Tidak ada satu pun wanita di dunia ini yang berharap rumah tangganya hancur. Semua wanita akan mengharapkan rumah tangga yang berjalan mulus dan tetap utuh.
Begitu pula dengan Renata, wanita itu mencoba untuk mempertahankan rumah tangganya dengan sekuat tenaga. Menahan sakit caci maki dari mertua, dan juga sakit akibat perlakuan suaminya.
“Apa dengan bersetubuh dan menikah secara diam-diam dengan wanita lain. Baru itu tindakan yang benar? Apa seperti itu, huh, Baji*ngan?!”
Akan tetapi, dia menyerah, saat hadir sosok orang ketiga yang tiba-tiba sudah menjadi madunya. Hatinya sakit, hancur, dan dia pun memberontak, menjadi berani demi mendapat keadilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my_el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lagi-lagi Perkara Judi
Meski telah membuat pelipis sang istri bocor karena lemparan remot beberapa waktu lalu, tak membuat seorang Bagas berhenti memainkan slot itu. Bahkan, pria itu semakin menjadi. Namun, bedanya kali ini dia tidak lagi terpancing emosi saat Renata masih kerap kali menegurnya.
Renata beberapa kali menangis dalam diam di kala terbangun dari tidurnya di tengah malam saat sang suami telah tertidur lelap. Dengan memandang wajah suaminya wanita itu menangis tersedu merasakan ujian demi ujian yang dia dapat. Terlebih dia juga mendapatkan perilaku yang kasar dari suami yang selama ini dia hormati sebagai pemimpin rumah tangganya.
Lelah dengan tangisannya Renata menghela nafas lelah, mencoba untuk lebih bersabar lagi dan tak hentinya berdoa agar suaminya bisa berubah agar bisa kembali seperti sebelumnya. Karena bagaimanapun keadaannya, dia masih sangat mencintai Bagas.
Meski dalam situasi yang tegang tak membuat Renata lalai dalam kewajibannya sebagai seorang istri. Dia masih melayani Bagas dengan baik, meski hanya mendapat tanggapan sekedarnya dari Bagas.
Nyeri di pelipisnya masih terasa di beberapa waktu. Namun, sekarang malah dia kedatangan mertuanya dan juga saudara suaminya Bima beserta keluarga kecilnya. Dengan senyum yang berkembang, wanita itu menyambut keluarga besar suaminya.
“Ayo, masuk. Maaf rumahnya masih berantakan,” ucap Renata ramah.
“Terima kasih. Maaf tidak berkabar lebih dulu,” balas Bima kakaknya Bagas yang merasa tidak enak hati.
“Ah ... tidak apa-apa, Mas. Renata malah senang dikunjungi sama keluarga,” sahut Renata dengan masih mempertahankan senyumnya. “Sebentar, saya panggilkan Mas Bagas dulu,” imbuhnya lagi dan berlalu ke kamarnya meninggalkan keluarga besar Bagas di ruang tamu bersama Ghea.
...****************...
Malam ini, Renata memasak makan malam ditemani istri dari kakak iparnya–Citra. Dia senang, karena Citra sangat ramah dan sangat baik kepadanya. Mereka berdua saling melempar gurauan dan juga bertukar resep makanan.
“Oh iya, Dek. Sebelumnya maaf, kalau aku agak lancang. Cuma aku memang sangat penasaran. Kenapa kepala kamu diperban?” tanya Citra hati-hati, dengan menatap lekat Renata.
Renata sedikit tersentak, namun segera dia normalkan kembali ekspresinya. Kemudian wanita itu tertawa kecil. “Pas aku ngepel, aku tepleset, Kak. Jadinya kebentur meja,” elak wanita itu dengan apiknya.
Citra terbelalak dengan mulut sedikit ternganga. “Aduh, Dek! Lain kali hati-hati. Pasti itu sakit banget.” Citra menanggapi dengan meringis kecil seolah merasakan sakitnya kepala Renata.
Renata tersenyum dan mengangguk. “Iya, Kak. Aku memang ceroboh,” sahut Renata dengan kikuk karena merasa pintar sekali mengarang cerita. Sepertinya dia sudah bisa menjadi penulis cerita, jika terus diasah pikir wanita itu.
Kemudian keduanya wanita berbeda umur yang tidak cukup jauh itu memanggil para keluarga untuk makan malam bersama. Membuat Renata tersenyum hangat karena rumahnya menjadi lebih hidup, meski raut wajah mertuanya selalu masam saat melihatnya.
Sangat disayangkan, ketika makan malam selesai. Bima beserta keluarga kecilnya pamit untuk pulang terlebih dahulu, karena tiba-tiba mendapat kabar yang kurang baik dari orang tua Citra. Alhasil hanya mertuanya lah yang tetap tinggal.
“Maaf, ya, Dek. Gak bisa ikut nginep. Padahal sudah niat buat bermalam di sini,” ujar Citra sendu.
“Gak apa-apa, Kak. Lain kali aku yang akan berkunjung,” balas Renata lembut.
“Baiklah, Kakak tunggu kalau begitu,” ucap Citra tersenyum.
Renata tersenyum dan mengangguk. “Salam untuk ibunya kak Citra dan semoga ibunya kak Citra cepat sembuh, ya.” Wanita itu mengirim salam kepada orang tua Citra yang sakit.
“Saya pulang dulu, Gas. Ingat yang Mas sampaikan ke kamu tadi,” pungkas Bima dengan menepuk pundak Bagas beberapa kali.
Bagas menghembuskan nafas dan mengangguk. “Iya, Mas. Mas hati-hati di jalan,” jawab Bagas singkat.
Setelah Bima berpamitan dan pulang. Renata dan keluarga pun kembali masuk ke dalam rumahnya. Memilih untuk beristirahat karena malam sudah kian larut.
...****************...
Dalam kegiatan sarapan yang tenang di pagi hari, ditemani dengan celoteh lucu yang keluar dari mulut Ghea. Tiba-tiba Santi sang mertua bertanya akan perban yang menempel di kepalanya. Membuat semua orang terhenti dengan setiap kegiatannya dan menatap ke arah Renata. Tak terkecuali Bagas.
Wanita itu menjadi gugup karena semua orang menunggu jawabannya tak terkecuali Bagas. Wajah pria itu mulai pucat, takut istrinya akan berkata dengan jujur penyebab lukanya. Sedangkan wanita itu bingung hendak menjawab apa. Jika dia jujur, dia takut akan menambah panjang masalah. Akan tetapi, jika dia bohong, itu jelas menjadi contoh buruk di depan anaknya. Ya, meskipun Ghea masih belum mengerti apa-apa.
Renata menghembuskan nafas dan memaksakan senyumnya. “Tepleset waktu ngepel, Ma. Jadinya terbentur ke meja,” ucapnya dengan kikuk membuat Bagas bernafas lega.
“Lain kali hati-hati, Nak. Bahaya,” ucap Burhan mengingatkan.
“Ceroboh sekali jadi perempuan. Untung bukan cucu saya yang jatuh,” cemooh Santi dan kembali melanjutkan makannya.
Lagi-lagi Renata hanya bisa menghela nafas, mencoba sabar. Kemudian mengalihkan atensinya kepada sang anak yang sudah belepotan dengan makanannya. Terlebih sekarang makanannya sudah berceceran banyak di lantai menyebabkan Renata menggeleng kecil dengan keaktifan Ghea. Setidaknya masih ada sang anak yang kembali menguatkan hatinya.
...****************...
“Apakah di hari libur, kamu masih mengurus pekerjaan Bagas,” sentak Burhan karena sejak dia datang kemarin, sang anak sering kali fokus ke ponselnya dan hanya menimpali sesekali. Padahal kemarin juga ada sang kakak.
Bagas terlonjak kecil, hingga tak sadar menjatuhkan ponselnya. Dengan cepat Bagas mengambil ponselnya, namun masih kalah gesit dari Burhan–papanya.
Burhan yang kala itu masih memakai kaca mata menjadi sangat jelas membaca apa yang ada di layar ponsel sang anak. Sontak Burhan menggeram marah dengan mencengkeram ponsel Bagas dengan eratnya.
“Apa maksudnya ini semua, Bagas?!” Suara Burhan menggelegar di penjuru ruangan membuat Renata yang tengah menidurkan Ghea menjadi terlonjak kecil. Beruntung Ghea tidak terjaga, hanya sedikit menggeliat kecil, kemudian kembali tidur.
“Sejak kapan kamu main judi Bagas? Apakah kamu sudah bodoh dengan main hal yang tidak berguna seperti ini?!” Lagi, suara Burhan menyentak menyebabkan Santi yang berada di kamar mandi lekas menghampiri suami dan anaknya. Begitu pula Renata yang sudah tergopoh-gopoh untuk melihat suaminya.
Suasana tegang sangat kentara di ruang tamu rumah keluarga kecil Bagas. Santi berlari kecil, kemudian mengelus lengan suaminya. “Ada apa, Pa. Kenapa berteriak, tidak bisakah berbicara dengan tenang dan kepala dingin?” tuturnya lembut.
Renata pun menghampiri sang suami yang sudah pias dengan wajah memucat menghadap Burhan. Tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan oleh Santi. Renata juga melakukan hal yang sama. Mencoba membuat Bagas tersadar kembali ke dunianya.
“Anak kamu bermain judi online, Ma. Papa merasa gagal mendidiknya. Bagaimana bisa dia sangat bodoh masuk ke dalam jurang. Jelas-jelas judi itu hanya akan merugikannya, terlebih itu dilarang dalam agama kita,” terang Burhan yang masih murka.
Santi tersentak, refleks menutup mulutnya tak percaya. Kemudian menatap sang anak yang tengah ditenangkan oleh Renata. “Benar itu, Bagas?” tanya Santi melangkahkan kakinya mendekat ke tempat Bagas.
Bagas mengangguk, membuat Santi seketika memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa pening. “Kenapa, Nak?” tanyanya lagi dengan masih tak percaya. “Kenapa bisa–“ ucapnya lagi yang langsung terhenti ketika teringat akan Bagas yang beberapa waktu lalu berkunjung ke kediamannya, mengeluh dan ingin meminjam uang.
Lantas Santi menoleh dan menatap murka ke Renata. “Kamu!” geramnya marah dengan menunjuk wajah Renata membuat Renata terlonjak kecil.
“Gara-gara kamu, anak saya jadi seperti ini. Dasar kamu istri gak becus, gak berguna!” hardik Santi dengan melayangkan tangannya. Membuat Renata sudah menutup matanya dan pasrah dengan apa yang akan mertuanya lakukan. Beruntung Burhan bergerak cepat menangkap tangan istrinya yang hendak menampar menantunya.
Burhan menarik Santi agar menjauh dari Renata. Karena bagaimanapun juga, yang salah adalah anaknya bukan Renata yang notabenenya istri Bagas.
“Lepasin, Pa! Mama belum selesai berbicara dengan dia. Gara-gara menantu sialan itu, anak kita jadi ke arah yang tidak benar!” Santi meronta dari pegangan kuat suami.
“Sudah cukup! Bagas yang salah bukan Renata!” Burhan membentak tanpa disadari. Sontak Santi terdiam dengan mata yang berkaca-kaca.
“Lihat! Gara-gara kamu wanita sialan. Anak dan suami saya menjadi melakukan hal yang tidak pernah dilakukan sebelumnya!” seru Santi kembali menuding Renata.
Wanita itu hanya terdiam kaku, bingung harus bagaimana. Di lain sisi Renata ingin membantahnya dan bilang jika sebenarnya dia tidak seperti yang dituduhkan, terlebih dia mendapat luka yang masih belum sembuh akibat menasihati anaknya agar berhenti main judi.
Akan tetapi, akalnya masih bisa berpikir, jika membantah hanya akan menambah dan memperpanjang masalah yang ada. Akhirnya wanita itu memilih bungkam. Tak menyela sepatah kata pun.
“Kamu wanita tidak tau diri. Seharusnya kamu harus lebih mengerti kondisi suamimu! Pasti gara-gara kamu yang meminta ini itu kepada anak saya sampai anak saya main judi seperti sekarang!” Sinta kembali menuduh Renata dengan murkanya yang langsung ditarik paksa oleh Burhan.
“Papa akan bicara lagi dengan kamu nanti, Bagas! Papa harap kamu bisa berbicara jujur dengan Papa.” Burhan membuka suara dengan tegas sebelum membawa masuk sang istri ke kamar untuk ditenangkan.
aku harus nyetok kesabaran juga nih bacanya 🥲