NovelToon NovelToon
Terjebak Reverse Harem

Terjebak Reverse Harem

Status: tamat
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Pernikahan rahasia / Trauma masa lalu / Bullying dan Balas Dendam / Romansa / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:269k
Nilai: 4.8
Nama Author: Azmi McFadden

Warning : Cerita ini hanya untuk pembaca dewasa

Pasca berakhirnya pertunangan dengan mantan kekasihnya yang kasar dan super toxic, Lila memutuskan untuk kembali ke Brisbane, kota tempat ia tumbuh bersama empat sahabat masa kecilnya yang dulu ia perlakukan sebagai kacung.

Henry, Jacob, Aiden dan Pierre. Mereka yang dulu Lila anggap sebagai anak buah, kini menjelma menjadi empat pria dewasa yang super tampan dan sangat mapan. Sementara Lila justru bertahan dengan sisa tabungannya dan honor sebagai novelis tidak terkenal yang sangat sedikit.

Setelah dipermalukan oleh Henry di acara reuni SMA, Lila justru mendapatkan kejutan demi kejutan tak terduga dari keempat sahabat masa kecilnya yang diam-diam mencintainya sejak lama.


Jika kamu suka cerita ini, jangan lupa like, coment dan follow ya 😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azmi McFadden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Rencana

Mereka terus mengamati pintu tempat di mana Lila masuk bersama pria paruh baya yang tersenyum menjijikkan padanya 15 menit lalu. Entah mengapa itu membuat mereka sedikit khawatir tentang apa yang sebenarnya Lila lakukan di dalam sana.

"Sial, kenapa lama sekali? Apa yang sebenarnya dia lakukan?" Ujar Aiden yang mulai tak sabar menunggu. Meski terlihat seolah mereka tidak peduli padanya, namun sebenarnya mereka cukup penasaran pada Lila dan apa yang dilakukan mantan ketua geng mereka itu di masa kecil.

Henry mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Ia paling benci menunggu, apalagi harus menunggu seseorang yang sangat ia benci. Rasanya seperti niat balas dendamnya memudar begitu saja hanya karena menunggu.

Dua menit kemudian, pintu itu terbuka. Lila keluar bersama pria paruh baya berwajah mesum itu dengan gelagat yang entah mengapa membuat mereka langsung berpikiran kotor.

Lila yang awalnya mengenakan kardigan, tiba-tiba melepas kardigannya dan membawanya di tangannya yang lagi-lagi membuat bentuk payudaranya terlihat cukup jelas.

Lila tersenyum dan masih berbincang dengan pria itu yang terus menerus melihat ke arah dadanya. Henry merasa kesal dan semakin menganggap Lila tak lebih dari wanita penggoda. Aiden tampaknya tak terlalu merasa terganggu dan cukup senang mengamati lekuk tubuh Lila dari kejauhan. Sementara Pierre dan Jacob, dua pria baik yang tak ingin berprasangka buruk karena tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Kalian lihat itu, sudah kubilang kalau dia itu sengaja mengekspos tubuhnya di depan para pria. Apa segitunya dia ingin diakui sebagai wanita?" Henry kembali dengan ocehannya yang sebenarnya hanya berlandaskan dari dendam masa lalunya yang masih belum tuntas.

"Aku rasa itu tidak seperti yang kau pikirkan! Bagaimana jika memang seperti yang kau katakan sebelumnya?  Lila membutuhkan pekerjaan karena itu dia datang ke sini untuk melamar pekerjaan?" Pierre yang selalu bisa berpikir logis dan menahan prasangka buruknya mencoba untuk menyadarkan Henry dari segala pikiran negatifnya.

Jacob mengangguk setuju, ia merasa Lila tak seburuk yang Henry pikirkan. Hanya karena dulu ia bersikap buruk pada mereka, bukan berarti dia akan melakukan hal yang sama.

"Tapi untuk apa dia membuka cardigannya segala di ruangan itu bersama pria paruh baya berwajah mesum itu?" Aiden pura-pura bertanya hanya untuk memprovokasi Henry agar tetap kuat dengan prasangka buruknya. Melihat tingkah Aiden, Pierre dan Jacob langsung menatapnya.

"Apa? Kenapa? Aku salah lagi ya?" Ujarnya sambil menahan tawa.

"Benar juga! Melamar pekerjaan dengan pakaian seperti itu bukan hal yang wajar. Seharusnya dia memakai kemeja dan rok atau celana panjang. Kenapa harus mini dress dengan cardigan? Belum lagi payudaranya yang besar itu terus menerus mengalihkan fokus. Apa maksudnya itu?" Ucap Henry dengan polosnya sampai ia tak menyadari bahwa ia baru saja menunjukkan kelemahannya.

"Jadi kau juga fokus pada payudaranya, iyakan?" Aiden menyeringai. Ia sadar bahwa dialah satu-satunya pria yang berpikiran kotor di sini. Hanya saja dia yang mau mengakui dengan mudah.

Pierre dan Jacob menahan tawa mereka sambil menggeleng pelan. Jacob langsung menyeruput kembali kopinya untuk menghilangkan rasa menggelitik yang ingin membuatnya tertawa.

"Lelucon yang bagus, Aiden!" Ujar Pierre. Santai dan tidak terlalu mempersalahkan segala pikiran kotor kedua temannya ini.

Menyadari bahwa dia baru saja ditertawakan, Henry langsung pucat dan mencoba menyangkal apa yang mereka bertiga pikirkan.

"Apa maksudmu? Siapa yang fokus dengan payudaranya? Aku hanya berpikir bahwa itu cukup besar juga apalagi untuk perempuan bertubuh kecil seperti dia!" Henry gelagapan. Wajahnya memerah menahan malu. Ia tak pernah dipermalukan seperti ini sebelumnya.

Semakin Henry mengelak, semakin terlihat pula isi hatinya sebenarnya. Pierre, Jacob dan Aiden tertawa. Seharusnya Henry tidak perlu menyangkal bahwa untuk beberapa alasan ia juga mengagumi kecantikan Lila.

Tawa mereka menarik perhatian Lila yang hanya beberapa langkah dari tempat mereka berkumpul. Ia tak menyangka bahwa mereka berada di cafe ini juga dan sesuatu mulai mengganggu pikirannya.

Mata Lila dan Jacob bertemu, Lila langsung mengalihkan pandangannya dengan canggung. Ia sudah tertangkap basah bahwa ia sedang melihat mereka berkumpul dan jika dia tiba-tiba pergi sekarang, itu akan terlihat seperti dia menghindari mereka.

"Lila...!" Jacob memanggil. Ia sedikit tak menduganya. Mau tak mau, Lila harus kembali mengarahkan pandangannya pada mereka.

Lila tersenyum canggung, seolah ia baru tahu bahwa mereka sedang berada di sini. Jacob berdiri dan melambaikan tangannya, berharap Lila bersedia untuk bergabung dengan mereka dan melupakan apa yang terjadi.

"Oh hai?" Ucapnya canggung. Ia memegang kardigannya dan sekarang sudah terlambat baginya untuk tiba-tiba memakainya.

Lila berjalan dengan terpaksa menghampiri mereka dengan senyum getir. Tubuhnya gemetar menahan canggung, namun ia tetap berjalan seolah tidak ada hal bodoh yang sudah ia lakukan pagi ini.

"Kalian sedang apa?" Tanyanya basa basi seolah ia tak melihat empat cangkir kopi tergeletak di atas meja.

Menyadari Lila berdiri di samping tempat duduknya, Henry terpaksa menoleh ke arah lain dengan gaya angkuhnya yang selalu ia tunjukkan pada orang lain diluar lingkar persahabatannya.

"Kami sedang nongkrong! Kau mau bergabung?" Tanya Pierre.

"Ah... tidak! Aku hanya ada sedikit urusan di sini dan-"

"Urusan dengan Manager Cafe?" Celetuk Aiden. Tampaknya Aiden mulai mencoba memantik kembali perdebatan seperti yang terjadi pagi ini.

"Tidak, aku hanya-" Lila menjawab dengan terbata-bata. Ia tak mau jika mereka tahu bahwa ia sedang melamar kerja di cafe ini.

Melihatnya yang gelisah membuat Henry mulai bersemangat untuk mengajaknya kembali berdebat. Ia tak tahu bahwa Lila yang sekarang tampaknya kehilangan kepercayaan dirinya yang besar.

Pria paruh baya yang tadi masuk dan keluar bersamanya ke ruang manager berjalan menghampirinya sambil tersenyum menjijikkan.

"Nona Cohen, saya ingin bilang bahwa besok anda bisa langsung bekerja!" Ucapnya bersemangat dan yang terburuk, ia tak bisa membaca situasi.

Wajah Lila memerah, tampaknya tak ada gunanya lagi baginya untuk berpura-pura. Mereka sudah tahu bahwa ia sedang melamar pekerjaan di cafe ini.

Pierre, Aiden dan Jacob tampaknya tidak terlalu mempermasalahkan, namun Henry, dia menyeringai seperti seekor serigala yang berhasil menemukan kelemahan musuhnya.

Lila terpaku di tempatnya, ia merasa kehilangan wajahnya. Sebenarnya ia tak ingin ada teman-temannya yang lain tahu jika ia akan bekerja di sini. Namun sekarang, mereka tahu bahkan disaat ia baru saja diterima untuk bekerja.

"T-terima kasih!" Lila kehilangan semangatnya. Ia berharap bahwa mereka ia tidak datang ke kafe ini untuk melamar kerja karena firasatnya buruk tentang ini. Ia melirik Henry yang tersenyum lebar, itu membuatnya sangat kesal.

"Hehehe...kalau begitu aku akan meminta Fiona untuk memberikan seragam yang akan kau pakai besok! Tunggu sebentar, aku akan memanggilnya!" Ucapnya sambil melangkah pergi.

Lila berusaha keras menahan malu. Ia tak tahu mengapa ia harus merasa malu jika ia bekerja sebagai pelayan kedai kopi dengan gaji yang pasti tidak sebesar yang ia harapkan. Namun melihat reaksi Henry yang tampaknya sangat ingin menjatuhkannya membuat harga dirinya terluka.

"Kenapa berdiri saja? Silahkan duduk!" Ujar Henry sambil menahan tawa. Lila tahu Henry sedang meremehkannya dan ini sangat tidak bisa diterima. Namun melihat Pierre, Aiden dan Jacob yang tersenyum padanya membuatnya berusaha untuk bersabar.

"Tidak terima kasih! Aku akan pulang sekarang!"

"Kenapa buru-buru? Bukannya Pak manager memintamu untuk menunggunya? Akan sangat tidak sopan jika kau tiba-tiba pergi begitu saja setelah diterima bekerja!" Seperti yang ia khawatirkan, Henry meledeknya. Lila berharap bisa segera angkat kaki dari tempat ini dan menghilang selamanya dari mereka berempat, terutama dari Henry si pria sombong yang pernah kehilangan empat giginya semasa kecil karena tinju ia berikan.

"Aku akan kembali besok pagi, jadi-"

"Lila, tidak apa-apa, duduk saja! Kami tidak akan memaksamu kok!" Aiden si trouble maker semakin menyiram bensin ke kobaran api. Membuat api semakin bertambah besar dan membakar segala yang ia lewati.

Tak punya pilihan, Lila terpaksa menarik kursi dan duduk dengan canggung. Ia merasa sangat tidak nyaman dengan situasi ini dan ia tak percaya akan begini pertemuannya dengan teman-teman yang sudah ia kenal sejak umur lima tahun. Sekarang rasanya ia seperti orang asing.

"Kau sedang membutuhkan pekerjaan ya?" Tanya Jacob. Berbicara dengannya membuat Lila merasa sedikit tenang.

"Ya, aku sedang mencari pekerjaan dan Barbara bilang bahwa cafe ini sedang membutuhkan pelayan, jadi aku datang kesini untuk melamar pekerjaan!"

"Apa kau yakin mau bekerja di sini?" Tanya Aiden.

"Kenapa?"

"Tidak apa-apa! Hanya saja kau harus berhati-hati pada pria tua itu!" Kata Aiden.

"Siapa? Maksudmu Pak Manager?"

"Ya! Dia itu suka menggoda wanita sepertimu! Jadi sebaiknya kau berhati-hati!"

"Menggoda? Apa maksudmu?"

"Kau tidak mengerti ya? Jika dibilang menggoda itu artinya kau harus menjaga jarak darinya demi kebaikanmu!" Henry mengatakannya dengan keras. Ia tak mengerti mengapa Lila si kepala geng bisa menjadi begitu polos seperti ini.

Jacob, Pierre dan Aiden menahan tawa. Meski selalu terlihat kesal, mereka berpikir tampaknya Henry cukup senang melihat Lila kembali ke kota ini.

"Baiklah, aku mengerti! Tapi kau tidak perlu sambil marah-marah begitu'kan? Kenapa sejak kemarin kau marah terus padaku? Apa sebenarnya salahku padamu?"

"Kau masih tanya apa salahmu? Sialan, kau ini benar-benar tidak tahu diri ya?"

"Ya ampun, mereka mulai lagi!" Aiden menepuk wajahnya. Bertingkah seolah ia tidak terlibat dalam memprovokasi mereka untuk kembali berdebat.

"Pierre, apa yang harus kita lakukan?" Tanya Jacob. Ia menggeleng pelan, tak tahu bagaimana cara untuk menghentikan mereka berdua.

"Biarkan saja! Kita lihat saja sejauh mana mereka bisa berdebat di tempat seperti ini."

***

1
HARI PUTRI SASANTI RAHAYU
sangat suka,bikin mewek
HARI PUTRI SASANTI RAHAYU
sakit banget aiden meninggal... pingin banget aiden tetep hidup...
HARI PUTRI SASANTI RAHAYU
mewek parah...
Restu
.🤭😊😊😊
Restu
good
Restu
terimakasih thour
Restu
sakit thour😭😭😭
Restu
author jangan kejam.
Restu
😭😭😭😭
Ko
Kau tau thor.. Kau lah author yg plg jahat dari semua author yg novelnya pernah aku baca. Dari bab 1 sehingga tamat kau buat aku menangis. Bukan menangis biasa2 tapi menangis hingga mataku bengkak & aku flu. Teganya kau thor..kau buat aku menjiwai watak lila, aiden, henry, pierre & jacob spt mereka itu diriku sendiri. Aku bisa merasai sakit, bahagia, derita, sengsara, kerinduan, ghairah & cintanya mrk..aku berharap novel ini akan panjang lg atau setidaknya ada season 2 tapi...ia tdk akan mungkin ada kan thor??? Apakah tdk keterlaluan thor bila aku masih mengiginkan kebahagiaan utk mrk berenam setelah kematian aiden? Aghh! Aku rindu kisah mrk thor...😭😭😭😭😭😭
HARI PUTRI SASANTI RAHAYU: sama aku jg ngrasa gitu .. aku jg nangis2 wkwkwk
total 3 replies
Etik Fidiati
😭😭😭😭😭
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru merilis cerita berjudul : "In Between" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Mila tidak pernah menyangka kalau 'penghancur' masa remajanya akan kembali lagi jadi bosnya di kantor. Ini bukan cuma soal benci, tapi soal luka yang dipaksa sembuh saat pelakunya ada di depan mata.
total 1 replies
Santi Kurniawati
😭😭😭😭😭😭
Santi Kurniawati
semangat lila
Santi Kurniawati
😭😭😭😭😭
Santi Kurniawati
😭😭😭
Santi Kurniawati
😍😍😍
Linda Othman
finaly the end. hidup bersama akhirnya 😊
Linda Othman
ala mati ke??!! tidakkk
Linda Othman
Deep...
Linda Othman
knp bila pov Lila lebih sedih...terus kuat Lila
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!