Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.
Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
***
"Nggghhh... haaa... Mas, aku nggak kuat... ampun, Mas!"
"Kuat, Larasati. Kamu wanita paling hebat yang Mas kenal," Bagas menyeka keringat Laras dengan handuk kecil, lalu mengecup keningnya. "Laras, dengar Mas. Lihat mata Mas."
Laras membuka mata dengan susah payah, menatap mata Bagas yang sembab namun penuh kekuatan.
"Pembukaannya pasti sudah lengkap. Ikuti ritmenya. Jangan teriak, simpan tenaganya di perut, ya? Mas di sini, Mas nggak akan lepas tanganmu," ucap Bagas tegas namun lembut.
Tepat saat kilat menyambar di luar diikuti dentuman guntur yang menggetarkan kaca jendela, pintu kamar terbuka. Bidan Siti datang dengan jas hujan yang basah kuyup, wajahnya tampak lega bisa sampai tepat waktu.
"Ayo, Bu Laras. Kita cek," Bu Siti segera memakai sarung tangan medis. "Wah! Sudah pembukaan lengkap! Rambut bayinya sudah kelihatan. Ayo Pak Kades, bantu sangga punggung Bu Laras."
Bagas segera mengambil posisi di belakang kepala Laras, membiarkan Laras merangkul lehernya sebagai tumpuan. Di sudut kamar, Gilang dan Arka duduk mematung di atas kursi kayu, menatap Mamah mereka dengan mata bulat yang penuh doa.
"Ayo, Bu Laras. Tarik napas panjang... ngeden yang panjang di bawah, jangan di leher!" instruksi Bu Siti.
"Nngghhhhhhh-aaaaaaaakh!" Laras mengejan sekuat tenaga. Wajahnya menegang, tangannya mencengkeram lengan Bagas hingga meninggalkan bekas kemerahan.
"Pinter, Sayang. Sedikit lagi. Ayo, dorong lagi," bisik Bagas, suaranya bergetar menahan haru.
"Ayo Bu, sekali lagi yang panjang! Kepala bayinya sudah mau lewat!" seru Bu Siti.
Laras mengumpulkan seluruh sisa tenaganya. Ia mengingat ikhtiar mereka semalam, ia mengingat janji Bagas, ia mengingat wajah anak-anaknya. Dengan satu dorongan terakhir yang panjang dan penuh perjuangan, Laras mengeluarkan seluruh energinya.
"NNNGGGHHHHHHHHHHHHHHHHH!"
Oeeeekkkk! Oeeeekkkk!
Suara tangisan melengking itu seketika membelah kesunyian rumah dinas, mengalahkan suara deru angin dan hujan di luar.
Bagas seketika lemas, ia menyandarkan kepalanya di bahu Laras yang juga terkulai lemas. Air mata Bagas tumpah tanpa bisa dibendung lagi.
"Sudah lahir, Ras... anak kita sudah lahir," bisik Bagas parau.
Laras terengah-engah, matanya terpejam lelah namun sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. Bidan Siti meletakkan bayi merah yang masih basah itu di atas dada Laras untuk proses inisiasi menyusu dini.
"Laki-laki lagi, Pak Kades! Gagah sekali!" seru Bu Siti bangga.
Gilang dan Arka langsung berlari mendekat ke pinggir ranjang. "Adek! Mamah, adeknya sudah keluar!" seru Arka senang, air matanya juga mengalir karena melihat Mamahnya akhirnya berhenti kesakitan.
Laras memeluk bayi kecil itu, merasakan kulit hangat dan detak jantung yang baru saja berjuang keluar dari rahimnya. Ia menoleh ke arah Bagas yang masih terisak di sampingnya.
"Terima kasih ya, Mas... sudah dampingi Laras," bisik Laras lemah.
Bagas mencium punggung tangan Laras dan kening bayinya bergantian. "Mas yang terima kasih, Ras. Kamu sudah kasih Mas kesempatan untuk jadi laki-laki yang sebenarnya. Maafin Mas yang dulu... sekarang, kita besarkan mereka bertiga bersama-sama, ya?"
Di luar, badai perlahan mulai mereda. Semburat cahaya matahari mulai mencoba menembus awan kelabu. Desa Sukamaju pagi itu menjadi saksi lahirnya kehidupan baru, sekaligus lahirnya kembali cinta yang lebih kuat di antara Bagas dan Larasati.
****
Akhirnya Laras melahirkan bayi ketiganya...
Apakah kalian ingin author tetap melanjutkan cerita ini atau udah aja ?
Komen yahhh...
ibu kepala desa hrse gk cm lahiran dirumah saja, hrse punya peran PKK, posyandu, trus ngajak ibu ibu kegiatan positive biar desa tambah Maju.