Semua orang pasti memiliki Cinta Pertama..
Kapan waktunya kita tak dapat menentukannya..
Seperti yang dialami Intan , gadis remaja yang kini baru merasakan cinta pertamanya di sekolah menengah pertama..
Bagas kakak kelas Intan, sosok yang selalu membuat jantung Intan berdebar lebih cepat dari biasanya..
Dari sinilah perjalanan cinta Intan di mulai..
Bagaimana kah, kelanjutan kisah cinta pertamanya? akan kah terbalas? ataukah sebaliknya??..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nikma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perusuh
2 minggu kemudian.
Sesuai dengan kesepakatan antar Intan dan Revan, kini mereka menjadi lebih akrab.
Revan akan selalu menyapa Intan jika berpapasan dan beberapa kali mengobrol jika ada kesempatan.
Tapi Revan, tak memiliki harapan apapun pada Intan, gadis itu membangun pertahanan yang sangat kuat.
Jelas sekali terlihat bahwa Intan tetap menjaga perasaan Revan agar tak membuat Revan mengartikan lain sikapnya yang tak lain akrab karna mereka teman sekelas.
Teetttt ... Teettttt
Jam istirahat sudah berbunyi, semua murid berhamburan keluar dan berdesakan ke kantin menuju stan langganan mereka masing-masing.
Sedangkan Intan dan Ifa, tetap diam di kelas. Mereka selalu ke kantin agak belakangan. Ifa yang tahu Intan sama sekali tak suka berdesakan lebih memilih menemani Intan.
Saat mereka tengah mengobrol untuk menunggu jam bergulir, mereka dikagetkan oleh seorang anak lelaki dari kelas lain bertumbuh tinggi hitam berdiri di pintu kelas dengan matanya mengedar ke dalam kelas, seperti mencari orang.
Mata laki-laki itu menangkap sosok Intan yang tengah duduk di bangkunya bersama Ifa. Dengan langkah lebar ia mendekat ke arah Intan sembari tersenyum lebar.
Intan, yang ditatap bingung. Ia berusaha melihat sekitarnya adakah orang lain yang sedang dituju oleh laki-laki itu, tetapi nihil. Di kelas hanya ada beberapa orang saja, dan wanita di kelas itu hanya ada Intan dan Ifa.
Intan dan Ifa saling tatap, dari sorotan mata mereka, mereka seperti saling bertanya, apakah mereka mengenal lelaki yang sedang berjalan ke arah mereka itu dan mereka sama-sama mengangkat bahu tanda tak tahu.
"Intan!!" sapa lelaki itu yang sudah duduk di bangku depan Intan dan menghadap ke arahnya. Senyum lebar tak lepas dari wajahnya.
Intan yang dipanggil sok akrab oleh lelaki yang sama sekali tak dikenalinya itupun hanya diam dan menatap heran penuh tanya.
"Kamu gak istirahat? Gak ke kantin? Gak laper?" tanya lelaki itu beruntun, sedangkan Intan dan Ifa saling tatap dan menganga dengan tingkah lelaki di depan mereka itu.
Tak menjawab pertanyaan laki-laki di depannya, Intan hendak bangkit berdiri dan menarik tangan Ifa untuk pergi meninggalkan laki-laki sok akrab itu.
Melihat Intan yang mau pergi, laki-laki itu memegang lengan Intan dan menahannya. Intan spontan menarik tangannya, tetapi genggaman tangan lelaki itu lebih kuat dari yang dia kira. Lengannya tak juga lepas, ia merasakan sakit dipergelangan tangannya.
"Jawab dong. Aku kan lagi bicara sama kamu. Judes banget sih" ucap Bara santai sambil menatap Intan yang sudah kesakitan..
"Aku gak kenal kamu. Ngapain aku harus jawab pertanyaan kamu. lepasin, sakit!!" seru Intan sambil terus meronta minta dilepaskan.
"Kamu ngapain sih, Lepasin tanganmu. Intan sudah kesakitan!" teriak Ifa ke arah Bara. Ia melihat Intan sudah meringis kesakitan dari tadi karna lengannya digenggam paksa oleh laki-laki gak jelas itu.
Melihat lengan Intan sedikit memerah akibat genggamannya membuat Bara melepaskan tangannya dari lengan Intan.
Setelah Bara melepaskan tangannya, Intan memijit tangannya pelan, rasanya sakit.
"Aku Bara, dari kelas 7B" ucap Bara memperkenalkan dirinya. Sedangkan Intan masih menatap bingung dengan kelakuan Bara.
"Lalu mau apa kamu gangguin Intan?" tanya Ifa nyolot. Ia sudah risih melihat Bara dan ia yakini kini Intan jauh lebih merasa terganggu dari dirinya.
"Aku gak ganggu dia. Aku hanya sedang menunjukkan perasaanku" ucap Bara santai.
Intan dan Ifa saling tatap tak paham dengan maksud Bara.
"2 bulan ini aku sudah mendengar kisah tentang seorang gadis biasa menolak Amir yang merupakan laki-laki tertampan diangkatan kita. Semenjak itu aku uda tertarik dan ingin ketemu sama kamu. Aku mau bilang kalo aku suka kamu dan aku ingin jadikan kamu pacar aku" ucap Bara dengan seringai di wajahnya.
Lagi?!!
Mendengar ucapan Bara, Intan seketika tercengang. Ia merasa syok. Ini sudah ketiga kalinya ia menerima pernyataan cinta dalam 2 bulan ini dan yang satu ini bahkan lebih parah dari Amir dulu.
"Kamu pasti terima aku kan?" tanya Bara percaya diri sambil membesungkan dadanya. Intan dan Ifa yang melihat itupun ingin sekali muntah.
"Percaya diri amat kamu. Intan gak mungkin lah terima cowok modelan kamu. Kasar, pemaksa dan semaunya sendiri" ucap Ifa galak. Intan pun mengangguk tanda setuju.
"Aku gak peduli. Cepat atau lambat Intan akan jadi pacar aku" ucap Bara santai dengan kepercayaan diri yang tak juga luntur, membuat Intan dan Ifa menganga tak percaya.
Kemudian, Bara pergi dari kelas mereka. Intan dan Ifa hanya bisa saling tatap dan menggeleng bingung.
"Ada ya makhluk kayak dia?!" seru Ifa tak habis pikir dengan perlakuan Bara barusan.
Dia sepertinya sudah gila!!
"Terima aja dia. Cocok lah buat kamu Tan" Ucap Amir yang tiba-tiba saja sudah masuk kelas dan tertawa mengejek.
Ifa, sudah geram sendiri dibuatnya, sedangkan Intan hanya diam dan cuek dan tak menjawab yang kemudian, akhirnya Amir lelah sendiri mengoceh dan memilih berhenti.
"Kamu gak apa-apa kan Tan?" tanya Revan yang sudah berdiri di sebelah Intan. Intan pun tidak tahu kapan laki-laki itu muncul.
"Aku gak apa-apa kok. Cuman dikit sakit aja" Ucap Intan sembari menunjukkan lengannya yang sedikit memerah.
"Maaf, aku gak bisa bantu apa-apa. Aku sendiri juga takut" Kata Revan sambil menunduk.
"Tak apa tenang saja, aku baik-baik saja. Kamu tak perlu melibatkan diri kamu yaa. Biarkan aku sendiri yang akan menangani" ucap Intan menenangkan Revan sembari tersenyum meyakinkan.
Melihat itu Revan tersenyum kecut. Ia juga menyesal karna menjadi lelaki pengecut. Bahkan untuk berdiri membela orang yang disukai saja ia tak berani.
"Jadi kantin gak nih Tan?",l kata Ifa setelah menunggu Intan lama hanya diam di tempatnya seperti sedang menimbang-nimbang keputusan.
"Hari ini gak usah dulu gimana Fa? Aku masih males kalau-kalau nanti ketemu laki-laki itu lagi" kata Intan merinding, dia seperti sedang diteror sekarang.
"Ok, gak apa" ucap Ifa santai.
"Fa,.Apa yang bakal aku hadapi setelah ini ya?" tanya Intan cemas. Memikirkan hari-harinya ke depan yang akan seperti di teror, membuatnya merinding.
"Entahlah, yang jelas kamu harus siapin mental kamu mulai sekarang. Juga nyiapin strategi buat ngehindari tuh cowok" ucap Ifa menyarankan. Karna ia sendiri tak tahu apa yang akan dilakukan laki-laki itu.
"Kamu bener" ucap Intan lirih sambil tersenyum samar.
"Tenang aja, kamu gak sendiri. Aku bakal selau temenin kamu" ucap Ifa sambil tersenyum menenangkan Intan yang mulai terlihat ketakutan.
Apa yang akan terjadi kedepannya?
.
.
.
Bersambung..
harusnya tokohnya sudah SMA minimal kelas 9 lah
sukaaa ceritanyaaa thorrr 😍
tinggalin jejak juga yaaa di novelku ASIYAH AKHIR ZAMAN 😊
mari qt slg dukung. like balik novel q
the thunder's love
mari saling mendukung terimakasih
Kutunggu kedatangan kalian.
Terima kasih.