Ariana termenung di hadapan Lily. matanya masih berkaca-kaca namun kosong. memandang arah yang pudar di depannya. hatinya masih berkecamuk. ucapan-ucapan dokter soal kondisi ibunya terus terngiang yang dipikirannya. dia belum siap kehilangan satu-satunya wanita yang dia punya sekarang.
" Aku ada satu jalan keluar buat kamu. Tapi Aku nggak tahu kamu mau apa nggak sama pekerjaan ini." Ucap Lily setelah beberapa menit mereka berdiam duduk di dalam kafe.
" Apa pun itu. Akan aku lakukan. Saat ini aku udah nggak punya pilihan lain untuk memilih pekerjaan yang cocok atau tidak cocok untukku. Aku harus melakukan sesuatu untuk membayar biaya operasi ibu." Jawab Ariana dengan penuh keyakinan.
Ariana tidak ada pilihan lain selain meminta bantuan pada sahabatnya itu. pekerjaannya sebagai waiters hanya cukup untuk biaya makan mereka sehari-hari.
" Jual diri." Kata Lily singkat.
Tak percaya sahabatnya akan menyuruhnya menjual dirinya untuk mendapatkan uang dengan cepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran Yang Ditolak
*****
" Saya akan mengantar kamu pulang." Tawar Gibran yang terdengar seperti perintah yang harus di turuti Ariana.
Gibran tengah berdiri di depan cermin sambil merapikan kemeja yang dia pakai. Sedangkan Ariana merapikan barang nya.
" Terima kasih. Tapi tidak perlu. Nanti saya minta antar Liam saja." Tolak Ariana lembut.
" Biar aku saja. Liam sudah ke kantor. Ada rapat penting lagi ini. Dia menggantikan aku karena saku masih di sini dengan kamu." Desak Gibran.
" Kalau begitu biar saya naik taksi saja. Takut merepotkan nanti nya."
" Kalau saya sudah menawarkan, berarti saya siap untuk di repotkan. Mengerti?" Paksa Gibran.
" Saya bisa pulang sendiri. Selama ini saya juga sudah biasa kemana - mana sendiri. Tidak perlu mengkhawatirkan saya."
" Tidak ada yang mengkhawatirkan kamu. Saya hanya ingin mengantar kamu pulang saja sekalian saya berangkat ke kantor."
Ariana mendesah pelan. Rasa nya sangat malas jika harus berdebat dengan pria di depan nya sekarang ini. Tapi Ariana juga tidak mau Gibran sampai mengantar nya karena Gibran akan kembali ke rumah sakit, bukan ke rumah nya.
" Tapi saya..."
Belum sempat Ariana melanjutkan ucapan nya, Gibran terlebih dahulu melempar dasi yang dia pegang ke lantai. Dan itu berhasil membuat Ariana terdiam dan tercengang.
Bahkan sekarang wajah Ariana memperlihatkan Wajak ketakutan nya. Takut jika Gibran marah dan melakukan hal tidak baik pada nya.
" Jangan pernah membantah apa yang aku ucapkan. Kamu perempuan pertama yang berani membantah ucapanku. Asal kamu tahu, selama ini aku tidak pernah memakai perempuan bayaran lebih dari satu kali. Aku tidak pernah sudi tidur dengan perempuan yang sama. Jadi mungkin kali ini ada pengecualian dengan mu. Jadi jangan sampai aku berubah pikiran." Potong Gibran sebelum Ariana sempat protes.
Ariana menelan ludah nya berkali - kali. Kali ini pria tampan yang selalu menawan di mata Ariana menunjukkan asli nya pada nya.
" Dan satu lagi. Walaupun kamu itu perempuan bayaran ku. Tapi bias akan berbicara normal dengan ku. Layak nya kamu bicara dengan teman kamu seperti biasa."
Ariana hanya mengangguk. Rasa nya kali ini Ariana sudah kehilangan keberanian untuk membantah ucapan Gibran.
" Ambilkan dasi nya." Perintah Gibran.
Ariana bangkit dari duduk nya dan cepat memungut dasi yang di lemparkan Gibran dari lantai.
" Ini." Kata Ariana menyerahkan dasi nya.
" Pasangkan."
" Saya yang pasang?" Tanya Ariana heran.
Gibran melotot tajam.
" Maksud nya aku. Aku yang pasang kan?" Tanya Ariana lagi.
" Ada orang lain selain kita di sini?" Gibran balik bertanya.
" Bisa kan?"
" Bisa." Jawab Ariana dan mulai memasangkan dasi Gibran.
Jika Gibran bukan pria yang membayar Ariana, mungkin Ariana sudah menghempaskan nya jauh ke laut. Pria yang penuh dengan aturan ini semakin membuat nya pusing dan selalu ingin di ikuti keinginan nya.
" Nanti sore Liam akan menjemput mu untuk memilih apartment yang akan aku beli. Mungkin sebaik nya tinggal di apartemen. Selama kamu menjadi wanita bayaran ku, kamu harus tinggal di apartemenku. Agar aku tidak perlu repot - repot menghubungimu. Apalagi di saat aku sedang menginginkan kamu." Ucap Gibran mengagetkan Ariana untuk kesekian kalinya.
Kalau saja jantung Ariana lemah, mungkin saat ini dia sudah terlena serangan jantung mendadak.
Ariana tidak tahu seberapa kaya pria yang membayar nya ini sampai rela membeli apartemen untuk tempat Ariana memuaskan hasrat nya selama dia mengontrak Ariana.
" Kenapa nggak kamu saja yang memilih apartment nya? Aku rasa, aku tidak perlu ikut."
" Kamu harus ikut. Karena kamu juga akan ikut tinggal di sana. Jadi kamu juga perlu mencari tempat yang nyaman untuk kamu."
" Sudah." Kata Ariana saat dia menyelesaikan dasi Gibran.
" Ayo kita berangkat. Aku harus segera ke kantor sebelum rapat nya selesai." Ajak Gibran.
" Sekarang malah nyuruh cepat - cepat, tadi aja di ajak ngobrol terus." Bathin Ariana.
*
*
*
*
*
Di dalam mobil Ariana hanya diam sambil memandangi deretan gedung - gedung dan pertokoan di jalan yang dia lewati. Pikiran nya melayang ke rumah sakit dimana ibu nya berada sendirian tanpa dia.
Beruntung para suster yang menjaga ibu nya baik dan pengertian. Mereka selalu mengabari Ariana tentang perkembangan Melia walau sang ibu belum juga sadar.
" Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Gibran.
" Banyak." Jawab Ariana singkat.
" Misal nya?"
" Kalau kamu tidak pernah tidur dengan wanita bayaran lebih dari satu kali, kenapa kamu mengontrak ku selama satu bulan?" Tanya Ariana menatap Gibran serius.
" Siapa bilang satu bulan? Aku bahkan ingin membuat perjanjian dengan mami Miya untuk mengosongkan kontrakmu selama satu tahun.
" Kalau begitu aku akan bicara dengan mami Miya nanti. Kalau aku tidak ingin di kontrak oleh pria yang sama selama satu tahun."
" Mami Miya tidak mungkin bisa menolak ku. Karena jika aku mau, aku bisa menjadikan nya penghuni penjara seumur hidup nya."
Ariana terlihat menarik ulur nafas nya mendengar ucapan Gibran yang sangat tidak masuk akal.
" Bukan kah kontrak menjadi wanita bayaran dengan mami Miya itu satu tahun?"
Ariana tersenyum sinis.
" Kamu sampai tahu sedetail itu? Sudah berapa banyak wanita mami Miya yang tidur dengan kam"
" Hhmmm.... Tiga."
Ariana kembali tersenyum meremehkan mendengar jawaban dari Gibran.
" Mana mungkin? Jangan berharap aku bisa percaya begitu saja."
" Aku juga tidak peduli kamu mau percaya atau tidak."
Ariana membuang wajah nya kembali menatap jalan.
" Aku selalu meminta wanita yang masih perawan dengan mami Miya. Tapi dia tidak pernah bisa menyediakan nya. Yang ada hanya wanita bekas yang masih sempit. Dan aku pernah memakai dua wanita dari mami Miya. Sampai ke kamu yang menjadi wanita ke tiga itu. Kamu yang membuat ekspektasi ku menjadi kenyataan. Tidur dengan wanita yang masih perawan. Untuk itu aku rela bayar mahal demi kamu." Ungkap Gibran dengan wajah datar nya.
" Seperti nya kamu harus belajar menghormati perempuan. Jangan mentang - mentang kami ini perempuan bayaran, kamu bisa memperlakukan kami sesuka hati mu. Bisa saja yang kamu lakukan itu menyakiti hati kami."
" Bukan kah tugas kalian itu untuk melayani kami. Dan hak kalian mendapatkan uang untuk menghidupi kehidupan mewah kalian yang jauh dari kemampuan kalian?"
Ariana kembali menolah ke arah Gibran. Tak menyangka Gibran tega berkata seperti itu tentang perempuan bayaran.
" Nggak semua perempuan bayaran itu dela menjual diri mereka demi hidup bermewah - mewahan. Ada dari mereka yang rela menjual tubuh mereka demi kebahagiaan orang yang mereka sayangi. Karena hanya pekerjaan ini yang menjanjikan uang banyak tanpa kerja terlalu keras." Balas Ariana dengan penuh penekanan.
" Seperti kamu?"
Ariana tak menjawab.
" Memang nya kenapa kamu mau menjadi perempuan bayaran?" Tanya Gibran ketika Ariana hanya diam saja.
" Karena saya memilih pekerjaan ini agar saya bisa menghasilkan banyak uang."
Gibran mengangguk paham dan kembali fokus ke jalan.
*
*
*
*
*
Gibran menatap Ariana dengan penuh kebingungan. Dia baru saja memarkir mobilnya di depan rumah sakit, tempat di mana Ariana memintanya untuk mengantarnya.
" Liam bilang semalam dia mengantar kamu ke rumah sakit. Sekarang kamu ke rumah sakit lagi. Apa kamu tinggal di rumah sakit?" Tanya Gibran heran.
" Aku harus menjenguk teman ku yang sedang sakit." Jawab Ariana berbohong.
" Kenapa kamu tidak pulang ke rumah dulu sebelum menjenguk teman mu?"
" Aku hanya sebentar. Setelah itu baru pulang. Aku duluan. Terima kasih sudah mengantar ku."
Ariana keluar dari mobil namun Gibran juga ikut keluar dari mobil.
" Ria." Panggil nya.
" Hum?"
" Aku ikut menjenguk teman mu."
" Untuk apa? Nggak perlu. Bukan kah kamu harus ke kantor sebelum rapat nya selesai?" Cegah Ariana.
" Rapat nya bisa di urus oleh Liam. Saya hanya ingin ikut menjenguk teman kamu."
" Nggak usah kurang kerjaan ya. Hal seperti ini nggak ada dalam kontrak kita. Disana tertulis, jika aku harus menemani kamu jika kamu meminta nya. Tapi kamu tidak punya hak menemani aku. Ini itu sudah di luar kontrak kita." Jelas Ariana.
" Kamu pikir aku peduli? Ini murni keinginan aku. Aku hanya ingin tahu teman kamu sakit apa di dalam."
" Sudah kamu pulang saja." Ariana masuk ke dalam rumah sakit dengan buru - buru tak mau Gibran mencegah langkah nya lagi.
" Tunggu." Panggil Gibran akan mengejar langkah Ariana.
Sebelum dia sempat melangkah untuk mengikuti Ariana, ponselnya tiba-tiba berdering. Layar ponselnya menunjukkan nama Liam.
"Halo, Liam. Ada apa?" tanya Gibran sambil menoleh sekilas ke pintu rumah sakit dimana Ariana baru saja masuk.
Suara Liam di ujung telepon terdengar serius.
" Rapat nya akan selesai. Semua klien memaksa ingin bertemu dengan bos." Kata Liam.
"Baik. Saya akan segera kesana."
Dengan perasaan yang bercampur aduk, Gibran menutup telepon dan melirik sekali lagi ke arah pintu rumah sakit. Dia berharap Ariana baik-baik saja, tetapi tugasnya memanggil.
Dia menghela napas, menyalakan mesin mobil, dan melaju meninggalkan rumah sakit menuju kantor.
*
*
*
*
*
Gibran berdiri menghadap jendela, memandang ke luar dengan tatapan kosong. Ruangan itu hanya diisi oleh keheningan setelah semua peserta meeting meninggalkan ruangan.
Liam yang masih duduk di salah satu kursi, menatap Gibran dengan rasa bingung yang mendalam.
"Liam, kamu pernah merasa... terikat tanpa alasan yang jelas?" tanya Gibran tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela.
Liam mengerutkan dahinya, tidak mengerti mengapa Gibran tiba-tiba berbicara tentang perasaan.
"Maksud bos apa?" balas Liam, masih dengan raut bingung.
Gibran menarik napas dalam-dalam, lalu berbalik menghadap Liam.
" Saya... Saya tidak mengerti mengapa saya seperti merasa nyaman dengan Ria. Saya bingung, Liam. Ini tidak seperti saya biasa nya," ucap Gibran, suaranya rendah dan penuh kebingungan.
" Saya sudah menduga ini dari awal. Saat bos meminta saya menjemput nona Ria untuk kedua kali nya. Padahal selama ini bos tidak pernah mengulang dengan wanita yang sama."
" Kamu tahu apa yang membuat saya bisa berubah seperti ini?" Tanya Gibran.
Liam menatap Gibran, mencoba memahami situasi. "Mungkin... mungkin ada sesuatu pada nona Ria yang membuat bos merasa berbeda. Mungkin bos mulai melihat sesuatu yang lebih dari sekadar transaksi bisnis. Apa lagi paras nona Ria juga bis Adi katakan sangat natural." Jawab Liam.
Gibran mengangguk pelan, tampak merenung.
" Saya selalu meninggalkan mereka begitu saja setelah semuanya selesai, tapi dengan Ria, saya... Saya merasa ada yang berbeda. Saya tidak tahu harus bagaimana," lanjutnya, suara penuh kebimbangan.
"Mungkin ini saatnya bos mulai mendengarkan kata hati bos. Jangan takut untuk merasakan sesuatu yang lebih dari yang biasanya bos rasakan. Mungkin ini pertanda bahwa bos sedang berubah."
Gibran menatap Liam, matanya mencari jawaban.
"Berubah, huh?" gumamnya, seakan-akan kata itu memberinya sedikit kelegaan.
"Mungkin kamu benar, Liam. Mungkin ini saatnya aku membiarkan diriku merasakan lebih."
" Tapi kenapa saya merasakan kalau dia itu seperti merahasiakan sesuatu? Tadi saat saya mengantar nya ke rumah sakit, dia seperti ketakutan sewaktu saya minta ikut untuk menjenguk teman nya."
" Apa tadi bos mengantar nona Ria ke rumah sakit juga?" Tanya Liam memastikan.
" Iya. Waktu saya tanya. Dia bilang dia mau menjenguk teman nya dulu sebelum pulang ke rumah." Jawab Gibran.
" Seperti nya teman nona Ria bukan teman sembarangan. Mungkin sangat spesial sampai nona Ariana menyempatkan diri untuk lebih awal menjenguk teman nya itu."
" Apa mungkin itu pacar nya?"
" Maaf, bos. Untuk itu saya tidak tahu. Tapi jika bos meminta nya, saya akan mencari tahu soal nona Ria."
" Tidak perlu. Itu tidak penting."
" Oh ya Liam. Jangan lupa untuk menjemput Ariana nanti sore. Tadi saya sudah katakan kalau dia akan memilih langsung apartment yang akan menjadi tempat tinggal kami nanti nya." Perintah Gibran.
" Baik, bos. Setelah urusan kantor selesai saya akan menjemput nona Ria dan membawa nya mengecek langsung apartment yang akan bos beli."
" Pastikan semua nya yang terbaik, Liam. Buat dia merasa nyaman selama tinggal dengan saya. Saya mulai penasaran dengan dia. Baru kali ini ada perempuan yang berani membantah ucapan saya. Dia bahkan berani menolak saat saya menawarkan ingin mengantar dia." Ucap Gibran mengingat bantahan - bantahan yang di layangkan Ariana lada nya setiap kali dia bicara.
" Saya bisa melihat Jiak sebelum nya, nona Ria adalah wanita yang mandiri. Terlihat dari gaya bicara nya. Dia bahkan bisa lebih cepat akrab dengan saya."
" Tidak seperti perempuan lain nya yang berharap untuk bisa dekat dengan saya." Sahut Gibran.
Dengan itu, kedua pria itu berada dalam keheningan, membiarkan ruangan itu menyerap kata-kata yang baru saja terucap.
Gibran merasa sebuah beban terangkat dari bahunya, seakan ia baru saja memahami bagian dari dirinya yang selama ini tersembunyi.