seorang wanita yang masih muda berusia 21 tahun harus merasakan sulitnya rumah tangga. suami yang sangat ia cintai hilang ketika menjadi relawan peperangan di palestina.
shania namanya. Ternyata ia mendapat sebuah surat dari suaminya yang mengatakan apabila dalam waktu 3 bulan tidak ada kabar maka dinyatakan jatuh talak dua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon choirul amaliyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
krikkk....
Pukul 03.00 dini hari.
Shania mengeliatkan tubuhnya. ia melirik jam beker disana. ahhh waktunya sholat.
"Alhamdulillah ya robb kau memberiku kesempatan bangun untuk melaksankan sholat tahajjud"
Ia bergegas kekamar mandi. Air mengalir membasahi tubuhnya, dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Selesai melaksanakan sholat, Shania melakukan aktifitas pagi seperti biasa. Rencananya siang ini ia akan pergi kerumah mertuanya. Ia akan memberitahu orang tua Zu jika setelah ini talaknya akan jatuh.
Dia sudah sedikit menerima permintaan Zu, walaupun hatinya masih berharap laki-laki pertama yang membuatnya jatuh cinta itu datang dan meminta rujuk. Ia tau jika Zu sebenarnya juga tak menginginkan ini.
"Inah siapkan bahan untuk membuat kue kering aku akan membuatkan untuk umi fatimah" perintah Shania.
"baik non"
Shania asyik membuat kue kering bersama Inah, pembantunya. Ia membuat kue lumayan banyak. Entah kenapa pagi ini ia sudah mempunyai semangat hidup. Berangsur-angsur pikirannya mulai jernih. Ia sudah bisa berfikir jika semua ini adalah takdir dari sang pencipta dan akan indah pada waktunya.
"Inah.."
"iya nyonya?" Inah senang melihat Shania pagi ini yang mulai bersemangat. Ia tak tau apa masalah yang dihadapi Shania tapi yang pasti itu masalah besar, batin Inah.
"Jika sesuatu terjadi padaku apakah kau masih mau mengikutiku?"
Pertanyaan itu terlalu abtrak bagi Inah. Ia mengeryitkan dahi tak paham. Shania faham kebingungan Inah.
"Saya akan tetap menggajimu. Tetaplah menjadi Inah seperti ini dan jangan berubah"
Inah hanya mengangguk. Sebenarnya ia tak faham tapi ia tau jika Shania tak ingin dituntut penjelasan. Ia yakin pasti Shania orang baik dan akan melakukan yang terbaik untuknya
*Rumah umi Fatimah*
"Assalamualaikum umi"
"Waalaikum salam sayang. bagaimana kabarmu?"
"Alhamdulillah baik "
Shania menatap wajah sendu itu. Ia datang kemari bukan sekedar berkunjung tapi ia juga akan menyampaikan pesan dari Zu disurat itu. Ia tak mau membuat fitnah nantinya jika tak ada seorangpun yang tau.
"umi... saya ingin memberitahu sesuatu" ia mengucap setiap katanya sangat pelan. Hatinya begitu miris merasakan itu semua.
Tak terasa butiran air sudah menggumpal diujung mata dan siap untuk turun. Ia menyekanya dan tersenyum getir.
"Ada apa ini?" umi Fatimah khawatir melihat tingkat menantu sholihahnya itu.
"Umi janji ya! apapun yang terjadi saya tetap anak umi dan selalu menyanyangi umi seperti ini"
"Apa maksudnya ini sayang. katakan dengan jelas dan pasti! umi tak suka yang bertele-tele"
"Heummmmm...." Ia menarik nafas dalam dan mengeluarkan dengan perlahan.
Shania menyerahkan secarik kertas berwarna putih. Lebih tepatnya kertas yang ditulis Zu entah kapan itu.
"Silahkan umi baca surat ini"
Beberapa saat kemudian.
tesss...
tesss...
tesss...
Umi Fatimah meremas surat itu. Hatinya sakit seakan ia merasakan apa yang dirasakan Shania. Ia memandang wajah ayu itu, umi Fatimah baru sadar jika Shania terlihat kurusan dan lingkar matanya terlihat jelas.
"Berapa lama Zu tak memberimu kabar?" ia bertanya dengan pandangan nanar.
"Kurang 1 minggu lagi umi talak itu jatuh"
Akhirnya pertahanan Shania runtuh. Ia menangis dipelukan sang ibu mertua sekaligus gurunya dulu. Suara tangisannya begitu pelan seakan mewakilkan sakit yang ia rasa.
Bukan gelar yang ia sandang menjadikannya beban. Tapi rasa sakit karena sang suami menceraikannya. Rasa cinta yang sudah tertancap dalam dihati membuatnya ngilu mengingat semuanya.
"kenapa kamu baru bilang nak? kenapa tak menceritakan ini semua sejak awal?"
Shania meringis. Tapi itu bukan senyum senang, ia hanya ingin menghibur ibu mertuanya saja.
"maaf umi, aku baru menemukan surat ini setelah dua bulan lebih kak Zu tidak memberi ku kabar. jujur aku juga sempat syok. Waktu itu aku berharap semoga kak Zu menghubungiku dan mencabut kata-katanya."
"Tapi tenang umi. engkau tetap menjadi ibuku guru sekaligus idolaku. Jangan anggap aku mantan menantu. Aku masih mencintai umi juga kak Zu. Aku masih mengharapkan rujuk darinya. Aku tau kak Zu juga tak mengharapkan ini semua tapi dia tak ingin menyiksaku dengan menunggunya entah sampai kapan"
"Tiga hari lagi Shania akan keluar dari rumah kak Zu. Shania tidak berhak atas rumah itu. Shania akan tinggal sementara waktu di panti selama masa iddah. Shania ingin tentram mendengar lantunan bacaan qur'an adik-adik, boleh kan umi?"
Shania sangat sopan walaupun hatinya teriris sakit menerima kenyataan ini ia masih meminta pendapat mertuanya. Ia sudah benar-benar ikhlas dengan keputusan Zu walaupun sering perih ketika mengingatnya.
"Tak mengapa sayang kamu dirumah itu saja." Ia mencegah Shania sebisanya. Ia begitu sayang dan cinta pada menantunya itu.
Sejak awal pernikahannya Shania dan Zu, umi Fatimahlah yang mempelopori. Ia sangat menginginkan Shania menjadi memantunya karena Shania begitu santun dan sopan.
"maaf Shania tak bisa menuruti permintaan umi kali ini. mohon hargai saya mi" ia menggigit bibir bawahnya. Sebisa mungkin ia menahan suara isak tangi walaupun air itu tak henti-henti mengalir dari dua matanya.
"Baiklah jika itu maumu nak. Umi hanya bisa mendoakan yang terbaik. Sebagai ibunya Zu umi mohon maaf atas segala kesalahannya"
Shania izin pamit pada Fatimah. Ia tak ingin terlalu larut dalam kesedihan dan menambah beban pikiran ibu mertuanya. Ia memeluk erat wanita paruh baya itu. Beberapa kali Fatimah menghapus butiran air yang keluar dari mata Shania.
Shania melajukan mobilnya kearah panti. Ia akan menceritakan semuanya pada bu Wiji. Sebelumnya ia sudah berpesan pada umi Fatimah untuk tidak memberitahukan hal itu pada mamanya. Hanya umi dan abi yang berhak tau selebihnya akan Shania urus sendiri.
"Assalamualaikum bu Wiji" Shania sudah terbiasa ke panti asuhan jadi ia tidak sungkan jika langsung datang keruangan bu Wiji tapi ja sungguh sopan menunggu didepan pintu hingga sang pemilik ruangan datang.
"Waalaikum salam nak Shania" ia memeluk tubuh kurus itu. Ia belum tau beban masalah apa yang ditanggung Shania tapi ia bisa menebak jika itu sangat berat.
"Bu Wiji Shania ingin menceritakan masalah saya" katanya tanpa basa-basi.
Bu Wiji tersenyum dan mempersilahkan masuk. Shania menceritakan itu semua dengan rintikan air mata lagi. Ia juga memohon pada bu Wiji agar ia boleh tinggal di panti selama masa iddah. Ia masih belum sanggup untuk menceritakan masalah ini pada mamanya.
"Silahkan nak. kau berhak atas panti ini. dan ibu sudah yakin jika kau yang akan meneruskan tempat berkah ini" ucap bu Wiji.
Semangat terus buat author😉
Ditunggu up selanjutnya yup😘
Salam dari "UNSEEN."
mampir juga yuk ke karya aku, kita sama2 suport rating &like ❤
Sukses iya buat karyanya.
Jangan lupa mampir di karya pertamaku.
yang menceritakan seorang lelaki letoy yang selalu di tolak sama cwe dalam judul THE FAILED PLAYBOY.
Terimakasih 🙏
cinta pak bos hadir😘
semangat teruss💪