"Kalau dia sudah tidak ingin hidup maka biarkan saja dia mati!"
Samar-samar aku mendengar suara bariton dari sampingku. "Brengsek, dokter macam apa yang menginginkan pasien nya mati" gumamku sambil meringis menahan sakit.
Cerita ini berkisah tentang seorang gadis muda berusia 19 tahun yang dijodohkan oleh orang tuanya dengan seorang pria yang sudah cukup berumur. Dia, Kirana Nindya Prasetyo memilih bunuh diri daripada menikah dengan pria yang tak dikenalnya.
Lalu, sosok seperti apakah yang akan menjadi suaminya kelak, sehingga dia begitu keras kepala menolak perjodohan ini?
Akankah pria misterius itu memaksa untuk menikahi nya atau malah bekerjasama dengan nya untuk membatalkan pernikahan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rika Surya Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 10
Elang terdiam mendengar jawaban Kiran.
Gadis ini, dia berani menolak tawaran ku. Sungguh menarik.
"Baiklah dokter, terimakasih untuk hari ini, kami permisi pulang"
Kiran langsung menarik tangan Siska dan berjalan cepat mencari kendaraan umum. Elang pun bergegas menuju mobilnya dan langsung pergi meninggalkan mall itu sambil tersenyum.
*****
Sesampainya rumah Elang.
"Elang akhirnya kamu pulang" rengek Cyntia manja.
"Kau... siapa yang mengijinkan mu masuk ke rumahku?" tanyanya sinis.
"Elang! Apa-apaan kamu?! Cyntia calon istrimu, bersikap baiklah kepadanya!" bentak Mia, ibu kandung Elang.
"Cih, dia tamu Mama bukan tamuku, dan ini rumahku, aku berhak untuk mengusir orang yang tak ku undang!"
"Termasuk Mama? Kau mau mengusir Mama dari rumah mu?"
"Tante sudahlah, mungkin Elang butuh istirahat, dia pasti lelah. Tante jangan marah lagi, Cyntia gak apa-apa kok."
"Kamu lihat, Cyntia begitu baik dan perhatian padamu, apa yang kurang dari nya. Dia cantik, baik, pintar, punya karir yang cemerlang, putri walikota, dia yang paling pantas mendampingi mu"
"Itu menurut Mama, tidak menurutku"
"Terserah, Mama tidak mau tau. Dua Minggu lagi kau harus menikah dengan Cyntia, Mama akan urus semuanya... dan satu hal lagi mulai besok Cyntia akan bekerja di rumah sakit bersamamu, kau harus menjaga dia"
Elang diam tak menggubris ocehan ibunya. Dia melangkah cepat menuju kamarnya.
Menikahi wanita itu? Huh, bermimpi pun aku tak ingin. Aku harus menemukan cara untuk membatalkan nya. Eh, besok dia akan bekerja di rumah sakit dengan ku, jadi dialah dokter spesialis yang akan bekerja besok. Hmmm aku akan membereskan mu.
*****
Pagi hari Kiran bersiap-siap untuk memulai pekerjaan barunya. Dia begitu senang, akhirnya bisa melunasi biaya pengobatan nya, walaupun harus bekerja tanpa menerima gaji. Ibu Heni yang juga bekerja dirumah sakit yang sama dengan Kiran pun langsung menghampiri nya.
"Kiran, kamu sudah selesai nak?"
"Sudah Bu, mari kita berangkat sekarang Bu"
"Ah, baiklah. Siska kami berangkat dulu, kunci pintunya"
"Iya Bu. Semangat Kiran, berhati-hatilah dihari pertamamu"
Kiran melambaikan tangan sambil mengedipkan sebelah matanya. Kali ini mereka berangkat menggunakan sepeda motor butut milik almarhum ayah Siska.
Udara pagi ini begitu segar, sesegar raut wajah Kiran yang begitu lembut dan sederhana. Sepuluh menit kemudian mereka tiba dirumah sakit. Kiran pun memarkirkan motornya dan meminta Ibu Heni untuk masuk ke rumah sakit duluan.
Setelah memarkirkan motornya, Kiran pun bergegas masuk ke rumah sakit. Dia langsung mengambil sapu dan peralatan untuk mengepel lantai. Kiran bekerja dengan begitu senang, dia mengepel lantai sambil bersenandung riang.
"Hei kau gadis bodoh, apa yang kau lakukan disini?" Elang mengerutkan dahinya. Sesenang itukah bekerja sebagai tukang kebersihan?
"Auuwww..." Kiran melonjak kaget. Dia menoleh ke sumber suara.
Astagaaa, monster ini kenapa ada dimana-mana sih? Kenapa aku bisa lupa kalau aku akan ketemu dia lagi disini, seharusnya aku bisa menghindar dari nya.
Tokkk...
"Ahhhh" Kiran menyentuh jidatnya. "Kenapa dokter memukul ku?" sungutnya marah.
Ah ekspresi itu, aku benar-benar menyukainya. Tak sia-sia aku datang ke rumah sakit sepagi ini.
"Sedang apa kau disini?!" hardiknya.
"Ini hari pertama saya bekerja di rumah sakit dokter"
"Ya, aku tahu. Tapi kau tidak bekerja di bagian ini. Siapa yang menyuruh mu mengepel di koridor ini?"
"Tapi saya kan bekerja di bagian kebersihan dokter"
"Apa kau tidak membaca kontrak kerja yang kau tanda tangani sebelumnya?"
Kiran menggeleng sambil menggigit bibirnya.
Ibu Heni yang melihat kejadian itu pun langsung menghampiri mereka.
"Maafkan anak saya Dokter, dia baru saja mulai bekerja hari ini"
"Anak ibu? Ada berapa orang ibu yang dia punya? Hebat sekali dia!" liriknya sinis.
"Oh sebenarnya dia teman baik anak saya Dokter, tapi sudah seperti anak saya sendiri. Sekali lagi maafkan dia dokter kalau dia berbuat salah"
"Hmmm baiklah, suruh dia keruangan direktur rumah sakit sekarang!"
"Baik dokter"
Elang langsung pergi tanpa menoleh lagi. Ibu Heni pun menghibur Kiran yang terlihat sedih.
"Bagaimana ini Bu? Apakah Kiran akan dipecat?" tanyanya sedih.
"Kiran, kamu jangan berpikir yang macam-macam. Pergilah nak, temui direktur itu dan bicarakan baik-baik."
Kiran mengangguk sedih. Dia pun menyusuri koridor rumah sakit untuk mencari ruangan direktur.
Astaga kenapa aku lupa bertanya pada Ibu Heni, dia pasti tau dimana ruangannya. Suster Lani juga tidak kelihatan hari ini.
Kiran mondar mandir di lantai tiga.
Aku harus bertanya di resepsionis. Ya sebaiknya aku turun dulu ke bawah.
Disaat ia akan turun ke bawah, saat itu pula pintu lift terbuka dan seorang wanita yang begitu cantik dan modis tiba-tiba langsung memakinya.
"Apa yang kau lakukan disini?! Ini jam kerja dan kau malah bengong di depan lift! Aku akan membawamu ke ruangan direktur, aku akan meminta dia untuk memecat pegawai malas seperti mu! Kau ikuti aku!"
Kiran yang masih shock pun menuruti perintah wanita cantik itu, dan dia pun teringat akan sosok nya. Ya, dia adalah wanita yang ia lihat di restoran semalam.
Habislah aku kali ini. Aku dipecat dihari pertama aku bekerja. Oh Tuhan dosa apa yang pernah aku lakukan? Kenapa aku bisa sesial ini.
Tok tok tok...
Wanita itu mengetuk pintu kantor direktur.
"Masuk!"
Suara bariton yang terdengar kejam tapi sepertinya tidak asing di telinga Kiran.
"Kau terlambat 10 menit!"
"Sayang, aku datang tepat waktu. Ini bahkan belum waktunya aku masuk kerja."
"Kau, sedang apa kau disini?! Aku tak bicara padamu! Aku bicara pada dia!" Elang menunjuk wajah Kiran yang ketakutan.
"Ah kebetulan sayang, aku juga mau meminta mu untuk memecat pemalas itu! Beraninya dia bermalas-malasan di jam kerja!"
"Memecat dia? Siapa kau sampai berani memerintahku?! Kau keluarlah dari ruangan ini, aku tak membutuhkan mu di sini!"
"Tapi sayang, aku...."
"Keluar! Atau aku akan meminta sekuriti untuk menyeretmu!"
Cyntia keluar dari ruangan itu dengan raut wajah kesal. Dia membanting pintu dengan keras, membuat Kiran yang daritadi menunduk takut menjadi sangat terkejut. Sangking kagetnya Kiran sampai melompat ke depan dan menubruk Elang.
"Ahhh maaf kan saya dokter, maafkan saya... Saya tidak sengaja, saya... " Gumam Kiran terbata-bata sambil membersihkan kemeja Elang. Ia teringat kalau Elang tak suka disentuh orang, dia bahkan membuang pakaian yang baru saja disentuh tunangannya semalam.
"Kau gadis bodoh, apa kau sedang mencoba untuk menggoda ku?"
"Ti-tidak dokter, saya gak bermaksud begitu"
"Tapi tadi kau berbuat begitu?" godanya lagi membuat wajah Kiran memerah.
"Saya terkejut dokter, maafkan saya"
Elang tersenyum senang. Dia berjalan mendekati Kiran.
"Terkejut? Apakah setiap kali terkejut kau akan meraba-raba tubuh orang lain gadis bodoh? Kau terlihat bersemangat saat meraba ku?" bisiknya lembut.
"Ah, itu.. saya tidak sengaja dokter, tolong maafkan saya kali ini. Saya permisi dokter, saya harus menemui direktur rumah sakit."
Ya Tuhan, gadis ini apa masih belum mengertikah? Direktur itu ada dihadapannya sekarang. Aku akan menggoda mu.
"Bagaimana jika aku tak mengijinkan mu pergi?" sahut Elang dan berdiri tepat di depan pintu menahan langkah Kiran.
"Dokter saya mohon, ini masalah hidup dan mati saya, biarkan saya pergi."
"Hidup dan mati? Seserius itukah masalah nya?"
"Dokter saya mohon, bukankah dokter yang bilang kalau saya harus menemui direktur rumah sakit?"
"Hmmm baiklah, kau pergi menemui Suster Lani terlebih dahulu, dan minta dia untuk mengantarmu"
"Baiklah, terimakasih Dokter" Kiran tersenyum senang, matanya pun berbinar indah.
Hah bodoh sekali dia, jelas-jelas orang yang dicarinya sudah berdiri dihadapannya, tapi masih tak mengerti. Apakah dia begitu ketakutan hingga tak membaca tulisan diatas pintu masuk? Heh, kau gadis yang sangat aneh dan menarik perhatian ku. Aku akan lihat reaksimu saat kau diantar kembali ke ruangan ini. Hehehe