"Zahra hanya ingin menikah jika dengan kak Rafif, Abi" ucap Zahra yang membuat semua orang di ruangan itu terkejut mendengarnya
Zahra adalah anak tunggal dari pasangan Abi Ahmad dan Umi Khadijah. Kedua orangtuanya sepakat untuk menjodohkan putri satu-satunya itu dengan anak sulung sahabatnya. Tapi siapa sangka, pada akhirnya Zahra menikah dengan Rafif anak kedua dari sahabat Abinya.
Mereka menikah setelah seminggu menjalani proses ta'aruf yang batal di lakukan oleh Zahra dan anak sulung dari sahabat Abinya. Zahra memilih jalan itu untuk membantu Daffa, orang yang seharusnya di nikahkan dengannya karena Daffa saat itu juga memiliki masalah lain yang tidak memungkinkan dirinya untuk menikah dengan Zahra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Percaya Dengan Cinta
Sepulang dari apartemen Zeline, Zahra di hujani begitu banyak pertanyaan oleh kedua orangtuanya di rumahnya
"Zahra, kau dari mana saja?" tanya Abinya yang sedari tadi sudah menunggunya di sofa ruang keluarganya
"Zahra tadi ada keperluan mendadak Abi" jawabnya dengan sedikit gugup
"Duduklah dulu, Abi ingin berbicara denganmu nak" perintah Abinya yang langsung di turuti oleh Zahra, ia segera duduk di samping Uminya yang duduk berhadapan dengan Abinya
"Ada apa Abi?"
"Apa kau benar mencintai Rafif, bukan Daffa?" tanya Abinya penuh memastikan dengan penuh selidik
"Iya Abi, Zahra tidak tau apa ini persaan cinta atau apa. Tapi yang Zahra tau Zahra menyukai kak Rafif Abi, Zahra nyaman di dekat kak Rafif" kilahnya dengan penuh keyakinan agar kedua orangtuanya percaya dengannya
"Jadi kau akan menikah jika keluarga om Bani memilih Rafif untuk di jodohkan denganmu?" Zahra menundukkan pandangannya tidak bernai menatap orangtuanya
"Iya Abi" jawabnya ragu tetapi tidak memperlihatkan pada orangtuanya
"Kau tidak terpaksa? Apa ada yang kau sembunyikan dari Abi?" tanya Abinya masih ragu kepada anak gadisnya itu
"Tidak Abi, Zahra sama sekali tidak menyembunyikan apapun dari Abi" jawab Zahra memberanikan diri untuk menatap Abinya agar menjadi lebih yakin padanya
"Ya sudah, kau naiklah ke kamarmu terlebih dahulu. Biar Abi pikirkan masalah ini" Zahra segera beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju ke kamarnya
***
Di tempat lain, Daffa dan Rafif yang baru saja tiba di rumahnya seusai mengantar Zahra juga tengah di tunggu oleh kedua orangtua mereka di ruang keluarganya. Sesuai dengan perintah orangtuanya, Rafif hari ini pulang ke rumah orangtuanya alih-alih pulang ke rumahnya sendiri
"Daffa, Rafif. Duduklah nak" perintah Papa mereka yang langsung di indahkan oleh kedua adik kakak itu
"Daffa, apa benar yang di katakan Zahra tadi nak? Apa benar Zahra sering bercerita tentang perasaannya pada Rafif denganmu?" tanya Papanya yang seolah sudah sangat tidak sabaran menunggu jawaban anak sulungnya itu
"Iya Pa, sepertinya Zahra memang menyukai Rafif" jawabnya dengan ragu karena merasa tidak enak pada Rafif dan juga Zahra
"Apa tanggapanmu tentang itu, kenapa kau malah hanya mendengarnya sedangkan Zahra itu calon istrimu?" sergah Papanya yang merasa putranya itu memberi jalan untuk Zahra agar tidak di nikahkan dengannya
"Daffa tidak bisa memaksakan hati Zahra Pa. Daffa menyayangi Zahra seperti adik perempuan Daffa, Zahra menyukai Rafif makanya Daffa merasa lega karena setidaknya jika Rafif menikah dengan Zahra, Zahra akan menjadi adik Daffa juga" ucapnya memberi penjelasan palsu pada Papanya
"Rafif?" panggilnya pada anak bungsunya itu, mempertanyakan tanggapannya
"Rafif tidak tau Pa, Rafif sangat terkejut tadi mendengar pengakuan Zahra" jelas saja ia terkejut karena setelah pengakuan itu, ia malah harus mengetahui hal yang lain
"Daffa sudah ikhlas jika Rafif bersama dengan Zahra Pa, Ma" ucap Daffa yang membuat Rafif menoleh padanya, ia merasa kakaknya itu sangat memanfaatkannya agar bisa menghindari pernikahannya dan mencari cara agar bisa menikah dengan Zeline yang kini mengandung anaknya
"Tapi Rafif belum siap menikah kak, Rafif masih ingin mengembangkan perusahaan Rafif" serunya merasa kesal karena mereka bisa saja membatalkan perjodohannya tanpa harus menikahkan salah satu di antara mereka dengan Zahra, tapi Daffa malah sangat mendukung mereka seolah mencuci otak keduabl orangtuanya agar perjodohannya di gantikan dengan Rafif
"Rafif, kau tidak pernah mengecewakan Papa. Papa sangat menyayangimu dan membanggakanmu, jadi tolong penuhi keinginan Papa nak. Papa sangat ingin kelurga kita bersatu dengan keluarga Ahmad sahabat Papa. Dia banyak membantu Papa di masa lalu" pinta Papanya yang membuat Hati Rafif menjdi luluh, ia sama sekali tidak bisa melihat orang lain memohon padanya
"Tapi Pa.. " ucapnya berusaha menolak
"Papa mohon Rafif" Pinta Papanya semakin memelaskan suaranya yang membuat Rafif akhirnya menyerah
"Beri waktu Rafif untuk mengenal Zahra lebih jauh Pa" ucapnya kemudian memberi keputusan
Mendengar ucapan Rafif, kedua orangtuanya dan juga Daffa menjadi sangat senang karena Rafif bisa membantu Papanya untuk memenuhi janjinya.
***
"Apa kau akan benar menikah denganku walaupun terpaksa?" tanya Rafif pada Zahra yang kini sedang menikmati makan siang bersamanya di kantor
"Aku tidak masalah kak, dan juga maafkan aku karena sudah melibatkanmu" jawabnya masih merasa bersalah pada Rafif
Kemarin keluarga Rafif sudah memberitahu orangtua Zahra bahwa Rafif bersedia untuk menikahi Zahra. Merekapun sepakat hanya akan memberi mereka waktu seminggu untuk saling mengenal karena takut jika hal lain terjadi lagi seperti pada Daffa dan Zahra waktu itu
"Semuanya sudah terlanjur terjadi" ucapnya seakan sudah tidak mempermasalahkan hal itu lagi
"Kau tenang saja kak, setelah kita menikah aku berjanji tidak akan mengganggumu. Jika kelak kau mau berpisah denganku aku akan dengan ikhlas melepasmu" kata Zahra yang membuat Rafif langsung menatapnya, tidak percaya jika gadis di depannya saat ini bisa mengeluarkan ucapan seperti itu
"Kenapa kau sepertinya sangat meremehkan masalah pernikahan Zahra, apa kau sama sekali tidak pernah jatuh cinta dan berpikiran membangun rumah tangga dengan orang yang kau cintai?" tanyanya seakan susah untuk menebak sifat asli gadis itu
"Aku pernah menyukai seseorang dalam waktu yang lama kak, kami berikhtiar mengunggu keputusan Allah. Tapi orang itu malah melepasku begitu saja tanpa berusaha memperjuangkan ku, sejak saat itu aku tidak percaya lagi dengan yang namanya cinta" jawabnya mengingat bagaimana Alwi, orang yang di sukainya dan ia tunggu begitu lama meninggalkan nya begitu saja
"Siapa lelaki itu?"
"Kau tidak perlu tau, aku juga tidak ingin lagi mengingat ataupun membahasnya" ucap Zahra merasa sangat kecewa pada Alwi "Oh iya, bagaimana dengan kak Daffa dan kak Zeline?"
"Kak Daffa akan berusaha berbicara dengan Mama, katanya kak Daffa ingin jujur dengan kondisi Zeline saat ini pada Mama. Kak Daffa yakin jika Mama merestuinya maka tidak ada lagi penghalang bagi kak Daffa untuk menikahi Zeline" jawab Rafif yang membuat Zahra lega
"Semoga saja mereka bisa melewatinya dan mendapat restu dari Mamamu kak, mereka harus menikah dan membesarkan anak mereka" ucapnya dengan tulus dan penuh harapan
"Kau terlalu peduli dengan orang lain sampai membuatmu harus berkorban seperti ini" ucapan Rafif tidak membuatnya tersinggung sama sekali, justru seulas senyum ia tunjukkan pada Rafif membuat Rafif merasa bingung dengan gadis itu
"Aku punya alasan melakukan ini kak, kasihan bayi mereka. Aku yakin, takdir indah sedang menungguku. Aku percaya pada rencana Allah kak"