NovelToon NovelToon
Nikah Paksa Gus Soft Boy Dan Cewek Bengkel

Nikah Paksa Gus Soft Boy Dan Cewek Bengkel

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Pernikahan Kilat / Cinta setelah menikah
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Inna Kurnia

Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.

ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.

"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."

Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.

Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?

Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10 Tukar Permintaan

Nandini mengusap kasar wajahnya. Ia mengetuk kepala dengan tangannya yang terkepal. Kok bisa tidur di dada Gus Taka?

Padahal aku sudah ndak copot beha lagi walaupun sesek, biar ndak kejadian kayak waktu itu. Eh sekarang malah pelukan sama dia.

Santaka tersenyum tipis. Matanya yang berpura memejam, mengintip sedikit. Ia teringat tengah malam, udara Tawangmangu memang begitu dingin. Dinding tenda seperti merembeskan dinginnya malam. 

Santaka menggeser tidurnya. Merapat ke arah Nandini, menjaga kehangatan. Jaket tebal dan selimut dirasa kurang. 

Tetap ada jarak, sekitar setengah centimeter. Tetap jarak tho?

Tiba-tiba Nandini mengubah posisi menjadi miring. Jarak itu pun hilang. Menempel membuat nyaman di udara demikian. 

Nandini yang dalam kondisi tak sadar, menarik tubuh Santaka, seakan suaminya itu guling. Guling yang ia rindukan.

Santaka semakin menggeser tubuhnya. Tak diduga, kepala Nandini naik ke atas dadanya. Santaka menahan napas. 

Senyum kecil terbit di bibir Santaka. Ia rengkuh sang istri. Nandini tampak semakin nyaman. Santaka pun akhirnya ikut lelap dalam posisi lekat mereka.

Ketika tiba-tiba ada pergerakan cepat, Santaka ikut terbangun. Ia memang tipe yang mudah terdistraksi jika sedang tidur. 

Santaka tahu jika ia ikut langsung terbangun dan disadari sang istri, ada kemungkinan Nandini mereog. Tak terima kenyataan. Menyalahkan dirinya. Padahal Santaka hanya merespons inisiatif Nandini.

Nandini bergerak, bersiap bangkit dari duduknya. Santaka terkejut. Bagaimana ini? Mau kemana istrinya itu? Tak mungkin kan mau kabur karena tidurnya dipeluk? 

Santaka menggeliat, suara khas orang menggeliat ia keluarkan, agar terasa nyata. Matanya perlahan membuka. Ia berpura terkejut melihat Nandini. “Eh Mbak...”

Nandini menoleh. “Eh Gus, hhmm...” Santaka mengulum senyum. Lucu melihat ekspresi kaget istrinya.

“Sudah bangun?” Suara Santaka terdengar parau, ciri orang baru bangun tidur. Membuat Nandini merinding, apalagi mengingat adegan bangun tidurnya.

Si Gus sadar ndak ya sama posisi tadi? Siapa yang mulai sih? Kalau aku di atas, berarti aku ya? 

Kalau dia maksa, aku pasti kebangun. Dini... bodhonya ndak hilang-hilang. Bisa-bisanya nyosor duluan.

Wis, ndak usah dibahas. Apalagi kayaknya ini salah aku. Hhh, bahaya ini lama-lama...

“Iya... Mau buang air...” Nandini meringis.

“Saya antar.” Santaka sontak berdiri. 

“Ndak perlu Gus, saya bisa sendiri.”

“Bahaya Mbak, gelap. Ayo, sekalian kita wudu, kita tahajud. Masih sempat.” Santaka mengambil senter di lantai tenda.

Nandini menggigit bibirnya. Ia berjalan tertunduk. Merasakan rumput basah yang mengenai kakinya. 

Santaka berjalan di sisinya sambil mengarahkan senter ke jalan di depannya. Sesekali memperingatkan jika ada lubang.

“Hati-hati Mbak. Takut kesandhung, nggelundhung. Susah dipungutnya.”

“Ya Allah Gus, dipungut. Memang sampah?” Nandini mencibir.

“Hehehe, becanda Mbak.”

“Gus, saya ndak pernah liat Gus becanda sama orang sebelumnya. Kalau ke bengkel. Apa aslinya begini?”

“Ndak Mbak. Aslinya yang Mbak liat dulu di bengkel.”

“Lah, ini Gus Taka palsu? Dhuh, saya belum hafal ayat ruqyah lagi. Baru ayat kursi saja.” 

Nandini menghentikan langkahnya. Matanya menelisik sang suami. Santaka terkekeh.

“Yang sekarang mode khusus sama istri. Ndak ada yang tau.” Santaka tersenyum. Senyum yang terlihat mengerikan di mata Nandini.

“Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa nauum...” Mulut Nandini komat-kamit. Santaka tergelak.

Nandini mencium tangan Santaka. Mereka baru saja menyelesaikan salat tahajud. 

Satu aktivitas yang kini rutin Nandini jalankan, sejak menjadi istri Santaka. Dulu boro-boro melakukan, terpikirkan saja tidak.

“Mbak, masih ingat kan soal tukeran permintaan.”

Nandini memejamkan matanya. Dhuh, kirain dia lupa. Ternyata inget.

“Apa ya, Gus?” Nandini menipiskan bibirnya.

Santaka tersenyum simpul. “Saya punya penawaran. Mbak Dini boleh panasin mobil saya setiap hari.”

Mata Nandini berbinar mendengar ucapan Santaka. Dahaganya akan mesin seperti diakomodasi oleh Santaka. “Serius Gus?”

“Iya... motor saya juga boleh sekalian dipanasin sama Mbak.” Santaka kembali tersenyum. 

Mata Nandini makin bersinar. “Tapi... ini ada tapinya ya?” Mata Nandini jadi memicing.

“Iya lah... namanya juga tukeran permintaan. Tadi itu tawaran dari saya, sesuai permintaan Mbak kemarin.

Permintaan saya... ini...” Santaka mengarahkan mata ke pangkuannya. Nandini mengikuti pergerakan mata sang suami. Dahinya berkerut.

“Apaan? Ojo aneh-aneh ya Gus! Saya sudah bilang, belum siap! Jangan maksa, jangan karena Gus tau saya suka kegiatan maen mobil, motor, Gus paksa saya.” Nandini mendelikkan matanya pada Santaka.

Santaka tersenyum sambil menggelengkan kepala. “Mbak Dini, kayaknya pikirannya ke sana terus. 

Bagus sih, suami suka kalau istrinya ke arah situ terus. Pengertian sama suami.”

“Hihh, Gus jangan ngalor ngidul! Apa permintaan Gus?” Hati Nandini kebat-kebit, takut akan apa yang suaminya inginkan.

“Hhmm... Mbak kan tau, selepas solat, saya suka tilawah, baca Qur’an. 

Saya mau setiap sehabis solat, Mbak Dini tidur di pangkuan saya. Dengerin saya tilawah.” Santaka tersenyum kalem. 

“Ndak mau!” jawab Nandini spontan.

“Yo wis, ndak apa-apa. Berarti penawaran saya soal panasin mobil dan motor, batal.” 

Santaka mengambil mushaf kecil di dalam koper. Ia kembali duduk di atas sajadah. Masih ada waktu 15 menit menuju Subuh.

Nandini menggigit bibir. Penawaran Santaka sangat menggiurkan namun haruskah ia meletakkan kepalanya di pangkuan sang suami. Itu intim sekali bukan? 

Tapi kapan lagi bisa bebas mengotak-ngatik mesin. Passion dan hobinya.

Piye iki? Aku harus gimana? Ambil ndak ya? Aarrgh, kenapa hidup aku mesti begini? 

Pengen ngutak ngatik mesin saja, bayarannya tidak-tidak begitu. Ndak mau, enak saja!

Suara Santaka terdengar merdu. Sejujurnya, Nandini suka mendengar cara mengaji suaminya. Tipe-tipe suara murottal yang disukai ayahnya dan kerap diputar di rumah mereka. Akhirnya, kesukaan itu menular pada Nandini. 

Walaupun slebor dan belum berpenampilan sempurna sebagai muslimah, dari dulu Nandini suka mendengar murottal—rekaman suara pembacaan ayat Al Qur’an. Dan ternyata Santaka memiliki cara mengaji yang ia sukai.

Nandini tiduran di kasur. Ia membelakangi suaminya. Masih kesal akan ide tukar permintaan dari Santaka. 

Gadis itu bahkan tak melepas mukenanya. Tanggung juga sudah dekat Subuh.

Kenapa hal yang menjadi kesukaannya harus diberikan secara pamrih? Tak inginkah Santaka menyenangkan hati Nandini? 

Senang hati itu, hak istri bukan? Katanya suaminya itu mau adil dalam hak dan kewajiban suami istri. Cih, teori doang si Gus Roti!

“Mbak Dini, masih ada wudu? Yuk, solat Subuh. Mau berjamaah ndak?”

Nandini membalikkan badan. Ia sebal Santaka tapi mau pahala salat berjama’ah. Lebih tinggi 27 derajat dari salat sendiri. “Iya...”

“Mbak, sebelum subuhan, solat qobliyah dulu, dua rokaat. Nilainya lebih baik dari dunia dan segala isinya.”

“Iya, Pak Ustad. Bawel.”

“Hhmm, sopan ndak kayak gitu?”

“Nanya mulu, kapan solatnya? Keburu terang.” Nandini memiringkan bibirnya. Santaka tersenyum simpul.

Setelah salat Subuh, Santaka menawarkan permintaan tidur di pangkuannya lagi. Nandini masih menolak. 

Santaka hanya tersenyum. Ia kembali mengaji. Minimal memang sekitar 10 lembar tiap setelah salat. Terbiasa sejak kecil. 

Nandini melipat mukenanya. Bibirnya mengerucut. Ia kembali rebahan di kasur. 

Mau keluar tenda, masih gelap dan amat dingin. Nandini jadi mager alias malas gerak. 

Niat awalnya bermain ponsel, tak seru. Lebih baik mendengarkan suara mengaji suaminya.

Karena nyamannya mendengar Santaka mengaji, Nandini pun tertidur. Tak tahu berapa lama ia tertidur, ia merasa hidungnya ada yang memencet.

Tak perlu diselidiki siapa pelakunya. Tentu saja Santaka. Nandini tepis tangan sang suami di hidung bangirnya.

“Ih, ndak ada cara bangunin yang bagusan apa?” Mata Nandini mendelik.

“Mau dicium, takut marah.” Santaka mengulum senyum. Nandini bergidik. Suaminya jadi terkekeh.

“Sarapan yuk, saya sudah buat scrambled egg. Lumayan buat ganjel perut sebelum kita jalan lagi.”

Nandini langsung bangun. Enak juga jadi istri dia, bangun-bangun dikasih makan, hasil masakan dia lagi. Eh tapi pamrih. Sebel!

“Mau disuapin?” tanya Santaka. Nandini menggeleng.

Nawarin nyuapin terus, memangnya aku bayi!

“Suka kan, scrambled egg? Mau nanya suka apa buat sarapan, Mbak Dininya tidur.”

“Suka... Saya penyuka hampir semua makanan, Gus.”

“Alhamdulillah, cocok. Suami tukang masak, istri tukang makan.” Santaka tersenyum simpul.

Nandini tak memberi respons. Asyik mengunyah. Masakan Santaka seenak itu, ia juga malas membalas ucapan manis suaminya.

“Mbak, gimana udah dipikirin belum soal tuker permintaan? Yakin, ndak akan nyesel?” Santaka mengerlingkan mata.

Nandini berdecak. Mau ndak ya?

1
Aisyah Virendra
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
pas mau Unboxing ehhhh passa tamu tak diundang datang tanpa kodess 😤🤣🤣🤣 ditunda minggu depan yaaa Takaaa 😆
Inna Kurnia: saaabaaar 😂😂
total 1 replies
Nanik Arifin
Sabara ya Gus.... Insyaa sekali lsg jadi, kan g lemah 🤭🤭
Inna Kurnia: joss yaa Kak Nanik 😂😂
total 1 replies
Nanik Arifin
kapok loe, yai sableng 🤣🤣🤣
istri Gus Taka, te ou pe be ge te. aku padamu mb Dini... 😘😘
Inna Kurnia: 🤣🤣🤣🤣🤣 yai baik kok 🤭🤭
total 3 replies
Aisyah Virendra
2 kataaaa...
Rasainnnn kelennnn 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Inna Kurnia: siaaap kakak, pantengin terus yaaa❤️🙏
total 5 replies
Nanik Arifin
kan... belain kesalahan Ahsan lagi... dah suruh yai Mahmud bawa pulang si Gus ganjen ke Al Irsyad Magelang lagi. bikin geregetan aj.
Rasain Ahsan, emang enak lihat bekas kemesraan Taka & Dini... ? suruh tuh abahmu belain kamu, agar Taka kena sanksi Krn bekas mesranya Taka+ Dini terlihat. biar semua sadar, siriknya si Mahmud+ Ahsan
g tidur ah, nungguin Ahsan + Yai Mahmud angkat kaki balik ke Magelang 😄😄
Inna Kurnia: tidur kak, apa mau ditemenin ahsan tidurnya?🤭😂
total 1 replies
Aisyah 3
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
panaaaaassss nihhhh Ahsannn panass yaaaaa.... yaaa panassss dongggg pastinyaaaa 🤣🤣😏 Nandini ituu sama Santaka udah saling sayang saling cinta jadi otomatis saling menguatkan satu sama lainn.. kamuuu iriiiiii ? ya tentu sajaaaa, maka nikmati dg baikkkk wahai sampahhhh pondok 😏😏😏😤
Inna Kurnia: 😂😂😂😂😂😂
total 3 replies
Aisyah 3
Mahmud kmu bosan hidup yaaa.... tancep paku nih palamu biar kek mbak kunti 😏😤
Inna Kurnia: wkwkw, serem kali si kakak 🤭😂
total 1 replies
Nanik Arifin
putramu yai Mahmud... 🤦🏻‍♀️ yg dlu sikapnya kau menangkan dr Gus Taka ( hg sptnya membuatTaka memiliki trauma) tetap aj kalah dr putra bungsu yai Mansyur
semoga Gus Abi bijak dlm mensikapi. tendang aj Ahsan dr Al Fatih. biar dia penerus PP Al Irsyad aj
Inna Kurnia: Ahsan kebanyakan maen motor, Kak Nanik, jadi masuk angin ampe ke pemikirannya 🤭❤️🙏
total 1 replies
Aisyah 3
Duh belibet kali lah ngomongnya... muak pulaaa 😏 tabok aja gin langsung pala nya Ahsan tuh.. geram banget, ciriciri manusia sampahhh nih 😤
Aisyah 3: gaskuy kak.. sebelum ganti akun, aku mau tidur 🤣
total 4 replies
Zafira Nisa
Bagus.. ceritanya menarik, GK pasaran
Inna Kurnia: alhamdulillah, semoga cocok sampai tamat ya Kak Zafira ❤️❤️

terima kasih untuk penilaiannya ❤️🙏
total 1 replies
Nanik Arifin
Abi atau Danendra ya tegur Ahsan ya... semoga mereka segera sadar & mendepak Ahsan. agar tak jd duri dlm daging di ponpes Al Fatih
Inna Kurnia: Sensornya pada lemah kalo sama sesama gus, sama Dini kenceng bgt ya kalau salah, ya Kak Nanik 🤭
total 1 replies
Aisyah Virendra
pliss deh tabok aja muka Ahsan dan bapakny.. gemes banget deh pen nyolok juga matanya jelalatan ke istri orang 😏😏
Aisyah Virendra: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 4 replies
Aisyah Virendra
dih... pimpinan pondok ko merokokny ngebut.. lagi pula merokok itu bagian dari pemborosan dan banyak mudhorotnya untuk kesehatan tubuh.
Inna Kurnia: 🤣🤣🤣🤣🤣 🤣🤣
total 11 replies
Nadia Zalfa
pngen lihat klu si polisi kena ujian mau gimana itu
Inna Kurnia: Hihihi, sabar ya Kak Nadia... nanti Sarah pelan-pelan makin... nyebelin, hehehhe... Sarah baik kok, asli 🤭❤️🙏
total 1 replies
Nanik Arifin
yg nunggu unboxing, unboxingnya bulan depan ya.... 🤭
Inna Kurnia: Biar saling mengenal dulu Kak Nanik, jd joss ntar 🤭❤️🙏
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirr😍
Inna Kurnia: Hi, Kak Rian, selamat datang. Semoga cocok ya sama cerita Santaka-Nandini. terima kasih ❤️❤️🙏🙏
total 1 replies
Aisyah Virendra
Diiihhh Ahsan jangan kira bisa ngerebut Dini dari Taka yaaa.. minta ditendang ke pluto kek nya 😏
Inna Kurnia: duh, jauh banget, Kak 🤣🤣
total 1 replies
Aisyah Virendra
duh jadi mesam mesem dewe 🤣🤣🤣🤣🤣 akhirnya Ahsan kena sentil Santaka 🫣
Inna Kurnia: aamiin ya Allah.❤️❤️🙏🙏
total 5 replies
Aisyah Virendra
bentar lagiiii ngintip unboxing Gus Taka n Nandini ah 🫣🤣🤣 seru kek nyaaa 🤏🤭
Inna Kurnia: ❤️❤️🙏🙏
total 5 replies
Aisyah Virendra
aihhhh mulai deh jurus Uler keketnya Syifa keluar.. katanya Ning tapi ko anuhh 🫣
Inna Kurnia: Ning juga manusia kak 🤭❤️🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!