NovelToon NovelToon
BOSKU MENGINGINKAN TUBUHKU

BOSKU MENGINGINKAN TUBUHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nesakoto

Demi melunasi utang orang tuanya, Kinara rela mengorbankan dirinya daripada dipaksa menikah dengan pria tua. Dikhianati oleh pria yang dicintainya dan adik tirinya sendiri, ia memilih meninggalkan rumah untuk memulai hidup baru. Namun satu keputusan nekat mengubah segalanya, menyeretnya ke dalam takdir yang mengikatnya dengan pria paling berkuasa yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Sudah Menidurinya!

Renald baru saja melangkah masuk ke lobi restoran ketika pandangannya langsung menemukan sosok yang ia cari. Kinara duduk di sofa dengan raut polosnya, jemarinya meremas ujung tas seolah mencari pegangan.

“Kau sudah menunggu lama?” suara Renald tenang namun berwibawa.

Kinara mengangkat wajah, lalu tersenyum singkat. “Tidak terlalu.”

“Ayo masuk.”

Keduanya menuju lift khusus yang akan membawa mereka ke lantai tiga. Tidak banyak orang menggunakan lift itu, karena hanya pelanggan VVIP yang mendapat akses.

Saat pintu lift terbuka dan mereka menjejak lantai tiga, Kinara tak kuasa menahan gumaman kecil. “Tempat apa ini… sepi sekali. Apa restorannya tidak laku?”

Ia hanya berniat berbisik, tetapi entah mengapa Renald mendengarnya dengan jelas. Sebuah tawa ringan lolos dari bibir pria itu, senyuman samar muncul dan seketika membuat pelayan yang sedang melayani mereka terpana. Kinara pun ikut tertegun.

Mengapa dia bisa tampan sekali… batin Kinara, matanya tak sengaja menatap wajah Renald lebih lama dari seharusnya.

Renald cepat-cepat menahan senyumnya, kembali menampilkan ekspresi dingin yang biasa ia tunjukkan pada dunia.

Ia sendiri heran, gadis ini mampu membuatnya tertawa kecil—hal yang tak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Ada sesuatu pada diri Kinara yang bisa mengusik ketenangannya.

Ruangan luas di lantai tiga itu telah dipesan seluruhnya oleh Renald. Ia tidak ingin makan malamnya terganggu siapa pun, meskipun Kinara sama sekali tidak tahu hal itu.

Saat buku menu diberikan, Kinara tampak kebingungan. Pandangannya menyapu halaman demi halaman, tetapi tak ada satu pun yang benar-benar ia kenali. Akhirnya ia menutup menu pelan. “Aku pesan apa yang kau pesan saja,” ujarnya ragu.

Renald memberi instruksi singkat pada pelayan. “Aussie Yuu Beef steak, dua porsi.”

Tidak lama kemudian, makanan datang tersaji indah. Kinara menelan ludah melihat tampilan steak yang begitu rapi, berbeda jauh dari makanan sederhana yang biasa ia santap.

Ia melirik cara Renald memotong daging dengan tenang dan teratur, lalu mencoba menirunya. Sayangnya, pisaunya seperti menolak bekerja sama. Potongan daging justru terpental ke pinggir piring.

Renald yang memperhatikan hanya menghela napas tipis. Tanpa berkata apa-apa, ia menukar piringnya dengan piring Kinara. Steak yang sudah ia potong rapi ia geser ke hadapan gadis itu, sementara ia mengambil piring Kinara untuk memotong ulang.

Wajah Kinara seketika merekah. “Terima kasih, Renald.” Senyumnya tulus, sederhana, namun cukup membuat dada Renald terasa aneh. Ia membalas dengan senyum kecil, nyaris tak terlihat.

Makan malam itu terasa istimewa bagi Kinara meski porsi makanannya tidak banyak. Seumur hidup, ini pertama kalinya ia duduk di restoran mewah.

Bayu, mantan kekasihnya, tidak pernah sekalipun mengajaknya makan di luar. Perlahan ia mulai sadar, Renald tidak seburuk yang ia bayangkan—meski statusnya kini hanyalah gadis yang harus melayani pria itu.

“Sudah kenyang?” Renald memecah keheningan.

“Sudah,” jawab Kinara cepat.

Padahal, perutnya masih terasa kosong. Ia hanya memakan beberapa potong daging, tapi ia tak ingin terlihat rakus. Dalam hati, ia mendesah, kenyang apanya… nanti di rumah lebih baik aku pesan hot pot tom yam saja.

“Kalau begitu, mari kita pulang.” Renald berdiri, mempersilakan Kinara berjalan lebih dulu.

Pintu lift kembali terbuka di lantai dasar. Namun, begitu melangkah keluar, langkah Kinara terhenti kaku. Di hadapannya, ia melihat keluarga Bayu sedang berjalan beriringan bersama keluarga Arbian.

“Kinara?” Mata Bayu sontak berbinar begitu melihat wanita yang pernah menjadi bagian hidupnya. Ia mendekat dengan raut penuh tanda tanya. “Sedang apa kau di sini?"

"Bagaimana bisa keluar dari lift itu?” Nada suaranya meninggi, tatapannya tajam penuh curiga. Ia lalu menambahkan, “Itu kan lift khusus lantai tiga. Hanya pelanggan VVIP yang bisa menggunakannya.”

Bayu tahu betul kondisi keuangan Kinara dan keluarganya saat ini. Menurutnya mustahil Kinara bisa makan di ruangan VVIP.

Diana mendengus keras. “Mungkin dia kerja jadi pelayan di sini untuk biaya tambahan. Siapa suruh keluar dari rumah?!” Timpalnya langsung

Bayu yang mendengar hal itu, menatap Kinara dengan sinis. “Apa benar kau bekerja di sini sebagai pelayan? Kalau begitu, syukurlah aku sudah tidak ada hubungan denganmu. Kalau tidak, aku pasti sangat malu di depan teman-temanku.”

Ucapan itu menusuk. Kinara menggigit bibir. Ingatannya kembali pada masa lalu—betapa Bayu dulu membanggakan dirinya hanya karena ia kuliah di kampus ternama dan bekerja di perusahaan Merta Dirga. Tapi kini kata-katanya justru terdengar sangat meremehkan.

Di sekitar mereka, tak seorang pun menyadari bahwa Renald juga baru keluar dari lift dan berdiri beberapa langkah di belakang Kinara.

“Ehem.” Suara berat itu memecah ketegangan. “Ayo, Kinara. Saya antar kamu pulang.”

Semua mata serentak menoleh. Bayu dan keluarganya terperangah melihat siapa yang berbicara.

“Pa… Pak Renald?” Bayu hampir terbata. Mustahil ia bisa bertemu sosok penting itu di sini, apalagi mendengar sendiri Renald menawarkan diri mengantar Kinara pulang.

Bayu mendelik ke arah Kinara. “Apa hubunganmu dengan Pak Renald?" Tanyanya tiba-tiba. Saat itu juga matanya melebar seolah baru menyadari sesuatu. "Apa ini alasanmu lebih memilih untuk memutuskan aku? Apa karena dia pewaris perusahaan? Dasar wanita murahan!" Cecarnya langsung.

Kepala Kinara berdenyut mendengar tuduhan itu. Baru tadi Bayu merendahkannya, kini ia menuduh macam-macam lagi. Ia benar-benar menyesal pernah mempertahankan hubungan dengan pria seburuk itu.

Sementara itu, Diana hanya bisa ternganga menatap Renald. Ia tahu persis siapa pria itu—muda, sukses, sekaligus karismatik. Arbian pun tak kalah kaku; tubuhnya seakan membeku. Dulu ia sempat bermimpi bisa menjalin kerja sama dengan orang seperti Renald, namun ia sadar perusahaannya terlalu kecil untuk mencapai itu.

Kinara merasa tidak tahan lagi. Ia menggenggam tangan Renald, menariknya menjauh dari tatapan semua orang. “Ayo, Renald.”

Namun langkah mereka terhenti oleh teriakan lantang Bayu. “Renald! Kau tahu, aku sudah meniduri wanita itu. Apa kau tidak malu mendapatkan wanita bekas pria lain?!”

Suasana seketika membeku. Wajah Kinara memucat. Ucapan itu menusuk jauh lebih dalam daripada hinaan-hinaan sebelumnya.

Renald memandang Bayu dengan tatapan tajam. Ia tahu jelas semua itu bohong. Dialah orang pertama yang menjamah tubuh Kinara, jadi ia tidak akan membiarkan kebohongan itu merusak harga diri wanitanya.

Tanpa banyak kata, Renald melangkah cepat. Tinju kerasnya mendarat tepat di wajah Bayu. Dentuman itu disertai jeritan pendek, darah langsung merembes dari hidung dan sudut bibir Bayu.

Renald menunduk, suaranya dingin dan menekan. “Sekali lagi kau bicara sembarangan, aku patahkan lehermu!"

Tanpa menoleh lagi, ia meraih tangan Kinara dan membawanya keluar restoran.

Papa Bayu, wajahnya merah padam karena malu sekaligus marah. Ia ampir menampar putranya di tempat. “Anak sialan! Kau tahu apa dampak ucapanmu tadi? Besok keputusan kerja sama akan diumumkan, dan mulutmu itu bisa membuat semuanya gagal!”

Mama Bayu buru-buru menahan tangan suaminya. “Sudah, jangan di sini. Kita selesaikan di rumah.”

Mereka pun pergi dengan langkah cepat, meninggalkan Bayu yang berdiri goyah dengan wajah babak belur.

Arbian dan keluarganya hanya terdiam, masih berusaha mencerna kejadian barusan. Tak satu kata pun keluar dari mulut mereka saat akhirnya ikut beranjak meninggalkan tempat itu.

Sementara itu, di luar restoran, Kinara menunduk. Hatinya campur aduk—malu, marah, sekaligus terharu. Renald menggenggam tangannya lebih erat, seolah mengatakan bahwa ia tidak akan melepaskannya pada siapa pun.

1
sandi sanda
/Drool/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!