Pernikahan adalah salah satu untuk menyempurnakan agama. Tetapi bagaimana jika pernikahan dilandasi karena keterpaksaan dan kebohongan?.
Disha Haura, gadis cantik yang duduk di bangku semester akhir terjebak dalam pernikahan dengan adik tingkatnya. Keduanya di jebak dan di fitnah sehingga membuat keduanya harus menikah.
Di samping itu seseorang yang selalu menyebut nama Disha dalam sepertiga malam harus menelan ludah melihat pujaan hatinya menikah dengan adiknya sendiri.
Bagaimana kisah selanjutnya? Silahkan baca sehingga kalian menemukan jawabannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Disha dan Habib
Disha langsung bergegas memasuki cafe yang kini menjadi tempat kerjanya, pengunjung nampak sepi karena sedang hujan di luar, apalagi ini sudah menunjukkan pukul 7 malam. Orang-orang lebih memilih untuk istirahat setelah seharian bekerja.
'Dis" panggil Yahya yang merupakan bos kerja Disha
'Eh iya pak" sahut Disha
Yahya itu salah satu teman kampus Disha, tetapi Yahya belum bisa mengajukan skripsi karena masih ada beberapa mata kuliah yang tertinggal atau nilainya tidak memungkinkan. Yahya fokus dengan usahanya 3 tahun terakhir ini dan terbukti betapa banyaknya keuntungan yang dia dapatkan dari buka usaha, tetapi dia harus memikirkan inovasi yang baru agar cafenya tetap terkenal.
'Elahhh... Berapa kali lagi gue bilang, santai aja kalau sama gue" ucap Yahya menatap malas Disha yang tersenyum kecut
Disha tersenyum masam, pertemuan pertama mereka yaitu saat Disha tengah kekurangan uang untuk membayar uang buku yang jumlahnya cukup besar bagi Disha. Saat itu Disha tengah menangis di dekat musholla dan kebetulan Yahya habis selesai sholat, karena kasihan pada Disha akhirnya Yahya menanyakan akibat Disha menangis. Begitulah awal pertemuan mereka.
'Ga enak sama yang lain" sahut Disha
'Udahh santai aja, btw gue takjub lo udah pake penutup kepala, perasaan kemarin belum. Tapi bagus sih" Yahya menyeruput kopi yang dia bawa sedari tadi
'Anggap saja tobat" kekeh Disha
'Jadi gimana sama suami lo? Kok lo masih kerja juga, emang ga di larang?" tanya Yahya penasaran
Yahya juga mengetahui hal yang terjadi di kampus karena Disha masuk gosip lambeh turah, beruntungnya wajahnya di blur dan namanya disamarkan sehingga hanya beberapa orang saja yang tau, tetapi Yahya langsung tau jika orang itu adalah Disha.
'Entahlah, biarkan saja. Lagian gue masih gamang soal pernikahan yang mendadak ini" Disha menatap jalanan karena kebetulan mereka duduk di dekat kaca yang langsung menghadap jalanan
'Udahhh, ga usah dipikirin. Fokus aja dulu sama kuliah lo habis itu terserah mau gimana" Yahya cukup kasihan dengan Disha yang di fitnah karena dia sangat tau bagaimana sifat Disha 3 tahun terakhir ini
Disha menatap sekeliling ruangan, hanya beberapa pelanggan saja. Kemungkinan malam ini mereka akan tutup lebih cepat terlebih hujan di luar semakin lebat saja.
Tiba-tiba pintu cafe di buka dengan cepat sehingga lonceng yang menggantung di atas pintu berbunyi kuat. Seluruh mata menatap ke arah pintu termasuk Disha.
Yahya terkejut melihat sosok kecil yang masuk dengan baju yang sudah basa kuyup, nampak kedinginan membuatnya kaget.
Disha melebarkan matanya saat melihat sosok anak kecil itu, tentu dirinya kenal karena saat di kediaman Pramadyo sosok anak kecil itu sering mencuri pandang padanya.
Anak kecil itu adalah Habib, putra dari Arcel dan Viola. Mata coklatnya menatap sekeliling hingga tertuju pada Disha yang masih terbengong-bengong.
'TANTE!" teriaknya kuat dan langsung berlari menuju Disha kemudian memeluknya
Sontak perlakuan Habib membuat Disha kaget, padahal mereka tidak pernah dekat. Mereka hanya berjumpa sekali saja itu pun saat dirinya masuk ke dalam rumah Pramadyo.
'Lo kenal Dia?" tanya Yahya masih kaget
'Ini ponakan gue" balas Disha
'Tante hiks... Habib takut hiks... Habib mau pulang hiks... Habib mau ketemu Daddy hiks...hiks..." isak Habib masih memeluk Disha erat
Dapat Disha rasakan tubuh Habib yang bergetar, entah itu ketakutan atau kedinginan yang pasti hal itu membuat Disha khawatir. Meskipun mereka hanya bertemu sekali tetap saja Habib adalah keponakannya sekarang.
'Bawa duduk, gue ambil jaket dulu" ujar Yahya pergi meninggalkan Disha dan Habib yang masih sesenggukan
Disha pun membawa Habib menuju kursi dan mendudukkannya, tetapi bocah kecil itu tidak mau melepaskan pelukan Disha membuat Disha hanya pasrah saja.
'Tenanglah, tante tidak pergi kemana pun, lepas dulu yaa" ucap Disha selembut mungkin karena dia tau jika Habib tengah butuh perlindungan melihat mata Habib yang tak kunjung terbuka
Dan benar saja tidak lama kemudian Habib melepaskan pelukannya dan menatap Disha dengan mata yang sudah memerah dan bengkak, entah sudah berapa lama Habib menangis sehingga matanya merah dan bengkak.
'Kamu kenapa?" tanya Disha khawatir
Disha menatap jalanan berharap menemukan Arcel atau Viola atau bahkan pengawal yang menjaga Habib tetapi dia tidak menemukan siapa pun, yang ada hanya kendaraan yang melawan terjangan hujan lebat.
Disha juga melebarkan matanya saat mengetahui jika pakaian yang dikenakan Habib masih seragam sekolah. Apa Habib belum pulang kerumah? Begitu banyak pertanyaan yang bersarang di kepala Disha.
'Sayanggg" panggil Disha lembut membuat Habib menatap dengan tatapan sendu
'Kamu kenapa hmmm? Kenapa sendirian begini? Hujan-hujanan bahkan belum ganti baju, katakan pada tante" Disha menarik tas ransel yang masih melekat di punggung Habib
Bukannya menjawab tetapi Habib malah menangis membuat Disha panik, jujur saja dirinya tidak pandai menghibur anak kecil karena dia tidak punya adik.
'Ada apa sayang? Jangan menangis" Disha pun memeluk Habib tidak perduli jika bajunya basah yang penting Habib tenang
'Habib mau pulang hiks... Habib mau ketemu daddy hiks.." isak Habib memeluk erat Disha seolah tidak mau melepaskan
'Baiklah sayang, kita pulang okay tetapi diam dulu jangan menangis lagi, tante antar kerumah" Disha mengelus kepala Habib
Tidak lama kemudian terlihat Yahya datang membawa sebuah kain dan jaket serta dibelakangnya seorang karyawan membawa sebuah coklat hangat.
'Nih" Yahya menyerahkan kain dan jaket tersebut pada Disha
Disha pun meraihnya dan me lap tubuh Habib, melepaskan rompi coklat itu dari tubuh Habib.
'Minum dulu ya sayang" Disha menyarankan coklat hangat itu pada Habib
Dan benar saja tidak lama kemudian Habib lebih tenang dari sebelumnya, tetapi tangan kirinya tidak mau melepaskan lengan Disha.
'Kok bisa ponakan lo kesini? Basah-basahan begini lagi?" tanya Yahya tidak habis pikir
'Entahlah, gue juga ga tau, ini anak dari kakak suami gue. Gue aja baru ketemu kemarin-kemarin itu pun cuma sekali doang, ngobrol aja enggak pernah" bisik Disha juga kebingungan
'Wow banget, sepertinya bocah ini nyaman sama lo" ujar Yahya
'Gue boleh ijin pulang lebih cepat nggak, gue mau anterin dia pulang. Kasihan gue lihatnya" pinta Disha
'Boleh aja sih tapi lihat nih masih deras hujannya, mau pulang pakai apa?" tanya Yahya menggelengkan kepalanya
'Gue antar aja deh, gue lihat hujannya juga bakalan awet sekalian lo pulang aja" Yahya menawarkan tumpangan pada Disha
'Boleh deh, kasihan gue lihat ponakan gue begini" Disha tidak mau menolak karena memang benar jika dirinya menerobos hujan deras itu yang ada dirinya malah sakit nantinya
🌾🌾🌾
riri-can