NovelToon NovelToon
Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:2.7M
Nilai: 5
Nama Author: Isti arisandi

Mawar, gadis cantik, diusianya yang telah matang harus menerima pernikahannya dengan Dirga, seseorang yang tak pernah dikenal sebelumnya. Menggantikan Dimas yang pergi entah Kemana di hari pernikahannya. Cinta yang tak pernah ada sebelumnya, berlahan hadir di dalam mahligai rumah tangga, Dimas yang pergi kembali dengan sejuta penyesalan, ingin kembali pada Mawar kekasih pujaan hati. Bisakah Dimas merebut Mawar dari tangan Dirga? akankah hidup mereka bahagia? ikuti kisahnya terus di Menikah Tanpa Cinta.

Coretan pertama Isti arisandi. Mohon dukungannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isti arisandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ada Hati yang terluka

Setelah mendapat pesan singkat, Dirga keluar dari ruangannya, ia menyambar ponsel dan kunci mobil, beberapa pertanyaan dari Nela ia tidak menggubrisnya.Dirga segera menuju lift, dengan sekejap ia pencet tombol satu, hanya hitungan menit tubuh Dirga sudah sampai dilantai paling bawah. Ia bergegas menuju arah keluar kantor.

Kini ia sudah berada di taman, penjaga gerbang yang melihat tingkah Dirga seperti terburu buru ,langsung segera membukakan pintu gerbang tanpa menunggu perintah darinya.

Perjalanan Dirga sampai di kedai kopi hanya memakan waktu kurang dari 10 menit. Suasana kedai itu tampak sepi, Hanya ada beberapa lelaki duduk pada Meja masing masing.

Dirga kemudian tanpa berpikir panjang lagi, ia meraih ponselnya, ia tekan tombol panggil pada nomor baru tersebut. Dirga mengamati beberapa lelaki yang sedang sibuk dengan kopi nya, tetapi lelaki yang duduk di nomor meja paling ujung, ia segera mencari handpone di sakunya yang berdering sedari tadi.

Langkah Dirga tertuju kepada seorang pria yang duduk di pojok, mata Dirga terbelalak ternyata laki- laki itu tidak asing lagi baginya.

"Hai Bro gimana kabar Anda?" Dirga tersenyum ramah ia mengulurkan tangan kanannya. Ketika telah sampai di depan pria itu.

Laki laki itu segera mendongakkan kepalanya, dilihat Dirga sudah datang segera ia berdiri dan menyambut uluran tangan Dirga. "Baik, silahkan duduk Sobat."

Kemudian Dirga menghempaskan pantatnya di kursi kayu yang Di sediakan oleh pemilik kedai kopi tersebut.

"Tumben, memakai nomor baru, tak kusangka kau pemiliknya, Bro." Dirga memulai pembicaraan, wajah Dirga selalu bersahabat, tanpa ada sedikitpun kekesalan, walau Dimas telah memutuskan kerja sama sepihak tempo hari. Dirga tidak ambil pusing akan hal itu. Ia banyak memiliki patner kerja dan investor.

Yang membuat perusahaannya semakin melebar. Dirga tak akan bangkrut jika hanya satu investor saja yang mundur dari kerja samanya.

"Heeem, sebenarnya ada yang aku ingin bicarakan penting denganmu, Sobat." Dimas kini seketika wajahnya berubah menjadi sendu, kesedihan tampak pada raut nya, lelaki ini jarang terlihat seperti sekarang ini, biasanya wajahnya tampak coll dan elegant.

"Santai saja sejak kapan kita jadi formal seperti ini, katakan yang jadi bebanmu Bro." Dirga berusaha mencairkan suasana yang tiba- tiba menjadi kaku.

"Baiklah, aku minta maaf, karena kemaren sudah ceroboh memutus kerja sama kita, aku terlalu terburu- buru tanpa memikir semua, memutuskannya secara sepihak, aku saat ini adalah pria yang bodoh sobat."

Dimas menarik nafas panjang, ia mengutuk dirinya sendiri. Nampak sekali dimatanya tersirat suatu penderitaan.

"Sobat sebenarnya aku disini tidak ingin membahas tentang perkerjaan, Ada lainnya yang ingin aku bicarakan." Dimas memberanikan kata- katanya keluar Dari mulutnya, walau didadanya sebenarnya terasa sangat nyeri.

Dimas sangat yakin kalau Dirga belum melakukan hubungan yang satu itu kepada istrinya, karena Dimas kenal siapa Mawar ia wanita yang bisa menjaga kehormatannya, walau sering Kali Dimas menginginkan untuk berhubungan badan ketika menjadi kekasihnya, Mawar selalu sanggup menghindar dengan alasan belum menikah

"Katakan saja Bro, mungkin aku bisa bantu." Dirga tampak tenang wajahnya datar saja, sesekali ia meneguk kopi didepannya yang mulai dingin.

Tapi Dimas sama sekali tak menyentuh kopi miliknya, minuman itu tiba- tiba tak menarik untuknya, pikirannya fokus merangkai kata untuk Dirga, agar ucapannya tak sampai menyinggung perasaannya nanti.

"Ini menyangkut, kekasihku. Kamu pasti sudah mengerti siapa yang ku maksud" Mata Dimas berkaca,kaca walaupun air mata tidak sampai menetes.

"Maksudmu kekasih? Mawar!" Dirga ingin lebih jelas lagi.

"Iya. Mawar, kalian tak saling mencintai bukan?"

"Aku menginginkan ia kembali padaku aku sangat mencintainya. kalian bisa urus perceraian kalian segera mungkin. yang terjadi kemaren adalah sebuah kesalahan. jadi aku ingin memperbaiki."

Kali ini Dirga tersenyum sinis pada Dimas. "Ha ... ha ... ha.... Aku telah menikahinya saat kau tinggalkan sekarang kau meminta kembali padanya." Dirga menggeleng gelengkan kepala tak percaya.

"Kenapa kamu sangat egois, tuan Dimas, Istriku bukan barang yang bisa aku berikan pada siapapun." Emosi Dirga memuncak, hatinya cemburu karena Dimas selalu memanggil kekasih pada istrinya. Kekesalannya tak bisa lagi ia sembunyikan dari raut wajahnya.

"Kau sudah amnesia rupanya, Tuan Dimas!"

" Kau campakkan calon istrimu dan kau sekarang meminta istriku, kamu lupa sesuatu kalo Mawar istri sahku sekarang, haaaah." Dirga menggeleng gelengkan kepala. Dia tak habis pikir dengan kelakuan Dimas.

"Kau tak mencintainya, dan dia tak mencintaimu, itu alasan yang kuat untuk kalian bercerai!" Kata- kata Dimas meyakinkan Dirga, suara Dimas juga meninggi tak mau kalah.

"Aku mencintainya! Dan jangan pernah Mimpi aku akan menceraikannya. Ingat kata kata itu!!" Dirga mulai kesal amarahnya tak bisa diampun lagi.

Dia istriku, aku menikah tidak untuk bercerai dengannya camkan itu baik-baik, Tuan!!" Dirga menudingkan jari telunjuknya ke arah Dimas, kemudian ia pergi dan membanting kursi yang ia duduki.

Dimas mendapat perlakuan kasar itu mukanya merah padam darahnya seperti mendidih. Dimas memukulkan tinjunya ke arah meja didepannya. benda mati itu kini yang jadi sasaran sebagai pelampiasan kekesalannya.

"Braaak!"

"Dasar kau laki-laki sialan!"

"Kau memang selalu menginginkan milikku!" Dimas terus mengumpat sendirian, sedangkan Dirga sudah lalu dari hadapannya.

Kini tinggal Dimas seorang diri meratapi penyesalannya. Bayangannya kembali kepada Mawar. Sepertinya sulit untuk mendapatkan Mawar dari Dirga. Walaupun ia sudah menjatuhkan harga dirinya dengan meminta baik-baik.

Beberapa orang di kedai tercengang melihat pertengkaran dua laki-laki tampan itu. Pemilik kedai kopi mulai kesal dan menyuruh Dimas untuk segera pergi. Ia tidak suka ada keributan di tempatnya.

Apa yang di angan-angan Dimas ternyata salah besar, dikira Dirga akan mudah menceraikan kekasihnya itu ternyata tidak benar.

Bahkan Dirga mempertahankan Mawar menjadi miliknya.

Dimas kini mengendarai mobilnya dengan kencang menuju pantai, di pantai itu terakhir kali ia berlibur bersama Mawar menyaksikan matahari ketika senja.

Bayangan tentang Mawar berkelibat di depannya. Saat ia bermain kejar- kejaran diterpa ombak kecil, dan sesekali Dimas memeluknya dari belakang.

Ketika meminum es kelapa muda bersama,dengan satu buah kelapa yang sama.

Canda tawa Mawar,seolah olah terus terngiang di telinganya.

Sesekali mereka berpose untuk mengambil gambar diri dan mengabadikannya ,untuk dijadikan kenang- kenangan.

Mengenang semua itu, Dimas semakin terluka ia dalam kehancuran yang amat dalam. Ia berteriak sekeras mungkin, teriakannya memekakkan telinga, seolah ia mengadu pada alam agar alam ikut mendengar betapa pedih hatinya saat ini.

Ia yang semula berdiri bersandar di pohon kelapa, kini tubuhnya merosot kebawah terkulai lemas.

Laki- laki itu meratapi kebodohannya.

"Aku laki-laki bodoh!"

"Aku bodoh sekali!"

"Bodoh!"

Dimas terus meratap, entah apa yang terjadi seolah tubuhnya kini sudah mati rasa. Ia hilang kesadaran untuk sesaat.

Tiba- tiba Mawar hadir di hadapan Dimas dia tersenyum dan menyapanya.

" Honey, apa yang kau lakukan, kenapa kau sendirian, aku ingin minta sesuatu untukmu aku minta belikan itu!" Mawar menunjuk pada kura-kura yang dijual oleh pedagang di pantai itu.

"Ambilah beb! Itu tinggal satu"

Mawar tertawa sangat bahagia begitu ia mendapatkan kura-kura itu.

"Terima kasih."

Mawar mengecup pipi Dimas sebelah kanan.

"Kamu suka," tanya Dimas pada Mawar yang tak berkedip melihat bayi kura-kura itu.

"He.em aku suka!"

"kita kasih nama siapa ya? Kita kasih nama Dira aja bagaimana? Kamu suka, Honey?"

"Iya aku suka." Dimas mengangguk tanda setuju.

Kemudian Mawar berjalan mendekati ombak di bibir pantai dan Dimas berdiri dibelakangnya. Melihat apa yang dilakukan Mawar. Dimas ikut tersenyum bahagia.

Mawar melepas kura - kura dari tangannya di deburan ombak, kemudian ia lambaikan tangannya kearah Dimas, ia tersenyum.

Dimas berlari menyongsong mendekati Mawar, wanita itu sedang asyik memainkan air hingga mengenai tubuhnya hampir dari seluruh tubuhnya kini basah. Sesekali cipratan air itu tepat diwajahnya. membuat ia kaget dan tersadar.

Seketika itu terdengar suara penjaga pantai membangunkan Dimas. sambil memberikan percik,an air di wajahnya.

"Mas!"

"Mas, bangun."

"Ini orang masih hidup apa mati, ya?

Ucap seseorang kepada salah satu temannya.

Dimas basah kuyup sejak tadi badannya diguyur air hujan, saat ia tak sadarkan diri. Ia berjumpa dengan Mawar di dalam ketidaksadarannya.

penjaga pantai itu membantu Dimas untuk bangkit dari pingsannya. Dimas mencoba membuka matanya namun terasa berat.

Orang itu kemudian membopong tubuhnya ke dalam Mobil, untung saja Dimas memarkir mobilnya tidak jauh dari tempatnya.

"Mas, beri aku nomor keluarga anda yang bisa aku hubungi," tanya penjaga pantai.

kemudian Dimas menyodorkan ponselnya. dan menyebut nama seseorang.

1
Dedeh Rokayah
Luar biasa
Runik Runma
panjang bener
iren thezer
suka ceritanya sukses author
Jun Asih
karya y sangat bagus dengan cerita y
Sandisalbiah
Dimas...
Asiah Erap
Cerita bagu
Diana Susanti
lanjut kak mantap 👍👍👍👍
Diana Susanti
hahahaha 😁😁😁
Diana Susanti
paling Dimas
Diana Susanti
kayaknya seru,, lanjut kak
Nuraeniy352
bukan'y pasang cctv ya,,,bisa lihat n pantau dari kejauhan,,g guna pasang cctv kalo masih ribet
Hayatul Wardani
benar kata pak bagus tok cet
Afiqah Herni
memuaskn
Lina Lina
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Lina Lina
susah amat namanya thor..untung gak kelipat lidah gw bacanya..maaf thor cuma becanda 🙏🙏🙏🤣🤣🤣
Lina Lina
jd maksud emak kata2 emak barusan gak menyakiti gitu...bukan mawar jg dulu yg mau nikah sm dirga mak..tp dirga yg mengajukan diri..lg klu jodoh siapa yg bisa nengelak mak...
Lina Lina
ya elah mak jgn gitu ngapa...jgn jd siangan sm mantu emak...gak boleh.. kasihan loh mantunya..
Lina Lina
wah jgn2 tekdung tuh
Lina Lina
wkwkwkwk 😂😂😂 ketahuan author gak suka duren makanya jd belah semangka 🤣🤣🤣
Lina Lina
ciee ciee ciee..yg udah belah duren makin mesra aja...bikin ngiri aja 😆😆😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!