NovelToon NovelToon
Gelora Cinta Usia Senja

Gelora Cinta Usia Senja

Status: tamat
Genre:Keluarga & Kasih Sayang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romansa / Tamat
Popularitas:143.9k
Nilai: 5
Nama Author: skavivi selfish

Mereka terpaksa menikah meski sudah berjanji tidak akan menikah lagi setelah menjanda dan menduda untuk menghormati pasangan terdahulu yang sudah tiada.

Tetapi video amatir yang tersebar di grup RT mengharuskan mereka berada dalam selimut yang sama meski sudah puluhan tahun hidup di kuali yang sama.

Ialah, Rinjani dan Nanang, pernah menjadi cinta pertama dan hidup saling membutuhkan sebagai saudara ipar. Lantas, bahagia kah mereka setelah menyatu kembali di usia kepala lima?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Orang Lama ( Bukan ) Pemenangnya

“Hubungan yang sudah lama dan kuat akan memberikan kemudahan bagi sesuatu yang tidak sehat ini, mungkin.”

Rinjani hanya tersenyum dan keheningan yang menyusul membuatnya lebih cepat mencapai rumah produksi batik milik anak angkatnya.

“Saya minta tolong dibuatkan polanya dan di antar ke rumah bersama alat-alat mewarnainya.” kata Rinjani setelah mendemonstrasikan batik buatan Suryawijaya. Batik sepasang angsa dan merpati dalam dekapan kekosongan.

“Batik ini untuk saya dan Nanang, maksimalkan pembuatannya.”

“Kenapa tidak Suryawijaya saja yang ke sini?” Sastra bertanya dengan heran, desainer muda lulusan ISI Yogyakarta itu menatap Rinjani. “Kabar yang beredar itu betul?”

“Betul.” Rinjani mengangguk. Skandalnya tersebar dan menjadi tontonan kalangan tertentu. “Makanya itu aku kabur, sungkan rasanya di rumah. Tapi bukan berarti aku sungguh-sungguh ingin kabur, anak muda. Aku hanya butuh relaksasi.”

“Coklat, senja, pantai?” Sastra menawarkan beberapa relaksasi kesukaannya untuk ibu kawannya itu. “Tapi mungkin ibu hanya butuh menerima kehadiran Pak Nanang biar tidak sungkan.”

Rinjani mengangkat alis dengan cara yang hanya bisa dilakukan seorang perempuan setengah abad lebih pada umumnya.

“Tidak semuanya bisa di terima langsung, Sastra. Kamu ini memangnya sanggup menjalani cinta karena terpaksa?”

Rinjani menantang tatapan Sastra dengan ekspresi mengantuk. Tidur di kamar Jalu Aji seperti di dimensi lain yang membuatnya perlu beradaptasi. Bahkan aroma barang-barang baru di kamar itu terasa mengusik, menyesakkan dada dan membuat pening kepala.

“Itu tergantung prespektif masing-masing, Bu. Tapi kalau aku sih percaya orang lama akan slalu menjadi pemenangnya. Tapi...”

Sastra tersenyum lebar sampai lesung pipinya terlihat. “Tidak semua pemenangnya adalah orang lama karena kita tidak bisa merdeka dari kenangan.”

Selama beberapa waktu keduanya bertatapan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sastra bahkan sempat menyangka Rinjani akan jatuh pingsan karena keseimbangannya mendadak goyah.

“Bu Jani tidak apa-apa?” kata Sastra, segera melepas tangannya dari lengan Rinjani sewaktu wanita itu melihat wajah dan genggamannya.

“Maaf, Bu. Refleks.” Sastra mengaku dengan sungkan.

Rinjani menggelengkan kepala. Mungkin mengusir satu kenangan yang membangkitkan kegalauannya di hatinya.

Rinjani mengingat dengan jelas seluruh percakapan antara dirinya dan Nanang pada malam pertama mereka sebagai saudara ipar di pinggiran Sydney Opera House, Australia. Sebagian besar mimik wajah Nanang masih segar dalam ingatannya. Namun ada janji yang terucap dan menetap di palung hatinya.

‘Aku bagian dari dirimu selamanya’

— novel suamiku seorang ningrat bab 101.

"Aku yang salah, aku tidak menerima keberadaan kamu sebagai kakak iparku, aku marah lalu pergi. Mas Kaysan memang tidak bersalah karena menikahimu, yang salah adalah aku, yang tak bisa menahan rasa cemburuku. Kamu tahu, Jani. Butuh waktu berbulan-bulan untuk kembali."

“Saya hanya kurang tidur.” Rinjani terpaksa tersenyum. Nanang slalu menemani kegigihannya selama bertahun-tahun untuk setara dengan mendiang suaminya. Walau setelah masa itu hubungan mereka tidak sirna.

Sastra memberikan tempat duduknya. Kurang tidur memang suka membuat kepala keliyengan, apalagi jika perut tidak terisi dengan normal di usia kepala lima.

“Ibu mending istirahat.”

Rinjani mengakui bahwa keadaannya menjadi buruk, dia menarik kursi Sastra dan membawanya ke dekat dinding.

“Harusnya setelah ini saya pergi menghabiskan uang Mas Nanang. Tapi sepertinya tidur sebentar lebih baik.”

Sastra mengangguk daripada pingsan beneran, repot nanti urusannya dengan birokrasi keluarga Adiguna Pangarep.

“Kamu cari kursi di luar. Sekalian belikan nasi padang, coklat hangat dan obat sakit kepala.” Rinjani menyuruh, “Belikan juga untuk karyawan di belakang.”

Sastra mengiyakan, dia pergi meninggalkan ruang yang mengeksploitasi imajinasinya. Dan jeda kesendirian yang Rinjani nikmati bersama seperangkat komputer yang menyala, tumpukan kain mori, sabun lerak, macam-macam lilin warna, canting, dan desain-desain batik setengah jadi menjadikannya semakin tersiksa.

“Apa tidak bisa putus saja?”

-

Nanang sebenarnya heran. Pengeluaran yang di lakukan Rinjani tidak segera terlihat di notifikasi ponselnya, dan menunggu laporan belanja itu membuatnya semakin tidak karuan.

“Dia itu jadi beli tas kremes dan foya-foya atau tidak? Kalau tidak kepada tidak pulang-pulang?”

Nanang menghubungi Sastra selaku anak buah yang bertanggung jawab atas hadirnya Rinjani di rumah produksi batik hari ini. Tapi di luar itu, Sastra, Suryawijaya, dan Dendra adalah anak didiknya di komunitas para seniman seloso selo.

“Bu Riri masih di sana?” tanyanya was-was.

Sastra menatap Rinjani yang tertidur di kursi dan berselimut kain mori setelah menyantap sebungkus nasi padang dan obat sakit kepala.

“Bu Jani di sini, Pak. Tapi tidak tau ke mana.”

“Tapi masih di sana?”

“Masih... masih...”

“Bilang apa saja dia?”

Sastra mendadak berada di antara persimpangan. Baik Rinjani dan Nanang adalah bos dan rekan yang baik, berbohong tentu saja membuat kinerjanya tidak nyaman.

“Bilang banyak sekali, seperti biasa.” Sastra mengaku, tidak betah. “Bapak ke sini saja kalau penasaran.”

“Apa dia membicarakan aku tadi?” bisik Nanang seolah takut Rinjani mendengar.

Sastra menggeleng setelah mengiyakan. Dia semakin yakin bahwa antara Rinjani dan Nanang ada koneksi tersendiri.

Nanang tersenyum. “Pergilah ke parkiran, kempiskan ban mobilnya selagi saya ke sana!”

Sastra tidak benar-benar mengempiskan ban mobil Rinjani, dia hanya menunggu di luar kantornya sembari merokok sampai Nanang datang setengah jam kemudian.

“Kunjunganku hanya sebentar. Kembar besar hampir pulang sekolah.” kata Nanang. “Di mana dia sekarang?”

“Tidur.” Sastra menunjuk kantornya. “Pusing katanya, kurang tidur dan banyak pikiran.”

Nanang segera meninggalkan Sastra untuk mengintip pujaan hatinya lewat jendela.

Rinjani masih menikmati kebebasannya di luar rumah. Tertidur pulas.

“Apa yang kalian bahas sebelum pusing dan makan nasi padang?”

“Merdeka dari kenangan orang lama.”

Nanang menepuk pundak Sastra, dengan nada tegas, dia segera berkata. “Suruh dia pulang setelah bangun, dan jangan bilang aku ke sini.”

“Kenapa?”

Nanang tersenyum. “Saya akan melakukan apapun yang membuatnya nyaman untuk sekarang.”

Sastra enggan bermasalah dengan bos dan seniornya. Karena itu dia menyimpan rahasia terbaru Nanang yang mencium kening Rinjani diam-diam dengan sangat pelan.

“Persetan dengan urusan cinta nenek dan kakek itu, aku di sini cuma kerja!” Sastra terburu-buru menghampiri Nanang ke parkiran. “Tapi kalau Bu Riri tahu Pak Nanang menciumnya, itu pasti seru. Perang di rumah.”

Nanang mengeluarkan uang. Lima puluh ribu. “Uang rokok.”

“Itu namanya pencurian, Pak. Kasian Bu Riri ternodai.”

Nanang mendesis. “Aku dari dulu sudah menjadi pencuri dan jauh lebih menyenangkan mencuri karena dia susah untuk dimiliki.”

Sastra menatap temannya lekat-lekat, dan mengharapkan dirinya benar-benar tidak ikut tercebur dalam urusan pelik mereka.

“Pokoknya semua aman, Pak. Siap tutup mulut. Janji!”

-

1
Cicak Speed
seruuu
Cicak Speed
guyu aku rekkkk
estycatwoman
nice 👍💯😍
estycatwoman
Aamiin👐
Ida Miswanti
Jeng Vi Semua karyamu menetap di hati dan selalu ku nanti notif darimu lagi🤗💪
Ida Miswanti
Alhamdulillah karep ku ketekan🤗
Ida Miswanti
definisi cinta dari kulit kencang sampai kulit kendor😂
Ida Miswanti
kasian Mbakyu Jani tak pernah memahami Mas Nanang 😏
Ida Miswanti
emang apa yang Bunda mau???🤭
💕Rose🌷Tine_N@💋
berbulan bulan nungguin ternyata gk ada sambunganny lagi...piye to mbae...end atau digantung lg nih?😢
Ida Miswanti
tenang hatimu Dalilah tak hanya Ahli tp udh Spesialis
Ida Miswanti
coba minta 1 ke mantu mu🤭
Ida Miswanti
gini,,ni,kalo punya mantu turun dari khayangan bikin geumees🤗
Ida Miswanti
ternyata oh ternyata baru ku tau julukan lengkap Mas Nanang selain Om Oyen 😂
Ida Miswanti
kejujuran hati Mas Jalu..
Ida Miswanti
edan tenan Kowe adik'e Mas Kaysan😂
Ida Miswanti
makin cocok Run,,,jadi Patung Kolor ijo 🤣🤣🤣
Ida Miswanti
pasangan senja yg tiada tandingannya
Ida Miswanti
yang lagi bikin Romantis 😅
Ida Miswanti
KDRT dooong Mbak Riri😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!