☞☞☞Memiliki suami karena sebuah perjodohan tidaklah mudah. Terlebih suamiku tidak mencintaiku dan masih mencintai mantannya.
Menjalin hubungan terpaksa dengan orang yang asing bagiku, membuatku ingin hampir menyerah.
Terlebih ia adalah laki-laki pertama bagiku. Karena sebelumnya aku tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang laki-laki.
✏🌷💃Ini merupakan novel keduaku. Semoga kalian suka. Terus dukung karyaku dengan like komen dan votenya ya. Mengandung unsur dewasa jadi mohon bijak dalam berkomentar🤗💃*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nieyha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERTEMU LEON
Lia mengantarkan Bang Tohir sampai ke depan. Hingga ia melajukan mobilnya sampai tak terlihat lagi.
Hari ini begitu terik. Ditambah suara bising kendaraan yang lalu lalang di hadapannya membuat suasana bertambah pengap dan panas. Lia tak ingin berlama-lama, ia segera melangkahkan kaki kembali masuk ke dalam butik.
"Biar ku bantu!", ucap Lia ketika berpapasan dengan Ana yang sibuk membereskan piring kotor.
"Tidak usah Bu, bukankah hari ini Ibu ada janji di luar?", Ana mengingatkan.
"Ah iya, hampir saja aku lupa", Lia kembali mengingat hari ini ia harus ke JH Group untuk bertemu Tuan Jeremy dan putra putrinya.
Lia mengurungkan niatnya untuk membantu Ana. Ia segera menaiki anak tangga kembali ke ruangannya mengambil tas dan remote mobilnya.
"An, aku titip butik ya", ucap Lia sambil meninggalkan butik yang hanya mendapat anggukan dari Ana.
Setelah mengantungi remote dan berada di dalam mobil, Lia langsung menginjak rem dan menekan tombol start/stop button engine untuk menyalakan mesin. Melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Menembus jalanan ibu kota yang saat itu terlihat lengang. Jalanan yang biasanya dipadati dengan lalu lalang kendaraan di pagi dan sore hari. Kini nyaris sepi.
Empat puluh lima menit melajukan kendaraan akhirnya mobilku terpakir juga di depan gedung yang megah dan menjulang tinggi dengan bertuliskan JH Group di lantai paling atas.
Terlihat satpam membungkukkan badan dan membukakan pintu untukku. Menanyai apa keperluanku dan mengantarku ke meja receptionis.
"Siang Bu, ada yang perlu saya bantu?", ucap seorang pegawai receptionis sopan.
"Saya ingin bertemu Tuan Jeremy".
"Apakah sebelumnya Ibu sudah membuat janji untuk bertemu?", tanya pegawai itu lagi dengan nama Desi yang tertera di name tag nya.
"Sudah mbak", jawabku singkat.
"Baiklah Bu, mari saya antar keruangan Beliau. Kebetulan Beliau sudah selesai makan siangnya", Desi memimpin jalan dan aku mengikutinya dari belakang.
Aku memasuki lift karyawan dan berhenti di lantai empat puluh. Begitu keluar lift aku di sambut dua orang karyawan wanita lagi yang tak lain asisten Dirut yang bernama Susi dan Mika.
Tok...tok...tok...
Desi mengetuk sebuah ruangan yang bertuliskan Ruangan Direktur Utama di bagian atas.
"Permisi Pak, ada tamu untuk Bapak", Desi mempersilahkanku untuk masuk dan segera pamit undur diri.
Aku memasuki ruangan itu. Seketika pandanganku bertemu dengan sosok pria tampan gagah tapi terlihat menyeramkan. Tatapannya bertemu dengan mataku seolah ingin memangsaku hidup-hidup.
Namun seketika pandanganku teralihkan ketika mendengar suara pria paruh baya dari balik pintu sebuah ruangan. Yang ku pikir itu kamar pribadi di dalamnya.
"Nona, mari silahkan duduk. Kami sudah menunggu", Tuan Jeremy mempersilahkan.
"Ah iya, terimakasih", ucapku gelagapan.
"Leon, kemarilah. Ini Nona Lia desainer yang sudah papa ceritakan".
Aku berdiri sambil mengulurkan tanganku.
"Camelia", ucapku dan segera mendapat balasan uluran tangan dari Leon dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Sebaiknya saya langsung mulai pengukuran saja Tuan", ucapku yang mulai tidak nyaman mendapat tatapan mematikan.
Aku memulai pengukuran dari Tuan Jeremy terlebih dulu baru setelahnya Leon.
Dari tadi pria itu sangat minim bersuara. Tapi matanya terus menatapku dengan isyarat tak suka. Aku ingin segera cepat-cepat menyelesaikan tugasku dan pergi dari ruangan itu rasanya.
"Lhoh, Nona Amanda apakah tidak sekalian diukur?", aku celingak-celinguk mencari sosok Amanda tapi tidak menemukan.
mending sama aku saja bang...