3 tahun yang lalu, andin pergi tepat dihari pernikahannya dan meninggalkan calon suami yang juga adalah cinta pertamanya.
3 tahun kemudian, mereka kembali dipertemukan. Kebenaranpun mulai terungkap. Alasan andin pergi meninggalkan pernikahannyanpun mulai terkuak. Akankah andin kembali pada cinta pertamanya? Dan melanjutkan pernikahannya 3 tahun yang lalu? Ataukah ia telah menemukan cinta yang lain? Lalu pada siapakah andin akan melabuhkan cinta terakhirnya? Yuk ikuti kisah andin dalam novel yang berjudul "DIA WANITAKU."
Semoga menghibur.........
Hari kemarin kamu meninggalkanku, pada hari itu juga kamu telah kehilanganku....
Hari esok di mana kamu menemukanku, Aku bukan milikmu lagi....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariella..., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Familiar
Andin berdiri mematung saat mendengar perkataan alex. Andin merasa ada semut kecil yang sedang menggigit hatinya saat ini, sedikit sakit dan geli. Tak disangka Alex bisa mengatakan hal seperti itu dikala hatinya belum siap. Tanpa disadari alex sudah keluar dari mobil dan berjalan menuju rumahnya. Alex melirik ke arah halaman samping, ada sebuah mobil rubicon yang terparkir disana. Alex tersenyum senang melihat mobil itu datang. Alex menoleh kebelakang dia baru sadar kalau andin masih berdiri didekat mobilnya sambil melamun.
"ndin.... Kamu mau diem disana sampai besok pagi?" tanya alex sedikit menggoda. Alex paham bahwa andin terkejut dengan apa yang disampaikannya tadi. Andin mendengar alex berkata demikian langsung berlari ke arah alex dengan wajah memerah karna malu.
"Ayo masuk." Kata alex sambil menggenggam tangan andin dan menariknya. Andin terkejut melihat sikap alex, dia buru-buru menarik tangannya takut ada yang melihat dan berpikiran macam-macam. Alex menghentikan langkahnya diruang tamu, menyuruh andin duduk disofa ruang tamu.
" kamu duduk dulu ya ndin... Aku akan panggilkan mama dan kak anggun. Sepertinya kakak iparku sudah datang. Tadi aku melihat mobilnya didepan." Kata alex sambil menjelaskan perihal kedatangan kakak iparnya. Andin hanya mengangguk pelan pertanda mengerti maksud alex. Kemarin alex langsung mengajak andin masuk kekamar kakaknya karna suaminya sedang keluar kota, jadi sekarang tidak enak jika harus kekamarnya langsung. Andin diam beberapa saat menunggu kedatangan situan rumah, sambil sesekali menoleh ke arah jendela. Tak lama kemudian alex datang bersama mamanya.
" Nak andin sudah lama nunggunya?" sapa mama alex sambil tersenyum dan berjalan kearah andin.
" Gak juga kok tante, baru aja sampai." jawab andin dengan sopan sambil mencium punggung tangan mama alex.
"ayo duduk,,, sebentar lagi anggun kesini." kata mama alex. Andin hanya mengangguk pelan.
"ya udah alex keatas ganti baju dulu ya." Kata alex sambil melempar senyum pada andin.
Alex meninggalkan mamanya bersama andin diruang tamu. Kemudian datanglah bik ijah membawa nampan berisi teh dan meletakkannya dimeja.
"monggo tehnya mbk." kata bik ijah mempersilahkan andin meminum tehnya.
"enggeh mbk,,, matur nuwun." jawab andin tersenyum.
"oalah mbknya bisa bahasa jawa juga toh? pinter banget mas alex cari calon istri, sudah cantik trus pinter bahasa jawa lagi." kata ijah senyum-senyum bagaikan melihat putri kraton yang agung. Andin terkejut mendengar perkataan bik ijah, yang mengatakan "calon istri" padanya. Andin melirik ke arah ibu rossa yang tersenyum melihat tingkah laku pembantunya. Andin tak ingin menanggapi perkataan bik ijah dan memilih untuk diam. Tak lama kemudian anggun turun dari kamarnya dan berjalan ke ruang tamu menemui andin. Anggun tersenyum melihat andin yang sedang mengobrol dengan mamanya. Kemudian bik ijah permisi melangkah kebelakang meninggalkan majikannya dan hendak melanjutkan pekerjaannya didapur.
"Sudah lama datengnya din?" sapa anggun membuat mereka berdua menatap anggun bersamaan.
"Ga juga mbk... mbk anggun apa kabar?" tanya andin.
"Aku baik-baik aja kok. Alex saja yang terlalu protektif menjaga aku."jawab anggun.
"Kalau aku tidak protektif bagaimana mungkin kakak akan menjaga kesehatan kakak dengan baik." alex langsung menanggapi perkataan anggun. Entah sejak kapan alex sudah berdiri dibelakang anggun. Anggun membalikkan badannya dan tersenyum menatap alex. Disamping alex sekarang tengah berdiri seorang laki-laki gagah, tampan, dan berwibawa tengah tersenyum melihat interaksi kakak beradik itu. Dia adalah BRAM suami anggun, sekaligus kakak ipar alex. Senyuman bram berubah saat melihat ke arah andin. Sebelum bram mengatakan sesuatu anggun sudah mengulurlan tangannya dan menarik tangan bram.
" andin kenalin, dia suamiku Bram. Dan mas bram, kenalin dia dokter andin yang akan menjaga dan memantau keadaan ku sampai nanti aku melahirkan." kata anggun memperkanalkan keduanya.
"Dokter andin?" pekik bram masih melihat kearah andin dengan tatapan penasaran. setengah berpikir kalau sebelumnya bram pernah bertemu dengan andin tapi entah dimana?
Andin juga tak kalah terkejutnya melihat bram, seakan tak percaya bahwa laki-laki yang berdiri dihadapannya saat ini adalah salah satu saksi hidup yang menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri apa yang terjadi pada andin 3 tahun yang lalu. Tapi andin bisa melihat bahwa bram tidak mengingat dirinya, andin langsung mengubah ekspresi wajahnya dengan tenang. Andin mengulurkan tangan menyalami bram.
"hallo tuan bram. Senang bertemu dengan anda." kata andin.
"iya,,,, saya juga." jawab bram menyalami andin tapi tatapannya masih tatapan penasaran. Tak ingin terus menerus dihantui rasa penasaran, brampun memberanikan diri bertanya.
"apa sebelumnya kita pernah bertemu dokter andin? sepertinya wajah anda sangat familiar , tapi entah siapa?" kata bram melanjutkan ucapannya. Andin terkejut mendengar bram bertanya demikian tapi dia tidak merubah ekspresinya. Dengan santai menjawab.
"Maaf... Sepertinya saya tidak mengenal anda tuan bram. Anda banyak memiliki teman, mungkin hanya sekedar mirip. Kata orang tua jaman dulu ada 7 orang didunia ini yang wajahnya sedikit mirip dengan kita." kata andin berusaha menepis pikiran bram.
Bram menyipitkan matanya. Ia membenarkan perkataan andin. Kemudian dia menatap istrinya dan duduk disampingnya.
"lalu bagaimana kondisi istri saya dokter andin? apakah sungguh tidak apa-apa dia melanjutkan kehamilannya? apa tidak akan berpengaruh pada diri istri saya?" tanya bram menandakan dia sudah berhenti memikirkan perihal andin. Andin merasa lega karna bram mulai mengganti topik pembicaraan.
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin menjaga mbk anggun tuan. Saya akan pastikan ibu dan anaknya akan selamat." jawab andin penuh kepastian.
" Syukurlah kalo begitu." jawab bram singkat.
Mereka melanjutkan obrolan sampai adzan maghrib berkumandang, melaksanakan shalat berjamaah kemudian dilanjut dengan makan malam. Ibu rossa senang melihat keluarganya berkumpul seperti saat ini. ibu rossa melihat ke arah putranya alex dan menyadari bahwa hubungan alex dan andin sudah semakin dekat. Tak jarang alex tersenyum melihat atau mendengar perkataan andin. Sudah sejak lama ibu rossa jarang melihat alex tersenyum seperti saat ini semenjak peeceraiannya. Melihat senyum dibibir putranya membuat hati ibu rossa senang sekaligus bangga. Bangga pada andin yang bisa mengembalikan senyum putranya yang sempat hilang. Tapi jika mengingat masalah perceraian alex, ibu rossa menjadi sedih dan merasa bersalah. Ibu rossa menyalahkan dirinya sendiri mengingat masa itu,,, masa dimana dia kehilangan suami yang sudah menemaninya selama lebih dari 50 tahun, dan juga kehilangan semangat hidup putranya yang mengalami perceraian. Sungguh suatu hal yang tak dibayangkan sebelumnya. kala itu.....