"Dengerin saya baik-baik, Ellaine! Mulai sekarang kamu harus jauhin Antari. Dia bakal kuliah di luar negeri dan dia bakal ngikutin rencana yang saya buat. Kamu nggak boleh ngerusak itu. Ngerti?"
Gue berusaha mengatur napas. "Nyonya, apa yang Ella rasain buat dia itu nyata. Ella—"
"Cukup!" Dia angkat tangannya buat nyuruh gue diam. "Kalau kamu benaran sayang sama dia, kamu pasti pengen yang terbaik buat dia, kan?"
Gue mengangguk pelan.
"Bagus. Karena kamu bukan yang terbaik buat dia, Ellaine, kamu tahu itu. Anak dari mantan pelacur, pecandu narkoba nggak pantas buat cowok kayak Antari."
────୨ৎ────
Dear, Batari Season II
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehidupan Kita Dulu
Badan gue gemeteran. Bibir gue pecah-pecah gara-gara dingin, kulit gue kering dan dehidrasi. Gue peluk Moly, boneka beruang gue yang sudah kotor banget sampai baunya nggak enak, tapi gue nggak mau ngelepasinnya.
Rumah tempat kita tinggal gelap gulita. Listrik sudah jadi hal mewah yang nggak pernah kita punya lagi sejak lama. Gue nemuin nyokap di sofa, nggak sadarkan diri, tangannya tergantung di udara, jarum suntik kosong berserakan di lantai.
Dia cuma pakai rok pendek, sama atasan kecil yang ngebiarin perutnya terbuka. Rambut merahnya awut-awutan, kusam, dan kotor. Gue letakkan tangan kecil gue di dadanya.
"Mama."
Dia nggak gerak. Nggak jawab.
"Mama, Ella kedinginan banget."
Melihat dia dengan pakaian setipis itu bikin gue mikir, jangan-jangan dia lebih kedinginan dari gue. Gue ambil selimut gue dan pelan-pelan membungkus badannya, berusaha nutupin sebanyak mungkin.
Tiba-tiba suara ketukan keras di pintu bikin gue kaget.
"Mulan! Mulan! BUKA PINTU, BRENGSEK!"
Jantung gue langsung loncat ke tenggorokan. Rasa takut menjalar ke seluruh tubuh gue. Gue tepuk bahu nyokap.
"Mama! Mama, bangun!"
Tapi dia nggak gerak sama sekali. Gue teriak pas pintu itu dijebol dengan sekali tendang.
"LO DI MANA, PELACUR SIALAN?!"
Seorang cowok berpakaian serba hitam, pakai anting, dan penuh tato masuk ke tempat kecil kita. Matanya langsung nemuin nyokap gue.
"Akhirnya ketemu juga."
Gue buru-buru berdiri. "Nggak! Jangan sentuh dia!"
Dia langsung nyamber rambut gue dan melempar gue ke samping. Perut gue kebentur meja kecil di depan sofa. Gue kehabisan napas, nahan sakit di perut.
Dia ngambil jarum suntik di lantai dan membuangnya ke samping, terus nyokap gue ditamparnya. Nyokap cuma bisa berkedip lemah.
"Gila lo, barang gue lo pakai segitu banyaknya."
Gue susah payah berdiri, air mata mulai ngumpul di mata gue.
"Jangan! Please! Jangan!"
Cowok itu naik ke atas badan nyokap, membuka ikat pinggangnya. Gue langsung mukulin dia sekuat tenaga, tapi dia malah balik nyamber rambut gue lagi, nyeret gue ke pintu, terus melempar gue ke luar. Gue jatuh keras ke tumpukan sampah depan kontrakan kita.
"Masuk lagi, lo gue bunuh, bocah!"
Gue nangis dan langsung lari. Gue harus cari bantuan. Gue nggak bisa ngelawan dia sendirian. Nyokap selalu bilang, kalau ada orang nyari dia, gue jangan coba-coba lawan, tapi langsung cari pertolongan.
Hujan turun deras banget sampai gue harus kepleset berkali-kali. Gue bahkan nggak ngerasain kaki gue lagi.
Lalu ada suara lembut yang mengisi telinga gue. Tangannya sedang merangkul gue di tengah dingin ini.
"Hei, hei, Ellaine."
Gue buka mata, air mata masih ngeblur-in pandangan gue. Badan gue gemeteran nggak terkendali.
"Lo baik-baik aja. Itu cuma mimpi."
Suara Antari nggak terlalu mengejutkan gue, dibanding kalau ternyata gue lagi ada di tengah halaman rumah keluarga Batari.
Ngelindur?
Gue tidur sambil jalan lagi, ya?
Rasa takut, dingin, dan sakit dari mimpi tadi masih terasa nyata. Gue lihat matanya, mata yang dulu selalu bikin gue tenang tiap kali gue kebangun karena mimpi buruk itu. Gue gigit bibir, berusaha berhenti nangis, tapi nggak bisa.
Antari pegang wajah gue, dan untuk pertama kalinya, dia nggak kelihatan seperti cowok dingin dan nyebelin yang semua orang kenal. Dia kelihatan seperti cowok yang dulu tumbuh bareng gue, yang dulu selalu ngejagain gue, yang selalu merangkul gue tiap kali gue ngelindur, tiap kali mimpi buruk itu datang. Dia kelihatan seperti dia yang dulu. Dia yang cuma ada buat gue.
"Lo baik-baik aja," bisiknya, ibu jarinya menghapus air mata gue.
Gue nggak bisa ngomong.
"Lo nggak perlu ngomong apa-apa. Lo aman sekarang."
Dia narik gue ke pelukannya, dan gue nangis tanpa suara di dadanya. Bau dia bikin gue sedikit tenang. Tangannya membelai belakang kepala gue.
Gue nggak punya tenaga buat menghindar atau menolak.
"Lo aman, Ellaine. Gue di sini."
Gue lingkarkan tangan gue di pinggangnya, merangkul dia kenceng. Gue terlalu lemah buat mikir jernih. Gue cuma pengen ngerasa aman di pelukannya, walaupun cuma beberapa detik, sampai rasa takut ini perlahan hilang.
Karena ini bukan sekadar mimpi buruk.
Ini kenyataan.
Ini kenangan.
Dan dia tahu itu.
Dia tahu semuanya.
...────୨ৎ────...
...Hi....
...Mohon bantuannya untuk beri LIKE di setiap bab yang kalian baca ya, teman-teman....
...Terima kasih....
...────୨ৎ────...
kesayangan keluarga batari🥰🥰
lah thor,udah selesay aja kisah ini. happy dan semangat trus yaaa 🥰🥰
btw, kalian gak mau nikah yaa,kisah ini bukan berlatar belakang luar negeri kan thoorr
ella emang paling cocok dampingi antari,antari butuh ella
gak pakai pengaman ya antari,siap hamil dong ai ella