Kisah cinta dua orang insan yaitu seorang pria irit bicara dan tampan/ sang pemilik perusahaan terbesar nomor satu dengan seorang sekertaris cantik yang memiliki sifat manja.
"Asisten Han, apakah kamu menemukan wanita yang ku cari selama ini?" Tanya Bian.
"Belum, Tuan Bian," Sahut Han.
"Yasudah, keluar lah. Satu lagi, selalu cari informasi tetang wanita itu sampai dapat," Kata Bian.
"Baik, Tuan," Sahut Bian.
Dukung ceritanya ya!
HAPPY READING...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Fitrianingsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari
Bian pergi keruangan asistennya, yaitu asisten Han. Ia masuk tanpa permisi.
"Eh," Ucap Han. Ia terkejut Bian masuk menyelonong saja.
"Aku pinjam kamar mandi mu," Ucap Bian tanpa menoleh ke arah Han.
Han hanya diam saja tidak menjawab, ia menautkan kedua alisnya karena bingung dengan Bos nya itu.
Didalam kamar mandi, Bian merutuki dirinya sendiri.
"Arrrgghh, Kenapa dengan diriku. Kenapa aku sangat suka jika bersentuhan dengannya?" Bian menggerutu seraya mengacak rambutnya.
"Kenapa mulut ku sangat licin sekali, sampai menembaknya di situasi yang tidak bagus. Arrgghhh, dasar bodoh kamu Bian," Bian semakin menggerutu. Dan mengusap wajahnya dengan kasar.
Setelah itu, Bian membasuh muka nya dengan air dingin serta merapihkan rambutnya. Kemudian ia keluar dari kamar mandi. Lalu, duduk di sofa ukuran sedang yang ada di ruangan Han.
"Tuan, tumben mau masuk ke kamar mandi ku," Ucap Han. Karena baru kali ini Bian masuk ke kamar mandi yang ada di ruangan Han.
"Ini kan kantor ku, kamar mandi mu juga kamar mandi ku," Jawab Bian dengan enteng.
"Heheh," Han kalah malu.
"Tuan, tumben anda kesini," Lanjutnya.
"Aku ingin beristirahat sebentar," Ucap Bian. Lalu, ia merebahkan badannya di sofa itu.
"Maaf, tuan. Di ruangan Tuan kan ada tempat tidur. Dari pada tuan tidur di sofa kecil itu, nanti badan Tuan bisa pegal-pegal," Tutur Han.
"Tidak apa-apa, aku sedang malas tidur di ruangan ku,"Sahut Bian. Ia memejamkan matanya.
"Satu lagi, jangan menggangguku sedang tidur," Lanjutnya.
"Baik, Tuan," Sahut Han.
Beberapa menit kemudian, Bian pun tertidur di ruangan itu.
*****
Disisi lain, Zena terlihat gelisah. Bagaimana tidak, ia hanya sendirian di ruangan itu.
"Pak Bian kemana sih. Lama banget diluar. Nanti kalau ada yang hilang di ruangan ini, aku juga yang disalahkan," Zena menggerutu.
"Dia tidak tahu apa. Ini kan masih jam kerja. Mentang-mentang Bos, jadi seenaknya ninggalin pekerjaannya," Zena semakin kesal.
"Lebih baik aku mencarinya!" Batin Zena.
Zena pun keluar dari ruangan Bian, ia mencari Bos nya sampai ke lantai dasar.
"Bukannya itu Zena. Ngapain dia berkeliaran saat jam kerja begini," Batin Dinda.
"Zena!" Teriak Dinda dari tempat resepsionis.
Zena pun mendekati Dinda.
"Hay," Zena menyapa.
"Kenapa kamu keluyuran di jam kerja begini?" Tanya Dinda pada Zena.
"Aku mencari Pak Bian. Apakah kamu melihatnya?" Tanya Zena pada Dinda.
"Tidak, dari tadi aku tidak melihat Pak Bian lewat. Terakhir ku lihat, waktu tadi pagi saat masuk kantor," Sahut Dinda.
"Kemana lagi aku mencari nya? Sudah satu jam lebih aku menunggunya di ruangannya sendirian," Ucap Zena. Lalu, ia meletakkan dahinya ke atas meja resepsionis.
"Kamu sudah mencarinya di ruangan asisten Han?" Tanya Dinda.
"Belum...," Sahut Zena.
"Berdirilah yang benar, kemudian kamu cari Pak Bian ke ruangan asisten Han. Pasti dia ada disana," Tutur Dinda.
"Kamu tahu dari mana kalau Pak Bian ada disana?" Tanya Zena seraya mengangkat wajahnya dari meja resepsionis.
"Aku hanya menebak. Tidak ada salahnya lihat keruangan asisten Han," Sahut Dinda.
"Baiklah. Terimakasi teman. Kalau begitu aku pergi dulu, bye...," Ucap Zena. Lalu ia melambaikan tangannya dengan manja dan centilnya.
Sedangkan Dinda hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Zena.
*****
Sampailah Zena ke depan ruangan asisten Han.
'Tok tok'
Suara pintu di ketuk.
"Ngapain Nona Zena kesini?" Batin Bian.
Asisten Han pun membuka pintu nya.
"Ada apa Nona Zena?" Tanya Han dengan lembut.
"Apakah ada Pak Bian?" Zena balik bertanya.
"Ada, Nona. Tuan Bian sedang tidur," Sahut Han.
"Boleh saya masuk?" Tanya Zena pada Han.
"Mau ngapain, Nona Zena?" Han balik bertanya.
"Membangunkannya," Sahut Zena dengan santai.
Asisten Han diam dan berpikir sejenak.
"Tapi, Tuan Bian tadi berpesan. Tidak ada yang boleh membangunkannya," Tutur Han.
"Kalau dia marah, saya yang akan tanggung jawab," Sahut Zena.
"Hmm, masuklah!" Ucap Han.
Zena pun masuk kedalam ruangan asisten Han. Lalu, Zena mendekati Bian yang sedang tidur. Sedangkan asisten Han kembali duduk di kursinya. Lalu ia melanjutkan pekerjaannya dan fokus pada leptop nya.
"Dasar Bos pemalas," Celetuk Zena.
"Bisa-bisanya dia tidur disini. Sedangkan aku di tinggal sendirian di ruangannya," Zena menggerutu. Ia sangat kesal.
"Pak Bian," Panggil Zena. Ia membangunkan Bian.
"Pak Bian," Panggilnya lagi. Tetap tidak ada jawaban.
"Huuuh, kalau sudah tidur macam orang mati," Celetul Zena.
Asisten Han hanya bisa tersenyum melihat Zena.
"PAK BIAN, BANGUN....," Teriak Zena di telinga Bian.
Bian tersentak karena ulah Zena. Sedangkan asisten Han juga terkejut mendengarnya.
"Matilah, Tuan Bian bisa marah besar pada Nona Zena," Batin Han, ia sedikit takut.
"Apaan sih, kenapa teriak ditelinga ku!!," Bian marah dan membentak. Bian belum sadar jika yang membangunkannya adalah Zena.
"Sudah kuduga," Batin Han.
Zena hanya diam karena suara Bian yang membentaknya.
"Han, sudah kukatakan jangan mengganggu tidur ku," Ucap Bian lagi. Matanya masih terpejam.
"Maaf, Tuan. Bukan saya yang membangunkan mu," Ucap Han, masih di tempat duduknya.
Bian pun langsung membuka matanya. Dan terlihatlah Zena yang berdiri disampingnya
"Zena, ngapain kamu disini?" Tanya Bian. Ia terkejut melihat Zena yang berada di sampingnya. Lalu, ia duduk. Sedangkan Zena hanya diam.
"Zena," Bian memanggil Zena.
"Maaf, saya mengganggu," Sahut Zena. Lalu ia meninggalkan Bian yang masih mengumpulkan nyawanya.
"Zena, kamu mau kemana?" Tanya Bian. Zena tidak menjawab. Ia terus berjalan keluar ruangan Han.
"Han, kenapa kamu tidak bilang jika Zena yang membangunkan ku?" Tanya Bian dengan kesal.
"Aku lagi yang kena. Sabar-sabar. Bos memang tidak pernah salah," Batin Han.
"Maaf, Tuan Bian," Sahut Han.
"Arghhh, sial!!" Teriak Bian. Ia merutuki dirinya sendiri. Bian menghempaskan bada nya di sandaran sofa.
"Yasudah lah, aku mau keluar dulu!" Ucap Bian.
Bian pun keluar dari ruangan asisten Han dengan wajah kesal. Bian menuju ruangannya.
*****
Saat Bian masuk kedalam ruangannya. Ternyata Zena tidak berada didalam.
"Kemana perginya anak itu?" Batin Bian.
"Apa dia marah padaku?" Bian membatin lagi. Lalu, ia duk di kursinya.
Tidak lama kemudian, Zena pun masuk kedalam ruangan Bian.
'Ceklek'
Suara pintu dibuka.
"Dari mana kamu?" Tanya Bian. Ia melihat Zena sekilas.
"Kamar mandi lantai enam," Sahut Zena dengan singkat, seraya menuju sofa.
"Kenapa tidak di kamar mandi saya saja?" Tanya Bian.
"Malas," Sahut Zena dengan singkat.
"Kamu marah pada saya?" Tanya Bian lagi.
"Kenapa anda seperti wartawan, Pak?" Ucap Zena.
"Suka-suka lah," Sahut Bian ketus.
"Oh," Ucap Zena.
"Jam berapa saya bisa pulang?" Tanya Zena.
"Kenapa kamu menanyakan itu?" Bian bertanya balik seraya menautkan kedua alisnya.
"Saya ingin pulang lah. Masa iya saya mau tidur di sini sampai besok," Celetuk Zena. Ia masih kesal pada Bian karena masalah tadi.
"Satu jam lagi. Jam empat sore. Seperti karyawan lain," Tutur Bian.
"Baiklah," Sahut Zena.
Selama satu jam, suasana ruangan itu sangat hening. Tidak ada salah satu dari mereka yang berbicara. Bian sedang melihat dan mengecek berkas yang menumpuk yang akan di tanda tanganinya. Sedangkan Zena hanya asik main Ponsel genggamnya, ia tidak peduli jika Bian marah padanya.
*****
Note:
Kenapa Bian memanggil asisten Han dengan sebutan nama? Karena dari dulu, Bian menganggap asisten Han seperti sahabatnya sendiri. Ya walaupun usia mereka terpaut jauh, tetapi mereka sering curhat satu sama lain.
Dari awal asisten Han bekerja pada keluarga Wirawan. keluarga Han sudah banyak di bantu oleh orang tua Bian. Jadi, karena rasa hormatnya pada keluarga Wirawan, maka dari itu asisten Han tetap memanggil Bian dengan sebutan Tuan Bian. Dan ia nyaman dengan sebutan itu.
*
*
*
*
*
Like, coment, vote :)
Bersambung...
maap ya thor bukan mau menggurui cuma sebagai pembaca jujur agak terganggu sedikit dengan cara penulisannya. tapi buat ceritanya mah menarik kok thor👍 semangat!!