[CH 01-145 END]
Apa yang akan kau lakukan jika kau terjebak di dalam tubuh Putri Mahkota yang sangat dibenci oleh Sang Pewaris Tahta?
****
"Dimana ini?" Pertanyaan itu terlontar bersamaan dengan kebingungan sang gadis menatap sekelilingnya, tempat itu begitu asing dan bisa ia bilang sedikit kuno.
"Nona sudah sadar?"
Gadis itu mengernyit kebingungan saat di depannya ada orang dengan pakaian kuno.
"Apakah kita sedang syuting drama kolosal?"
Gadis itu kebingungan, pasalnya hal terakhir yang ia ingat adalah terjun ke danau karena menghindari ibunya. Ia kira ia sudah mati tetapi jika mati tidak mungkin ia masih bisa bernafas dan bertemu dengan manusia juga bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Miss_Kha11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 10: Apakah aku tidak berati untukmu?
Tepat setelah 40 hari kepergian Sang Raja Joseon, Hwan dilantik dan akan segera naik tahta karena pihak kerajaan juga tidak ingin kekosongan kekuasaan terjadi lebih lama, Walaupun kepergian sang Raja masih membekas di hati semua orang, hal itu bagaikan sebuah belati untuk mereka, Usia Raja belumlah terlalu tua tetapi beliau sudah pergi.
Sedangkan untuk dalang dibalik kasus besar tersebut belumlah diketahui, dayang yang disuruh untuk mencampurkan racun tersebut telah tewas bunuh diri sehingga satu satu nya saksi telah hilang, hal itu tentu saja membuat kekacauan besar pada pihak dalam kerajaan, yang mereka takutkan adalah jatuhnya korban lagi selagi penjahanya belum terungkap.
Hari ini Haerin baru melepas pakaian putih berkabungnya, bukan hanya dirinya tetapi seluruh anggota inti kerajaan juga memakai pakaian putih saja selama 40 hari sebagai pakaian berkabung atas kepergian pemimpin kerajaan itu. Sedangkan Hwan akhir akhir ini sering sekali pergi keluar kerajaan dan Haerin beranggapan jika Hwan pergi untuk menemui Nae ri. Untuk apalagi jika bukan menemui kekasih hatinya.
Haerin melangkah kan kakinya untuk keluar kediamanya tetapi bahkan belum sampai di depan pintu ia mendengar seperti ada beberapa orang yang tengah berbisik bisik tetapi bisikan itu dapat Haerin dengar dengan jelas.
"Keudengar dari dayang yang menjaga kediaman Seja, jika sekarang Seja selalu saja pergi dan jarang sekali di kediamanya" ungkap seseorang.
"Ku yakin pasti Seja menemui Nona Nae ri" timpal yang lainya.
"Siapa Nona Nae ri?"
"Apakah kau benar benar tidak tahu? Nona Nae ri adalah putri dari tabib Han, bukankah sudah terlihat sedari mereka kecil mereka sudah bersama bukan tidak mungkin jika Nona Naeri dan Seja menjalin hubungan"
"Apakah mungkin Sejabin tidak bisa memuaskan Seja sehingga Seja pergi bersama Nona Naeri?" Jelas salah satunya, dan itu membuat Hati Haerin kian teriris. Sebenarnya ia sangat tidak ingin memikirkan hal itu tetapi entah mengapa Hatinya sangat sakit saat mendengar ucapan yang paling terakhir ia dengar itu.
Brakkk......
Haerin membuka pintu kediamanya dengan kasar, membuat beberapa dayang dikediamnya tersebut terlonjak kaget. Pasalnya mereka baru saja membicarakan Haerin tetapi kini Haerin telah ada di depan mereka. Haerin berusaha setenang mungkin, ia tersenyum miring lalu menatap dayang yang kini tengah menunduk di depanya itu.
"Apakah kalian hanya ditugaskan untuk menggosip?" tanya nya.
"Ampun Mama, kumohon ampuni kami" ucap salah satu dari mereka lalu bersujud di ikuti yang lain.
"Kalian tahu bukan? dalam peraturan kerajaan hal ini juga termasuk kejahatan" tanya Haerin kembali.
"Ampuni kami Mama"
Tanpa sepatah kata pun Haerin beranjak pergi memang ia tidak akan memberi hukuman pada mereka karena mereka juga sudah terlihat sangat ketakutan dan memang ini bukan pertama kalinya para dayang membicaraknya. Bukan hanya sakit hati tetapi ia juga sangatlah malu, seluruh dayang di istana sepertinya telah tahu jika ia dicampakan oleh Hwan. Bukankah itu adalah hal yang sngat memalukan bukan?
Tatapan Haerin menajam saat melihat Seorang tengah akan menaiki kudanya dan orang itu adalah Hwan, Hwan akan pergi lagi? Dan hanya akan pergi bersama jenderal Min, untuk apa? Bahkan belum sampai sehari Hwan dirumah.
"Apakah pantas Seorang calon pemimpin, selalu pergi menemui wanita simpananya?" Ucap Haerin tanpa ekspresi, membuat Hwan mengernyit.
Hwan mengurungkan niat nya untuk menaiki kuda, lalu ia beranjak mendekati Haerin. Di tatapnya dalam mata gadis itu membuat Haerin tersentak lalu Haerin mengalihkan pandanganya.
"Apakah berhak jika itu menjadi urusanmu?"
"Tentu saja saya merasa tersinggung sebagai istri Sah anda"
Sebenarnya Haerin tidak pernah dan tidak ingin meminta pengakuan dari Hwan jika ia Telah sah menjadi milik Hwan. Tetapi bisikan bisikan itu semakin mendengung di telingga Haerin sekuat apapun Haerin menutup hati dan telingganya untuk tidak mendengar berbagai kata kata menusuk para dayang tetapi hatinya tidak akan sanggup. Ia tidak rela sama sekali jika dirinya terlihat sangat menyedihkan dimata dayang dayang itu.
"Tetapi aku tidak mengagapmu begitu"
Slappp.....
Seperti ribuan panah yang melesat bebas ke dada Haerin sangat sesak dan sakit mendapat pengakuan seperti itu dari bibir Hwan secara langsung. Akan lebih baik bukan jika ia tidak pernah mendengar kata kata itu.
Tes....
Haerin diam, tetapi cairan bening itu mendesak untuk keluar dari matanya. Mewakili hatinya yang telah benar benar hancur berkeping keping. Kenapa takdir selalu tidak berpihak kepadanya? Kapankah ia dapat bahagia? Sekarang Haerin merasakan jika harga dirinya telah di jatuhkan dan di injak oleh Hwan.
Mungkin dirinya harus benar benar segera pergi meninggalkan kerajaan dan mencari kebahagiaanya sendiri. Luka tak berdarah akan selalu terasa lebih menyakitkan dari apapun.
"Cukup sakiti saya, jangan Nae ri ataupun wanita lainya" ucap Haerin disertai tangisan.
"Yang benar saja aku tidak akan pernah menyakiti siapapun"
"Kumohon pertimbangkan, kau tahu betul kan seperti apa Nae ri, ku yakin dia tidak akan mampu menjadi Ratu mu. Dia tidak akan kuat hidup berdampingan dengan politik"
"Kau iri denganya?"
"Bukan itu, tapi Nae ri adalah gadis rapuh dia tidak akan bisa hidup ditemani politik, kau tahu kan? seperti apa hidup dalam Istana ini. Semua yang terlihat sangat baik adalah musuh, semuanya di paksa untuk menjadi kuat bah-"
"Katakan Saja jika kau tidak ingin posisi mu digantikan" ucap Hwan dingin.
"Bisa lihat saat anda terkena racun waktu itu seperti apa hancurnya Nae ri. Dengan melihat itu apakah anda yakin jika Nae ri mampu hidup dan menyesuaikan diri Disini?" Haerin tak menggubris kata kata Hwan dan terus melanjutkan kalimatnya.
Haerin berpikir jika Nae ri menjadi Ratu justru akan menguncang pikiran Nae ri ia sadar betul seperti apa hidup di istana, Dan seperti apa juga sisi rapuh Nae ri. Ditambah lagi tidak terlalu banyak fraksi yang mendukung Nae ri jika gadis itu menjadi Ratu. Hak itu tentu saja membuat berbagai pihak yang selalu ingin menjatuhkan Nae ri. Nae ri juga terlihat sangat belum siap jika harus menjadi ibu dari negri ini bisa dilihat dari seperti apa sikap Nae ri yang memang terlihat kurang bijak sana.
"Aku akan melindungi Ratuku" ucap Hwan lirih.
"Saya hanya tidak ingin gadia seperti Naeri menjadi korban politik-"
Plakk.....
"Itu tidak akan terjadi, karena saya yakin wanita licik seperti anda yang akan menjatuhkan Nae ri"
Tamparan itu tiba tiba mendarat di wajah Haerin, disertai ucapan penuh amarah selanjutnya. Dan siapa yang menampar Haerin? Itu adalah tabib Han yang sedari tadi ternyata menguping pembicaraan Hwan dan Haerin.
Tabib Han menatap gemetar tangannya yang sangat kurang ajar. Ini adalah tindakan tmyang sangat kurang aja dan nyawa adalah bayaranya. Tetapi saat ia melihat Hwan diam tenang ia sedikit bernafas lega karena Hwan tidak memihak Putri Mahkota dan tidak mempermasalahkan tamparanya. Bersyukurlah tabib Han karena hanya ada mereka bertiga disini.
Sebenarnya tabib Han tidak ada niatan untuk berkata seperti itu dan menampar Haerin, tetapi ia merasa jika Haerin memang menghalagi Nae ri untuk menjadi Ratu. Siapa yang tidak senang putrinya menjadi Ratu negri ini? Dan tabib Han tidak ingin ada debu apalagi batu yang menghalangi putrinya menjadi Ratu.
"Maafkan jika saya terlalu lancang" Ucap Haerin mengusap air matanya lalu tersenyum.
𖥨ํ∘̥⃟❍ིི۪۪⃕۫۫͜ TBC⸙۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪ࣤ ⃝༘⃕☬️