Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.
Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.
Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.
Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?
Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua
Pagi itu tidak ada pertengkaran.
Tidak ada bentakan. Namun justru dalam diam itulah, pernikahan mereka terasa paling jauh.
Pagi telah menjelang, Hana bangun lebih dulu. Matanya terlihat sembap, tadi malam ia tidur, tetapi tidak benar-benar beristirahat. Kalimat-kalimat semalam terus berputar di kepalanya.
Hana berdiri lama di depan cermin kamar mandi. Menatap wajah sendiri. Lima tahun menikah. Lima tahun berharap. Lima tahun hidup dalam penuh sindiran.
Farhan keluar kamar tanpa banyak bicara. Hanya kata, “Jam sembilan kita berangkat.” Diucapkan dengan datar. Seperti mengumumkan jadwal rapat.
Hana mengangguk pelan.
Hari ini tidak ada sarapan bersama. Tidak ada obrolan. Mereka seperti dua orang yang sedang bermusuhan.
Rumah sakit itu bersih dan dingin. Bau antiseptik menusuk hidung. Mereka duduk berdampingan di ruang tunggu, tetapi rasanya seperti dipisahkan dinding tebal. Farhan sibuk dengan ponselnya, sementara Hana duduk cemas meremas ujung tasnya.
Beberapa saat kemudian nama mereka dipanggil. Dokter perempuan paruh baya menyambut dengan senyum profesional. Suaranya lembut, tetapi tegas. Ia menjelaskan prosedur dengan rinci, apa saja yang akan diperiksa, sampel apa yang dibutuhkan, dan bahwa evaluasi kesuburan memang idealnya dilakukan pada kedua pasangan.
Hana melirik Farhan sekilas. Tidak ada komentar, ataupun bantahan. Wajahnya terlihat jelas kaku.
Proses pemeriksaan berjalan canggung, tetapi cepat. Tes darah, USG, formulir riwayat kesehatan, dan pengambilan sampel dari pihak Farhan di ruang terpisah. Setelah semuanya selesai, mereka kembali duduk di depan meja dokter.
“Hasil lengkapnya dua hari lagi,” ucap dokter. “Nanti kita lihat dari kedua sisi, baru bisa ditarik kesimpulan. Jangan saling menyalahkan dulu, ya. Dalam kasus seperti ini, faktor suami dan istri sama-sama punya peran.”
Kalimat itu diucapkan dengan nada netral, tetapi terasa seperti sengaja ditekankan.
Farhan hanya menjawab singkat, “Baik, Dok.”
Sementara Hana, mengangguk kecil. Dalam diamnya ada harapan yang besar.
“Dan satu lagi,” tambah dokter, menatap keduanya bergantian. “Stres berkepanjangan juga memengaruhi peluang kehamilan. Jadi, kalau bisa perbaiki suasana batin juga.”
Setelah dokter menjelaskan semuanya, mereka akhirnya pamit.
Perjalanan pulang terasa panjang meski jaraknya tidak jauh. Mobil melaju stabil. Radio menyala pelan, tetapi tidak ada yang benar-benar mendengar.
Hana menatap keluar jendela, sedangkan Farhan menatap lurus ke depan. Tak ada yang memulai percakapan. Sampai ponsel Farhan berdering.
Namanya muncul jelas di layar dashboard mobil yang terhubung bluetooth. Chika Calling
Jantung Hana seperti tersentak kecil. Nama itu tidak asing. Farhan sempat diam setengah detik, lalu menekan tombol jawab.
“Halo.”
Suara perempuan terdengar samar dari speaker, ceria dan akrab. “Farhan? Lagi di mana?”
“Di jalan. Kenapa?”
“Aku lagi di rumah Tante Meri,” kata suara itu, Chika. “Baru datang tadi pagi. Tante maksa aku mampir. Katanya kangen.”
Farhan melirik spion. Wajahnya sulit dibaca. “Oh.”
“Kamu ke sini, ya? Sekalian makan siang. Tante masak banyak banget. Katanya kamu pasti datang.”
Hana menunduk. Jarinya saling mengunci dan dadanya terasa diremas.
Farhan menjawab setelah jeda singkat, “Ya. Aku antar Hana pulang dulu.”
“Oke. Aku tunggu.”
Panggilan berakhir. Mobil kembali sunyi. Namun, kali ini sunyinya lebih terasa.
Hana tidak langsung bertanya. Ia memberi waktu, berharap suaminya mau menjelaskan, tetapi sudah lima menit berlalu Farhan tidak juga bicara.
Akhirnya Hana bersuara pelan, “Chika sudah kembali ke kota?”
“Sepertinya,” jawab Farhan singkat.
“Oh.”
Hanya itu. Tak ada lanjutan.
Mobil berhenti di depan rumah mereka. Farhan mematikan mesin, tetapi tidak langsung turun. Seolah ada checklist di kepalanya.
Hana membuka sabuk pengaman, lalu menoleh. “Mas, mau ke mana lagi?”
“Ke rumah Mama,” jawab Farhan tanpa ragu.
“Sekarang?” Ada keterkejutan dari nada bicara Hana.
“Iya.”
Hana menahan napas. “Kita baru dari sana kemarin.”
Farhan menoleh. Nada suaranya tetap datar, tapi mengeras. “Sebaiknya kamu di rumah saja.”
“Kenapa?” tanya Hana heran.
“Setiap bertemu Mama, kamu selalu bertengkar.”
Ucapan itu jatuh begitu saja. Tanpa lapisan.
Hana terpukul. “Mas … kemarin itu–”
“Mama masih sedih karena Papa meninggal,” potong Farhan. “Jangan tambah kesedihannya.”
Kalimat itu seperti vonis. Farhan membuka pintu, keluar, lalu memutari mobil sebentar hanya untuk mengambil tas kerjanya. Ia bahkan tidak benar-benar menatap Hana saat berkata, “Kamu istirahat saja.”
Pintu lalu ditutup cukup keras, mesin mobil kembali menyala. Farhan pergi tanpa menunggu jawaban dari Hana.
Rumah Bu Meri jauh lebih hidup. Tawa terdengar sampai teras karena pintu tidak tertutup rapat. Aroma masakan memenuhi udara, tercium aroma opor, sambal goreng, dan bawang goreng.
Farhan masuk tanpa mengetuk. Di ruang makan, Bu Meri duduk berhadapan dengan Chika. Meja penuh hidangan. Mereka tertawa lepas. Jenis tawa ringan yang tidak pernah Bu Meri keluarkan saat bersama Hana.
“Eh, Farhan!” seru Bu Meri. “Nah, kan datang juga.”
Chika menoleh. Senyumnya hangat. Wajahnya masih seperti dulu, cantik, cerah, percaya diri. “Hai.”
“Sudah lama datang?” tanya Farhan.
“Baru sejam. Tante jemput sendiri,” jawab Chika sambil terkekeh kecil. “Aku tidak boleh menolak.”
Bu Meri menepuk tangan Farhan. “Duduklah. Makan dulu. Kamu pasti belum makan.”
Farhan duduk. Matanya sempat mengamati suasana di sana, terasa nyaman.
“Mana Hana?” tanya Bu Meri, tetapi nadanya bukan rindu, melainkan hanya sebatas formalitas.
“Di rumah.”
“Bagus,” jawabnya cepat. “Biar dia istirahat saja.”
Chika menangkap nada itu, tetapi ia tidak berkomentar. Dia yang sedang menyendok nasi berdiam sejenak
Obrolan mengalir ringan. Tentang pekerjaan Chika di luar kota. Tentang proyek barunya. Tentang kenangan masa kecil mereka karena dulu Chika memang hampir selalu ada di rumah ini.
Beberapa kali Bu Meri berkata, “Coba dulu kamu jadi menantuku, Chika. Pasti rumah ini ramai dari dulu.” Diucapkan sambil tertawa.
Farhan tidak ikut tertawa. Tapi juga tidak menegur.
Setelah makan, mereka pindah ke ruang tengah. Teh hangat disajikan dan kue kering sebagai pelengkap.
Bu Meri menatap Chika lama. Senyumnya berubah lebih serius. “Chika,” ucapnya pelan.
“Iya, Tante?”
“Kamu sudah menikah apa belum, sekarang?”
Chika menggeleng. “Belum.”
“Ada calon?”
“Belum juga.”
Bu Meri mengangguk pelan. Seolah potongan puzzle jatuh di tempatnya.
Farhan mulai merasa arah pembicaraan tidak enak. “Ma ....” Tapi terlambat. Mama sudah melanjutkan ucapannya.
“Chika,” kata Bu Meri mantap, “Kamu mau jadi istri kedua Farhan?”
Waktu seperti berhenti, Chika membeku. Tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan itu.
Farhan menoleh cepat. “Mama.”
Chika berkedip. “Tante … Farhan masih punya istri.”
“Nanti juga tidak lama,” jawab Bu Meri ringan, seolah membahas jadwal arisan. “Wanita itu mandul.”
Farhan menarik napas tajam. “Ma, hasilnya belum keluar.”
“Mama tidak butuh kertas dokter untuk tahu,” balasnya. “Lima tahun, Farhan. Lima tahun!”
Chika menatap Farhan, ingin tahu reaksinya. Mencari bantahan, tetapi Farhan diam. Rahangnya tegang.
“Dia harus mau menerima kamu menikah lagi,” lanjut Bu Meri. “Kalau tidak mau, dia bisa pergi.”
Kalimat itu diucapkan tanpa ragu. Tanpa rasa bersalah. Ruang tamu mendadak jadi terasa sempit.
Chika menurunkan cangkirnya pelan. Suara porselen menyentuh tatakan terdengar jelas. “Tante … ini bukan hal kecil.”
“Tante serius.”
Farhan akhirnya bersuara, “Mama terlalu jauh ikut campur.”
“Kamu yang terlalu lama diam,” balas Bu Meri cepat. “Kamu butuh keturunan. Garis keluarga harus lanjut.”
Chika tidak langsung menjawab. Wajahnya tidak bisa dibaca. Bukan kaget saja tapi terlihat berpikir.
“Tante, aku tidak mau jadi penyebab rumah tangga orang hancur," ucap Chika.
"Rumah tangga mereka sudah retak, kamu bukan penyebab,” ucap Bu Meri.
Farhan berdiri. Berjalan dua langkah. Tangannya masuk ke saku. Kepalanya menunduk sedikit, posisi orang yang sedang menahan sesuatu.
“Ma, cukup.”
Bu Meri menatapnya. “Kamu tidak ingin punya anak?”
Farhan tidak menjawab. Pertanyaan itu menggantung.
Chika memandang Farhan sekarang. Lebih tajam. Seolah baru melihat sisi lain dari pria yang dulu hampir ia nikahi.
“Farhan ... bagaimana pendapatmu?" tanya Chika penasaran.
Farhan mengangkat wajah. Mata mereka bertemu. Banyak masa lalu di sana. Banyak kemungkinan.
“Aku .…” Farhan tampak ragu melanjutkan ucapannya. Tidak ada kelanjutan. Bu Meri dan Chika masih menunggu kelanjutannya.
dan dia yg bkln meratukan kan membhgiakan kmu Hana....