Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, sang kaisar kehilangan segalanya—takhta, kekuasaan, bahkan nyawanya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jamuan Racun di Halaman Batu Sunyi
Uang adalah pelumas dunia. Dengan seratus keping emas di saku, pintu-pintu yang sebelumnya tertutup rapat bagi Yang Chen kini terbuka lebar tanpa suara.
Yang Chen tidak kembali ke "Penginapan Tikus" yang kumuh dan bau itu. Tempat itu terlalu berisik, dindingnya setipis kertas, dan terlalu banyak mata-mata rendahan yang mengawasi. Untuk proses terobosan (breakthrough) kali ini, Yang Chen membutuhkan privasi mutlak.
Yang Chen berjalan menuju Distrik Barat.
Distrik ini adalah area pemukiman kelas menengah yang tenang. Rumah-rumah di sini terbuat dari batu bata abu-abu yang kokoh, dikelilingi pagar tembok setinggi dua meter. Jalanannya bersih dari kotoran kuda, dan pepohonan Willow ditanam rapi di sepanjang trotoar.
Yang Chen berhenti di sebuah kantor agen properti.
Lima belas menit kemudian, Yang Chen keluar dengan sebuah kunci tembaga berat di tangan.
Yang Chen telah menyewa sebuah rumah halaman kecil (courtyard house) yang terletak di ujung jalan buntu. Harganya mahal: 5 keping emas per bulan. Tapi rumah itu memiliki tembok pagar yang tinggi, sumur pribadi, dan yang terpenting: jauh dari tetangga.
Yang Chen tiba di rumah barunya saat langit mulai berubah warna menjadi ungu senja.
Yang Chen membuka gerbang kayu jati yang berat. Engselnya terawat baik, tidak berderit.
Halaman rumah itu tidak besar, hanya sekitar 5x5 meter, dilapisi batu lempeng yang rata. Ada satu pohon Persik tua yang tumbuh di sudut, daun-daunnya yang gugur berserakan di lantai batu.
"Cukup," gumam Yang Chen, menutup gerbang dan menguncinya dari dalam dengan palang kayu tebal.
Yang Chen tidak masuk ke dalam bangunan utama. Yang Chen memilih untuk melakukan kultivasi di halaman terbuka, di bawah langit malam. Udara terbuka memudahkan sirkulasi energi alam, dan jika terjadi ledakan energi, atap rumah tidak akan runtuh menimpa kepala Yang Chen.
Yang Chen duduk bersila di tengah halaman batu.
Yang Chen meletakkan buntalan bahan obat yang dibeli dari Paviliun Seribu Herbal di depannya.
Tiga kotak kayu kecil.
Yang Chen membukanya satu per satu.
Kotak pertama berisi Bunga Janda Berdarah (Blood Widow Flower). Bunga ini berwarna merah menyala dengan kelopak yang memiliki pola seperti jaring laba-laba hitam. Baunya manis memualkan, seperti bau bangkai yang ditaburi gula. Ini adalah neurotoksin (racun saraf) yang kuat. Efeknya menyebabkan halusinasi dan kejang otot ekstrem.
Kotak kedua berisi Bubuk Kalajengking Pasir (Sand Scorpion Powder). Bubuk berwarna kuning kusam yang terlihat tidak berbahaya, tapi jika disentuh dengan kulit telanjang, bubuk ini akan menyebabkan sensasi terbakar seperti disiram asam. Sifatnya korosif, berfungsi untuk melelehkan jaringan lemah.
Kotak ketiga berisi Getah Pohon Hantu (Ghost Tree Sap). Cairan kental berwarna hitam pekat yang dingin. Bahkan dari jarak satu meter, Yang Chen bisa merasakan hawa dingin menusuk tulang yang memancar darinya. Ini adalah racun Yin yang berfungsi membekukan aliran darah.
"Menu makan malam yang mematikan," komentar Yang Chen datar.
Bagi orang normal, menelan satu saja dari bahan ini berarti kematian yang menyakitkan dalam tujuh langkah. Tapi Yang Chen berniat menelan ketiganya sekaligus.
Yang Chen tidak memiliki tungku untuk memurnikan racun ini menjadi pil yang aman. Yang Chen akan menggunakan metode "Pencampuran Kasar".
Yang Chen mengambil sebuah mangkuk batu bekas tempat minum burung yang ada di taman itu. Yang Chen membersihkannya sekilas, lalu menuangkan Getah Pohon Hantu ke dalamnya.
Cairan hitam itu mengisi dasar mangkuk.
Lalu, Yang Chen menaburkan Bubuk Kalajengking Pasir.
Cesss...
Terjadi reaksi kimia. Cairan hitam itu mendesis, gelembung-gelembung kuning kecil muncul di permukaannya. Suhu cairan itu naik drastis, tapi hawa dinginnya tetap ada. Ini adalah konflik elemen Racun Panas dan Racun Dingin.
Terakhir, Yang Chen meremas Bunga Janda Berdarah di tangan kanannya hingga hancur mengeluarkan sari merah, lalu menjatuhkannya ke dalam campuran itu.
Warna cairan di mangkuk berubah menjadi ungu keruh yang mengerikan. Asap tipis berwarna hijau naik dari mangkuk itu. Seekor lalat yang kebetulan terbang melewati asap itu langsung jatuh mati di tempat, sayapnya layu seketika.
Racun Tingkat 2: Lumpur Penghancur Urat (Vein Destroying Mud).
Yang Chen menatap mangkuk itu.
Target kultivasi malam ini adalah Body Tempering Tingkat 4: Penempaan Urat (Tendon Forging).
Setelah kulit (Tingkat 1-2) dan organ dalam (Tingkat 3), langkah selanjutnya adalah memperkuat jaringan penghubung: tendon, ligamen, dan urat besar. Urat manusia biasa itu lunak dan rapuh. Urat seorang kultivator haruslah sekuat kawat baja dan seelastis karet naga.
Untuk mencapai itu, urat lama harus "dihancurkan" dan dipaksa tumbuh kembali dengan kepadatan lebih tinggi.
Racun ini akan melakukan tugas penghancuran itu.
Yang Chen menarik napas dalam-dalam, memusatkan Willpower (Kehendak Jiwa).
"Jangan mati, Zhao Wei," bisik Yang Chen pada tubuh yang ditempatinya.
Yang Chen mengangkat mangkuk batu itu ke bibir. Tanpa ragu, Yang Chen menenggak cairan kental beracun itu dalam satu tegukan besar.
Glek.
Rasanya pahit, asam, dan pedas sekaligus.
Detik pertama, tidak terjadi apa-apa. Cairan itu masuk ke lambung.
Detik ketiga, lambung Yang Chen bereaksi. Rasa mual yang hebat menyerang, tubuh ingin memuntahkan racun itu. Yang Chen mengatupkan rahang kuat-kuat, memaksa otot kerongkongan untuk menahan muntahan.
Detik kesepuluh...
BUM!
Racun itu menyebar.
Bukan lewat darah, tapi lewat sistem saraf.
"AAARGHHH!"
Yang Chen mendongak, mulut terbuka lebar dalam teriakan tanpa suara.
Sakit.
Ini bukan rasa sakit kulit terbakar seperti saat mandi air belerang. Ini berbeda.
Rasanya seolah-olah ada ribuan kail pancing kecil yang ditancapkan ke setiap urat di tubuh Yang Chen—dari urat leher, urat lengan, hingga urat di balik lutut—lalu kail-kail itu ditarik serentak ke arah yang berlawanan.