Ada cinta yang tumbuh… bukan untuk dimiliki sepenuhnya, tapi untuk bertahan di hati yang sudah retak.
~ Zahra ~
Zahra menikahi Adnan, seorang duda yang kehilangan istrinya karena maut lebih dulu memanggil. Ia tahu, sejak awal, bahwa ia bukan cinta pertama. Ia hanya perempuan yang datang setelah sebuah kisah agung berakhir. Namun Zahra tetap memilih bertahan, menanam kasih di tanah hati yang sebagian masih ditumbuhi bayang-bayang masa lalu.
Setiap sudut rumah menyimpan kenangan yang bukan tentang dirinya dan Adnan.
Lalu sampai kapan sebuah hati sanggup bersabar?
Sampai kapan cinta bisa hidup tanpa benar-benar dimiliki?
Di antara kesetiaan, keikhlasan, dan luka yang tak pernah benar-benar sembuh… Zahra harus memilih: tetap berusaha mencintai, atau pergi menyelamatkan dirinya sendiri.
Sebab terkadang…
yang paling menyakitkan bukan tidak dicintai,
melainkan dicintai setengah hati oleh seseorang yang masih hidup di masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon picisan imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kilas balik end
Aku tetaplah tanah yang akan kembali pada asalnya. Meski hati ingin menetap lama, menikmati ketulusan seseorang untukku yang lemah.
— Marwah —
Cerita masih berlanjut pada kehidupan masa lalu Adnan. Pria itu bekerja keras untuk menamatkan kuliahnya. Karena jika ia ingin menikahi seseorang, maka ia harus bisa menghidupinya dengan layak. Dengan memanfaatkan kecerdasannya, Adnan bisa lulus satu tahun lebih cepat. Dan dengan privilege yang ia miliki, Adnan bisa bekerja di prusahaan properti terkemuka. Otaknya yang encer mampu membuatnya berhasil membuat perusaan yang mempekerjakannya untung besar. Ia bahkan jadi memiliki lebih banyak kolega.
Meskipun jauh, Adnan tetap berusaha berkirim pesan lewat sosial media milik Marwah. Perempuan itu bilang akan kembali ke Jakarta dalam waktu dekat Adnan senang bukan main ia lantas mempersiapkan pertemuan spesialnya setelah beberapa tahun tak bertemu. Ia bahkan sampai mempersiapkan acara lamaran pribadi untuk Marwah. Dengan membeli sebuah cincin yang cantik.
...🍂...
Di hari H. Adnan melihat kondisi Marwah yang justru semakin memprihatinkan. Wajah yang dulunya segar, terlihat semakin kurus dan pucat. Kedua matanya menganak sungai namun sekuat tenaga di sembunyikannya. Adnan tetap melihat Marwah sebagai gadis yang cantik, sama seperti saat mereka kuliah di kampus yang sama.
"Saya izin, dorong kursi rodanya ya, Tante. Boleh...?" tanya Adnan karena pada saat itu Marwah di antar ibunya untuk bertemu Adnan di salah satu restoran bintang lima.
Mama Marwah mengangguk. Ia mempersilahkan.
"Tante bisa pulang duluan. Nanti biar Saya yang antar Marwah pulang."
"Terima kasih, Nak Adnan. Selama di sana, Marwah banyak sekali menceritakan tentang kamu."
"Ma—" protes Marwah pada ibunya karena malu.
"Nggak papa, Adnan kan harus tahu," goda ibunya kemudian. Adnan pun hanya tertawa sambil terus menahan mata yang sudah berat menampung air kesedihan. Setelah itu membawa Marwah masuk ke dalam resto, setelah meminta izin sekali lagi.
Di sana mereka makan bersama. Adnan terpantau lebih banyak memperhatikan Marwah ketimbang makanannya. Perempuan berhijab panjang yang duduk di depannya merasa di awasi, ia pun mengangkat wajah.
"Kenapa?"
"Nggak. Aku cuma seneng bisa liat kamu lagi," jawab Adnan dengan hati pedih. Sedangkan Marwah malah tertawa kecil.
"Jujur, aku sempat ngebayangin kamu kabur pas liat aku."
"Kenapa aku harus kabur?"
"Karena aku jelek kan, sekarang? Kurus kaya nenek-nenek." Marwah tertawa pilu.
"Kamu cantik." Bibir Adnan bergetar. lebih-lebih saat melihat Marwah menitikkan air mata dan langsung menyekanya sambil terkekeh.
"Ahhh, ACnya terlalu dingin. Mataku jadi berair." Marwah terus mengusap kedua matanya. Sementara Adnan memilih untuk pura-pura tidak menyadarinya. Karena ia tahu, Marwah bukan wanita yang senang jika di kasihani.
"Ada niatan untuk balik ke singapura?" tanya Adnan mengalihkan pembicaraan.
Marwah menggeleng. "Nggak, ah! Aku mau di sini aja."
Adnan ingin bertanya tentang pengobatannya. Tapi takut Marwah kembali bersedih.
"Aku milih menyerah," jawabnya kemudian dengan wajah yang kini berubah murung.
Adnan bangkit, lalu meraih kursinya dan ia bawa lebih mendekat ke Marwah. Gadis itu pun terkejut.
"kenapa kamu bilang gitu? Kamu bilang mau sembuh kan?"
Kedua mata Marwah memerah. Air mata kini semakin deras berjatuhan. Adnan reflek ingin menghapus air matanya tapi ia sadar batasan. Marwah tidak akan menyukainya.
"Aku kenal kamu adalah gadis yang nggak suka kata menyerah, Marwah. Terus kenapa kamu tiba-tiba bilang begini?"
"Aku udah tau kalau aku nggak akan bisa sembuh. Terus buat apa lagi aku berobat jauh-jauh. Yang ada menghabiskan uang orang tua dan juga tenaga. Sama sekali nggak sebanding kalo pada akhirnya aku mati."
"Tanpa kamu sakitpun pada dasarnya akan menemui kematian. Jadi jangan pesimis."
"Enggak Adnan. Aku memilih menyerah."
"Nggak! Kamu nggak boleh nyerah karena aku yang akan mendampingi kamu untuk berobat dimanapun sampai kamu sembuh."
"A-Adnan?" Marwah membeku.
"Ayo kita menikah, agar aku bisa halal untuk terus ada di sisimu Marwah," ucapnya spontan dengan sangat bersungguh-sungguh. Bahkan ia langsung mengeluarkan cincin yang sejak tadi berada di saku bajunya.
Awalnya Marwah merasa itu hanya candaan. Atau bahkan kesengajaan Adnan hanya karena kasihan. Namun, pria itu membuktikan ketulusannya. Ia memanggil penghulu dan menikahi Marwah saat wanita itu sedang ada di rumah sakit. Dengan janji, bahwa ia akan siapkan pesta mewah setelah Marwah sembuh nantinya.
Perempuan itu terharu, ia memeluk pria yang kini telah menjadi suaminya. Tangisnya pecah bahkan akibat kebahagiaan itu kondisi Marwah sempat membaik. Hal yang membuat semua keluarga terlebih Adnan merasa bersyukur. Satu bulan awal Adnan full menemani istrinya berobat. Bahkan bolak-balik Indonesia-Singapur. Tak hanya medis. Alternatif pun di jalani. Tapi kesembuhan itu seperti obat pereda nyeri sementara. Sebelum akhirnya Marwah kembali drop bahkan sampai koma selama satu minggu.
Namun, keajaiban kembali. Marwah membuka mata meskipun kondisinya sangat lemah dan tak stabil. Adnan setia di sisinya sepanjang hari dan sepanjang waktu. Dan tak ada kata yang bisa menggambarkan betapa bahagianya ketika Marwah kembali membuka mata. Pria itu menciumi tangannya yang sudah tersisa tulang dan kulit saja saking kurusnya. Bercak-bercak memar karena kemerahan karena penyakitnya di hampir seluruh tubuh bahkan wajah tak menutupi kesempurnaan seorang Marwah di mata Adnan.
"Maa...kasih... Su-sudah mau. Jadi imamku, sayangku, Mas Adnan."
Suara setengah berbisik itu benar-benar menghantam dada Adnan. Ia bahkan tak bisa mengeluarkan kata-kata. Selain mendengarkan ocehan Marwah yang mulai ngelantur. Bahkan tatapan yang sudah tidak lagi fokus. Hingga beberapa jam kemudian, dokter mencatat waktu kematiannya. Marwah berpulang dengan membawa sekaligus setengah dari nyawa Adnan. Yang dimana selepas kepergian Marwah, pria itu sampai harus mengalami perawatan karena depresi akibat kehilangan wanita yang amat di cintainya.
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan” (Al-'Ankabut · Ayat 57)
#Flasback off...