Aneska (25 tahun) berada dalam situasi darurat: menikah dalam seminggu atau dijodohkan dengan "om-om" pilihan Papanya yang bernama Argani Sebasta. Demi kebebasan, Aneska nekat mencari pacar sewaan lewat bantuan sahabatnya.
Namun, kecerobohan berbuah petaka—atau mungkin keberuntungan. Di sebuah kafe, Aneska salah mendatangi meja. Bukannya bertemu pria dari aplikasi kencan, ia justru mengajak kencan seorang pria asing yang tampak dewasa dan sangat tampan.
Aneska tidak tahu bahwa pria itu adalah Argani Sebasta, calon tunangan yang sangat ia hindari. Arga yang menyadari kesalahan Aneska justru merasa tertarik dan memilih menyamar menjadi "Gani" si pria biasa.
Permainan menjadi serius saat Arga tiba-tiba mengajukan syarat gila: "Jangan cuma pacaran, ayo langsung menikah saja."
Terdesak waktu dan terpesona pada ketampanan "Gani", Aneska setuju. Akankah Aneska tetap bahagia saat tahu bahwa suami yang ia pilih sendiri sebenarnya adalah pria yang paling ingin ia tolak sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Wilayah Baru, Aturan Baru
Setelah seminggu penuh "penyiksaan" manis di Bali yang membuat stok salep dan jamu pegal linu Aneska hampir habis, pasangan baru ini akhirnya mendarat kembali di Jakarta. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat mobil Rolls-Royce milik Arga memasuki gerbang menjulang tinggi di kawasan perumahan elit Menteng.
Aneska menatap keluar jendela dengan mulut sedikit terbuka. "Mas... ini rumah lo apa istana negara? Kok gede banget? Gue bisa tersesat kalau mau cari dapur doang!"
Arga yang sedang asyik menciumi punggung tangan Aneska hanya terkekeh pelan. "Ini rumah kita, Nes. Dan tenang aja, gue bakal selalu ada buat nuntun lo kalau lo nyasar."
Begitu pintu mobil dibuka oleh supir, barisan asisten rumah tangga sudah berdiri rapi di depan pintu utama yang terbuat dari kayu jati ukir. Di paling depan, berdiri seorang wanita paruh baya dengan pakaian seragam hitam-putih yang sangat kaku dan wajah tanpa ekspresi.
"Selamat datang kembali, Tuan Arga. Selamat datang di rumah besar Sebasta, Nyonya Aneska," ucap wanita itu dengan suara datar dan sangat formal.
"Ini Bi Sumi, kepala pelayan di sini. Dia sudah ikut keluarga gue sejak gue masih kecil," Arga memperkenalkan.
Aneska tersenyum ramah, mencoba mencairkan suasana. "Halo Bi Sumi! Panggil Anes aja ya, jangan Nyonya, berasa tua banget gue."
Bi Sumi tidak membalas senyum itu. Ia justru menatap Aneska dengan tatapan menilai. "Maaf, Nyonya Aneska. Protokol di rumah ini mengharuskan kami memanggil Anda sesuai status. Mari, saya antar ke kamar utama. Barang-barang Anda akan segera diatur oleh pelayan lain sesuai dengan standar tata letak kami."
Aneska langsung menyenggol lengan Arga. "Mas, dia galak banget. Lebih kaku dari sekretaris lo!" bisiknya panik.
Arga hanya mengedipkan sebelah mata, lalu ia merangkul pinggang Aneska dengan posesif. "Bi Sumi, mulai sekarang aturannya berubah. Aneska adalah ratu di sini. Kalau dia nggak suka protokol lama, ya protokolnya yang harus diganti, bukan Aneska yang harus nurut. Paham?"
Bi Sumi terdiam sejenak, tampak terkejut melihat tuan mudanya yang biasanya sangat disiplin kini berubah menjadi sangat protektif. "Baik, Tuan Arga. Saya mengerti."
Malam harinya, Aneska merasa seperti dipenjara dalam kemewahan. Ia ingin mengambil minum di dapur, tapi baru saja ia menyentuh gagang kulkas, dua orang pelayan sudah muncul entah dari mana.
"Nyonya ingin apa? Biar kami yang ambilkan."
"Gue cuma mau minum air dingin! Masa harus lo yang ambil? Gue punya tangan!" sahut Aneska gemas. Sisi bar-barnya mulai memberontak.
"Maaf, Nyonya. Ini sudah tugas kami," jawab mereka bersikeras.
Aneska menghentakkan kakinya kesal. Ia akhirnya memutuskan untuk naik ke lantai dua, menuju ruang kerja Arga. Ia ingin mengadu. Saat ia membuka pintu tanpa mengetuk—ciri khas Aneska—ia melihat Arga sedang duduk di balik meja kerja besar dengan kacamata bertengger di hidungnya, sangat serius menatap tumpukan dokumen.
"ARGA! GUE NGGAK TAHAN!" teriak Aneska sambil menghambur masuk.
Arga langsung mendongak. Bukannya marah karena diganggu saat sedang bekerja, wajahnya justru langsung berubah cerah. Ia melepaskan kacamatanya dan merentangkan tangan. "Sini, bayi besarnya gue lagi ngambek?"
Aneska langsung duduk di pangkuan Arga, melingkarkan tangannya di leher suaminya. "Mas, rumah ini horor! Orang-orangnya kayak robot! Gue mau ambil minum aja nggak boleh. Masa gue harus jadi pajangan doang di sini?"
Arga tertawa rendah, ia memeluk pinggang Aneska, membiarkan istrinya itu menduduki dokumen pentingnya. "Sabar, Sayang. Mereka cuma belum biasa sama majikan yang super aktif kayak lo. Besok gue bakal bilang ke mereka buat kasih lo kebebasan."
"Bener ya? Kalau nggak, gue mau pindah ke kosan Miska lagi!" ancam Aneska sambil mengerucutkan bibirnya.
"Nggak akan gue biarin," bisik Arga, ia mulai menciumi leher Aneska, membuat fokus kerjanya hilang seketika. "Nes... gue belum selesai kerja, tapi lo malah duduk di sini. Lo tahu kan itu berbahaya?"
"Berbahaya apa? Gue kan cuma mau curhat!" sahut Aneska cuek, tapi ia merasakan sesuatu yang keras mulai menekan di bawahnya. Wajahnya langsung memerah. "Eh... Arga! Lo baru pulang kerja, baru makan malam, masa udah 'on' lagi?!"
"Salahin diri lo sendiri kenapa harus punya bibir yang minta digigit terus," Arga menarik tengkuk Aneska, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang dalam.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar. "Tuan Arga, ini Bi Sumi. Saya membawakan kopi tambahan untuk Anda."
Aneska panik, ia ingin turun dari pangkuan Arga, tapi tangan Arga justru menahan pinggulnya lebih kuat agar tetap di sana.
"Mas! Turunin! Malu!" bisik Aneska setengah berteriak.
Arga justru tersenyum nakal. "Masuk, Bi."
Pintu terbuka. Bi Sumi masuk dan seketika membeku melihat pemandangan di depan matanya. Tuan Arga yang biasanya sangat formal dan dingin, kini sedang memangku istrinya yang berantakan di atas meja kerja yang sakral.
"Letakkan di sana, Bi. Dan mulai sekarang, jangan masuk tanpa izin kalau Aneska ada di dalam ruangan saya. Pintu ini tertutup artinya kami sedang 'sibuk'," ucap Arga dengan suara dominan yang tak terbantah.
"B-baik, Tuan. Permisi," Bi Sumi segera meletakkan kopi dan keluar dengan langkah terburu-buru, wajahnya yang kaku kini tampak sedikit syok.
Begitu pintu tertutup, Aneska langsung memukul bahu Arga berkali-kali. "ARGA! LO GILA YA! Gue mau taruh di mana muka gue besok pagi?! Dia pasti mikir kita lagi ngapa-ngapain!"
"Emang kita bakal ngapa-ngapain, kan?" Arga menyeringai, ia menyapu semua dokumen di mejanya ke lantai hingga berserakan, lalu membaringkan Aneska di atas meja kayu jati yang mahal itu.
"Arga! Berantakan dokumennya!"
"Biarin. Besok Linda bisa rapihin. Sekarang, gue mau 'kerja' di tempat yang lebih menyenangkan," bisik Arga serak.
Aneska yang tadinya mau mengomel, akhirnya hanya bisa mendesah saat tangan Arga mulai menjelajahi tubuhnya. "Lo bener-bener om-om mesum yang hyper, Arga... gue benci lo."
"Gue juga cinta sama lo, bocah bar-bar gue," balas Arga sebelum membungkam mulut Aneska dengan ciuman yang lebih panas.
Malam itu, istana Sebasta yang kaku akhirnya pecah oleh suara tawa dan desahan Aneska. Nyonya baru di rumah itu mungkin tidak suka protokol, tapi ia mulai sangat menyukai cara sang Tuan Besar "mendidiknya" di setiap sudut ruangan.