The power of santri sekilas menceritakan perjuangan seorang santri putra bernama Ade firdaus atau biasa di panggil adef. terlahir dari seorang ayah yang pekerjaan nya hanya seorang petani.sedangkan ibunya telah meninggal saat ia masih berusia tiga belas tahun.
rasa syukur adef karena ayahnya sangat mendukung ia untuk bisa belajar di pesantren besar Sehingga ia selalu menggunakan waktunya untuk sungguh sungguh dalam belajar.
Saat sedang semangat mencari ilmu Adef harus menerima kenyataan pahit yang memaksa ia keluar dari pondok.
😊Semoga kisahnya Ada Manfaatnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurheti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan santri baru
Dua minggu telah berlalu, setelah para asatidz sibuk di acara pergantian mudabir sekarang harus sibuk kembali, diacara penerimaan santriawan baru.
Proses seleksi telah dilaksanakan seminggu yang lalu.
Kini para santri baru, memasuki masa pengenalan lingkungan dan kegiatan mahad Daruttakwa.
"Mahad darutakwa adalah salah satu pesantren terbesar di indonesia, pemiliknya adalah salah satu kiyai lulusan universitas islam madinah." Ucap ustadz Badru.
"Seluruh santri daruttakwa harus rajin dan giat dalam mengikuti berbagai program kegiatan belajar, baik itu belajar di sekolah maupun pondok." Jelas ustadz Badru, lalu beliu menayangkan beberapa vidio kegiatan santri dari mulai kegiatan penyetoran kosa kata bahasa arab, lalu mengantri mandi, mengantri ambil sarapan, kegiatan belajar mengajar dan kegiatan lainnya.
Setelah para asatidz selesai menjelaskan kegiatan santri, lalu kami para mudabir memperkenalkan diri kepada mereka, siapa kami dan apa tugas kami sebagai mudabir.
Wajah mereka terlihat sangat polos sekali, apalagi wajah anak-anak Mts, sungguh kasihan, baru saja lulus SD mereka harus di tempatkan di pondok, Jauh dari perhatian orang tua dan harus rela meninggalkan masa bermainnya demi masa depannya.
Aku sangat bangga melihatnya, sebagai ro'is aku berjanji akan membuat mereka semangat mencari ilmu.
Setelah seluruh mudabir memperkenalkan diri acarapun ditutup, jam menunjukan pukul dua belas pas, seluruh santri menuju tempat wudhu dan melaksanakan shalat dzuhur berjamaah serta tadarus al qur'an.
Aku masih fokus tadarus, masjidpun mulai sepi, seluruh santri berkumpul di depan dapur
mereka mengantri untuk mendapat makan siang.
Aku segera mengakhiri tadarusku, kulihat wildan masih fokus berdzikir di shaf paling belakang, wajahnya tak terlihat oleh sorban yang menutupinya.
Aku coba membuka sorban yang menutupi wajahnya ternyata dugaanku salah, dia terlelap tidur.
"Wil...sttt...wildan.....wildan." Aku berusaha membangunkannya.
"Def...ane ketiduran." Jawabnya sambil mengucek ucek mata.
"Cepetan bangun ente mau makan engga." Lirihku sambil berjalan keluar masjidz, Wildan mengikutiku dari belakang.
Kulihat antriannya masih panjang sekali, aku tercengeng kembali melihat santri baru.
Mungkin saat ini hati mereka sangat sedih dan merindukan suasana makan dirumah, mereka tidak pernah mengantri saat lapar. Ibunya sudah menyiapkan makanan sebelum mereka lapar, atau meneriaki dan marah- marah pada mereka agar cepat makan.
Sekarang suasananya beda, meski perut sudah sangat lapar mereka harus sabar menunggu antrian, kulihat ada satu santri baru yang tengah duduk melamun matanya sembab, segera kuhampiri ia dan duduk disampingnya.
"Ade sedang apa?" Tanyaku padanya, ia menggeleng air mataya berderai.
"Pengen pulang kaa." Tangisannya tidak bisa ditahan saat mengucapkan kalimat itu.
Dadaku sesak melihatnya, aku bisa merasakan apa yang ia rasakan aku memeluk dan mengelus kepalanya.
"Nama ade siapa." Tanyaku.
"Akbar ka." Jawabnya ia masih terus menangis.
"Oke Akbar, Akbar kesini mau Akbar sendiri apa disuruh orangtua Akbar." Tanyaku sambil mengelus rambutnya yang masih terus menangis.
"Suruh mamah sama papah ka hu..huh..hu." Jawabnya.
"Nah itu artinya mamah sama papah akbar mau akbar jadi orang hebat, Akbar jadi orang pinter, Akbar dihormati banyak orang, Akbar jadi orang solih yang kelak senantiasa mendoakan mamah sama papah Akbar.
jadi akbar harus semangat menimba ilmu disini, ka adef yakin mamah sama papah akbar akan seneng kalo liat akbar semangat mencari ilmu di sini.
Makannya Akbar harus sabar di sini ya." lirihku Akbar hanya terdiam
"Ada hadist Rasulullah yang mengatakan bahwa ketika seseorang meninggal dunia maka akan terputuslah semua amalannya terkecuali tiga perkara yang membuat amalanya terus mengalir meskipun seseorang itu telah meninggal,salah satu dari tiga perkara itu anak solih yang selalu mendo'akannya." Jelasku padanya.
aku mencoba mengingat ingat pelajaran hadiat tujuh bulan yang lalu.
"Jadi akbar harus semangat belajar di sini sampai Akbar jadi orang pinter yah" Akbar mengangguk, dia sudah tak lagi menangis.
"Kalau nanti Akbar ada masalah, cerita aja ke ka Adef ya, kamar ka Adef di lantai dua, nama kamarnya Sayid umar bin khotob, nanti tanyain aja sama yang lain.
Sekarang akbar ambil makan yah antiannya sudah mulai sedikit." Lirihku
Akbar mengangguk dan menyalamiku.
"Makasih ka." Lirihnya aku tersenyum mengangguk.
Semoga aku bisa menjadi ro'is yang bermanfaat untuk seluruh santri Daruttakwa.
yang bisa memotifasi dan membuat mereka semangat kemabali.
bersambung.........