NovelToon NovelToon
Kkn Desa Larangan: Kami Pulang Tinggal Nama

Kkn Desa Larangan: Kami Pulang Tinggal Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Mahrani

Lima mahasiswa KKN terjebak di Desa Larangan, desa gaib yang tidak ada di Google Maps.

Hari ketiga, Rani hilang dari kamar terkunci. Di kasurnya hanya ada selendang merah dan tanah kuburan. Kepala desa cuma bilang: "Tumbal pertama sudah diambil."

Setiap jam 01.00, gamelan dari hutan memanggil nama mereka. Sosok wanita berkebaya merah menatap dari sumur tua belakang balai desa.

Ternyata 7 tahun lalu ada mahasiswi KKN dibunuh dan dibuang ke sumur itu. Arwahnya menuntut 5 nyawa.

Mereka harus temukan tulang mahasiswi itu sebelum purnama, atau jadi penghuni tetap desa. Masalahnya, satu orang harus jadi tumbal sukarela untuk turun ke sumur.

Akankah mereka pulang selamat? Atau pulang tinggal nama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 EPILOG

22 APRIL 1997. SOLO.

Rumah gue rame. Kayak 9 tahun lalu. Bedanya... sekarang tidak ada taring nyala, tidak ada TV meledak, tidak ada lonceng bunyi.

Cuma ada kue. 18 lilin.

Ardi Anugerah, anak gue, 18 tahun. Besok daftar UNS. Jurusan Sastra Indonesia. Katanya mau nulis novel kayak bapaknya. Tapi yg lucu, tidak serem.

Laras Sinta, 18 tahun. Besok daftar UGM. Psikologi. Katanya mau jadi dosen. Biar bisa KKM tapi beneran ngajar.

Lestari Kiran, 17 tahun. Besok daftar ISI. Seni Lukis. Katanya mau bikin pameran judulnya "Desa Yang Hilang".

Generasi Penebus. Gede. Waras. Normal.

Di leher Laras, kalung lonceng kecil itu masih ada. Udah item. Udah butek. Tapi tidak pernah dia lepas. Jimat. Pengingat.

Rendi dateng bawa istri + 3 anak. Bengkelnya udah punya 2 cabang. "Berkat doa desa, Min. Pelanggan percaya soalnya gue jujur."

Bayu dateng bawa istri + 2 anak. Udah jadi Kepala Cabang Bank. "Program CSR Desa Larangan Anyar jadi percontohan nasional. Gue naik jabatan mulu."

Dina dateng bawa suami + Kiran. Dia buka praktek psikolog anak. "Banyak pasien gue, Min. Anak-anak yg mimpi buruk. Tapi sekarang gue tau cara ngobatinnya."

Fajar? Masih bujang. Udah jadi AKP. "Kapolsek, Bro. Tapi nolak nikah. Trauma. Takut anak gue nanti KKM juga."

Sari, istri gue, nyiapin tumpeng mini. "Udah tradisi. Tiap 22 April kita tumpengan. Bukan syukuran selamat. Syukuran... waras."

Kami kumpul di ruang tamu. Tidak ada petromak. Lampu neon 40 watt. Terang.

Ardi anak gue bawa mesin tik tua. Mesin tik yg gue pake nulis 243 nama di Balai Desa dulu.

"Pak," katanya. "Boleh aku pake ini buat nulis cerpen?"

Gue senyum. "Boleh. Asal jangan nulis nama desa fiktif."

Semua ketawa.

Laras nunjukin rapot. Ranking 1 paralel. Di bawah, catatan wali kelas: "Siswa sangat stabil secara emosi. Punya empati tinggi."

Empati. Itu warisan Sinta Dewi yg asli. Bukan kutukan. Kekuatan.

Kiran nunjukin lukisan. Kanvas gede. Isinya: Desa Larangan Anyar. Tapi versinya sekarang. Ada gapura putih, ada sawah, ada anak-anak main bola. Di pojok, ada 6 orang dewasa lambaian tangan. Di belakang mereka, anjing item gede duduk. Di langit, matahari.

Judulnya: "Rumah".

Dina nangis. "Bagus, Nduk. Bagus banget."

Jam 8 malem. Potong kue.

Ardi sama Laras tiup lilin bareng. 18 lilin.

Angin mati.

Hening.

Tidak ada suara kenong. Tidak ada kling.

Cuma suara jangkrik dari kebon.

Terus...

Ting.

Pelan banget. Kayak bisikan.

Kami semua noleh ke Laras.

Kalung lonceng-nya... geter. Sekali.

Terus diem.

Laras senyum. Dia pegang lonceng. "Katanya..."

Kami nahan napas.

"'Selamat ulang tahun. Dan... terima kasih.' Udah. Gitu doang."

Hening 3 detik.

Terus...

"HAHAHAHAHA!"

Kami ngakak. Ngakak sampe perut sakit. Ngakak sampe nangis.

Fajar gebuk meja. "ANJING! SETELAH 18 TAHUN, TERNYATA DEMITNYA SOPAN!"

Rendi ngakak guling-guling. "Bilang makasih doang! Kayak tetangga!"

Sari nyubit gue. "Kan, udah kubilang. Ardi itu... baik. Dari dulu."

Ardi yg mana? Ardi anak gue atau Ardi Kuncen? Dua-duanya.

Bayu ngangkat gelas teh. "Buat Ardi Wijaya. Kuncen paling sopan sedunia akhirat."

Kami tos. "Buat Ardi!"

Lonceng di kalung Laras... nyala. Putih. Sekali. Kayak bales tos.

Terus mati lagi.

Malam itu, kami tidur di ruang tamu. Gelar tiker. Kayak KKN dulu. Cerita-cerita sampe subuh. Bedanya... tidak ada yg takut. Tidak ada yg jaga malam.

Jam 3 pagi.

Gue kebangun. Pengen pipis.

Pas lewat meja, gue liat mesin tik tua. Di sebelahnya, kertas. Ada ketikan baru. Satu baris.

Gue deketin. Baca.

"KKM 1988: LULUS DENGAN PUJIAN."

"- DS. LARANGAN ANYAR"

Tidak ada yg ngaku ngetik. Tapi kami semua tau siapa.

Gue senyum. Gue sobek kertas itu. Gue masukin dompet. Buat jimat.

*PAGI. 23 APRIL 1997.*

Kami sarapan bareng. Soto. Bikin Sari.

Di TV, RRI nyetel berita.

"...Peresmian Desa Larangan Anyar sebagai Desa Swasembada oleh Bupati Klaten. Desa yg 9 tahun lalu masih berstatus tertinggal, kini menjadi percontohan..."

Di layar, keliatan Pak Karto. Udah tua. Tapi seger. Lagi gunting pita. Di belakangnya, gapura putih. Di bawahnya, plang: "PRODUK UNGGULAN: BERAS, JATI, URAP."

Tidak ada yg tau sejarah kelamnya. Kecuali kami.

Dan biarin aja gitu. Biar jadi rahasia. Biar jadi cerita.

Ardi anak gue pamit. "Pak, Bu, berangkat daftar ulang."

Laras salim. "Om, Tante, doain ya."

Kiran dadah. "Paklik, Budhe, nanti aku kirim lukisan!"

Mereka pergi. Naik bus. Ber-3. Ke masa depan.

Kami berlima nganter sampe depan gang.

Pas bus hilang di tikungan, Rendi nepuk pundak gue.

"Tugas kita selesai, Min."

Gue angguk. "Iya. Generasi Penebus... udah nebus. Sekarang... giliran mereka... hidup."

Fajar nyalain kretek. "Terus kita ngapain?"

Dina nyengir. "Nikmatin tua. Nulis. Buka bengkel. Jadi Kapolsek. Jadi Kepala Cabang. Jadi ibu rumah tangga."

Sari gandeng tangan gue. "Jadi kakek-nenek nanti."

Bayu ngekek. "Amin."

Kami jalan pulang. Pelan-pelan.

Di dompet gue, kertas "LULUS DENGAN PUJIAN" anget.

Di kalung Laras, Lonceng Terakhir diem. Pensiun.

Di Solo, Desa Larangan Anyar jualan urap.

Selesai.

Beneran selesai.

Kecuali... kalo anak kita nanti KKM lagi.

Tapi... tidak mungkin.

Kan kutukan-nya udah... ditutup.

Oleh Lonceng Terakhir.

1
Devilgirl
asli bulu kudukku berdiri merinding😭😭😭kak tanggungjawab lho aku ketakutan😭😭
Devilgirl: Tenang,tenang...karya banyak tapi kejar target kak...ini aja Masih dua novel belum update 😂 kalau kakak butuh saran atau stuck alurnya bisa Tanya ke aku...aku juga suka genre horor tapi jiwaku malah lari ke kultivasi ceritanya🤣🤣
total 6 replies
Devilgirl
Thor,ini kenapa ucapannya diulangi lagi ya...tadi diatas sudah kan seharusnya lanjutannya kamar Rani yang terkunci Dari dalam
Devilgirl: 🤣🤣gak kemana mana kok tenang saja tetep stay disini
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!