ACT ZERO: Di Atas Malam yang Tinggi
- - -
Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis ditemukan tak bernyawa di atap gedung sekolah.
Bunuh diri.
Selama tiga tahun, rumor-rumor dan spekulasi liar bermunculan di mana-mana. Namun tak ada satu pun pihak yang menghentikan karena semua siswi diperbolehkan untuk saling bercerita, memberikan pendapat masing-masing tanpa terkecuali.
Misalnya seperti ... kematian gadis yang diduga merupakan aksi pembunuhan.
Tidak ada yang tahu. Karena mereka yang mengetahuinya menyembunyikannya di dalam Drama.
Drama.
Panggung berisikan lima gadis bergerak melalui cerita yang akan dipertontonkan kepada para audiens. Di balik tirai berwarna merah ... sebelum lampu sorot dinyalakan dan musik dimainkan, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati—alasan dari terciptanya sebuah Drama.
Act Zero.
- - -
Endiya Winter
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endiya Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ACT II
“Vily!! Apa yang kau lakukan?! Akkh, singkirkan tanganmu! Aku baru saja pergi ke salon kemarin!” Tubuh Ayaa terombang-ambing di atas kursi, mengikuti tempo tarikan Villy saat menjambak rambutnya.
“Kaulah yang memulai lebih dulu!”
“Hu? Kau bilang apa? Aku? Kaulah yang mengejekku tidak bisa melihat lebih dulu!”
“Itu karena kau GILA! Aku memintamu untuk melerai adik-adikmu, tapi kau malah menontonnya sebagai hiburan?! Haruskah dengan begitu kau kuanggap waras?!”
“Oi, dengar! Justru kaulah yang gila! Padahal jam sekolah kita sudah selesai, tapi kau masih memikirkan tugas. Aku sudah bilang seribu kali padamu untuk kerjakan nanti. Apa kepalamu tidak botak, hu? Karena itukah kau memintaku untuk melerai mereka?! Agar kepalamu benar-benar mulus tanpa sehelai rambut?”
“AYAA!!” Villy menyalak galak, menjerit, rupanya Ayaa membalas balik dengan ikut serta menjambak rambut cokelat miliknya. “Lihat saja! Kau yang akan botak di tanganku!”
Yah, begitulah akhir dari riwayat rambut si pemilik nama. Berakhir sudah di tangan makhluk tak berperikemanusiaan seperti kedua sahabat dekat itu. Lantas, cuaca sore yang tampak eksotis dari atas balkon, tempat yang semula berisikan ketenangan dan kedamaian, berubah dalam sekejap ketika terdengar seru-seruan saling menyalak tak mau kalah. Juga kata umpatan pun mulai bermunculan sahut-menyahut. Beginilah ... kamar 55 yang damai~
...• • • • •...
Lonceng yang terpasang di atas pintu berbunyi; menandakan bahwa ada orang yang datang. Sambil melihat catatan kecil berisikan tulisan tangannya, Erica langsung tahu ke mana ia harus pergi. Deretan rak-rak terdepan dilewatinya, ia pergi menuju lemari pendingin untuk mendapatkan sayuran segar dan bumbu-bumbu kemasan yang lengkap tersedia di sebelahnya.
Pada hari pertama pertukaran kamar asrama, ia mengajukan diri untuk memasak. Katanya ada menu spesial yang menurutnya cocok dijadikan santapan malam bersama anggota baru.
Tentang alasannya pergi sendiri tanpa ditemani adalah karena dua teman sebayanya sedang sibuk dengan urusan pribadi. Irene mengancam sambil menodongkan sepatu, berkata bahwa Karinn tidak boleh menaiki ranjang sebelum mengepel ulang lantai yang kotor karena kejar-kejaran mereka. Tentu diancam begitu Karinn langsung menurut tanpa banyak protes. Tentunya juga Irene mengawasi pekerjaannya, membuatnya agar tidak ada celah untuk kabur.
“Erica..” Seseorang menepuk bahunya dari belakang, menyapanya. “Kau sendirian?” tanya Karina. Dengan keranjang plastik di lengan kirinya yang sudah terisi penuh, tampaknya dia berbelanja cukup banyak untuk keperluan memasak nanti malam.
“Ya, Irene tidak bisa menemaniku.”
Karina membolak-balik sawi putih, memastikan setiap lembar daunnya dalam keadaan bagus, baru kemudian dimasukkan ke dalam keranjang. “Pertukaran kamar kali ini tidak seperti biasanya. Kamar kita terpisah jauh.”
“Aih, tidak apa-apa. Aku akan lebih sering berkunjung ke kamarmu.” Selesai mengambil sayuran yang diperlukan, Erica pindah ke deretan rak bumbu dan rempah-rempah. Satu rak yang berisikan beraneka ragam bumbu masak itu sebagian besar dikemas secara instan—guna memudahkan para gadis ketika memasak, baik yang sudah ahli maupun yang masih terbalik menggunakan alat parut. “Omong-omong bagaimana dengan anggota barumu? Junior kelas 10 yang kau bilang menyebalkan karena omong kosongnya?” tanyanya, membuka topik obrolan.
“Kak Ariana sudah mengurusnya. Perangainya yang tegas dan bijak benar-benar cocok jadi ketua kamar.” Atensi Karina melihat ke arah lain; pada sosok gadis yang sedang berdiri di depan pintu Fe-Mart.
“Baguslah.”
“Kau sendiri, bagaimana dengan Kak Villy?”
“...Hu? Kak Villy? Kenapa dengannya? Tidak ada apa-apa, kok.”
“Bukan, maksudku ... dia orang yang seperti apa?”
“Kenapa tiba-tiba kau penasaran dengannya?”
Karina tersenyum canggung sembari menggaruk tengkuk kepalanya yang mendadak terasa gatal. “Aih, jawab saja. Aku hanya ingin tahu pendapatmu.”
“Hmm, aku menjadi teman sekamarnya baru dua kali. Dan kali pertama adalah ketika aku kelas sepuluh, jadi aku tidak yakin aku mengenalnya dengan baik.” Erica menghentikan tangannya sejenak, meninggalkan pekerjaannya yang sedang teliti memilih bumbu masakan. “Tapi, kau tahu aku ahlinya sebagai pengamat.” Dia tersenyum, senyum yang penuh makna lain. ”Menurutku, dia orang yang sulit ditebak karena agak tertutup. Namun sikapnya yang serius, mudah marah, dan kaku tampak mencolok. Membuatku mudah mengingatnya bahwa dia orang yang seperti itu.”
Karina mengangguk-angguk, setuju. “Benar, dia orang yang seperti itu.”
Langkah Erica terhenti, merasakan perbedaan gelombang suara yang signifikan. Sambil berbalik badan, dia bertanya, “Ya, lalu?”
“Koin dua sisi memiliki ekor dan kepala. Kak Villy ... kupikir dia juga begitu.”
...• • • • •...
Tongkat pel bergerak maju-mundur, membersihkan jejak kaki yang tercetak di seluruh lantai kamar. Satu-dua kali diusap rupanya masih kotor; bukan karena dipel dengan cara yang salah, melainkan terlalu salah untuk dikatakan salah. Karinn berjalan maju membawa tongkat pelnya, tidak heran cara mengusapnya mengikuti barisan keramik lantai terus menciptakan jejak kaki baru. Tidak heran juga dia mengerjakannya sambil terbungkuk-bungkuk, sementara Irene duduk di ranjang sambil menyiapkan sepatu di sebelahnya.
“Berhenti melototiku!” Dia menyalak galak, mengacungkan jari tengah ke belakang tubuhnya. “Simpan tatapanmu! Aku tidak menerima tatapan dari yang bukan penggemarku!”
Irene menyilangkan kedua tangannya ke dada, geleng-geleng kepala. Dia membatin bisa-bisanya dalam keadaan begini anak itu mengoceh yang tidak-tidak. “Aku di sini bukan untuk jadi penggemarmu, melainkan ... aku di sini untuk jadi penguntitmu.” Dia menarik sudut bibirnya ke atas, tersenyum menyeringai sambil mengangkat sepatunya ke udara.
Bahu Karinn bergidik, sensasi mengerikan lantas menjalar di belakang lehernya. Jelas dia tahu kata penguntit yang dimaksudnya bermakna pada tindakan menerornya dengan sepatu, menyiratkan bahwa sepatu itu bisa terlempar kapan saja. “Kau gila? Kau tersenyum setelah mengatakan itu? Kau psikopat, hu? Kau—”
Gbrak..! Bunyi yang mirip seperti benda jatuh nyaring terdengar. Serempak, Karinn dan Irene yang sedang adu mulut, juga Ayaa yang sedang membereskan dapur untuk Erica memasak, menoleh. Villy yang menjadi satu-satunya orang yang tidak muncul wajahnya di sana diduga ada di dalam kamar mandi sampai bunyi keras itu terdengar.
“....Tidak! Jangan!” Ayaa menodongkan telapak tangannya, mencegah pergerakan kedua juniornya yang gesit langsung berlari.
“Kenapa?” tanya Karinn.
“....Aku akan masuk dan memeriksanya. Kalian tunggu saja di luar.” Napas Ayaa mendadak tidak beraturan, keringat di dahinya bercucuran seperti tubuhnya menunjukkan reaksi panik berlebihan.
Pintu kamar mandi pun tertutup, meninggalkan banyak pertanyaan yang membingungkan bagi Karinn. Karena sudah begini keadaannya, tidak ada yang bisa dilakukannya. Dia pun duduk di sebelah Irene, kemudian menyikutnya dan berbisik tentang kedua senior yang tampak aneh itu.
“Aku tidak tahu. Menyingkirlah..” katanya sembari menjauhkan wajah Karinn.
“Aih, dasar kau brengsek.” Karinn balas meninju, lalu menggeser lagi duduknya agar kembali mendekat pada si gadis garang. “Kulihat reaksimu tidak terkejut tadi. Jangan-jangan kau pernah melihat kejadian ini sebelumnya, ya?”
Tanpa digubris atau setidaknya menunjukkan ekspresi wajah yang berbicara, wajah Karinn disingkirkan lagi.
“Kalau kau khawatir, seharusnya kau menunggu di depan pintu. Kenapa kau di sini?”
“Kau sendiri?”
“...Hu? Aku ... Aku di sini untuk mendengar cerita darimu.”
Kali ini Irene akhirnya menoleh, namun tetap saja wajah datarnya tidak menjawab apa-apa.
“Kau tidak ingin mengatakan sesuatu? Bukankah ada yang kau tahu?”
“Tidak.”
“Ckckck, dasar kunyuk ini.”
Karena usahannya mencari tahu tidak membuahkan hasil, Karinn pun lanjut mengepel lantai untuk mengesampingkan hal itu sejenak. Namun ternyata, cara mengepelnya malah tambah salah dari sebelumnya lantaran pikirannya berputar macam-macam rasa penasaran. Ia sadar bahwa si gadis garang itu tahu sesuatu tentang yang terjadi pada Villy, juga Ayaa selaku sahabat dekatnya yang tidak kalah tampak mencurigakan. ‘Ada apa di sini?’ Hanya pertanyaan itulah yang sedari tadi menggantung di udara tanpa jawaban. Makin ditunggunya malah makin membuatnya resah. Dan makin diabaikannya malah makin membuatnya terjerat. Ah, pokoknya.. ‘Ada apa di sini?’
Lima menit berlalu sangat lama, dibanding dengan Karinn yang semenit lebih awal menyelesaikan mengepel lantainya. Ayaa dan Villy pun akhirnya keluar dari kamar mandi. Wajah mereka tampak tidak menunjukkan ketegangan seperti seharusnya, seolah kejadian bunyi keras itu hanyalah sesuatu yang dapat berlalu dalam waktu.
“Apa yang terjadi denganmu?” Karinn langsung bangkit dan menghampiri Villy, bertanya penuh penasaran.
“Tidak ada apa-apa. Aku ... Aku hanya terpeleset dan terjatuh.”
Lantas, atensi Karinn dan Irene pun langsung tertuju pada dahi Villy yang ditempelkan kain kasa. Dari sanalah luka akibat bunyi keras tadi berasal.
“Kau belajar terlalu keras. Beristirahatlah sebentar di ranjang. Akan kubuatkan teh hangat untukmu.” Irene pergi ke dapur, mulai menyiapkan panci dan keperluan lainnya untuk meracik teh.
Sementara ketiganya berlalu, Karinn masih membisu di tempatnya berdiri, menyadari adanya kejanggalan yang terlewat. Ia yakin melihat Ayaa langsung datang menghadangnya, lantas bagaimana bisa ada kain kasa dan plester padanya? Kotak P3K terletak di atas lemari, apa itu artinya sejak awal dia mengantonginya? ‘Kenapa?’ ‘Apa dia sudah menduga hal seperti ini akan terjadi?’ ‘Atau hanya untuk berjaga-jaga saja?’ 'Atau ... apa?'
Ah, masa bodoh dengan pikirannya. Ia akan cari tahu sendiri. Karinn pun masuk ke dalam kamar mandi, berniat mencari petunjuk lain yang setidaknya berguna walaupun ia tidak paham.
Dan hal pertama yang disadarinya adalah tentang udaranya yang terasa hangat, merangsang hormon adrenalinnya untuk mempercepat detak jantungnya. Bisa dibilang juga atmosfer ketegangan itulah yang menyelimuti dinding kamar mandi, seolah ada napas berat yang bercampur dengan partikel udara.
Karinn menghampiri salah satu sisi dinding yang terdapat noda darah, tampaknya berasal dari dahi Villy yang terluka. Jari-jarinya mulai bergerak menyentuhnya, merasakan keanehan lain. Noda ini ... setinggi kepalanya, yang mana itu berarti sejajar dengan jarak pandang Villy saat terbentur. Pola cedera yang dihasilkan juga lebih terarah; di dahinya.
“Mustahil..” Kini akhirnya dia dapat tahu bahwa bunyi keras itu bukanlah berasal dari tubuh Villy yang jatuh, melainkan berasal dari kepalanya yang terbentur. Dan ... dia terbentur dalam posisi berdiri, posisi yang tidak wajar bagi seseorang yang jatuh secara tidak sengaja karena terpeleset.
Dua keanehan yang ditemukannya saja sebenarnya sudah cukup menjawab rasa janggalnya. Namun seolah tidak ada habisnya, kini ia menemukan kemasan suntikan tergeletak di ujung pintu. Dilihat dari tempatnya, sepertinya benda itu terbang terbawa angin saat seseorang merobeknya.
Benar. Setelah diingat-ingat lagi, Ayaa menggenggam sesuatu di tangan kirinya sementara tangan kanannya dihadangkan. Walau disembunyikan di belakang tubuhnya, Karinn dapat melihat dan kemudian tahu bahwa benda itu tidak ada di kantongnya seperti kain kasa dan plester.
“Kau benar-benar makhluk yang haus oleh rasa penasaran.” Irene tiba-tiba masuk ke dalam kamar mandi, lalu menyambar bungkus kemasan suntikan itu. “Ini sampah, kau harus membuangnya,” katanya sembari berbalik badan keluar dari kamar mandi.
“Oi,” panggil Karinn. “Kurasa kau juga tahu sampah apa itu.”
Irene tidak menjawab, wajahnya datarnya pun juga begitu.
“Kau tidak penasaran? Tidakkah menurutmu ini aneh? Apakah karena itu kau mengabaikannya walaupun tahu? Kenapa? Kau—”
“Baiklah,” selanya. “Tapi jangan lakukan hal seperti ini lagi.” Irene mengambil beberapa langkah, mendekatkan jarak di antara mereka. “Pertama, kau benar. Ini bukan kali pertama aku melihat Kak Villy begini, juga tentang bungkus suntikan itu yang selalu muncul di situasi tertentu.” Dia mengambil satu langkah lagi, semakin dekat dan semakin merendahkan nada suaranya. “Kedua, aku tidak penasaran. Seberapa keras pun aku mencari tahu, usahaku selalu berakhir nihil. Terlebih, aku tidak tahu apa-apa tentangnya. Kami hanya sebatas senior dan junior yang kebetulan menjadi teman sekamar beberapa kali. Jadi kupikir sebaiknya aku tidak ikut campur.” Irene mengambil telapak tangan Karinn, menyerahkan kembali bungkus kemasan suntikan itu sembari berkata, “Aku tidak akan bilang bahwa kau seharusnya juga tidak ikut campur. Kaulah yang memutuskan.”
Dipandanginya bungkus kemasan tersebut, mencoba mereka-reka lebih dalam tentang fakta bahwa si gadis garang itu ternyata sudah lebih dulu menyelidiki. “....Kenapa kau berkata jangan lakukan hal seperti ini lagi?”
Irene mengatupkan kedua bibirnya, menunjukkan tanda-tanda tidak menggubris. Sembari dia mengalihkan kontak mata, dia menepuk bahu Karinn lalu berbalik badan dan pergi. Beginilah obrolan mereka berakhir tanpa penutup.
...• • • • •...
“Apa yang salah? Aku berkata jujur! Dia bekerja di sini! Kalian tidak mempercayaiku?”
“Nek, kami benar-benar mengatakan yang sebenarnya. Jadi tolong jangan memaksa.”
“Hari sudah hampir malam, mari kuantar kau pulang. Di mana rumahmu?”
“Tidak! Aku tidak akan pergi sebelum menemuinya! Biarkan aku masuk!”
Pak John dan satu rekannya yang bekerja sebagai petugas asrama kompak langsung memasang badan, menghadang gerakan memberontak sang nenek. Satu-dua kali percobaan tenaga mereka masih kuat, namun pada percobaan ke tujuh dalam waktu lima belas menit, napas mereka bahkan dirasa sudah berada di ujung tanduk—kewalahan.
“Maaf, nek. Tapi orang yang kau cari tidak bekerja di sini.” Wajah Pak John memerah, napasnya memburu dan mulutnya terasa berbusa lantaran sudah mengulangi kalimat yang sama nyaris sepuluh kali.
“Benar, jadi mohon mengertilah dan jangan buat keributan, ya. Ini hari pertama pertukaran asrama para siswi, mereka—”
“Kalian yang membuat keributan!” Sang nenek menyalak galak, suaranya masih terdengar lantang dan nyaring walaupun sudah banyak mengoceh sedari awal kedatangannya. “Jika kalian menyambutku dengan baik, aku tidak akan bersikap begini! Aih, sikap anak zaman sekarang memang tidak bisa toleransi! Kalian tidak punya sopan santun terhadap orang tua!”
Kira-kira sepuluh meter setelah mengurangi kecepatan, lampu sein kiri menyala. Setelah menepi, penumpang di dalamnya lantas buru-buru turun begitu jendela taksi memaparkan pemandangan dua orang pria sedang berseteru dengan seorang nenek.
“Ada masalah apa di sini?” tanya Riyan, tergopoh-gopoh menghampiri area keributan.
“...Begini, pak.” Pertama-tama Pak John melepaskan dulu tangannya di lengan sang nenek, menyerahkannya kepada Pak Sion sementara. “Nenek itu buta,” katanya dengan nada berbisik.
Riyan mengangguk, tahu bahwa tongkat panjang yang tergeletak di tanah itu sudah menjelaskan tentang kondisinya.
“Dia datang ke sini untuk mencari seseorang, tapi sepertinya dia keliru.” Pak John membungkukkan badan, mengambil sebuah buku yang tampaknya ditepis oleh si nenek saat mencoba memberontak. Buku itu berisikan foto dan data diri singkat dari para pekerja; guru, pengurus asrama, dan petugas keamanan. “Dia bahkan menyebutkan ciri-cirinya. Tapi tetap saja setiap kali kami bilang 'tidak ada orang dengan ciri-ciri tersebut', dia mengamuk dan berkata bahwa kamilah yang keliru.”
Riyan diam sejenak, mulai memahami situasinya. Pak John menyebutkan sang nenek tahu tentang ciri-ciri orang yang dicarinya, itu berarti dia mengenalnya dengan sangat baik. Dia pasti kecewa mendapatkan jawaban yang bahkan tidak dapat dimengertinya. “Nek,” Riyan menghampirinya, sembari memberi kode pada Pak Sion untuk melepaskan ancang-ancang tangannya yang siap menghadang. “Kau sudah jauh-jauh datang kemari. Kalau boleh, ceritakan sedikit tentang orang itu agar kami bisa membantu.”
Napas sang nenek berangsur-angsur mereda, otot lehernya yang menegang pun mulai rileks. Lantas, Pak John bergegas memberinya kursi, mengulur waktu walaupun tahu tidak mudah menangani kesalahpahaman di sini. “Dia wanita yang sangat kukenal. Wajahnya hangat dan penuh ketenangan seperti bulan. Orang-orang menilainya sebagai pribadi yang cerah, kreatif, dan energik. Tapi sebenarnya dia tidaklah lain seperti bulan purnama yang menyembunyikan bayangannya dibalik cahaya peraknya. Dia sangat rapuh. Setiap kali memikirkannya membuatku sedih, itu sebabnya aku datang kemari.” Sang nenek menengadahkan kepalanya ke atas, seolah menatap langit senja yang sedang bertransformasi ke langit malam. “Dia bercerita padaku, dia sudah lama meninggalkan karirnya sebagai Ahli Toksikologi, dan beralih menjadi guru di sekolah pinggiran pusat.”
“Sekolah di daerah sini ada banyak, nek. Mana bisa kau bersikeras—”
Riyan mengangkat telapak tangannya, mencegah Pak Sion mengoceh lebih panjang. Sementara itu dia mengernyitkan dahi, merasakan beberapa kata yang tampaknya familier di telinganya. ‘Wanita yang hangat’, ‘Cahaya bulan purnama dan bayangannya’, ‘Ahli Toksikologi’....
Pak John berjalan mendekatinya, berbicara berbisik, “Dia menyebutkan kalau nama orang yang dicarinya adalah Keisha, pak.”
“Apa?” Satu kali berkedip, jantung Riyan terasa berhenti sejenak, membuat kepalanya benar-benar kosong secara mendadak. Benar ... Sebenarnya sejak awal ia mencampuri keributan, ia sadar ingatannya pernah menangkap sosok nenek tersebut. Namun sedikit pun tak pernah terpikir olehnya bahwa sang nenek pembuat keributan di pos jaga sekolah dini hari adalah ... Nek Mira.
Di kampung halamannya dulu, mereka tinggal bersebelahan. Nek Mira memiliki hubungan yang cukup dekat dengan ibunya semasa hidupnya. Itulah sebabnya, sesekali ia datang ke rumah mereka—menjaga Riyan kecil, menyuapinya makan sambil mengajaknya berjalan-jalan di sekitar rumah. Ia juga tak segan menegur Keisha setiap kali melihatnya belajar seharian tanpa memberi waktu istirahat untuk dirinya sendiri.
Sebelum Riyan dan kakak perempuannya pindah ke pusat kota, ia sempat mendengar kabar bahwa kondisi kesehatan Nek Mira terus menurun seiring berjalannya waktu. Terakhir kali ia berkunjung, penglihatan wanita tua itu sudah hilang akibat katarak yang telah lama dideritanya.
Di mata anak-anak, Nek Mira adalah sosok yang hangat. Meski dikenal cerewet dan mudah marah, di balik itu semua ia tetap menjadi tempat paling nyaman untuk singgah sejenak—rumah kecil yang memberi rasa aman, tempat di mana anak-anak merasa diterima apa adanya.
Begitulah awalnya, kemudian Riyan kecil mengenal dan perlahan menjadi dekat dengan tetangganya itu.