NovelToon NovelToon
Takdir Yang Ditukar

Takdir Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / CEO
Popularitas:879
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

seorang ibu muda dari istri seorang pengusaha kaya raya sedang mengandung 9 bulan dan sedang mengalami kontraksi lalu dibawa ke rumah sakit , dan bertepatan dengan mantan pembantu rumah tangganya juga melahirkan di rumah sakit yang sama dengan motor majikannya . mereka sama-sama melahirkan bayi perempuan . pembantu rumah tangga yang ingin anak perempuan yang hidup berkecukupan mempunyai rencana licik untuk menukar anak perempuan dengan anak majikannya . sampai umur dewasa perbuatan itu tidak pernah terbongkar . bagaimana kelanjutannya ? ikutin terus novel Re _ Ara ya !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Mendatangi Rumah Sari

Suasana di ruang keluarga menjadi semakin mencekam. Meskipun hati mereka terbakar oleh kemarahan dan kekecewaan, Liana dan Leonardo tahu mereka harus bertindak dengan kepala dingin.

 "Ayah, Ibu, Papa, Mama... tolong kalian tunggu di rumah saja ya. Kami berdua saja yang akan pergi ke sana." mohon Liana .

 "Kenapa, Liana? Kita harus menuntut keadilan! Wanita itu sudah berbuat jahat sekali!" geram ayah sam .

Leonardo menarik nafas panjang "Maafkan kami, Yah. Kami tidak mau ada keributan yang berlebihan di sana. Apalagi Dinda ada di sana. Kami tidak ingin anak kami melihat suasana yang buruk atau takut. Kami ingin bertemu Dinda, menjemputnya dengan baik, dan bicara empat mata dengan Sari."

"Iya, Yah. Biarkan kami berdua yang menghadapinya. Kalian tunggu kabar baik di sini saja."

Akhirnya, kedua orang tua dan mertua mereka mengerti dan setuju untuk menunggu di rumah dengan perasaan tidak tenang.

Liana dan Leonardo segera berjalan keluar menuju mobil. Namun sebelum masuk ke mobil, Leonardo teringat sesuatu yang penting. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan menelpon Adrian.

 "Halo, Leo ?" ucap Adrian diseberang telepon .

Leonardo Suaranya terdengar berat dan cemas "Adrian... tolong bantu aku. Sepertinya Nayla mendengar semua pembicaraan kita tadi. Dia pulang, tapi sekarang dia pergi lagi entah ke mana. Wajahnya sedih sekali."

"Apa?! Nayla tahu semuanya?" tanya Andrian kaget .

 "Sepertinya iya. Aku sangat khawatir, Adrian. Anak itu pasti hancur perasaannya. Aku tidak mau terjadi apa-apa padanya. Tolong carikan dia sekarang juga. Gunakan semua orang yang kamu punya. Cari di tempat-tempat yang biasa dia kunjungi, cari teman-temannya. Aku butuh tahu dia aman."

 "Siap, Leo ! Saya mengerti perasaan kamu. Tenang saja, saya akan segera kerahkan tim untuk mencarinya sekarang juga. Saya pastikan Nayla ketemu dan aman. Kalian fokus pergi menjemput Dinda saja."

 "Terima kasih, Adrian. Aku percaya padamu."

Telepon ditutup. Leonardo menatap istrinya.

 "Adrian akan mencari Nayla. Kita harus percaya dia bisa menemukannya. Sekarang... ayo kita pergi menjemput anak kita, Dinda."

Liana mengangguk pelan, air matanya masih menetes. Hatinya terbelah dua, sedih meninggalkan Nayla yang mungkin sedang menderita, tapi juga rindu ingin segera memeluk Dinda.

Mereka pun melajukan mobil menuju perumahan sederhana di pinggiran kota, tempat tinggal Sari dan Dinda.

 Sementara itu, di tempat lain...

Adrian segera bergerak cepat. Ia menelpon Rian dan timnya.

"Rian! Kita punya keadaan darurat! Cari Non Nayla sekarang! Dia mungkin sedang dalam kondisi sangat terpuruk. Cek semua tempat tongkrongannya, hubungi teman-teman dekatnya. Jangan sampai ada hal buruk terjadi padanya!"

 Di rumah Sari...

Dinda baru saja selesai membereskan barang-barang. Ia masih merasa cemas menunggu kepastian. Tiba-tiba, sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah kecil mereka yang sempit.

Sari yang sedang di dapur melihat mobil itu melalui jendela, dan wajahnya langsung pucat pasi. Ia mengenali mobil itu dengan sangat jelas.

"Itu... itu mobil Tuan Leonardo... Ya Allah... mereka datang... mereka tahu semuanya..."

Tubuh Sari gemetar hebat. Saat yang paling ditakutinya selama 17 tahun ini akhirnya tiba juga .

...****************...

 Pintu rumah yang terbuat dari kayu itu didorong perlahan dari luar. Leonardo dan Liana melangkah masuk. Wajah mereka serius, namun mata Liana terus mencari-cari, seolah ada magnet yang menarik pandangannya ke arah sosok gadis yang berdiri mematung di ruang tamu.

Dinda berdiri kaku. Ia melihat Bu Liana dan Pak Leonardo. Jantungnya berdegup kencang. Ia bisa melihat dari wajah mereka bahwa sesuatu yang besar telah terjadi.

Sari yang melihat kedatangan mereka langsung lunglai, terduduk di kursi dengan wajah pucat pasi dan tangan yang gemetar hebat. Pak Agus yang berada di sampingnya juga tampak ketakutan namun mencoba tetap tenang.

Suara sari bergetar, hampir tak terdengar "Tuan... Nyonya... Maafkan saya... Ampunilah saya ..."

Leonardo tidak menoleh ke arah Sari. Pandangannya lurus tertuju pada Dinda. Begitu juga Liana. Perlahan, air mata Liana mengalir deras tanpa bisa ditahan lagi.

Langkah Liana terasa berat namun penuh kerinduan "Dinda... anakku..."

Panggilan itu membuat Dinda tersentak. Ia menatap Liana dengan mata terbelalak.

"Bu... Bu Liana..."

"Hasil tesnya sudah keluar, Nak... Hasilnya sudah keluar. Kamu... kamu benar anak kandungku. Darah dagingku sendiri."

Liana tidak sanggup menahan diri lagi. Ia berjalan cepat dan langsung memeluk tubuh Dinda dengan erat. Tangisannya pecah sekeras-kerasnya.

"Maafkan Mama, Nak... Maafkan Mama karena selama 17 tahun ini tidak bisa menjagamu, tidak bisa memelukmu, tidak bisa memberikan yang terbaik untukmu. Mama kacau... Mama jahat karena membiarkanmu hidup susah di sini..."

Dinda berdiri kaku saat dipeluk. Namun begitu mendengar kata-kata itu dan merasakan hangatnya pelukan yang begitu tulus dan penuh kasih sayang, pertahanan dirinya runtuh. Air matanya ikut tumpah. Ia perlahan mengangkat tangannya dan membalas pelukan wanita di depannya itu.

"Ibu... Mama..." panggilnya lirih. "Jangan menangis, Ma... Dinda juga... Dinda merasa sangat bahagia akhirnya menemukan Mama."

Leonardo yang melihat pemandangan itu pun menunduk, matanya berkaca-kaca. Ia mendekat, lalu menepuk bahu Dinda dengan lembut.

"Selamat datang pulang, Nak. Terima kasih sudah bertahan hidup dengan begitu kuat dan baik. Papa minta maaf... Papa baru bisa menjemputmu sekarang."

Dinda menatap Leonardo, lalu tersenyum di balik air matanya. Akhirnya... ia tahu siapa dirinya sebenarnya. Ia tidak sendirian. Ia memiliki orang tua yang sangat menyayanginya.

Suasana haru itu tiba-tiba pecah saat Sari menjatuhkan diri berlutut di lantai, merangkak mendekati mereka.

"Tuan Leonardo... Nyonya Liana...maafkan kami...! Aku yang salah! Aku yang jahat! Aku yang menukar mereka karena aku iri melihat kemewahan kalian! Aku takut anakku hidup susah seperti aku! Tapi aku janji, aku juga menyayangi Dinda seperti anakku sendiri!"

Sari menangis tersedu-sedu, memohon maaf . Pak Agus juga ikut menundukkan wajahnya, merasa sangat malu dan bersalah.

Leonardo Menatap Sari dengan tatapan dingin dan tegas "Kamu tahu kan Sari, apa yang kamu lakukan itu kejam? Kamu memisahkan seorang ibu dari anaknya selama hampir dua dekade. Kamu mencuri hak anak kami. Kamu pikir kata maaf bisa menghapus semua rasa sakit ini?"

Liana Masih memeluk Dinda erat, menatap Sari dengan tatapan sedih bercampur kecewa "Aku sangat marah padamu, Sari. Sangat marah. Tapi aku tidak mau tanganku kotor membalas mu sekarang. Yang jelas, mulai hari ini Dinda akan ikut kami. Dia berhak mendapatkan kehidupan yang layak, pendidikan yang baik, dan kasih sayang dari keluarga yang sebenarnya."

Dinda Menoleh menatap Sari dan Agus dengan wajah sedih "Ibu... Bapak..."

"Jangan tinggalkan kami, Din... Kamu anak kami... Kamu yang kami besarkan..."

"Dinda tidak akan pernah melupakan Ibu dan Bapak. Kalian tetap orang tua yang membesarkan Dinda. Tapi Dinda juga harus bersama orang tua kandung Dinda. Dinda janji akan sering menengok kalian."

Meskipun sakit, Sari tahu ia tidak punya hak untuk menahan Dinda lagi. Kesalahannya terlalu besar.

"Ayo, Nak. Kita pulang."

Liana melepaskan pelukannya sedikit, lalu menatap wajah Dinda lekat-lekat, seolah ingin menghapus semua kerinduan selama 17 tahun.

 "Ayo, Sayang. Kita pulang ke rumah kita yang sebenarnya."

Dinda mengangguk. Ia menatap Sari dan Agus untuk terakhir kali, lalu berjalan menggandeng tangan Liana dan Leonardo keluar dari rumah kecil itu, menuju masa depan yang baru.

 Sementara itu...

Di tempat lain, Adrian dan timnya akhirnya menemukan keberadaan Nayla. Gadis itu duduk sendirian di dermaga kecil, menangis tersedu-sedu sambil memandang laut.

Adrian Mendekat perlahan "Non Nayla..."

Nayla menoleh, wajahnya sembab dan merah. Melihat Adrian, ia semakin menangis.

 "Om Adrian... Aku bukan siapa-siapa lagi kan? Aku anak pembantu... Aku harus pulang ke mana sekarang?"

Adrian menghela napas panjang, lalu duduk di samping gadis itu dan menepuk pundaknya.

"Jangan bicara begitu, Nay. Kamu tetap Nayla yang Om kenal. Meskipun darahmu berbeda, tapi kasih sayang Tuan dan Nyonya padamu itu tulus. Mereka tidak membenci kamu."

"Tapi... Dinda yang berhak ada di sana. Aku sudah mencuri tempatnya."

 "Sekarang situasinya memang sulit. Tapi kamu harus kuat. Om antar pulang ya? Papamu dan Mamamu... mereka juga khawatir padamu, percayalah."

Nayla mengangguk pelan, lalu dibantu berdiri oleh Adrian. Perjalanan panjang untuk menerima kenyataan baru baru saja dimulai bagi kedua gadis itu.

...----------------...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!