Di tengah gemerlap Jakarta yang kontras, Nara Indira (25) menjalani kehidupan ganda yang berbahaya. Di bawah cahaya aula megah, ia adalah penari tradisional yang agung, namun di kegelapan Club Black Rose, ia bertransformasi menjadi penari erotis demi membiayai pengobatan kanker darah ibunya. Nara adalah wanita yang dingin, efisien, dan sangat menjaga harga dirinya di tengah profesi yang dianggap nista oleh dunia.
Takdir mempertemukannya dengan Bagaskara, CEO muda dari Prawijaya Group yang baru saja melangsungkan pertunangan bisnis dengan Sinta Mahadewi. Pertemuan tak sengaja di klub malam memicu obsesi gelap dalam diri Bagaskara. Terpesona oleh misteri dan ketegasan Nara, Bagaskara menawarkan harta demi satu malam bersama, sebuah tawaran yang ditolak mentah-mentah oleh Nara meski ia sedang terhimpit kebutuhan medis yang mendesak.
Konflik memuncak saat rahasia Nara mulai terancam dan Sinta menyadari perhatian tunangannya terbagi. Di antara perbedaan status sosial yang jurang dan tekanan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lemari Kertas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesuatu Yang Tersembunyi
Suasana di lantai empat Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo siang itu terasa begitu menyesakkan. Koridor panjang yang dilapisi ubin putih kusam itu dipenuhi oleh langkah kaki tergesa para perawat dan keluarga pasien yang tampak kuyu. Aroma karbol yang tajam menyerang indra penciuman, bercampur dengan hawa pengap dari ratusan orang yang menggantungkan sisa harapan mereka di sana.
Bagi Nara, setiap jengkal lorong ini adalah saksi bisu dari doa-doanya yang mulai habis, terkikis oleh angka-angka tagihan yang terus membengkak. Ia berdiri mematung di depan kaca besar ruang perawatan intensif. Di dalam sana, di bawah sorot lampu neon yang dingin, sosok ibunya terbaring kaku. Mesin ventilator di samping ranjang berbunyi ritmis tit... tit... tit... satu-satunya tanda bahwa kehidupan masih berdenyut di dalam tubuh yang kian ringkih itu.
"Nara? Belum pulang?" sebuah suara lembut menyapa dari arah belakang.
Nara menoleh pelan, mendapati Dokter Arya berdiri di sana dengan stetoskop yang melingkar di lehernya. Dokter muda itu baru saja menyelesaikan residensinya dan kini diperbantukan untuk mendampingi Dokter Ryan, spesialis senior yang menangani kasus ibu Nara. Arya memiliki tatapan yang jauh lebih teduh dan tenang dibandingkan Dokter Ryan yang selalu bicara dengan nada formal dan kaku.
"Belum, Dok. Rasanya kakiku berat untuk melangkah keluar kalau Ibu belum membuka mata sedikit pun," jawab Nara lirih, suaranya hampir hilang ditelan bisingnya aktivitas rumah sakit.
Dokter Arya mengangguk paham, ia menyandarkan bahunya di dinding kaca, ikut menatap ke dalam.
"Kabar baiknya, hasil lab setelah sesi kemoterapi pagi tadi menunjukkan respons yang cukup positif. Tubuh Ibu sedang berjuang, Nara. Tapi, kamu tahu sendiri, obat-obatan pendamping yang kita gunakan sekarang statusnya non-subsidi. Harganya memang selangit, tapi itu yang terbaik untuk kondisi Ibu saat ini agar sel kankernya tidak menyebar ke organ lain."
Nara menghela napas panjang, matanya yang sembab kembali berkaca-kaca.
"Lakukan apa saja yang terbaik, Dok. Masalah biaya, aku akan cari jalan keluarnya. Aku tidak akan membiarkan Ibu menyerah hanya karena aku tidak punya uang."
"Aku percaya padamu, Nara. Kamu anak yang kuat. Tapi tolong, jangan sampai kamu juga jatuh sakit. Dokter Ryan tadi sempat berpesan agar kamu juga memperhatikan asupan nutrisimu sendiri. Kamu terlihat sangat pucat hari ini." Arya menepuk bahu Nara pelan, sebuah gestur dukungan tulus dari seorang pria yang telah melihat perjuangan Nara selama berbulan-bulan di rumah sakit ini.
Nara hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman getir yang tidak sampai ke matanya. Di dalam kepalanya, ia sedang menghitung sisa tabungannya yang sudah mencapai titik nol.
Di ujung koridor yang berseberangan, Bagaskara melangkah dengan langkah lebar dan dominan. Ia baru saja selesai menjenguk mantan sopir pribadi mendiang ayahnya yang setia, yang kini dirawat di RSCM karena komplikasi usia. Kehadiran Bagaskara di sana bagaikan anomali, setelan jas navy yang melekat sempurna di tubuh tegapnya, jam tangan emas yang melingkar di pergelangan tangannya, dan aura otoritas yang ia bawa seolah-olah menciptakan jarak tak kasat mata dengan kerumunan orang di sekitarnya.
Langkah kaki Bagaskara mendadak terkunci saat matanya menangkap siluet yang sangat familiar di depan ruang ICU.
Nara.
Pria itu menyipitkan mata, rahangnya mengeras secara spontan. Ia melihat Nara sedang bicara sangat dekat dengan seorang dokter muda. Ada sesuatu di dada Bagaskara yang bergejolak hebat saat melihat tangan dokter muda itu mendarat di bahu Nara, sebuah sentuhan yang menurutnya terlalu akrab untuk hubungan antara dokter dan keluarga pasien. Kecemburuan yang tidak logis dan liar menghantam egonya.
Ia tidak langsung mendekat. Bagaskara memilih untuk mengikuti mereka dari jarak yang aman, mengamati setiap gerak-gerik Nara hingga gadis itu berpamitan pada sang dokter dan berjalan sendirian menuju taman kecil di area tengah rumah sakit yang sedikit lebih sepi.
Nara duduk di sebuah bangku kayu tua, menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan. Bahunya berguncang hebat. Di tengah hiruk-pikuk RSCM yang tidak pernah tidur, Nara terlihat begitu kecil, rapuh, dan hancur.
"Berhenti menangis, Nara. Air matamu tidak akan pernah bisa melunasi tagihan rumah sakit ini."
Nara tersentak hebat, hampir melompat dari duduknya. Ia mendongak, matanya yang basah membelalak saat melihat Bagaskara berdiri tepat di hadapannya, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan antara marah dan iba.
"Bagas? Kenapa... kenapa kamu bisa ada di sini?" suara Nara parau, ia buru-buru menghapus air matanya dengan punggung tangan.
Bagaskara tidak menjawab. Ia justru duduk di samping Nara, memperpendek jarak di antara mereka hingga Nara bisa menghirup aroma maskulin pria itu yang seketika mengusir bau obat-obatan yang menyesakkan.
"Aku yang seharusnya bertanya padamu. Jadi ini alasanmu yang sebenarnya? Alasan kenapa kamu rela mengenakan pakaian kurang bahan dan menari di klub malam itu?" tanya Bagaskara, suaranya merendah namun penuh penekanan.
Nara memalingkan wajah, merasa telanjang dan tertangkap basah di titik terendahnya sebagai manusia.
"Aku butuh uang untuk Ibuku, Bagas. Obat-obatannya sangat mahal. Aku tidak punya pilihan lain yang bisa menghasilkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat."
Bagaskara menatap profil samping wajah Nara. Ada kemarahan yang tertahan di matanya, ia marah karena Nara tidak datang padanya untuk meminta bantuan, dan ia marah pada dirinya sendiri karena merasa sangat terusik melihat penderitaan gadis ini.
"Kenapa kamu tidak bilang kepadaku?" tanya Bagaskara lagi.
"Untuk apa? Aku tidak ingin kamu melihatku sebagai peminta-minta. Aku masih punya harga diri, Bagas," sahut Nara dengan nada bicara yang mulai meninggi karena emosi.
Bagaskara secara tiba-tiba meraih dagu Nara, memaksanya untuk menatap langsung ke dalam matanya yang tajam dan mengintimidasi.
"Dengar aku baik-baik. Mulai detik ini, jangan pernah pikirkan lagi soal biaya. Aku akan memindahkan ibumu ke kamar terbaik, dengan tim dokter spesialis paling ahli yang bisa dibeli dengan uangku. Aku akan melunasi semua tagihan rumah sakit ini, dari awal sampai akhir."
Nara menggeleng cepat, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Bagaskara meski jemari pria itu terasa hangat di kulitnya.
"Tidak. Aku tidak bisa menerimanya. Aku tahu persis apa yang kamu inginkan sebagai imbalannya, Bagas. Aku bukan barang dagangan yang bisa kamu beli dengan uangmu."
"Kamu memang bukan barang, tapi kamu adalah milikku," bisik Bagaskara dengan intensitas yang membuat jantung Nara berhenti berdetak sejenak. "Aku tidak sedang menawarkan kerja sama, Nara. Ini adalah perintah. Kamu tetap akan menari, tapi hanya di depan mataku, di tempat yang aku tentukan. Dan berhenti bicara dengan dokter muda itu seolah dia adalah pahlawanmu. Kamu tidak butuh siapapun lagi selama ada aku di sisimu."
Tepat saat itu, Dokter Arya kembali melintas dan mengenali wajah Bagaskara yang sering menghiasi sampul majalah bisnis nasional. Ia berhenti dengan wajah heran sekaligus waspada.
"Tuan Bagaskara Prawijaya? Ada yang bisa saya bantu di sini?" tanya Arya dengan sopan namun ada nada protektif dalam suaranya.
Bagaskara berdiri perlahan, memperbaiki letak jasnya dengan gerakan elegan yang angkuh.
"Dokter Arya, benar? Pastikan Ibu dari gadis ini mendapatkan perawatan paling premium yang tersedia di rumah sakit ini. Jangan biarkan dia kekurangan satu jenis obat pun. Kirim semua tagihan dan rinciannya langsung ke kantor Prawijaya Group. Aku yang akan menjamin semuanya secara pribadi."
Arya tertegun, menatap Nara yang tampak bingung dan tertekan, lalu kembali menatap Bagaskara.
"Tapi Tuan, prosedur administrasi di rumah sakit untuk pengalihan penjamin ..."
"Aku tidak peduli dengan prosedur birokrasi kalian yang lambat. Urus semuanya sekarang juga. Jika kalian butuh jaminan tunai, asistenku akan datang dalam satu jam. Lakukan saja tugasmu untuk menyembuhkan pasien tersebut," potong Bagaskara tanpa kompromi, mengakhiri perdebatan itu dengan mutlak.
Di belahan kota yang lain, setelah selesai dengan sesi pemotretan sebagai seorang model busana, Sinta Mahadewi duduk di dalam mobil mewahnya yang sedang terjebak kemacetan di kawasan Sudirman. Jemarinya yang lentur dengan kuku merah panjang mengetuk-ngetuk kemudi mobil dengan irama yang menunjukkan kegelisahan luar biasa.
Pikirannya melayang pada kejadian di kantor Bagaskara beberapa jam yang lalu. Penolakan Bagas, sikap dinginnya, dan rahasia yang seolah-olah dipagar rapat oleh pria itu. Sinta merasa ada sesuatu yang bergeser dalam hubungan mereka, sesuatu yang sangat berbahaya.
"Kamu menyembunyikan sesuatu, Bagas. Aku bisa merasakannya," gumam Sinta dengan mata menyempit.
Selama bertahun-tahun, Sinta tahu Bagaskara adalah pria yang tidak mudah disentuh oleh emosi, apalagi oleh wanita. Bagaskara adalah mesin bisnis yang sempurna. Dan dia sangat bahagia mengetahui perjodohan di antara dia dan lelaki itu dikehendaki dua belah pihak keluarga masing-masing. Namun belakangan ini, Bagas sering melamun, telat membalas pesan, dan yang paling mencurigakan adalah aroma mawar yang samar-samar tercium dari jasnya tempo hari, aroma yang sangat berbeda dengan parfum mahal yang biasa Sinta gunakan.
"Siapa perempuan itu? Dan di mana kamu menyembunyikannya?"
Sinta meraih ponselnya, hendak menghubungi seseorang, namun ia mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin gegabah. Jika ia menyewa detektif sekarang dan Bagas mengetahuinya, hubungan mereka yang mulai goyah dan di ujung tanduk bisa benar-benar hancur. Ia harus bergerak dengan halus, layaknya seorang predator yang sedang mengintai mangsanya.
"Tante Dewanti bilang aku adalah satu-satunya calon menantu di rumah itu. Dan aku akan memastikan hal itu tetap menjadi kenyataan," desis Sinta.
Ia memutuskan untuk tidak pulang ke apartemennya. Sinta memutar kemudi, berniat kembali ke kantor Prawijaya Group secara diam-diam saat jam pulang kantor nanti. Ia ingin melihat dengan matanya sendiri ke mana Bagaskara pergi setelah jam kerja usai. Sinta Mahadewi tidak akan membiarkan siapapun merebut apa yang seharusnya menjadi miliknya.
Benang-benang takdir kini mulai ditarik dari dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, Bagaskara merasa telah menyelamatkan Nara dengan kekuasaannya, sementara di sisi lain, Sinta Mahadewi mulai menyusun rencana untuk mencari tahu kebenaran yang akan menghancurkan segalanya.
Langit Jakarta sore itu tampak mendung dan berat, seolah sedang menyimpan badai besar yang siap meledak kapan saja.
Cerita nya gak terlalu ngawang, khas Dan gak mudah ditebak next chapter nya. meskipun genre sama tapi aku selalu menemukan yg berbeda Dan itu bikin aku selalu nunggu Update nya.
semangattt, aku selalu nunggu...
Jatuh hati sama Nara, stay strong and be yourself♥️😊