?" tanya Some ragu. Setahunya setelah ia selesai operasi, ia juga tidak yakin apakah masih bisa melihat hari ini atau berujung koma.

"Kenapa non, bukannya baik ya kalau nona sembuh dengan cara nekat sekalipun," balas pak Supratman dengan senyum menenangkan. Akhir - akhir ini Supratman sering menunjukan senyumnya untuk menghibur hati nonanya. Terkadang membuat dia nyaman adalah hal yang sulit seperti saat ini. Saat dia merasa ragu.

"Aku nggak pernah bermimpi untuk operasi paru - paru ku. Aku udah janji kalau suatu saat penyakit apapun menyerang paru - paru lagi, aku akan menyembuhkannya tanpa operasi pak," setelah mengatakannya entah mengapa air mata Some mengalir. Ia teringat kapan berjanji seperti itu, waktu ketika ia masih SMP.

Supratman nampak menunduk lesu. "Tapi non kita nggak mungkin membatalkan permintaan tuan, dan janji itu tak seberapa untuk kesehatan non," ujar pak Supratman sambil mempersilahkan Some berjalan terlebih dahulu.

Some berusaha menarik kesedihannya dengan mengangguk paham. "Baiklah pak, mari ke atas," ujar Some sambil melangkahkan kakinya meskipun sebenarnya ia agak pusing karena efek bius yang disuntikan dokter Rafaella tadi pagi.

Keduanya sama - sama berjalan di perantara rumah sakit, lalu menaiki lift. Sampai di lantai delapan belas baru mereka masuk area ruangan privat.

Some melihat keluarganya yang sedang berbicara serius dengan pak Hanry dan dokter Rafaella. Wajah rasa bersalah pak Hanry jelas diketahui Some mereka membahas apa. Dia datang dengan lengkap menggunakan pakaian rawat inap, karena tadi sempat ganti baju.

"Hi sayang," Gina langsung menghampiri anaknya yang baru saja datang itu. "Kamu sudah siap kan?" tanyanya perhatian.

Some melihat ke arahnya lalu mengangguk perlahan. "Aku udah siap," jawab Some.

"Ya sudah kamu mendingan istirahat dulu di ranjang, mama pesan kamar sesuai keinginan kamu," ujar mama senang sambil memapah anaknya itu menuju kamar. Dan mendudukkannya di kasur vip.

Karena pusing yang terus berkelahi di keningnya juga perintah dokter Rafaella yang tidak mengijinkannya kecapean. Some memutuskan untuk membaringkan diri.

"Some sekarang baru pukul empat belas lewat dua belas menit, ada waktu dua jam lagi kamu ke ruang operasi," ujar mama sambil duduk di sofa ruangan vip ini. Ranu yang baru sampai di ruangannya duduk di dekat mama.

"Kak jangan menyerah dan selalu kakak ingat kakak itu adalah kakak galak nggak pernah berubah. Jangan salahkan siapapun ini semua karena memang takdir kepengen kakak sakit," ujar Ranu tak kuasa menahan becanda karena kesal melihat kondisi kakaknya sekarang. Sontak saja Some jadi terkekeh kecil, sungguh ia tidak pernah ingin meninggalkan Ranu.

"Ran kakak ada kok dimana pun kamu mau ketemu," ujar Some simpati.

"Wush Some jangan ngawur kamu itu udah mirip Ranu aja. Pokoknya operasinya mama usahakan sama dokter Rafaella kalau kamu nggak akan merasa sakit paska selesai," ujar mama meyakinkan.

"Nggak usah diminta aneh - aneh, dimana - mana operasi itu sama saja," heran Some yang tak kuasa menahan geregetan.

"Nggak papa kali kak, kan baru kena lasernya juga sekarang," ujar Ranu yang membuat mama memintanya untuk berhenti.

"Udah nggak papa aku baik - baik aja, tapi papa kemana?" tanya Some sambil melirik pintu kamarnya yang masih sepi.

"Papa ada urusan sebentar sama dokter Rafaella, kamu siap - siap aja sayang. Ingat terkadang mental cewek itu ngak sekuat yang kamu pikir," ujar mama.

"Maksud mama?" tanya Some bingung.

"Iya perhatikan saja pada kesehatan kamu. Dan mama punya rencana mungkin bisa membantu kesehatan kamu, yah seenggaknya kamu harus mempercepat keputusan kamu dong. Calon tunangan kamu ini yang nanti membawa mental kamu agar stabil," ujar mama yakin. Dia tahu terlalu naif untuk melanjutkan perjodohan tanpa peduli kondisi anaknya. Tapi kalau baginya Some punya masa depan dan kesehatan itu ia tidka bisa berbuat apa - apa.

"Ma nggak perlu Some baik - baik aja. Mending tunda dulu saja," ujar Some sambil memohon.

"Sayang, maaf ini udah keputusan papa," ujar mama sambil menggeleng. Lalu memutuskan diri pada malam terbarunya.

Sedangkan Ranu cekikikan. Namun dalam hati masih merasa sedih karena kakanya harus berhadapan dengan penyakit, yang sebenarnya tidak mau ia miliki. Sama yang ada di hati Some.

**

Bunyi tit tit tit dari mesin penanda pernafasan berbunyi, tanda kalau orang yang tengah berbaring di atas ranjang itu bernafas dengan normal. Ketenangan dari tidurnya membuat mama mengusap wajah lembut Some. Ia merasa khawatir sejak dikatakan Some masuk ruang operasi. Ia smpai menunggu satu setengah jam untuk menunggu hasilnya, dan semenjak di bawa ke ruang rawat anak gadisnya masih belum sadar.

Papa yng sedang membaca sebuah majalan bisnis pun lantas mendekati istrimu itu. Tidak ada yang tidak merasa cemas melihat kondisi anaknya saat ini,termasuk dirinya. "Ma tenang saja," bisik papa mesra yang membuat mama hanya tersenyum sendu.

"Mama selalu tenang berada di sisi anak - anak pa. Apalagi pekerjaan selalu menuntut mama untuk jauh dari mereka,  lalu ketika Some jatuh sakit, rasanya mama gagal pa," ujar mama terdengar bisikan lembut di telinga papa. Ia langsung memeluk istrinya itu dengan ketenangan jiwanya.

"Papa tahu ma, namun semuanya bukan salah kita. Justru mungkin Allah sedang mengutus malaikatnya untuk menanyakan sesuati pada Some. Hidup dan bercinta dengan pasangannya, atau mati dengan cintanya," ujar papa membuat tegar. Mama langsung memeluk papa, dengan tangisan yang tak bisa di tahan.

"Pa semoga Allah memberikan hak untuk Some menjalani hidup lagi pa," ujar Gina yang masih merasa nyaman di pelukan suaminya.

Kemudian jari - jari Some mulai bergerak halus, membuat Gina dan papa melihat keadaannya dengan serius. Dan benar saja gadis itu perlahan sadar dan memerhatikan sekitar.

"Ma dan pa apa operasinya sudah selesai, mengapa terasa perih," rintih gadis itu setengah sadar sambil memegang bagian atas perutnya. Tempat seseorang mengoperasi bagian parunya.

Dirasa sakit gadis itu segera memegang kelapanya yang mendadak pening. "Sayang jangan dipaksakan, kamu masih koma. Dengan Something, penyembuhan ini hanya sekali sebelum kamu dapat ronsen lainnya. Mama harap kamu tegar sayang," ujar mama lalu duduk di dekat anaknya.

"Pa," Some merasa tak kuasa untuk melakukan itu semua lantas memegang tangan papanya. Yang membuat pria itu memeluk Some dan Gina dalam satu tangan.

"Sayang tegarlah, bukannya kamu tahu papa dan mama selalu ada untukmu," ujarnya lantas membuat senyum Some perlahan memancar.

Selesai dengan acara tegar menegar mereka. Lantas mereka menunggu Some yang masih merasa sakit ketika duduk di ranjang, dan dia hanya terbaring lemah. Samapi dokter Rafaella datang untuk memeriksa bekas operasi, dan membantunya duduk. Gina dengan setia menunggu anaknya, dengan duduk di dekatnya sambil memegang tangan Some perhatian. Dan papa kembali sibuk dengan majalah bisnis.

Sampai di pukul dua puluh lewat, papa beranjak dari sofa. "Akan ada yang datang Some. Keluarga teman bisnis papa, katanya mereka punya waktu untuk menjenguk fan mengenalkan seseorang," ujar papa. Lantas Some hanya sanggup menarik bahunya, karena merasa tidak penting.

"Lekaslah kemari mama senang akhirnya punya teman untuk diajak bicara," balas mama yang terlanjur bersemangat.

Tak beberapa lama ketikan di pintu vip itu menyadarkan semuanya. Lantas dengan gagah papa membuka pintu, terlihat sepasang keluarga dengan dua anak yang nampak akrab. Mereka nampak berjalan masuk secata perlahan ke depan. Melihatnya saja Some merasa muak, apalagi terdapat seorang anak laki - laki cowok yang baru sepantaran dengannya.

"Melinda," tukas mama sambil memeluk seorang ibu dari keluarga itu. Dia nampak akrab dan menerima pelukan hangat mama. Lalu cowok itu melirik ke arahnya sedikit merasa malu.

"Hi Gina, kamu sehat - sehat saja kan, senang bisa bertemu dengan kalian di sini. Ini anak aku George, dia baru saja keluar SMA. Ini adiknya Gisella, masih kelas satu SMA, dan anakmu," kata Melinda itu sambil memegang satu - satu anaknya. Lalu melihat ke arah Some dengan heran.

"Iya dia Something anak perempuanku, Mel. Kamu nggak datang tanpa tahu apa apa kan, bukannya sekalian pa," jawab mama yang langsung diangkat bahu oleh papa.

"Oh iya, George segera ucapkan salam untuk pertemuan pertama," ujar Melinda sambil memberi kedipan pada Some seperti kode.

Some tidak tahu harus berkata apa lagi. Untuk George, mungkin dia orang yang baik dan berpendidikan. Tapi dia sepertinya tidak bisa menganggap Some lebih dari kata teman. Maybe.

"Some," ujar Some menjabat tangan pria yang masih menggunakan seragam SMA itu. Selang nafas yang masih tersambung membuat George hanya mendengarnya samar.

Tapi ia tahu dialah Something.

"George," balas cowok itu sambil meremas jari - jemari Some. Perkenalan yang hanya singkat.

**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!