PENULIS : NESC PL
ILUSTRASI : ABU SAMUEL ETO
SINOPSIS : Aku adalah seorang wanita yang memiliki Dua Kehidupan, Dua Wajah. Suatu hari aku bertemu dengan seorang pria yang lebih muda dariku. Aku terjatuh di atas tubuhnya saat memanjat dinding sekolah. Apakah hubungan di antara kami yang bermula dari kebencian bisa berubah menjadi cinta?
Bagaimana cinta itu bisa terjadi di saat aku kehilangan cinta pertamaku karena penghianatan. Pesona cowok berondong yang tampan dan menggoda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NESC PL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9 Permintaan Maaf
"Apa benar ini alamat sekolahnya."
Heinry melihat sekeliling bangunan sekolah. Kertas alamat yang di berikan oleh Essen berada di tangannya. Para murid keluar dari sekolah setelah jam sekolah selesai.
"Bagaimana kalau kalian main ke rumahku?"
Violet berkata kepadaku dan Evelly.
"Boleh juga nih. Kebetulan hari ini tidak ada tugas dari dosen."
Evelly menyetujui ajakan Violet dan segera menghubungi keluarganya. Hari ini aku juga tidak mengajar bimbingan karena Silvia dan keluarganya sedang pergi ke luar negeri. Jadi aku putuskan untuk ikut pergi ke rumah Violet. Kami berjalan menuju keluar sekolah. Di saat kami tiba di luar gerbang sekolah. Kami melihat ada seorang pemuda yang sedang berdiri dan bersandar di dinding luar pagar. Pria itu datang dan menghampiri kami.
"Selamat Siang?"
Pria itu memberi salam kepada kami. Violet menatap wajah pemuda tersebut dan merasa tidak mengenalinya. Karena itu Violet mendekati pemuda tersebut dan bertanya.
"Selamat siang. Maaf anda siapa?"
"Perkenalkan nama saya Heinry Rush. Teman dari Xian Mai dan Evelly."
"Jadi kamu adalah pria tampan yang bernama Heinry. Perkenalkan mamaku adalah Violet. Teman Evelly dan Mai."
Violet pertama kali bertemu dengan Heinry. Tersenyum dan menoleh ke arahku. Lalu dia bertanya kembali kepada Heinry.
"Kalau boleh tahu anda kesini sedang mencari siapa?"
"Saya datang kesini untuk bertemu dengan Xian Mai. Bolehkah saya mengajaknya pergi?"
Heinry tersenyum dan meminta Izin kepada Violet untuk mengajakku pergi. Setelah mendengar perkataan dari Heinry.
Violet dan Evelly saling bertatap wajah. Mereka berdua menganggukkan kepala secara bersamaan.
"Boleh. Hari ini Xian Mai sedang tidak sibuk. Kamu bisa membawanya pergi."
"Terima kasih."
Heinry menjawabnya lalu tersenyum.
"Kalau begitu aku dan Evelly akan pergi dulu."
Violet berkata kepada Heinry lalu dia menatap Evelly dan menggandengnya untuk pergi meninggalkanku. Akhirnya aku dan Heinry pergi bersama. Kami berjalan menuju ke taman yang tidak jauh dari sekolah.
"Bagaimana keadaan anda?"
Heinry memulai percakapan setelah beberapa menit yang lalu kami berdua berdiam diri.
"Keadaanku sekarang baik."
Aku menghentikan langkahku lalu menatap wajahnya yang berada tepat di sampingku.
"Ada apa kamu datang kemari?"
Heinry terdiam dan tidak mengetahui. Suasana menjadi hening kembali. Tidak lama kemudian Heinry menjawabnya.
"Aku akan kembali ke Korea."
Perkataan dari Heinry membuatku sangat terkejut mendengarnya dan itu membuatku sedih.
"Kapan kamu akan kembali?"
"Aku akan pulang nanti malam. Kedatanganku kesini karena aku merindukanmu dan ingin bertemu sebelum kembali pulang."
Aku lalu menatap wajah Heinry. Sungguh aku tidak ingin berpisah dengannya.
"Apakah kamu juga rindu kepadaku?"
Heinry bertanya kepadaku dengan ekspresi wajah sedih. Dia berdiri di hadapanku. Kami berdua saling berhadapan. Aku merasakan jantungku berdetak dengan kencang. Kedua tangannya memegang ke dua lenganku dengan lembut dan bibirnya mencium keningku.
Aku memejamkan mata. Bau parfum yang digunakan Heinry tercium di hidungku dan itu membuat hatiku terasa damai.
"Aku juga merindukanmu."
Heinry tersenyum mendengar perkataanku. Senyuman yang seterang matahari.
Aku menatap wajahnya. Heinry adalah sosok pria yang sangat tampan dan berkarisma bagaikan pangeran di dalam cerita dongeng.
"Apa kita akan bertemu lagi?"
Pertanyaan bodoh terucap di mulutku. Tentu saja kami akan bertemu. Perusahaan kami menjalani hubungan kerja sama.
"Kita suatu akan bertemu lagi. Aku pasti akan segera menghubungimu setiba di Korea."
Heinry menjawab pertanyaan dariku dan membelai rambutku dengan lembut.
Hari mulai petang. Angin bertiup dengan kencang dan awan terlihat mendung. Aku berlari dengan cepat menuju ke rumah. Tidak lama kemudian. Aku telah sampai ke rumah. Dengan segera menutup pintu dengan nafas yang tidak beraturan. Keringat mulai keluar dari tubuh dan membasahi seragam sekolah. Aku melangkah kakiku menuju ke kamar dan meletakkan tas sekolah.
"Senangnya sampai di rumah."
Aku menghela nafas dan merebahkan tubuhku di tempat tidur. Memandang ke atas melihat atap dan meletakkan tangan kanan di kening. Berbagai peristiwa yang telah terjadi hari ini mulai terekam dalam memory.
"Aku tidak mengira akan bertemu dengannya hari ini dan dia mencari ku?"
Aku tertawa kecil saat mengingat memory tersebut. Perasaan senang dan sedih terasa dalam satu hati.
Perasaan senang karena bisa bertemu dengan pria yang di cintai dan perasaan sedih karena di saat bersamaan merupakan perpisahan dengan pria yang di cintai.
Perasaan sedih yang di rasakan membuat tubuh terasa lelah. Perlahan aku menutup mata. Di saat aku menutup mata dan akan tertidur di saat itu juga ibu memanggilku.
"Apa kamu sudah makan Xian Mai?"
"Belum Bu."
"Makanlah dulu. Kebetulan ibu baru selesai memasak."
"Baik Bu."
Aku bangun dari tempat tidurku dengan tubuh yang lelah dan mengantuk menuju ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian. Aku keluar dari kamar mandi dan merasakan tubuhku kembali segar. Setelah ke luar dari kamar mandi lalu aku berjalan menuju ke ruang makan.
"Makanlah sebelum hidangan menjadi dingin."
Aku mengangguk kepala menyetujui dan berjalan menuju ke meja makan. Sesaat tiba di meja makan aku melihat menu hidangan yang ada di meja.
"Ini semua makanan favoritku."
Ibu menatapku dan tersenyum.
"Hari ini ibu libur bekerja. Karena itu ibu sengaja membuatnya untukmu."
"Terimakasih bu."
Aku duduk dan mulai menikmati hidangan di meja. Memakan hidangan itu dengan lahap.
"Semua hidangan ini telah habis. Apakah aku ini sedang lapar?"
Ibu tersenyum mendengar perkataanku lalu berjalan mendekatiku dan duduk di kursi yang ada hadapanku.
"Ibu senang kamu menyukai hidangannya."
"Maaf. Xian Mai sudah menghabiskan semua hidangan yang berada di meja."
"Ibu akan membuatnya lagi."
Aku mengangguk kepala dan tersenyum.
"Apa hari ini kamu akan kerja?"
"Tidak bu. Hari ini aku libur. Mungkin akan libur selama seminggu."
"Apa ada masalah?"
"Tidak ada masalah bu. Hari ini murid bimbinganku sedang berlibur ke luar negeri bersama keluarganya."
"Baiklah. Kamu bisa istirahat sejenak. Terlalu capek tidak baik buat tubuh."
"Tenang saja bu. Tubuhku ini kuat dan tidak mudah sakit."
Aku tertawa kecil di depan ibu. Tetapi saat diriku tertawa. Aku memandang ibu dengan ekspresi wajah yang sedih dan membuatku kembali duduk.
"Ibu memang bukanlah seorang sosok ibu yang baik. Sejak kecil kamu sudah hidup menderita. Karena ibu dan ayah bercerai membuatmu kehilangan kasih sayang. Masa remaja telah terenggut karena kamu bekerja untuk membiayai kebutuhan sekolah. Sekarang Ibu ingin minta maaf kepadamu. Ibu harap kamu mau menerima permintaan Maaf ini."
Ibu menundukkan kepala dan menggenggam erat tanganku. Terlihat kesedihan dan penyesalan. Suasana kesedihan terasa dan bahkan langit juga ikut merasakan kesedihan itu dengan menunjukkan turunnya hujan yang sangat deras.
"Ibu tidak perlu meminta maaf. Aku bahagia karena kedua orang tuaku masih sayang kepadaku. Karena itu Ibu jangan bersedih."
Aku melihat ibu memandangku dan tersenyum. Mengusap kepalaku dan juga memelukku. Aku merasakan kehangatan dan kebahagiaan di dalam pelukan.
salam hangat dari CINTA DALAM LUKA...👍👍👍
lanjut nanti..
🌹🌹🌹
salam dari Gadis Tiga Karakter