NovelToon NovelToon
One Sweet Day With You

One Sweet Day With You

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Duda / Cintapertama / Tamat
Popularitas:138.9k
Nilai: 5
Nama Author: NonAden119

Andai Hugo mencintainya, Ana akan memilih untuk tetap bertahan dan tinggal di rumah besar itu bersamanya. Tapi Hugo tak mencintainya, pria itu membencinya karena menganggap Ana telah menipunya hingga terpaksa harus menikahinya.

Ana memilih pergi setelah menandatangani surat gugatan cerai dari Hugo. Dengan sisa uang yang di milikinya, Ana memulai kehidupan barunya di kota lain seorang diri.

Tiga tahun berlalu, kabar mengejutkan datang dari salah satu kerabat Hugo yang tanpa sengaja bertemu dengannya. Ana dihadapkan pada satu pilihan sulit, hingga pada akhirnya Ana memutuskan datang menghadiri pemakaman mantan papa mertuanya.

Pertemuannya kembali dengan Hugo memberinya kesadaran baru, bahwa jarak dan waktu tak mampu mengikis rasa cintanya pada pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonAden119, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. Berniat membantu

Ana terbangun dari tidurnya dengan tubuh lemas, kepalanya berdenyut dan tenggorokannya terasa nyeri. Hari masih gelap, suara azan subuh terdengar berkumandang dari mesjid tak jauh dari tempat tinggalnya. Di luar turun hujan meski tak sederas tadi malam. Ana melangkah turun dari ranjang, menyeret kakinya perlahan menuju kamar mandi.

Di dapur, ibu Astrid tengah menyeduh kopi. Ana tersenyum melihatnya. Wanita itu selalu bangun lebih awal darinya, dan pemandangan biasa untuk Ana setiap kali wanita itu datang dan bermalam di rumahnya.

“Jam sembilan nanti Ibu harus menghadiri pertemuan di Majesty dengan beberapa rekan pengusaha kafe. Tapi sebelum ke sana, ibu mau Ana temani Ibu ke rumah Kila. Ibu khawatir dengan anak itu, dia kelihatan syok sekali kemarin.” Pinta ibu Astrid, melihat Ana keluar dari kamar mandi dengan muka basah dan tubuh jauh lebih segar.

“Iya, Bu.” Ana mengangguk seraya mengusap wajahnya yang basah dengan handuk yang berada di gantungan. “Rencananya Aku juga mau jenguk Kila pagi ini.”

Ana lalu membuka termos air dan menuangnya ke dalam gelas. Merasakan tenggorokannya sedikit lega, Ana lalu berpamitan untuk melaksanakan dua rakaat.

Tepat jam setengah delapan pagi, keduanya berangkat ke rumah Kila. Pak Danang, sekuriti yang berjaga di pos langsung bergegas membuka pintu pagar begitu melihat Ana datang. Rumah besar itu tampak sepi dari luar, ada dua mobil yang berjajar rapi di garasi. Sementara motor Kila tak kelihatan ada di sana.

“Nyonya sama Tuan Duta lagi pergi ke luar kota, Non. Biasa, urusan bisnis.” Kata pak Danang seolah bisa membaca pikiran Ana, ia mengangguk pada ibu Astrid yang tersenyum mendengar ucapannya.

“Oh.” Ana meringis. “Makanya kok kelihatannya sepi.”

“Kilanya ada, Pak?” tanya ibu Astrid kemudian.

“Ada. Barusan tadi pesan kalau tamunya datang, suruh langsung masuk saja.”

Baru sampai di teras rumah, Kila keluar menyambut mereka. Wajahnya masih tampak pucat, tapi senyum lebar langsung terukir di bibirnya melihat Ana datang bersama ibu Astrid.

Kila mengajak keduanya sarapan bareng, rupanya ia sudah menyiapkan banyak makanan. Tak lama asisten rumah tangganya datang membawa jajanan pasar pesanannya. Khusus untuk Ana yang memang menyukainya.

“Ibu heran sama Kamu, Kila. Orang tuamu punya perusahaan besar di bidang jasa, punya toko kue yang laris manis. Punya butik juga, tapi kenapa Kamu malah ikut kerja sama Ibu di kafe?” Tanya ibu Astrid penasaran, disela-sela sarapan mereka. Ia lihat Kila tak kekurangan apa pun. Tampak dari isi ruangan di rumahnya yang dipenuhi banyak barang-barang mewah.

“Gak asyik kerja bareng Papa di kantor, cuman duduk-duduk doang. Gak ada tantangannya. Mending ikut kerja sama Ibu di kafe, seru. Bisa ketemu banyak orang. Lagi pula, ngeliat mereka puas sama hasil masakan kita itu rasanya warbiasah.” Ungkap Kila sambil cengengesan.

“Bisa gitu, ya. Padahal banyak orang pingin kerja di perusahaan,” timpal Ana.

“Ya, itu kan orang lain. Aku mah beda.” Sahut Kila enteng.

Setelah acara sarapan mereka selesai, ibu Astrid pamit terlebih dahulu. Sebelum ia pergi, Kila menahannya dan mengajaknya masuk ke kamarnya. Ana menunggu di luar sementara mereka bicara di dalam.

Hanya berselang sepuluh menit, ibu Astrid keluar bersama Kila dengan wajah seperti habis menangis. Ana penasaran, ia menatap Kila yang memeluk lengan ibu Astrid, tersenyum sambil mengedipkan mata padanya.

“Kalian berdua memang anak-anak Ibu yang paling baik. Terima kasih, Ibu sampai tidak tahu harus bicara apalagi. Berkat bantuan kalian, Ibu bisa lebih tenang sekarang.” Ibu Astrid merangkul Ana dan Kila secara bersamaan, terharu melihat kepedulian mereka padanya.

Ibu Astrid sudah pergi, tapi Ana masih penasaran. Ia menatap Kila meminta jawaban, dan sahabatnya itu hanya tertawa balas menatapnya. “Aku juga mau berbuat kebaikan yang sama seperti yang sudah Kamu lakukan, An.”

“Maksudmu?” Ana menautkan alisnya. “Memang Ibu cerita apa sama Kamu?”

“Dih, penasaran.” Kila tergelak. “Ibu gak cerita apa-apa, tapi Aku tahu apa yang sudah Kamu lakukan waktu Aku kasih kartu ATM aku padanya. Ibu menangis dan bilang, kalian berdua terlalu baik. Gitu,” jelas Kila, dan Ana tak bertanya lagi setelahnya.

Tak terlihat lagi sedih di wajah Kila, berganti dengan senyum ceria. Kila lalu mengajak Ana untuk melihat kafe Dylan lagi, ia masih penasaran karena ada barang kesayangannya yang tertinggal di sana saat kejadian. Kila yakin ia akan menemukannya meski Ana bilang kalau barang itu pasti sudah rusak.

Berdua mereka menuju ke sana, suasana tampak lengang. Kila langsung mengajak Ana masuk ke bagian dapur dan berpencar mencari, banyak pecahan barang seperti piring dan gelas berserakan di lantai. Alat memasak yang ringsek tertimpa bangunan kafe, juga kulkas dan oven besar yang hanya tinggal kerangka.

Keduanya sibuk mencari hingga tak menyadari kehadiran Hugo di tempat itu. Semalam Hugo langsung terbang ke kota Ana tinggal dan menginap di hotel terdekat. Ia sudah mengumpulkan data tentang Ana dan kafenya yang ia dapat dari Yuda. Sebenarnya malam itu Hugo berniat menemui Ana di rumahnya, namun urung karena dilihatnya Ana tidak sendirian.

“Apa sebenarnya yang sedang mereka cari?” Hugo mengerutkan dahi, mengawasi gerak-gerik Ana dari dalam mobilnya. Wanita itu berjongkok merogoh sesuatu, lalu berdiri dan keluar membawa barang. Ana berteriak pada temannya yang berlari menghampiri, lalu keduanya tertawa senang.

“Aneh?” kerutan di kening Hugo semakin dalam melihat mereka keluar dari bangunan kafe yang terbakar dengan wajah kehitaman. Ana membawa dua mug gelas bergambar kartun, sementara rekannya membawa mangkuk mug yang sama. Mereka berjalan melewati mobil Hugo yang terparkir persis di depan bangunan kafe Dylan yang terbakar.

“Kita pulang ke rumahku, sekarang. Cuci muka!” Ana terkekeh, ia mengusap wajahnya dengan ujung lengan bajunya sembari melirik kaca mobil di depannya.

“Buruan, entar kita dikira ngebadut lagi!” sahut Kila, lalu berlari dari sana disusul Ana di belakangnya.

“Tak seharusnya Aku mengkhawatirkan keadaannya,” ujar Hugo dalam hati, melihat Ana tampak tertawa bahagia. Hugo terdiam sejenak sebelum menghidupkan kembali mesin mobilnya hendak pergi dari sana. Namun urung ia lakukan begitu melihat beberapa orang turun dari mobil di seberangnya dan langsung berjalan menuju kafe Dylan. “Bukankah itu wanita yang bersama Ana semalam?”

Hugo penasaran, ia mematikan mesin mobilnya. Melangkah keluar menuju arah yang sama, dan mendatangi rombongan di depannya. Salah seorang dari mereka yang berjalan paling belakang menoleh padanya, dan langsung terkejut begitu melihatnya.

“Daffa?”

“Hugo? Ngapain Lo di sini?”

Hugo mengajak adu tos dan setelahnya saling memeluk bahu. Rupanya mereka bersahabat saat kuliah dulu dan sudah lama tak bertemu. Daffa lalu memisahkan diri dari rombongan dan mengajak Hugo bicara berdua.

“Jadi ibu itu pemilik kafe yang terbakar ini?” tanya Hugo. “Dan kalian sengaja datang kemari untuk melihat langsung kafenya yang terbakar kemarin.”

Daffa mengangguk. “Kami sedang berupaya menghimpun bantuan untuk membantu pembangunan kafe ini lagi. Ada banyak tenaga kerja yang menggantungkan nasibnya pada kafe ini. Kebetulan kafe ini salah satu yang terbaik di kota ini, tempatnya bagus dan pelanggannya banyak. Sayang kalau dibiarkan begitu saja.”

“Begitu?” Hugo mengusap dagunya, timbul ide di kepalanya. “Berapa dana yang diperlukan untuk membangun kafe ini lagi.”

Daffa menyebutkan angkanya, dan Hugo mengangguk seolah sedang berpikir. “Aku berpikir sepertinya Kau tertarik untuk membantu ibu Astrid membangun kembali kafenya. Apa benar seperti itu?"

“Kami hanya perlu bertemu dan bicara bersama. Tapi sepertinya Aku terburu-buru hari ini, mungkin lain waktu.” Hugo melirik sekilas arloji di tangannya, sengaja memancing rasa penasaran Daffa.

“Kalau Kau mau, Aku bisa sampaikan pesanmu ini segera pada ibu Astrid. Beliau pasti senang mendengarnya,” sahut Daffa lagi, ia tahu Hugo punya solusi untuk masalah yang tengah dihadapi ibu Astrid.

“Ini kartu namaku. Sampaikan saja padanya, dan Aku siap kapan saja kalau beliau ingin bertemu.” Hugo memberikan kartu namanya, lalu menepuk bahu Daffa dan berlalu dari hadapannya.

Hugo berjalan menuju mobilnya, tersenyum lebar melihat Daffa berlari menemui ibu Astrid. Wanita itu memegang kartu namanya, lalu melangkah setengah berlari mencarinya. Hugo kembali tersenyum lalu melajukan mobilnya pergi dari sana. Hingga beberapa saat kemudian ponselnya berbunyi, tapi Hugo hanya menatapnya dan tetap melajukan mobilnya.

▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎

1
Jetva
ini yg aq suka..ga perlu beranak pianak hingga ratusan episode..pe dek tp padat n sesuai tema..
Jetva
Ana kereeeen....biarkan dia tersiksa...udh dapat perawan tp marah krn merasa ditipu...ditipu juga tp balasanx lu dpt brg ori bukn bekasan...
Jetva
Hugo udh jatuh tp enggan mengakui klo dia terluk akibat jatuh☺☺☺..gengsi dipertahankan...entar ditinggal lagi bru kerasa...
Jetva
setelah tau cerita yg sebenarx..apakah Hugo masih membenci..??????
Bunga Cinta
Bagus bgt Karya mengandung kasih, sayang dan Cinta🌹❤️❤️❤️
Bunga Cinta
Terima kasih autor💕💕💕💕💕💕♥️
karya ini mengandung rasa cinta dan kasih 🌹
Lenni Namora
Luar biasa
a57w
ceritanya bagus, tidak bertele-tele
Mba Wie
Luar biasa
Kadek Bella
smangat,, bagus ceritanya nggak bertele-tele,, trima kasih
Bunda
ikutan mampir Thor🙏🏻
Yulia
Luar biasa
reza indrayana
Mampir nich Thor ..., kisah yg menarik...👍🏻👍💙💙💛💙💙🫰🏻🫰🏻😘😘😘
Kinara (Hiatus)
saran Thor : menurut sy agak aneh dg kata "hampir lupa". Karena itu merupakan syarat utama & Ana adl org terdekat Ibu pemilik cafe tsb. Seharusnya justru itu menjadi pembahasan utama di awal. Kan sdh merasa aneh dl, knp syaratnya Ana harus jd ART di tmp pemberi dana. Jd seharusnya itu dibahas di awal saat membicarakan dg Ana. Maaf ya Thor 🙏
Kim Ye Jin
semangat say 😚
Seo Ye Ji
Top dah, good luck say 😙👍👍👍
@yo jung shi💖
menyalah akakku ❣❣❣❣
MrsJuna
❣❣❣❣❣
Juna murat
Terbaik untukmu say 🥰🤗💝😚💖
captain Ri 👨‍✈️
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!