NovelToon NovelToon
Selamat Tinggal Orang Yg Kusayang

Selamat Tinggal Orang Yg Kusayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Dunia Masa Depan
Popularitas:800
Nilai: 5
Nama Author: Arsih Mom

"Bukan berarti apa yang dekat dengan kita adalah yang terbaik, bisa jadi kebaikan itu ada jauh dari kita ataupun tidak terlihat"
Aku pergi karena sangat menyayangi kalian, suatu saat nanti jika masih ada kesempatan aku akan menjemput kalian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arsih Mom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semakin Rumit

Haya duduk terdiam sambil memandangi tubuh seseorang yang masih belum sadar di ruang ICU. Hatinya merasa sakit ketika semua peralatan medis terpasang di tubuh suaminya itu. 

Antara sedih dan bahagia perasaan yang dialami Haya saat ini. 

(Mas, keyakinanku tidak mungkin salah, kita pasti akan bertemu lagi meskipun dalam kondisi yang berbeda) 

Waktu peristiwa itu terjadi, Indro dengan luka bakar yang cukup parah terpental jauh dari lokasi kebakaran. Dia ditemukan seorang nenek yang sedang berjalan menuju sungai di desa sebelah. Karena si nenek tidak tahu harus berbuat apa, maka Dia menghadang mobil di jalan dari arah luar kota. Dengan bantuan sepasang suami istri itulah Indro di bawa ke Rumah Sakit dalam keadaan parah dan belum sadarkan diri sampai dengan saat ini. Suami istri itulah yang menjemput Haya dari Yayasan.

Untuk saat ini Haya dan Antoni tinggal bersama mereka meskipun beda pintu. Antoni juga sudah bisa sekolah lagi seperti biasa. 

Selama Antoni sekolah, Haya menghabiskan waktunya di Rumah Sakit menjaga Indro. 

"Mba boleh saya ngobrol sebentar?"

Wanita yang menjadi penyelamat Indro mendatangi Haya dan membawanya ke kantin Rumah Sakit. Haya mengikuti saja apa yang di minta wanita itu. 

Setibanya di kantin wanita itu meminta Haya untuk duduk dan memesankannya sarapan. 

"Kenalkan nama saya Rosa, maaf kalau kehadiran kami membuat Mba bingung."

"Tidak.. tidak seperti itu, justru saya berterima kasih karena selama ini sudah menolong dan menjaga suami saya."

Wajah cantik Rosa sama sekali tidak mencerminkan sifat jahat atau pun buruk di hadapan Haya. 

Sambil menikmati sarapan, Rosa mulai menceritakan awal mula Dia dan kakak nya menolong Indro. 

"Jadi begitulah ceritanya Mba."

"Berarti selama ini hanya suami saya saja yang ada bersama Dek Rosa?"

Pertanyaan Haya membuat Rosa semakin penasaran lagi. 

"Memang siapa lagi keluarga Mba yang belum ditemukan dalam peristiwa itu?"

Haya sambil meneteskan air matanya menceritakan awal mula peristiwa itu terjadi. Rosa juga mendengarkan dengan penuh penasaran dan sabar. Mendengar cerita Haya Rosa merasa bimbang langkah apa selanjutnya yang harus Dia lakukan. 

(Tidak kusangka nasibnya begitu menyedihkan, apa aku bisa tega berbuat tidak baik padanya?) 

Untuk menutupi rasa bimbangnya, Rosa meninggalkan Haya di kantin. 

"Mba, saya tinggal dulu karena harus jemput Antoni sekolah, kasihan Dia kalau menunggu lama."

"Dek Rosa maaf ya, kami sangat merepotkan kalian."

"Tidak Mba tenang saja, anggaplah kami seperti saudara sendiri."

Rosa meninggalkan Haya yang masih asyik menikmati Nila bakar yang di pesannya. Melihat begitu lahapnya Haya makan makanan yang di pesannya itu, Dia sangat maklum dan senang. Karena sudah lama setelah peristiwa itu Haya hanya makan seadanya saja dengan kondisi mental yang tidak stabil. 

Dalam perjalanan menjemput Antoni, Rosa mendapat telepon dari seseorang. Wajah Rosa menggambarkan kalau telepon itu sangatlah penting dan serius. Selesai dengan teleponnya Rosa melemparkan ponsel ke kursi samping kemudi sambil mengumpat. 

(Kurang ajar... Kalau saja hidupku tidak bergantung padanya, pasti sudah lama aku lari dan pergi jauh dari mereka) 

Tiba di depan gerbang sekolah, Rosa dengan santainya berjalan ke arah pos satpam. Di sana sudah menunggu Antoni dengan wajah yang sedikit ceria karena bisa bermain lagi dengan teman-temannya. 

Ketika Rosa menggandeng Antoni dan membawanya ke mobil, Tio dari jarak yang tidak jauh melihatnya. 

(Siapa wanita itu, kenapa mereka sudah terlihat begitu dekat. Lebih baik ku ikuti saja kemana mereka pergi) 

Dengan menjaga jarak antara mobilnya dan mobil mereka, Tio berusaha untuk tidak melepaskan pandangannya. Dia terus mengikuti mobil Rosa hingga tanpa disadari mobilnya menyerempet sepeda yang ditumpangi seorang gadis muda. Dan membuat gadis itu terjatuh di trotoar bersama sepedanya. 

Tio segera menghentikan mobilnya dan turun ke arah gadis itu yang masih terduduk memegangi kakinya yang tertindih sepeda. 

"Ma.. Maaf ya Dek, Om tidak sengaja."

Dia membantunya berdiri dan menyandarkan sepedanya. 

"Di mana yang sakit, apa perlu Om antar ke Rumah Sakit?"

"Tidak usah Om, nanti di oles obat di rumah juga terus sembuh."

Melihat sepeda yang sudah tidak bisa dipakai lagi, Tio jadi menawarkan diri untuk mengantarnya. 

"Rumah kamu dimana, biar Om antar!"

Karena sudah diijinkan , Tio mengantar gadis itu dan membawa sepedanya ke bengkel. Dalam hati Tio merasa bersalah dan menyalahkan diri sendiri. 

(Sial karena keteledoran ku jadi kehilangan jejak wanita itu dan sekarang malah muncul masalah baru) 

Jalanan yang menuju arah batas kota itu membuat Tio menjadi bertanya-tanya. 

"Dek rumah kamu apa masih jauh?"

"Masih Om, sekitar 1 km lagi."

(Hah...???) mata Tio sampai melotot mendengar jawaban gadis itu. 

"La... lalu ngapain kamu naik sepeda sampai ke sana, bukannya jarak antara rumah kamu dan jalan sana tadi 2 km lebih?"

Gadis itu menceritakan tentang hidupnya yang sekarang Dia jalani. 

Sepenggal cerita dari gadis itu membuat Tio merasa kasian. 

(Kasihan juga anak ini, kalau dilihat dari wajahnya harusnya Dia masih usia sekolah tapi mungkin karena keadaan keluarga Dia harus mencari kerja untuk menghidupi keluarganya.) 

Tidak sampai di depan rumah, Tio di minta untuk menghentikan mobilnya. 

"Om sampai di sini saja, nanti biar saya jalan untuk masuk ke gang."

"Ba.. Baik, Oh ya Dek ini ada sedikit uang untuk kamu, gunakanlah sebaik mungkin."

Pemberian Tio dengan tegas ditolaknya. Meskipun dipaksa gadis itu tetap tidak mau menerimanya. Tidak bisa berbuat apa-apa lagi Tio hanya mengikuti apa kata gadis itu. 

Di saat gadis itu mulai masuk ke gang, Tio dengan cepat keluar dari mobil dan mengejarnya. 

"Dek tunggu, kalau boleh tau siapa namamu?"

Gadis itu terdiam sesaat, sebelum Dia menyebutkan namanya . Tangannya memegang tangan Tio dengan erat seolah ada rasa takut yang Dia sembunyikan.

"Aku sebenarnya lupa dengan namaku sendiri Om, tapi nenek sering memanggilku dengan sebutan Oci."

"O.. Oh ya, kalau begitu Om juga panggil kamu dengan nama Oci saja." (anak ini kenapa memancing kecurigaan ku untuk bisa mengenalnya lebih jauh, sudahlah biarkan Dia pulang dulu besok aku akan mencarinya lagi) 

Oci melepaskan tangan Tio dan melanjutkan jalannya menyusuri gang menuju rumah. Tio hanya bisa memandangi kepergian Oci dan sekaligus memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.

Setelah Oci tak terlihat lagi, Tio kembali ke mobilnya. Baru saja Dia mau menghidupkan mesin mobil, sekilas pandangannya melihat mobil wanita yang membawa Antoni tadi.

"Ups.. bukannya mobil itu yang tadi sempat kuikuti, dari mana Dia?"

Kesempatan yang sungguh luar biasa bagi Tio karena mobil yang akan Dia ikuti searah dengan jalan Dia mau kembali ke kantor Santana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!