NovelToon NovelToon
Pesta Jailangkung

Pesta Jailangkung

Status: tamat
Genre:Teen / Misteri / Horor / Eksplorasi-misteri dan gaib / Tamat
Popularitas:557.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: Rani Je

(Revisi)
Tahun 2000, menjadi awal tahun baru bagi Merri yang bersekolah di SMA KASANOVA. Ia ingin mulai hari baru dengan tidak mau terlibat dengan hal gaib lagi. Sebab, salah satu penyebab ia pindah sekolah karena teman sekelas dari sekolah terdahulu merasa takut dengan kemampuan Merri yang ternyata bisa melihat Hantu. Oleh sebab itu ia berusaha menutupi keahliannya.

Namun ternyata, baru satu hari bergabung di SMA KAsanova dn berteman baik dengan Arinda, seorang siswi di kelasnya meninggal dengan tidak wajar. Semua siswa yang penasaran mulai mencari tau penyebabnya, dan mereka memutuskan bermain Jailangkung. NAmun, saat pesta itu di mulai Dia yang ingin di perhatikan dan di Akui mengambil kesempatan itu. Dari sana hari-hari Merri kembali tidak tenang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10 Dua Anugrah dan Malapetaka

“Bunda tadi ngajar di kelas Rinda?” tanya Arinda. Mereka

tengah makan siang di sebuah resto.

“Ya, bunda hanya kasih kata motivasi saja. Bunda ingat kalau

siswi bernama Mikha itu siswi teladan dan baik. Semua pasti merasa kehilangan.”

Jelas Lira sambil menikmati makan siangnya.

“Ya, Mikha dia pintar. Dia sering dapat nilai bagus kalau

pelajaran hitungan. Dia jago matematika sama Fisika.” Puji Arinda, dia

memamerkan senyum tulus. Seolah dia ingat bagaimana Mikha selalu menuntaskan

soal-soal yang diberi guru di papan tulis.

“Ya, Bunda juga lihat nilai-nilainya.” Lira pun mengakuinya.

“Setidaknya saingan kamu berkurang satu orang disekolah.” Lanjut Lira yang

membuat Arinda menghentikan makan siangnya.

“Bunda ingin Rinda merasa beryukur gitu?” tanya Arinda.

“Hmm...!!” Arinda menarik nafas pelan.

“Tidak, bunda tau kamu sedih, tapi kamu harus tetap maju

kedepan. Jangan sampe di terpa kesedihan hanya karena kehilangan satu teman.”

Jelas Lira.

“Lalu berfikir dengan meninggalnya Mikha, berarti berkurangnya

satu saingan aku di sekolah gitu.” Arinda masih tersinggung dengan perkataan

ibunya.

“Arinda, kamu harus fokus untuk bisa masuk ke universitas

ternama, bunda mau itu.” Lira meluruskan topik.

“Ya kalau itu Arinda paham, pasti Rinda usahain.” Jelas

Arinda, “Cuma cara bunda bikin aku tuh ga nyaman aja. Aku merasa bersalah kalau

seandainya Mikha dengar.”

“Arinda, dengarin Bunda.” Lira menaikkan suaranya, membuat

putrinya menatapnya. “Orang meninggal tidak punya urusan lagi dengan kita yang

masih hidup, mereka sudah aman disana, mereka tidur hingga pada akhirnya

bangkit lagi, yaitu di akhir zaman alias kiamat. Jadi mereka tidak akan dengar

apapun.” Jelas Lira.

“Ya aku paham apa maksud bunda, hanya saja bunda terlalu

cepat. Mikha baru meninggal kemaren loh, trus hari ini Bunda menyuruh Arinda

untuk menjadi lebih baik dan memanfaatkan kesempatan, bukannya itu kelewatan.”

Arinda berhenti sesaat, dia kesal, tapi kali ini moodnya dalam keadaan tidak

stabil.

“Bunda hanya cemas, kamu saja hari ini ga masuk jam pertama

gara-gara sakit.”

Arinda ingat, Karin memberi alasan bolosnya pagi itu dengan

bilang kalau dia tidak enak badan dan beristirhat di ruang kesehatan. Padahal sebenarnya

dia berada di perpustakaan. Arinda tidak mau beragumen lebih lanjut. Dia

memilih menghabiskan jus jeruknya.

“kamu harus sukses seperti ayah dan Bunda.” Lanjut Lira.

“Ya sukses seperti keinginan aku.” Gumam Arinda.

“Sukses seperti bunda yang bunda mau, karena bunda lebih tau

apa yang terbaik untuk kamu. Kamu terlalu muda untuk memutuskannya.” Jelas

Lira.

“Kalau ternyata aku ga sanggup?” lanjut Arinda. “Kalau

misalnya aku ternyata tidak sepintar ayah dan Bunda bagaimana, ternyata aku

lebih berbakat dibidang lain bagaimana?”

“Seperti apa?”

“Fashion disainer?”

“Ga, itu tidak bagus. Bunda ga mau kamu jadi tukang jahit.”

“Hmmm...!!” Arinda hanya menghela nafas, “Setidaknya fashion

designer bisa keliling dunia sambil pamer baju rancangannya.” Gumam Arinda.

“Kamu harus seperti Ayah atau Bunda, terlihat sempurna di

mata orang, karena kami seorang pendidik.”

“Tapi tiap hari debat mulu.” Lanjut Arinda dalam gumaman

kecilnya. “Belum lagi juga gagal gedein satu anak.” Yang satu itu hanya terucap

didalam hati.

“Bunda dengar Rinda.” Ucap Lira menatap ketus kearah Arinda.

Arinda terdiam, dia melanjutkan makan siangnya tampa

membicarakan apapun lagi. Apapun yang ingin ia sampaikan pasti akan di patahkan

oleh ibunya yang maha benar.

.

.

.

.

Di tempat lain, seorang ibu dan anak juga berada di meja

makan. Merri yang mencoba melahap makan siangnya begitu terlihat bersemangat.

Hari ini dia di sapa seorang teman. Dia diajak ngobrol, bahkan teman itu telah membantunya

dalam mengambil kebutuhannya selama di sekolah. Memang, awalnya dia memang

tidak membutuhkan sosialisasi dalam bentuk apapun di sekolah baru. Namun

kenyataanya, batinnya memang membutuhkan orang lain untuk di ajak

bersosialisasi. Setidaknya kesan itu membuat ia lupa sesaat dengan setan jahil

yang suka menampakkan dirinya didepannya itu.

“Kamu lahap sekali?” puji Kusuma.

Mendengar suara ibunya, Merri kembali pada wajah awal.

Senyum itu menciut, berubah jadi bibir manyun. Begitu juga dengan wajah

sumringah itu berubah menjadi kesal. Ia kesal dengan wanita yang telah

melahirkannya. Kejadian Mikha kemaren, dimana ibunya juga tidak dirumah

membuatnya semakin yakin jika kematian Mikha disebabkan oleh ibunya.

“Kok diam?” tanya Kusuma yang baru duduk dan bergabung di meja

makan.

Merri menyelesaikan makan siangnya. Ia menaroh piring dan

gelas agar jauh dari wajahnya. “Bu!” Merri mulai membuka suara, mulai mengulik

ibunya akan rasa penasaran dan kesal yang terpendam sejak kemaren.

“Ya?”

“Tamu ibuk yang kemaren lusa itu, dia menumbalkan anaknya

ya?” tanya Mikha.

“Hmmm...!” Kusuma menaroh gelas dan piring yang masih kosong

di depannya. Tampaknya ia tau putrinya akan membahas tentang sesuatu yang

mungkin melukai perasannya.

“Ibu tau ga, kalau ritual ibu itu ternyata membunuh orang?”

tanya Merri.

“Ibu hanya menerima perintah, ibu tidak tau kemana energi itu

terbang.” Jelas Kusuma.

“Tapi ibu taukan, kalau kelakuan ibu bisa membunuh orang?”

tanya Merri.

“Itu resiko pekerjaan ibu, ibu tidak dapat menolaknya.”

Jelas Kusuma tenang.

“Tapi resiko pekerjaan ibu terlalu berbahaya?!” Kali ini

Merri membentak, suaranya meninggi. Tapi kedua mata gadis itu berkaca-kaca.

“Kamu nanti paham apa yang tengah ibu alami. Karena ini

turunan. Kamu pasti akan mengalaminya.”

“Aku ga mau, aku ga mau seperti ibu!” tolak Merri.

“Tapi ini takdirmu, Mer. Kamu tidak akan bisa menolaknya.”

“Aku akan akan cari tau bagaimana aku tidak menjadi seperti

ibu, membunuh orang.”

BRAG

“Marri!!” Kusuma memukul meja makan hingga piring dan gelas

bergetar. Merri terkejut melihat amarahan ibunya, tapi ia masih bersikekeuh

kalau dia di posisi yang benar dan ibunya salah.

“Ibu tau gak? Siapa yang jadi korban ibu malam itu, anak

yang juga satu sekolahan dengan Merri.” Merri kembali buka suara. Dia benar-benar

terlihat kesal, “Ibu tau mimpi buruk apa yang aku alami waktu itu? Sesuatu yang

sangat mengerikan mengambil paksa jiwa anak itu, kemudian ia memasukkannya ke

dalam mulutnya yang besar dengan gigi taring yang tajam. Dengan kata lain, dia

belum saatnnya mati, tapi iblis itu menarik paksa dan memisahkan nyawa dan

raganya. Bukan hanya itu, iblis itu memakannya. Aku yakin itu adalah suruhan

ibu, peliharaan ibu. Kenapa aku bisa tau? Sebab, setiap ibu melakukan ritual

itu, aku akan selalu di perlihatkan akan mimpi buruk. Mimpi seseoran yang tidak

aku kenal mengalami sakaratul maut yang sangat mengerikan.” Jelas Merri dengan

nafas tersengal-sengal. Dia terlalu emosi sehingga berbicara dengan suara

menggebu-gebu. “Lalu, yang barusan kejadian ini adalah orang yang ternyata sekelas

denganku?”

“Tapi itu beda Merri.” Kusuma mencoba menjelaskan.

Merri tidak mendengarkan. Sesak di dadanya belum sepenuhnya

lepas, “Kemaren semua anak-anak dikelas aku berduka. Kami datang dan melihat

proses pemakamannya. Kemudian hari ini anak-anak dikelas mulai berdebat dan

bahkan beberapa diantara mereka curiga jika gadis itu mati karena di santet. Ibu

tau bagaimana perasaan aku yang mendengarnya? Aku takut bu! Aku takut jika

mereka tau kalau temannya itu ternyata mati karena ulah ibu. Aku takut dicap

sebagai anak pembunuh, sudah cukup aku dibulli sebagai anak seorang dukun.”

Kusuma kembali memukul meja, “Merri, itu bukan perbuatan

ibu.” Jelas Kusuma.

“Bukan apanya? Aku tau pria tua yang datang kerumah, dia

bapak dari anak itu. Merri melihat di pemakaman, Merri juga melihat iblis itu,

dia sama persis dengan apa yang aku lihat waktu dirumah sakit. Dia berlahan

mencabut nyawa gadis itu, dan nama gadis itu Mikha! Dia siswa yang satu kelas

dengan aku. Saat ini aku duduk di bangkunya, berteman dengan teman-temannya, belajar

dengan guru-gurunya. Bukankah aku seperti parasit, bu?” Merri menitikkan air

mata.

Setelah puas mengeluarkan semua unek-unek yang bersarang di

benaknya, Merri menunpahkan air mata. Ia segera menutup wajahnya dengan kedua

tangannya. Melihat kondisi Merri seperti itu ia meredakan amarahnya. Merri

persis dengan dirinya saat masih muda dulu. Tidak ikhlas dan takut pas tau jika

ia ditakdirkan menjadi paranormal ataupun dukun.

Hanya saja, rasa sedihnya itu hanya ia pendam. Ia tidak

berani mengutarakannya kepada ibu dan neneknya dulu. Tapi melihat Merri angkat

suara, dia paham akan satu hal, bahwa kemampuan Merri jauh berkembang pesat dari

yang ia kira.

Dulu ia hanya berfikir jika Merri hanya bisa merasakan tanpa

bisa melihat, tapi semenjak bertambahnya usia, ia bisa melihat bahkan

berinteraksi dengan makhluk-makhluk itu tanpa harus melakukan meditasi.

Jika Merri ingin lepas? Ia bisa saja. Tapi itu sungguh

sulit, jika Merri benar-benar berkenan ia siap berkoban demi kebahagiaan

anaknya meski di tebus dengan nyawa. Kusuma sudah siap.  Sebab ia sendiri belum bisa menilai jika

kemampuan yang mereka miliki ini sebuah anugrah atau malapetaka yang diwariskan

secara turun temurun.

.

.

.

.

1
Witri Ayu
Luar biasa
Norhafizah
Thor2
Norhafizah
Udh habis?!
Ravana
sumpah ,aku baru baca novel ini langsung jatuh cinta sama gaya tulisannya, asyik gile
Madame Jeanne
luv luv buat author
Madame Jeanne
ampun Mbah,wes tak like iki
Bunda Israh Wahyuni Yuni
rani je.. klw ada sumur di ladang,jgn lupa siram tanaman yg ada di ladang,klw buat karya keren ky gini lg,jgn lupa kabari aku. semangat rani je
Bunda Israh Wahyuni Yuni
wes tak like mbah,tp aku ra gelem d kei kopi pait,wes idupku pait,pait kuwadrat mbah.. ke i z sm rani je,men iso dekne melek an nyelesaikn karya kerenny ini.
Bunda Israh Wahyuni Yuni
rani je.. karyamu keren y.. kucing mu jg imut. jantan p betina?
Bunda Israh Wahyuni Yuni
yuhuuuu thor... keren y alurny.. aku jd terbawa ne.. btw aw,,kekny aku g berani ne bc karyamu mpe mlm2.. takut. 🤭🤭
atmaranii
klo Dy brsikap bgtu mlh mngundNg prhatian...n lbh trksan aneh...knp GK brsikap normal aj
atmaranii
crtanya mnarik ...tulisan n bhsa jg ok
Ayu Marshella
yahhh udah selesai? ceritanyaa ngegantung ihhh
Diana Sujito
aku penggemar cerita horor..lanjut thor😁
author killua
gk serem
Uchi Young
👍👍👍
Anik Rubiyanti
cerita nya bagus....
Author Garis Biru
keren sih, dari awal pas baca sinopsisnya penasaran, sampai disini makin keliatan beberapa plot cerita yg gak ketebak dan buat cerita nya lebih nyata, semangat deh untuk author nya yang udah buat cerita semenarik ini
Noer Toifah
best best....moga d lanjut
Elly Arsida Lubis
keren novelnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!