Shamuel hampir saja gelap mata, saat melihat Andrew adik kandungnya menggagahi Shera, dokter cantik yang diam-diam dicintainya hingga berbadan dua.
Akankah pernikahan mereka terlaksana?
Jangan lupakan Fhilip, laki-laki yang selalu menjadi super Hero bagi Shera, pribadi yang mencintai apa adanya.
Cinta, adalah sebuah pengorbanan. Cinta yang tulus akan selalu memberi tanpa syarat, tanpa mengharapkan balasan.
Terkadang akan di pandang BODOH. Tapi itulah cinta.
❤️TERNODA❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Payang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Pria Dewasa Berseragam SMP
"Sayang, jangan omelin Fhilip dulu. Kita dengerin apa penjelasannya. Yang penting kita sudah tau dari dokter Arsoni, bi Yani, dan juga pak Jonggon," bisik Bernard pelan, begitu melihat Fhilip menuruni tangga dan datang mendekat.
"Morning Mom, Dad," Fhilip mencium kedua belah pipi ibunya lalu ayahnya.
"Morning Baby. Tampan dan wangi sekali kamu pagi ini." puji Miere sambil mengulas senyum lembutnya, memperhatikan putranya yang menarik kursi tepat didepannya dan suaminya.
"Terima kasih Mom, tapi jangan panggil aku seperti itu lagi. Aku sudah bukan bayi lagi. Aku pria dewasa. Adult male, Mom," sambil mengoles selai kacang pada roti panggangnya.
"Heum, pantas saja putra kesayangan Mommy pulang pagi, ternyata sudah merasa menjadi pria dewasa. Pria dewasa yang masih berseragam SMP. Begitu, Baby?" Sindir Miere masih dengan senyuman dan suara lembutnya.
"Mom," Bernard kembali mengingatkan sang isteri, sambil menyenggol lengan isterinya.
Sementara itu Fhilip terlihat tenang dan sama sekali tidak terganggu dengan sindiran sang Mommy-nya, remaja jangkung itu mengunyah sarapannya dan meminum teh hangat dengan gayanya yang elegan seperti biasa.
"Maafkan Fhilip kemarin Dad, tidak sopan meninggalkan rapat." Fhilip memandang pada ayahnya, sambil mengusap sudut-susud bibirnya dengan tisu.
"Untung saja Fhilip segera pergi ketika itu, kalau tidak--, Shera bisa dilecehkan lagi." ungkapnya, memandang kedua orang tuanya secara bergantian.
"Apa gadis yang kau bicarakan ini adalah Shera yang pernah kau ceritakan sebulan yang lalu kalau dia di--" Miere mengangkat dua jari telunjuknya ke udara membentuk tanda kutip.
"Yes, She's Mom." sahut Fhilip membenarkan maksud ibunya, ia memang pernah menceritakan tentang Shera yang sempat digauli oleh ayah tirinya dan berakhir dengan kematian pria itu ditembak oleh ibunya. Kedua orang tuanya bahkan mengetahui, kalau ayah tiri Shera adalah salah satu karyawan mereka saat Fhilip memperlihatkan surat kabar ketika itu.
"Lalu bagaimana keadaan temanmu itu?" walau sudah mendengar cerita dari para orang kepercayaannya, tetap saja Bernard masih bertanya karena iba akan nasib gadis belia yang lagi-lagi tertimpa kemalangan itu.
"Gara-gara insiden itu, she miscarried, Dad,"
"Kasihan sekali," gumam Bernard pelan, kunyahannyapun ikut memelan, membayangkan nasib teman putranya itu.
"Boleh keluarga kita mengadopsi Shera?" tanya Fhilip tiba-tiba.
Uhuk!.Uhuk!.Uhuk!
Dengan cepat Miere dan Bernard meraih gelas air putih dan buru-buru meneguk minuman mereka masing-masing, permintaan Fhilip begitu mengejutkan keduanya hingga mereka tersedak secara bersamaan.
"It's not that easy, Fhilip sayang," ucap Miere penuh kehati-hatian menatap putranya, setelah berhasil melegakan tenggorokannya yang tercekat.
"The problem is, where is Mommy?" Fhilip balas menatap ibunya, ia meletakan sendok dan garpu diatas piringnya dengan posisi saling menyilang setelah menyuapkan sepotong daging kedalam mulutnya.
"Fhilip sayang, kau belum terlalu mengenal sepenuhnya siapa gadis itu, bagaimana kalau dia bertabiat buruk. You could be disappointed, Baby," Miere berusaha menasehati putranya itu.
"Bila Mommy dengar dari ceritamu yang terdahulu, juga kejadian yang telah menimpanya kemarin, gadis itu memiliki pengalaman hidup yang sangat tidak biasa. Mommy khawatir gadis itu bisa merusak reputasi keluarga kita, yang sudah keluarga kita bangun mulai mendiang kakekmu Fhilip,"
"And then, gadis itu belum tentu sanggup hidup sebagai seorang Jhonson, Fhilip," imbuh Miere lagi penuh penekanan.
"Apa yang membuatmu berfikir ingin membawa gadis itu masuk kedalam kehidupan kita?" tanya Bernard yang sedari tadi diam. Ia memperhatikan wajah putranya, begitu pula dengan Miere isterinya.
"Di sekolah, hanya Shera yang mampu mengimbangiku dalam hal akademik. Dan alasan berikutnya--, aku mau melindunginya sebagai seorang laki-laki dewasa."
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Sepasang suami isteri itu kembali tersedak, kaget mendengar perkataan Fhilip, putra semata wayang yang selama ini memang mereka didik menjadi pribadi yang mandiri dan kuat, sebagai penerus tunggal keluarga Jhonson.
"Fhilip, apa kau mengerti pada yang telah kau katakan itu? Kau itu masih kecil," Bernard kembali menatap putranya penuh kesanksian, setelah berhasil meredakan tenggorokannya dengan meminum kembali beberapa teguk air putih.
"Of course, Dad. Daddy and Mommy hanya melihat fisik luarku saja dan usiaku yang baru 14 tahun. Aku akan buktikan, kalau aku bukan ramaja biasa pada umumnya. Kemarin aku memang melalaikan jadwalku karena Shera, tapi hari ini aku akan kembali mendisiplinkan diri sesuai jadwal yang Daddy atur untukku." tuturnya masih dengan mode tenangnya.
"Fhilip berangkat dulu, sekalian mau menemui guru Wali kelas dan Bapak kepala sekolah, meminta izin untuk beberapa hari buat Shera selama dia dirawat dirumah sakit." Fhilip berdiri meraih tas sekolahnya yang berat, memberi kecupan pada pipi kiri dan kanan ibunya yang masih terbengong atas segala ucapan putranya.
"Bila, Daddy dan Mommy masih keberatan untuk mengadopsi Shera, aku tidak akan memaksa. Tapi, izinkan Shera menggunakan nama belakang keluarga kita, Shera Jhonson. Aku akan memasukan namanya dalam kartu keluarga pak Jonggon, dan dia akan tinggal di rumah ini," putus Fhilip. Ia lalu beranjak pergi setelah memberi ciuman pada pipi ayahnya itu.
"Dokter Arsoni benar. Putraku ternyata lebih mirip Mommy-nya," gumam Bernard menatap datar punggung Fhilip yang semakin menjauh, meninggalkan dirinya dan sang isteri yang belum menyelesaikan sarapan pagi mereka.
Miere menoleh pada suaminya, saat dirinya disebut oleh pria yang selalu dikaguminya itu.
Bersambung...👉
Tapi Pikiran juga harus waras tentunya... /Grin/