NovelToon NovelToon
Buronan Cinta 'Pak Komisaris'

Buronan Cinta 'Pak Komisaris'

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Cinta Terlarang / Enemy to Lovers
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Elprasco

Kehidupan Rafan sebagai komisaris polisi menjadi kacau balau setelah bertemu dengan gadis cantik bernama Myra.

Kriminal kejam yang selama ini ia cari, tak sengaja datang ke hadapannya menjelma bagai malaikat.

Bagaimana Rafan menahan diri agar tidak terseret pada kegilaan semata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji di masa lalu

"Kenapa kamu ke sini?"

"Kamu yang kenapa! Kenapa tidak datang?! Aku menunggumu sampai kakiku pegal!" Myra akhirnya meledak, menutupi rasa sakit hatinya dengan kemarahan.

"Aku tidak pernah memintamu menunggu. Kamu bisa latihan sendiri," sahut Yosep dingin, seolah kehadiran Myra hanyalah gangguan kecil.

"Tapi aku ingin main bumerang! Kamu harusnya bilang kalau ada urusan dengan Ayah!"

"Kalau tidak bisa main sendiri, ganti permainan yang lain," ketus Yosep. Ia menatap Myra dari atas ke bawah. "Berhentilah bermain seperti bocah. Seharusnya kamu lebih banyak latihan menembak atau memanah untuk memperbaiki kemampuanmu yang sangat buruk itu."

Kata-katanya menghujam tepat ke jantung Myra. Merendahkan, dingin, dan tak berperasaan.

"Iya, kamu benar. Semua salahku karena telah menunggumu," bisik Myra, suaranya bergetar. "Kamu sudah jago dalam segala hal, jadi kamu tidak akan pernah tahu perasaanku. Padahal aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu."

Myra membuang muka, air mata menggenang di pelupuk matanya. "Terima kasih sudah mengingatkan. Lain kali aku akan latihan sendiri tanpamu."

Myra berbalik dan berlari sekuat tenaga. Dadanya terasa nyeri, tenggorokannya tercekat. Ia menghapus air matanya dengan kasar. "Sial!" umpatnya.

Ia kembali ke bawah pohon rindang tadi. "Memangnya dia siapa? Seenaknya menilai kemampuanku!"

Myra menatap bumerangnya yang masih menyangkut di atas sana. Emosinya meluap. "Aku tidak butuh bantuanmu, Yosep. Aku bisa mengambilnya sendiri!"

Tanpa alas kaki, Myra memanjat batang pohon itu. Ini pertama kalinya ia melakukan hal senekat ini. Kulit tangan dan kakinya mulai terasa panas tergesek kulit pohon yang kasar, namun Myra tak peduli.

"Akhirnya dapat!" Myra tersenyum puas saat tangannya berhasil mencengkeram bumerang itu. Ia berdiri di atas dahan yang kokoh, menatap ke bawah dengan rasa bangga yang semu.

"Lihat! Aku bisa tanpa bantuanmu, Dasar sialan! Yosep si anak Ayah!" teriaknya ke arah rumah, meluapkan seluruh amarah yang menyesakkan dada.

Tak lama hingga kegirangan itu berbuah petaka. Kakinya terpeleset dahan yang licin.

"Aaa! Tolong!"

Myra reflek melempar bumerangnya dan berpegangan pada dahan kecil. Tubuhnya bergelantungan di udara. Napasnya memburu. Jika ia jatuh dari ketinggian dua meter ini dengan posisi yang salah, tulang-tulangnya pasti akan remuk.

"Myra!" sebuah suara memanggil dengan nada panik.

Myra menoleh. Yosep berlari ke arahnya. Bukannya lega, Myra justru merasa geram. Ia tidak sudi terlihat lemah di depan pria yang baru saja menghinanya.

"Kenapa harus datang sekarang? Aku tidak mau ditolong olehnya!" isak Myra dalam hati.

Ditatapnya tanah keras di bawah sana. Myra menggigit bibir. Ia lebih memilih menahan sakit fisik daripada harus menanggung malu dan kembali diremehkan. Dengan nekat, Myra melepaskan pegangannya.

BRUK!

"Sial!" Yosep mengumpat keras. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Myra meluncur jatuh seperti seseorang yang ingin bunuh diri.

Yosep segera bersimpuh di samping Myra yang tersungkur. "Apa kamu gila?! Kenapa tidak menunggu sebentar saja?!"

"Aw... tulangku..." Myra merintih hebat. Rasa nyeri menjalar ke sekujur tubuhnya.

"Kamu baik-baik saja? Mana yang luka?" Yosep meraih tubuh Myra dengan tangan gemetar.

"Menurutmu?! Kamu pikir darah ini keluar karena sulap?!" bentak Myra sambil meringis menahan sakit.

Wajah Yosep mengeras, risau dan marah bercampur menjadi satu. Tanpa memedulikan protes Myra, ia membopong tubuh ramping itu ke dalam dekapannya.

"Kenapa kamu memanjat pohon? Kalau mau teriak-teriak, naik saja ke balkon! Sudah tahu tidak bisa memanjat, masih saja bertingkah." Yosep terus menghardik sambil melangkah cepat masuk ke dalam rumah. "Untung kepalamu tidak pecah. Kalau kamu gegar otak, kamu akan tambah bodoh!"

"Hiks... kenapa kamu terus berteriak? Aku sedang sakit!" rengek Myra. Air matanya kembali tumpah. "Rasanya sakit sekali... bagaimana kalau aku lumpuh? Ayah pasti membuangku."

"Jangan bicara sembarangan! Kamu akan baik-baik saja," bentak Yosep, meski matanya menyiratkan ketakutan yang dalam. "Aku tidak akan membiarkanmu kenapa-napa."

Beberapa pengawal datang mendekat, ingin membantu. "Biarkan kami, Tuan Muda..."

"Jauhkan tangan kalian!" bentak Yosep galak. "Cepat panggil dokter pribadi ke kamar Myra! Dalam 15 menit dia harus sampai, atau kalian yang akan menerima akibatnya!"

Yosep mendobrak pintu kamar dan membaringkan Myra dengan sangat hati-hati di ranjang. "Diam. Jangan banyak gerak."

Tak lama kemudian, dokter datang dan langsung membersihkan luka-luka Myra. Gadis itu meringis kesakitan.

"Hei! Pelan-pelan!" bentak Yosep pada sang dokter. "Kenapa kamu tidak memberikan bius padanya!"

"Maaf, Tuan Muda, lukanya harus segera dibersihkan agar tidak infeksi," jawab dokter dengan suara gemetar.

Myra mengusap air matanya. "Maaf, Dokter... abaikan saja ocehan Yosep."

"Kenapa kamu malah minta maaf padanya?!" potong Yosep tajam.

"Hh, ingin sekali aku menyumpal mulut pedasnya itu," batin Myra lelah.

Setelah selesai, dokter pun memberikan resep. "Luka luarnya sudah ditangani. Tapi jika dalam setengah jam nyeri tulang tidak berkurang, kita harus rontgen untuk memastikan tidak ada tulang yang bergeser."

"Kenapa tidak diperiksa sekarang saja?!" Yosep masih tidak puas.

"Sudahlah, Yosep," lerai Myra.

Yosep akhirnya mengusir semua orang dari kamar, menyisakan keheningan di antara mereka. Myra menarik napas panjang, menyingkirkan egonya sejenak. "Terima kasih."

Yosep menoleh, tertegun mendengar ucapan tulus itu. "Aku tidak salah dengar?"

"Itu untuk dokternya," sahut Myra cepat, memalingkan wajah. "Jangan pikir kita sudah berbaikan. Aku masih marah! Kamu menghinaku, dan kamu akan pergi meninggalkanku ke Amerika."

Yosep mengernyit. "Kamu benar-benar menguping semuanya."

"Iya! Aku dengar semuanya! Kamu setuju pergi tanpa memikirkanku sedikit pun!"

Hening sejenak. Myra berharap Yosep akan meminta maaf, namun pria itu tetap diam dengan raut wajah datarnya. "Kenapa diam saja? Minta maaf, Yosep!"

"Aku tidak suka meminta maaf," jawabnya lugas.

Myra memutar matanya malas. "Kapan kamu berangkat?"

"Lusa."

"Lusa? Itu tepat di hari ulang tahunku yang ke-17. Dia bahkan tidak ingat," batin Myra pedih. "Apa yang kamu lakukan di sana?"

"Kuliah."

"Aku tahu! Tapi... ah, lupakan! Percuma bicara dengan es batu sepertimu." Myra membuang muka.

Jika pelayan melihat ini, mereka pasti akan jatuh pingsan melihat betapa beraninya Myra melawan sang calon penerus keluarga. Namun bagi Yosep, ocehan Myra adalah bukti bahwa gadis itu sudah baik-baik saja.

"Aku tidak mengizinkanmu pergi!" tegas Myra sekali lagi.

"Aku pergi karena perintah Ayah."

"Kalau aku yang melarang, apa kamu akan tetap pergi?"

Yosep terdiam, lalu mengangguk lirih. "Hm."

"Apa yang harus aku lakukan, agar kamu membiarkanku pergi?"  tambahnya memasang raut datar, berusaha mencegah perdebatan.

"Berjanjilah satu hal padaku!" Myra menjawab cepat.

"Janji?" Yosep mengernyitkan alis.

"Iya. Berjanjilah kamu tidak akan jatuh cinta atau berkencan dengan wanita mana pun selama di sana," Myra menatap Yosep dalam, sorot matanya yang gelap kini tampak posesif. "Kamu juga tidak boleh bertatap mata apalagi merayu mereka."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!