NovelToon NovelToon
Hamil Anak Para Ceo Kaya

Hamil Anak Para Ceo Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / CEO
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Warning ***+

~~~

Mayang Puspita Sari, seorang lulusan SMP dari kampung, pindah ke ibu kota dengan tujuan menyelamatkan adiknya yang sakit keras dan menopang ekonomi keluarga. Setelah berjuang mencari pekerjaan di kota yang keras, ia akhirnya mendapatkan kesempatan sebagai ibu pengganti - pekerjaan yang memberinya hidup berkecukupan dan biaya pengobatan yang cukup untuk adiknya.

Seiring waktu, Mayang malah merasa senang dengan pekerjaannya karena semua keinginannya tercapai dan bayarannya sangat besar, meskipun ia tidak menyadari bahwa pilihan ini akan membawa konsekuensi emosional dan moral yang tidak terduga nanti.


~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 6

***

  Tiga bulan telah berlalu sejak malam badai yang menghancurkan sekaligus membangun kembali hidup Mayang Puspita Sari. Kini, ia tidak lagi berada di penthouse Aris yang penuh dengan aturan dan obsesi ganjil. Mayang berdiri di balkon apartemen pribadinya di kawasan Kuningan—sebuah unit mewah dengan pemandangan kota yang tak kalah megahnya, yang didapatnya sebagai "bonus ketaatan".

  Mayang mematut dirinya di depan cermin besar setinggi plafon. Tubuhnya telah kembali ramping, berkat pelatih pribadi dan diet ketat yang ia bayar dengan sisa uang kontraknya. Tidak ada lagi jejak-jejak kelelahan atau trauma persalinan di wajahnya. Kulitnya kini putih bersih, dirawat dengan teknologi laser tercanggih.

  "Ibu Mayang, mobil jemputan sudah di bawah," suara asisten barunya, seorang gadis muda yang ia pekerjakan untuk mengurus segala kebutuhannya.

  Mayang tersenyum tipis. Ia mengambil tas tangan dari kulit eksotis, lalu memoleskan lipstik merah menyala. "Kita ke lounge hotel Grand Hyatt. Aku ada janji dengan seseorang."

  Lounge hotel itu dipenuhi aroma kopi mahal dan obrolan bisnis tingkat tinggi. Mayang melangkah dengan penuh percaya diri, tumit tingginya mengetuk lantai marmer dengan irama yang tenang. Ia bukan lagi gadis SMP yang gemetar saat melihat kemewahan; kini, ia adalah predator yang tahu persis nilai dari setiap lekuk tubuhnya.

  Di salah satu meja sudut, seorang pria paruh baya dengan jam tangan seharga satu rumah subsidi menatapnya tanpa kedip. Namanya Gunawan, seorang duda kaya pemilik jaringan logistik.

  "Kau jauh lebih cantik dari foto-fotomu, Mayang," ujar Gunawan saat Mayang duduk di depannya.

  Mayang tertawa kecil, suara tawa yang sudah ia latih agar terdengar elegan namun menggoda. "Foto tidak bisa menangkap... kepatuhan yang saya miliki, Tuan Gunawan."

  Gunawan memajukan tubuhnya, tampak tertarik. "Aku dengar dari rekan-rekanku, kau adalah 'asisten khusus' yang sangat profesional. Aris Raditya tidak pernah memuji orang, tapi dia bilang kau adalah satu-satunya wanita yang bisa memenuhi kriterianya yang... sulit."

  Mayang memutar gelas sampanyenya. "Tuan Aris memiliki selera yang unik. Saya hanya memastikan dia mendapatkan apa yang dia bayar. Dan seperti yang Anda lihat, saya masih utuh, bahkan lebih baik dari sebelumnya."

  Gunawan mengamati Mayang dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Aku tidak butuh bayi, Mayang. Aku sudah punya tiga ahli waris yang merepotkan. Tapi aku butuh 'pendamping' yang mengerti rahasia, yang tahu kapan harus bicara dan kapan harus... diam menuruti semua keinginanku."

  Mayang mencondongkan tubuhnya, membiarkan aroma parfum mahalnya meracuni indra Gunawan. "Saya sangat ahli dalam hal itu, Tuan. Saya tidak mencari cinta. Saya mencari kenyamanan, dan saya bersedia menukar apa pun untuk itu."

  "Apa pun?" tanya Gunawan dengan nada menantang.

  "Asalkan harganya tepat," jawab Mayang lugas.

  "Saya tidak murah, Tuan Gunawan. Pengalaman saya dengan Tuan Aris telah menaikkan standar hidup saya. Saya punya adik yang harus tetap sekolah di luar negeri dan ibu yang tidak boleh lagi menyentuh cucian piring."

  Gunawan tertawa keras, merasa senang dengan kejujuran yang transparan itu. "Bagus. Aku suka wanita yang tahu harganya. Besok, aku akan mengirimkan kontrak baru ke pengacaramu. Tapi malam ini... aku ingin bukti pertama dari 'profesionalisme' yang kau banggakan itu."

  Meskipun Mayang tampak sangat dingin dan terkendali, ada satu momen di malam itu saat ia kembali ke apartemennya sendirian. Ia duduk di pinggir ranjang, menatap sebuah foto kecil yang ia simpan di dalam laci terkunci—foto bayi laki-laki yang hanya sempat ia lihat selama beberapa detik sebelum Aris membawanya pergi.

  Hatinya berdenyut perih untuk sesaat. Namun, ia segera menutup laci itu dengan keras.

  "Jangan bodoh, Mayang," bisiknya pada diri sendiri. "Anak itu adalah tiketmu menuju hidup ini. Dia aman dengan ayahnya. Sekarang, kau harus memikirkan masa depanmu sendiri."

  Ia mengambil ponselnya, melihat saldo rekeningnya yang terus bertambah. Rasa perih di hatinya segera tertutup oleh rasa haus akan angka-angka nol yang lebih banyak lagi. Baginya, rasa sakit fisik saat persalinan dulu adalah investasi. Dan sekarang adalah waktunya menuai hasil dari rasa sakit itu.

  **

  Minggu-minggu berikutnya, Mayang mulai masuk ke lingkaran sosial yang lebih gelap dan lebih kaya. Ia dikenal sebagai wanita simpanan kelas atas yang paling dicari karena sifatnya yang tidak menuntut emosi, namun sangat patuh terhadap segala bentuk fantasi majikannya.

  Suatu malam, di sebuah pesta tertutup di atas kapal pesiar, ia kembali bertemu dengan Aris. Aris tampak sedang menggendong bayi laki-laki itu di kejauhan, dikelilingi oleh pengawal.

  Mayang membeku sejenak. Aris melihatnya. Pria dingin itu hanya memberikan anggukan kecil—sebuah pengakuan atas 'produk' yang pernah ia gunakan. Aris tidak mendekat, tidak juga menyapa. Baginya, Mayang hanyalah mesin yang sudah selesai menjalankan fungsinya.

  Melihat itu, Mayang justru merasa tertantang. Ia berbalik dan merangkul lengan Gunawan dengan lebih erat.

  "Ada apa, Mayang? Kau kenal pria itu?" tanya Gunawan cemburu.

  "Hanya mantan bos, Tuan. Tapi dia mengingatkanku pada sesuatu," ujar Mayang dengan senyum misterius.

  "Apa?"

  "Bahwa di dunia ini, pria seperti Anda dan dia tidak memuja wanita karena kecantikannya, tapi karena seberapa besar wanita itu mau hancur demi kepuasan Anda. Dan saya... saya sudah hancur sejak lama, Tuan. Jadi, pakailah saya sesuka Anda, asal emas di tangan saya tidak pernah berkurang."

  Gunawan terkesima dengan kegelapan di mata Mayang. Ia tidak menyadari bahwa wanita di depannya bukan lagi manusia, melainkan sebuah entitas yang tercipta dari rasa sakit, kemiskinan, dan keserakahan yang mendarah daging.

  Mayang mulai merancang "perburuannya" dengan lebih sistematis. Ia tidak lagi hanya mencari uang tunai. Ia mulai meminta saham, meminta aset properti, dan meminta koneksi. Ia sadar bahwa kecantikannya punya masa kadaluwarsa.

  "Tuan Gunawan," ucap Mayang suatu pagi saat mereka berada di meja makan. "Saya ingin mengelola salah satu anak perusahaan logistik Anda. Saya punya waktu luang yang banyak, dan saya ingin belajar bagaimana cara memutar uang."

  Gunawan mengernyit. "Kau sudah punya segalanya, Mayang. Kenapa ingin repot?"

  "Karena saya ingin menjadi seperti Anda," jawab Mayang dengan tatapan dingin. "Saya ingin menjadi orang yang membayar, bukan orang yang dibayar. Dan Anda adalah guru terbaik saya."

  Mayang Puspita Sari, sang lulusan SMP dari kampung, kini sedang bertransformasi menjadi monster yang lebih mengerikan dari Aris maupun Gunawan. Ia telah membuang nuraninya di ruang persalinan malam itu, dan kini, ia siap menelan siapa saja yang berani meremehkan harga dari sebuah rahim yang pernah terluka.

  *****

  bersambung.....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!