Nata Prawira mati dalam kehancuran mental dan kemiskinan, meninggalkan kedua adiknya dalam penderitaan. Namun, takdir membawanya kembali ke tahun 2014, tepat di masa SMA-nya.
Berbekal memori masa depan dan kepribadiannya yang dingin serta kalkulatif, Nata bertekad menulis ulang nasib. Dari gang sempit yang kumuh, ia mulai merancang strategi investasi di dunia BitCore dan industri teknologi yang baru tumbuh. Bukan sekadar mencari kekayaan, Nata adalah seorang arsitek yang sedang membangun kekaisaran bisnis untuk melindungi Kirana yang lembut dan Arya yang penuh semangat. Di dunia yang kejam, ia akan membuktikan bahwa kecerdasan strategis adalah senjata paling mematikan untuk menjungkirbalikkan kasta sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: REPUTASI DAN JARINGAN
Pagi itu, udara di gang sempit tempat tinggal Nata terasa lebih segar, atau mungkin itu hanya perasaan Nata karena beban di pundaknya sedikit terangkat. Setelah konfrontasi dengan Paman Danu kemarin, atmosfer di rumah mereka berubah. Kirana tidak lagi terlihat setegang biasanya, dan Arya tampak lebih ceria saat memakai sepatu sekolahnya yang baru saja dilem rapi oleh Nata.
Nata melangkah keluar rumah menuju kediaman Bu Haji yang terletak di depan gang. Ia memegang amplop cokelat kecil berisi uang tunai sebesar satu juta dua ratus ribu rupiah—pelunasan tunggakan sewa dua bulan ditambah biaya sewa untuk bulan berjalan.
Bu Haji sedang menyapu teras ketika Nata datang. Wanita paruh baya itu berhenti dan menatap Nata dengan raut wajah tidak enak hati.
"Nata... soal kemarin itu, Ibu minta maaf ya kalau Pamanmu bikin kalian nggak nyaman," ucap Bu Haji agak ragu.
Nata tersenyum sopan—sebuah senyum formal yang terukur. "Tidak apa-apa, Bu. Saya ke sini justru ingin mengembalikan uang yang kemarin dititipkan Paman Danu. Saya ingin membayar sewa kami sendiri."
Nata menyerahkan amplop itu. Bu Haji menerimanya dengan mata terbelalak. Ia menghitung lembaran uang seratus ribuan di dalamnya dengan tangan gemetar.
"Lho, Nata... ini uang dari mana? Banyak sekali?"
"Saya bekerja sampingan sebagai asisten riset daring untuk mahasiswa, Bu. Hasilnya lumayan. Saya harap Ibu tidak perlu lagi menerima uang dari pihak luar terkait rumah kami tanpa bicara dulu pada saya," ucap Nata dengan nada tenang namun mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.
Bu Haji mengangguk cepat, merasa segan pada remaja yang biasanya pendiam ini. "Iya, iya, Nata. Ibu mengerti. Ibu senang kalau kalian sudah mandiri."
Langkah pertama: Kedaulatan tempat tinggal. Nata tidak boleh membiarkan siapa pun memiliki celah hukum untuk mengusir mereka.
Sesampainya di SMA Tunas Bangsa, Nata tidak langsung masuk ke kelas. Ia menuju ke ruang perpustakaan yang masih sepi. Di tahun 2014, akses internet di sekolah adalah yang tercepat di lingkungan tersebut. Nata duduk di pojok, membuka komputer sekolah, dan mulai mencari informasi tentang Arsitek Nusantara, sebuah firma hukum dan properti yang ia tahu akan menangani pembebasan lahan untuk tol Trans-Nusantara.
Pikirannya bekerja cepat. Ia butuh sekutu. Seseorang yang memiliki integritas namun juga memiliki ambisi. Ia teringat pada satu nama: Pak Broto, guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di sekolahnya. Di masa depan, Pak Broto dikenal sebagai aktivis hukum yang sangat vokal membela hak-hak pemilik tanah kecil.
Nata sengaja menunggu jam istirahat untuk menemui Pak Broto di ruang guru. Pak Broto adalah pria paruh baya dengan kacamata tebal dan pembawaan yang sangat idealis.
"Permisi, Pak Broto. Bisa saya minta waktu sebentar?"
Pak Broto mendongak dari tumpukan tugas siswa. "Oh, Nata. Ada apa? Jarang-jarang kamu ke sini."
Nata duduk di kursi di depan meja Pak Broto. Ia meletakkan selembar kertas berisi ringkasan teknis tentang regulasi pembebasan lahan yang baru saja ia pelajari. "Pak, saya ingin berdiskusi soal perlindungan aset untuk anak di bawah umur yang ditinggal wafat orang tuanya. Terutama jika aset itu berada di zona pembangunan nasional."
Pak Broto mengernyitkan dahi. Topik ini terlalu berat untuk siswa SMA kelas tiga. "Itu bahasan yang sangat spesifik, Nata. Ada masalah?"
Nata menceritakan secara garis besar—tanpa menyebutkan detail BitCore atau taruhan bola—tentang tanah di desa kakeknya dan bagaimana ada pihak keluarga yang mencoba melakukan penipuan. Nata menunjukkan pemahamannya tentang hukum agraria yang melampaui usianya.
Pak Broto terdiam lama, menatap Nata dengan pandangan tidak percaya. "Nata, analisis kamu soal regulasi ini... ini setara dengan mahasiswa hukum tingkat akhir. Dari mana kamu belajar ini?"
"Saya banyak membaca di internet, Pak. Saya hanya ingin memastikan masa depan adik-adik saya aman," jawab Nata datar.
"Baiklah. Kebetulan saya punya rekan di LBH (Lembaga Bantuan Hukum). Jika kamu butuh konsultasi legal secara formal, saya bisa bantu hubungkan," ucap Pak Broto, kini dengan nada bicara yang lebih serius, seolah ia sedang berbicara dengan orang dewasa.
Langkah kedua: Jaringan perlindungan. Nata kini memiliki akses ke bantuan hukum yang kredibel. Jika Paman Danu kembali, ia tidak akan menghadapinya sendirian.
Saat keluar dari ruang guru, Nata berpapasan dengan Raka Dirgantara. Namun kali ini, tidak ada sandungan kaki atau ejekan. Raka justru menepi, memberikan jalan kepada Nata dengan wajah yang tertunduk. Pengaruh mental yang ditanamkan Nata sebelumnya mulai bekerja. Raka kini melihat Nata bukan sebagai mangsa, melainkan sebagai ancaman yang tak kasat mata.
Nata tidak mempedulikan Raka. Fokusnya beralih ke layar ponselnya. Harga BitCore di bursa internasional merangkak naik ke angka 475 dolar AS.
Sepulang sekolah, Nata mengajak Kirana dan Arya pergi ke pasar induk. Ia tidak lagi membeli beras murah yang penuh kutu. Ia membeli beras kualitas super, daging sapi, dan sayuran segar.
"Kak, ini nggak kebanyakan?" Kirana bertanya cemas sambil melihat keranjang belanjaan mereka.
"Tidak, Kirana. Kalian butuh nutrisi. Aku tidak mau kalian sakit," jawab Nata sambil membayar di kasir.
Di pasar, mata Nata terus mengamati interaksi para pedagang. Ia melihat masalah besar: banyak pedagang kecil yang kesulitan mengelola stok dan distribusi barang. Di masa depan, ini akan diselesaikan oleh aplikasi logistik, tapi di tahun 2014, ini adalah kekacauan yang menguntungkan bagi mereka yang bisa mengatur datanya secara manual namun presisi.
Nata mendekati seorang pedagang grosir telur yang tampak sedang bertengkar dengan sopir pengirimannya karena selisih jumlah barang.
"Pak, kalau Bapak butuh bantuan untuk mencatat stok dan rute pengiriman harian agar tidak ada selisih, saya bisa bantu buatkan sistem catatannya," tawar Nata.
Pedagang itu, Pak Haji Salim, menatap Nata dengan ragu. "Kamu anak sekolah? Bisa apa kamu?"
Nata tidak banyak bicara. Ia mengambil pulpen dan selembar kertas, lalu membuat tabel logistik sederhana namun sangat efisien untuk menghitung penyusutan barang. Dalam sepuluh menit, Nata menunjukkan di mana letak kesalahan pencatatan Pak Haji selama ini.
Pak Haji Salim tertegun. "Lho... benar. Selisihnya ada di sini!"
Sore itu, Nata pulang dengan tambahan uang dua ratus ribu rupiah sebagai uang terima kasih, ditambah janji bahwa Nata akan datang setiap sore untuk membantu pembukuan selama satu jam.
Ini adalah strategi Arus Kas Riil. Nata tahu kekayaan dari BitCore adalah untuk jangka panjang, tapi untuk kehidupan sehari-hari, ia harus memiliki sumber pendapatan yang logis di mata tetangga dan orang-orang sekitarnya agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Malam harinya, rumah mereka terasa jauh lebih hangat. Kirana memasak semur daging—aroma yang sudah bertahun-tahun tidak tercium di rumah itu. Arya makan dengan sangat lahap sampai belepotan, sementara Kirana terus menatap Nata dengan binar mata penuh rasa syukur.
"Kak, terima kasih," bisik Kirana saat mereka sedang mencuci piring bersama. "Aku merasa... aku merasa Ibu sedang tersenyum melihat kita sekarang."
Nata terhenti sejenak. Kata-kata Kirana menyentuh bagian terdalam di hatinya yang ia pikir sudah membeku. "Ini baru awal, Kirana. Kamu hanya perlu fokus belajar. Biarkan aku yang menjadi atap untuk rumah ini."
Setelah adik-adiknya tidur, Nata duduk di depan buku catatannya. Cahaya lampu neon baru yang lebih terang—yang baru saja ia pasang tadi sore—menerangi coretan-coretannya.
Ia menulis satu nama di puncak rencananya: NUSA-TRANS.
Ini adalah cikal bakal raksasa transportasi online di Indonesia yang di tahun 2014 masih berupa kantor kecil di Jakarta Selatan. Nata tahu, dalam beberapa bulan ke depan, mereka akan mencari pendanaan tahap awal.
Jika aku bisa memasukkan sepuluh atau dua puluh juta ke sana sekarang, nilainya di tahun-tahun mendatang akan menjadi fantastis, pikir Nata.
Masalahnya adalah akses. Bagaimana seorang siswa SMA bisa bertemu dengan pendiri startup dan meyakinkan mereka untuk menerima investasinya? Nata memejamkan mata, memanggil kembali ingatan masa depannya. Ia ingat sebuah turnamen catur dan teknologi yang diadakan oleh universitas ternama bulan depan. Pemenangnya biasanya mendapatkan kesempatan berjejaring dengan para tokoh bisnis muda.
Aku tidak hanya akan memenangkan turnamen itu, batin Nata dengan dingin. Aku akan membuat mereka mengejar aku.
Pikiran taktisnya mulai menyusun skenario. Nata Prawira tidak sedang bermain judi dengan hidupnya; ia sedang membangun sebuah mahakarya. Namun, di kegelapan malam, di sebuah rumah mewah di pusat kota, Paman Danu sedang memegang telepon dengan tangan gemetar.
"Ya, cari tahu soal anak itu. Dia berubah. Dia tahu hal-hal yang tidak seharusnya dia tahu. Pastikan siapa yang ada di belakangnya," ucap Danu kepada seseorang di seberang telepon.
Nata belum tahu bahwa gertakannya telah memicu rasa penasaran yang berbahaya. Perang antara arsitek muda dan pola lama baru saja memasuki babak baru yang lebih gelap.
Bersambung.....