Sequel Novel "The End Of Before"
"Satu sayatan mengakhiri Hidupnya, satu dekapan memulai penebusannya."
Satu sayatan dalam di pergelangan tangan menjadi titik terakhir bagi Elowen Valerio. Baginya, kematian adalah satu-satunya jalan keluar dari jeratan cinta terlarangnya. Setelah Setahun pelarian bersama Jeff Feel-Lizzie tak cukup membasuh lukanya.
Namun, takdir berkata lain saat Ezzra Velasquez, seorang pria yang sedang menjalani hukuman sebagai pelayan hotel, menemukannya bersimbah darah.
Ezzra menyadari Elowen adalah labirin berbahaya. Dan Elowen sendiri merasa
menghadapi kenyataan bahwa maut jauh lebih ramah daripada Pria Bernama Ezzra Velasquez.
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#16
Pagi itu, langit di atas Apartemen mewah Elowen tampak abu-abu keperakan, seolah-olah awan sedang bersiap untuk menumpahkan bebannya. Suasana didepan Apartemen itu terasa sangat formal, sebuah pemandangan yang biasa, namun bagi Elowen, setiap detiknya adalah langkah di atas ranjau yang siap meledak.
Jeff berdiri di samping mobilnya, tampak rapi dengan kemeja oxford biru pucat yang memberikan kesan bersih dan terpercaya. Di depannya, Ezzra sudah bersandar di kap mobil muscle hitamnya yang gahar, kemeja hitamnya digulung hingga ke siku, memamerkan tato mawar berduri yang melilit pergelangan tangannya.
"Kau yakin tidak apa-apa, El? jangan sungkan dengan Ezzra, ini hari liburnya," ucap Jeff sambil merapikan helaian rambut Elowen yang tertiup angin. Gestur yang tampak sangat melindungi, namun bagi Elowen terasa seperti rantai yang dipasang kembali.
Elowen melirik Ezzra sekilas. Pria itu sedang asyik memutar-mutar kunci mobil di jarinya, wajahnya tampak bosan dan sedikit mengantuk—sebuah akting yang sempurna.
"Tidak apa-apa, Jeff. Aku tidak akan sungkan, Kau bilang sendiri dia sahabatmu yang paling bisa diandalkan di area itu," jawab Elowen dengan nada suara yang sengaja dibuat ragu.
Kemudian, ia menarik napas panjang untuk memulai dramanya. "Tapi Jeff... aku tidak punya nomor teleponnya. Bagaimana jika nanti ada sesuatu yang mendesak atau aku tersesat di sana?"
Jeff tertegun sejenak, lalu tertawa kecil. "Ah, benar juga. Kalian belum sempat bertukar nomor ya? Aku terlalu terbiasa melihat kalian berkumpul bersama di kantin hingga lupa detail itu."
Jeff merogoh sakunya, mengeluarkan ponselnya yang selalu dalam keadaan terenkripsi. "Sini, aku berikan nomor Ezzra. Simpanlah, jaga-jaga jika pria berandal ini justru membawamu ke sirkuit balap liar bukannya ke tempat observasi," canda Jeff, sama sekali tidak menyadari bahwa selama ini nomor itulah yang dihubungi Elowen seminggu terakhir hingga dini hari.
Elowen menerima deretan angka itu dengan tangan yang sedikit kaku. "Terima kasih, Jeff. Aku akan menyimpannya."
Ezzra mendengus, memberikan seringai miringnya yang khas. "Tenang saja, Jeff. Aku akan menjaga 'milikmu' dengan sangat hati-hati."
Jeff tersenyum, namun di balik matanya, ada kilatan kewaspadaan yang tidak pernah benar-benar padam. Ia teringat kejadian dua malam lalu. Saat ia mencoba melakukan pengecekan mendadak. Ia curiga saat Elowen menutup telepon dengan alasan mengantuk, namun titik GPS ponselnya menunjukkan aktivitas data yang tinggi.
Jeff sempat mencoba menelepon Ezzra tepat saat ia menduga Elowen sedang berbicara dengan seseorang. Namun, hasilnya nihil. Panggilan Jeff masuk ke ponsel Ezzra tanpa gangguan sinyal call waiting. Ezzra mengangkatnya pada dering ketiga dengan suara serak yang penuh amarah.
"Apa-apaan kau menelepon jam dua pagi, Jeff?! Aku sedang tidur dengan wanita cantik dan kau merusak momenku!" gerutu Ezzra malam itu.
Jeff merasa puas dan meminta maaf. Ia menyimpulkan bahwa kekhawatirannya tidak berdasar. Ia tidak tahu bahwa Ezzra menggunakan ponsel kedua yang nomornya bahkan tidak diketahui oleh Teman-temannya—ponsel khusus yang hanya boleh dihubungi oleh satu orang: Elowen Valerio.
Ezzra sudah jauh lebih cerdik dalam mengantisipasi kecurigaan Jeff yang mulai sering mengungkit soal "kekasih rahasianya".
"Sudahlah, ayo berangkat," potong Elowen, merasa udara semakin menyesakkan.
Sebelum mereka berangkat, rombongan "Pria Paket Komplit" lainnya—Kai, Mike dan Suarez—ternyata mampir untuk sekadar memberikan salam. Mereka memang selalu muncul di saat-saat yang tidak terduga.
"Wah, sang serigala akan mengantar sang domba ke hutan belantara!" seru Kai sambil tertawa keras, menunjuk Ezzra dan Elowen.
"Hati-hati Jeff, kau tahu kan reputasi Ezzra? Dia tidak pernah membiarkan mangsa cantik lepas begitu saja."
Elowen hanya tertawa kecil, sebuah tawa yang ia paksa untuk terdengar hambar. "Ezzra tidak seburuk itu, Kai. Dia hanya... sedikit berisik."
"Sedikit berisik katanya?" Suarez menimpali sambil menggelengkan kepala. "El, pria ini adalah kolektor masalah. Tapi aku berani bertaruh, Ezzra tidak akan berani menyentuhmu. Kau tahu kenapa?"
"Kenapa?" tanya Elowen.
"Karena kau bukan tipenya. Ezzra suka wanita yang... yah, sedikit lebih 'liar' dan berani pamer. Kau terlalu anggun dan pendiam untuk seleranya yang urakkan," ucap Suarez yakin.
Jeff ikut bergabung dalam percakapan itu, merangkul bahu Elowen dengan posesif. "Suarez benar. Ezzra mungkin berantakan, tapi dia punya standar tertentu. Lagipula, aku tahu tipe pria yang disukai Elowen. El menyukai pria yang stabil dan melindungi, persis seperti Felix."
Mendengar nama itu, senyum di wajah Elowen membeku sesaat. Felix Valerio. Kakak kandungnya sendiri.
"Kalian tahu kan? Felix adalah cinta pertama Elowen dalam artian sosok pelindung. Hingga sekarang, El selalu mencari sosok kakak dalam setiap pria yang mendekatinya. Itulah sebabnya dia memilihku, bukan pria seperti Ezzra," ucap Jeff dengan nada penuh kemenangan, seolah ia sudah memenangkan trofi kesetiaan Elowen.
Jeff percaya sepenuhnya bahwa posisi Felix di hati Elowen tidak akan pernah tergantikan oleh siapa pun, apalagi oleh pria yang memiliki aura merusak seperti Ezzra. Ia merasa aman karena ia telah memposisikan dirinya sebagai "pelindung" yang mirip dengan Felix.
Ezzra yang berdiri tidak jauh dari sana, hanya bisa menatap Jeff dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada amarah yang tertahan di balik wajah cueknya. Ia tahu Jeff sedang mencoba meremehkannya, mencoba mengatakan bahwa Ezzra hanyalah gangguan kecil yang tidak berarti.
"Tipe pria bisa berubah seiring berjalannya waktu, Jeff," sahut Ezzra pendek sambil membuka pintu mobil untuk Elowen. "Terkadang, seorang wanita bosan dengan perlindungan yang membosankan dan ingin merasakan bagaimana rasanya... hidup dalam bahaya."
...----------------...
Elowen masuk ke dalam mobil Ezzra tanpa menoleh lagi ke arah Jeff. Begitu pintu tertutup rapat, aroma parfum maskulin Ezzra yang tajam langsung menyergap indranya, menggantikan aroma parfum Jeff yang tenang.
"Cinta pertama pada kakak sendiri, hmm?" gumam Ezzra begitu mobil mulai bergerak keluar dari gerbang mansion. "Pantas saja kau begitu patuh pada Jeff. Kau sedang mencari bayangan kakakmu dalam dirinya."
"Tutup mulutmu, Ezzra. Jangan mulai," desis Elowen, menyandarkan kepalanya pada kaca jendela.
"Jeff sangat percaya diri ya? Dia pikir aku bukan tipemu karena aku berantakan," Ezzra tertawa kering, tangannya lincah memutar kemudi. "Dia tidak tahu bahwa di balik dres mahal dan sikap anggunmu, kau adalah orang yang paling berani berteriak memanggil namaku di bawah selimut."
Elowen memejamkan mata. Kata-kata Ezzra selalu menusuk tepat di ulu hati.
"Dengar, El. Felix mungkin kakakmu, Jeff mungkin pelindungmu. Tapi hanya aku yang tahu siapa kau sebenarnya saat tidak ada orang yang melihat," Ezzra menurunkan kecepatan mobilnya, menoleh sekilas ke arah Elowen dengan tatapan yang sangat intens.
"Sandiwara hari ini dimulai sekarang. Dan aku akan pastikan, saat kita kembali nanti, kau tidak akan lagi memikirkan tipe pria seperti apa yang diinginkan Jeff untukmu."
Hujan mulai turun membasahi kaca depan mobil, mengaburkan pandangan ke belakang, seolah menghapus jejak Apartemen dari pandangan Elowen.
Di dalam mobil itu, di antara deru mesin yang kuat, Elowen menyadari bahwa sandiwara meminta nomor telepon tadi hanyalah awal dari permainan yang jauh lebih besar. Jeff mungkin merasa memegang kendali karena ia "mengenal" masa lalu Elowen, tapi Ezzra adalah masa depan yang gelap yang tidak pernah bisa Jeff antisipasi.
Perjalanan itu baru saja dimulai, dan Elowen Valerio sedang menuju ke sebuah tempat di mana perlindungan sang kakak maupun sang kekasih tidak akan bisa mencapainya. Hanya ada dia, Ezzra, dan kebenaran yang akan segera terungkap di bawah guyuran hujan.
biasanya si laki yg dibikin babak belur di ceritamu kak....
poor elowen...