Dikhianati oleh sahabatnya sendiri dalam misi rahasia, Xiao Su tewas dengan satu pertanyaan yang tak pernah terjawab.
“Kenapa…?”
“Karena kau menghalangi jalanku.”
Ia mengira kematian adalah akhir.
Namun saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis bangsawan yang dihina semua orang — Xiao Mei.
Wajah buruk rupa. Tubuh lemah. Keluarga penuh kepalsuan.
Saudari tiri yang menginginkan kematiannya. Tunangan yang memandangnya dengan jijik. Dunia kuno yang kejam dan penuh intrik.
Tapi mereka tidak tahu…
Jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi Xiao Mei yang lemah.
Ia adalah Xiao Su. Seorang wanita modern yang tak akan membiarkan dirinya diinjak dua kali.
Kali ini, ia tidak hanya akan bertahan hidup — Ia akan mengubah takdir. Menghancurkan mereka yang meremehkannya.
Dan membuktikan bahwa bahkan wanita yang disebut “buruk rupa” pun bisa menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya.
Karena untuk kedua kalinya… Ia tidak akan mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cute women, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SENYUM DI BALIK DUPA
" yang menjebak bisa saja terjebak".
Happy reading>.<......
.
.
.
Xiao Mei melangkah perlahan ke ruang ganti yang sepi. Pelayan yang membimbingnya terlihat tegang, tangannya gemetar saat membuka pintu.
“Tenang saja,” pikir Xiao Mei. “Aku tahu ini hanya bagian dari permainan.”
Begitu pintu tertutup, ia mendengar suara langkah kaki menjauh. Hening. Hanya aroma dupa dan gemercik kain. Xiao Mei memeriksa ruangan. Tidak ada yang mencurigakan, tapi hatinya tetap waspada. Setiap sudut ia ingat dari pengamatan sebelumnya: posisi jendela, meja, tirai, bahkan arah angin yang membawa aroma Dupa tersenyum tipis. Tidak ada yang bisa menipu mata dan pikirannya malam ini.
Tiba-tiba, suara pelayan terdengar dari balik pintu:
“Nona… Nona Xiao Wei… dia ingin melaporkan sesuatu…”
Xiao Mei menahan napas. Informasi ini bisa jadi peluang. Ia sudah lama tahu siapa yang loyal pada siapa, dan siapa yang bisa ia manfaatkan. Tanpa bergerak tergesa, ia membiarkan pelayan itu berbicara.
Di aula, tepuk tangan terdengar semakin riuh. Para tamu masih sibuk memuji Xiao Wei. Mereka tidak sadar bahwa sudut lain dari ruangan ini, rencana Xiao Mei sudah berjalan.
Senyumnya kini lebih dingin.
“Malam ini… bukan aku yang terjebak,” bisiknya.
“Malam ini… giliranmu.”
Xiao Mei menatap pelayan itu dengan tenang, matanya menyiratkan kesabaran yang dalam. Pelayan yang disogok Xiao Wei jelas gugup, tangan gemetar, berkali-kali menatap pintu.
“Nona… aku… aku tidak bisa…”
“Tenang,” kata Xiao Mei, suaranya lembut tapi tajam. “Aku hanya ingin tahu siapa yang setia malam ini. Tidak lebih.”
Pelayan itu tergagap, mencoba menahan rasa takut. Tapi Xiao Mei sudah memperhitungkan segalanya. Dengan gerakan halus, ia memindahkan laporan penting dari tangan pelayan itu ke saku gaunnya, tanpa ada yang menyadari.
Di luar aula, suara tepuk tangan masih terdengar, semakin keras. Xiao Mei tersenyum tipis. Setiap langkah, setiap laporan, sudah ada dalam kendalinya.
Lalu ia duduk di kursi pojok, menatap jendela yang menghadap aula. Aroma dupa menyelimuti ruangan, tapi sekarang bukan lagi jebakan—itu adalah penutup langkah strateginya.
“Mereka pikir malam ini milik Xiao Wei… tapi mereka lupa, aku selalu menghitung setiap gerakan,” bisiknya.
“Sekarang… permainan baru dimulai.”
Di saat yang sama, pelayan itu menunduk, sadar bahwa rencana yang ia kira aman, sekarang telah berubah dalam sekejap.
Xiao Mei bangkit, wajahnya tetap polos, tapi setiap gerakannya membawa aura strategi dan kekuatan.
Di luar ruang ganti, pelayan masih gemetar. Ia baru saja menyerahkan laporan rahasia tentang situasi di aula, tapi tiba-tiba terdengar suara langkah berat.
Sebuah bayangan muncul di pintu—pengawal pribadi Xiao Mei, wajahnya dingin, tatapan tajam seperti batu. Tanpa bicara, ia melangkah masuk, menutup pintu rapat-rapat di belakangnya.
Xiao Wei, yang merasa aman di ruang ganti, menatap sekeliling panik. “Apa… apa ini…?” gumamnya.
Xiao Mei duduk di pojok, tetap tersenyum tipis.
“Mereka pikir aku terjebak.
Tapi ternyata, justru **kamu yang akan terjebak malam ini.”
Pengawal Xiao Mei melangkah ke arah Xiao Wei, tangan siap menahan setiap gerakan. Pelayan yang gugup menunduk, menyadari bahwa rencana yang ia kira aman, kini telah sepenuhnya diambil alih.
Xiao Wei berusaha menenangkan diri, tapi keringat dingin mulai mengalir di dahinya. Semua yang ia rencanakan untuk menguasai malam ini… hancur seketika.
Di pojok ruang ganti, Xiao Mei bangkit perlahan, wajahnya polos tapi matanya penuh perhitungan. Permainan baru dimulai.
kaisar serta para bangsawan bergegas pergi begitu mendapat laporan jika ada yang melakukan hal tak senonoh di ruang ganti
Para pejabat dan bangsawan berspekulasi bahwa itu adalah Xiao mei
BRAKK
Pintu ditendang oleh Kasim pribadi kaisar begitu dibuka terlihat di sejoli yang melakukan hal tak senonoh
"pisahkan mereka"seru kaisar geram karna dua sejoli itu seperti tak mendengar keributan mereka tetap melakukan hal tak senonoh itu
Begitu dipisahkan kaisar berkata
“Angkat wajahnya.”
Suara Kaisar terdengar dingin dan berat, memotong kegaduhan di ruangan itu.
Pelayan gemetar.
Dengan tangan bergetar, seorang pelayan mengangkat wajah perempuan yang terbaring di lantai itu.
Hiasan rambut emas berbentuk phoenix terlepas dan jatuh, bergemerincing di lantai marmer.
Tambahkan satu detik hening.
Aula terdiam.
Seolah seluruh udara di ruangan itu menghilang dalam satu tarikan napas.
Lalu—
“Itu… Nona Xiao Wei!”
Beberapa bangsawan mundur tak percaya.
Wajah keluarga Xiao seketika memucat.
semua orang terkejut
"jika itu nona Xiao Wei lalu siap yang laki laki??" ucap seorang bangsawan
"angkat wajah prianya"titah kaisar
begitu diangkat semua orang terkejut
"PANGERAN KE DUA"teriak semua orang yang ada di sana
“Apa… apa yang terjadi di sini?” suara Kaisar berat, menahan amarah dan kecewa.
Pangeran Kedua mulai tersadar, menatap ke sekeliling, dan baru menyadari Xiao Wei terjebak. Panik mulai muncul di wajah mereka.
"Jika ini nona Xiao Wei dan pangeran kedua lalu dimana nona Xiao mei" tanya salah seorang bangsawan
Dari ambang pintu, terdengar langkah pelan.
Semua kepala menoleh.
Xiao Mei berdiri di sana, masih mengenakan busana yang sama seperti sebelumnya. Wajahnya tenang, hanya sedikit pucat.
“Apa yang terjadi?” tanyanya lembut.
Xiao Wei menatap Xiao Mei dengan mata menyala, wajahnya merah padam karena marah dan panik.
“Kau… ini semua salahmu!” teriaknya, suaranya gemetar.
“Aku? Salahku?” katanya lembut, suaranya terdengar polos, nyaris menenangkan.
“Aku hanya… melakukan apa yang seharusnya aku lakukan untuk melindungi diriku sendiri.”
Xiao Wei semakin marah, menuding dengan tangan gemetar:
“Jangan pura-pura polos! Kau tahu ini semua jebakan… kau yang mengatur semuanya sejak awal!”
"apa maksudnya Kaka aku tidak mengerti"ucap Xiao mei dengan senyum
"bukankah kau ingin ganti baju kenapa tidak ada diruang ganti?"tanya kaisar
"oh tadi sewaktu aku ganti baju aku mendengar ada yang terjatuh jadi aku melihat ke dekat taman yang ada di sisi ruang ganti ini ternyata seorang pelayan yang terjatuh" jelas Xiao mei terperinci.
Para bangsawan mulai berbisik-bisik. Pangeran Kedua menunduk, masih terpengaruh dupa cinta, tidak berani mengganggu. Kaisar menatap dengan mata tajam, tapi tidak langsung menyela—semua menunggu siapa yang akan bergerak pertama.
Xiao Mei tetap tenang, senyum tipisnya tidak berubah. Polos di permukaan, tapi setiap gerakan kecilnya penuh perhitungan.
“Jika semua ini jebakan, maka aku hanya… bermain sesuai aturan mereka yang mencoba menjebak ku,” pikir Xiao Mei dalam hati.
“Dan sekarang… giliranmu yang terperangkap.”
Xiao Wei menyadari sedikit demi sedikit, senyum polos Xiao Mei bukan hanya penampilan. Itu adalah strategi licik yang sempurna, dan ia kini terjebak… tanpa jalan keluar.
Kaisar pun membubarkan para bangsawan dan berkata" bubar acara pesta sampai disini saja"
Rumor tentang kejadian di ruang ganti mulai menyebar dari mulut ke mulut. Para bangsawan berbisik, menatap Xiao Mei dan kemudian ke arah Xiao Wei, yang masih terdiam, wajah merah, tubuh gemetar
Keesokan harinya, istana terasa berbeda. Pesta telah usai, tapi bisik-bisik dan tatapan penasaran masih menggantung di udara.
Para bangsawan berkeliling, membicarakan kejadian di ruang ganti:
“Aku dengar… Xiao Wei dan Pangeran Kedua… kepergok oleh Kaisar sendiri!”
“Tapi yang paling mengejutkan… Xiao Mei tetap tenang, seolah… ia yang mengendalikan semuanya.”
“Kabarnya, pengawal Xiao Wei juga ikut campur… dan semua laporan pelayan diamankan olehnya.”
Rumor menyebar seperti api, dari aula ke lorong, dari kamar tamu ke ruang makan. Setiap sudut istana kini dipenuhi bisik-bisik, tatapan curiga, dan pertanyaan tak terjawab
...----------------------------...
BERSAMBUNG..........
Hari ini double up yaaaa
semoga readers Ter hibur
Jangan lupa like, and komen vote hadiahnya dan jadikan cerita ini sebagai favorit
kucingku aja yg pulang dengan kepala bocor aku borehin dengan kunyit.
tp terlambat krna Bakterien sudah masuk ke jantung.
luka emng kering.
itu mpuuus ampe jejeritan nahan pediih dr borehan kunyit
mana prajurin bayanganx strategix jgk