DILARANG PROMOSI DI KOLOM KOMENTAR!!
Ana, gadis yang baru berusia 18 tahun harus tinggal bersama pria asing yang telah menggelontorkan banyak uang demi biaya operasi sang adik yang terluka cukup parah karena penyerangan sedang kedua orang tuanya telah tiada.
Judul lama "Penjara Cinta"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gadis_Kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masuk Kuliah
Ana terpaku menatap bangunan megah kampus yang akan menjadi tempatnya mengenyam pendidikan. Dia sama sekali tak percaya jika Samuel mendaftarkannya di universitas bergengsi. Ana selalu ingat dengan perkataan Samuel saat dirinya menyelesaikan obrolan dengan sang adik melalui video call.
Dia telah mendaftarkan Ana dan mengingatkan janjinya Ana agar tak boleh mendekati pria. Kendati terkejut, namun Ana senang dan tak akan menyia-nyiakan kesempatan. Dia bertekad kuat untuk bersungguh-sungguh belajar dan lulus agar kelak jika hutangnya sudah terbayarkan dia akan mendapat pekerjaan dengan mudah dengan menggunakan ijazah yang dia miliki.
Setelah dia bertanya pada beberapa mahasiswi yang berada di dekatnya, Ana pun menemukan ruang staf untuk memberikan berkas-berkas persyaratan untuk menyempurnakan masuk ke kampus. "Nama Walimu Samuel?" Ana menggigit bibirnya.
Sebenarnya agak enggan Ana mencantumkan nama Samuel sebagai walinya. Dia merasa terlalu banyak merepotkan Samuel tapi apalah dikata, Samuel sendiri yang menyuruhnya agar mencantumkan namanya sebagai wali Ana. Ana tak punya pilihan lain selain mempercayai pria itu terlebih ketika kedua orang tuanya telah tiada.
"Ya." jawab Ana singkat. Staf itu tidak bertanya lagi dan memberikan berkas persyaratan itu pada seorang wanita di samping yang kemudian meminta Ana untuk duduk agar di foto. Tak berapa lama Ana telah mengantongi kartu mahasiswa tanda dirinya telah resmi menjadi mahasiswi di kampus tersebut.
Setelah itu dia kembali bertanya pada beberapa mahasiswi untuk menunjukkan jalan ke fakultas bisnis jurusan manajemen. Setibanya di sana, Ana menggerutu kesal karena dosen telah masuk. Dia enggan jadinya untuk berjalan ke dalam.
Dosen yang melihat Ana lantas menghampiri gadis itu agar bertanya. "Maaf kau cari siapa?" Ana mengumbar senyuman tipis.
"Maaf Bu, saya mahasiswi baru di jurusan manajemen. Nama saya Ana Erickson."
"Oh begitu silakan masuk." Ana hanya menganggukan kepalanya pelan lalu masuk selekas mungkin untuk mencari tempat duduk.
Karena hal itu juga dia diperhatikan oleh orang-orang yang satu ruangan dengannya namun Ana tak peduli dan mencoba untuk bersikap tenang.
"Ana, aku harap ini adalah terakhir kalinya aku mendapatimu terlambat. Jangan lakukan kesalahan ini lagi, apa kau paham Nona Erickson?"
"Baik bu." Pelajaran kembali dimulai. Seperti tekad Ana, dia mendengarkan dengan saksama.
Dua jam bergelut akhirnya pelajaran selesai. Ana ingin sekali menuju kantin jadi dia berniat untuk keluar mencari. Namun belum sempat Ana bergerak, beberapa pria datang menghampiri kemudian bertanya banyak hal.
Gadis yang berusia 18 tahun tersebut hanya mengucapkan kata maaf tanpa berminat menjawab pertanyaan mereka kemudian pergi. Ana memegang dadanya yang berpacu dengan cepat.
Entah mengapa dia merasa yakin bahwa Samuel bukanlah orang bodoh yang meninggalkannya dalam keadaan tanpa pengawasan. Dia itu punya banyak uang maka kemungkinan besar adalah Samuel pasti membayar beberapa orang untuk memata-matai Ana.
"Ana!" Langkah Ivana terhenti kemudian menoleh ke asal suara yang lantas membuatnya tersenyum. Orang yang memanggilnya adalah Sheila, dia satu sekolah dengan Ana tapi tak dekat. Wajar jika dia berada di sini, Sheila adalah anak dari orang kaya dan juga memiliki otak yang cerdas.
Berada di tempat ini mungkin bukanlah hal yang sulit. "Kau kuliah di sini?" Ana mengangguk cepat.
"Sheila ... aku merasa senang kau berada di sini. Setidaknya ada satu orang yang aku kenal, kau ada di jurusan mana?"
"Akutansi. Kalau kau?"
"Manajer." Sheila mengangguk paham. Dirinya lantas mengajak Ana untuk ke kantin karena dia juga merasakan kelaparan. Dalam perjalanan langkah Ana terhenti mendengar segerombolan mahasiswi tentang bergosip tentang pemilik sekolah yang juga menjabat sebagai pemimpin perusahaan terkenal.
Gosipnya adalah bahwa sang pemilik telah menghamili mantan tunangannya namun dirinya tak bertanggung jawab dengan alasan bayi yang berada di dalam kandungan mantan tunangannya bukanlah miliknya. Permasalahan ini tentu saja menjadi kontroversi, ada pendapat negatif dan positif sama seperti yang dikatakan oleh sekelompok mahasiswi itu.
"Jahat sekali Tuan Samuel, tega sekali dia tak mengakui perbuatannya!"
"Memang sih seperti itu laki-laki!"
"Aku kenapa ya tak percaya soalnya Tuan Samuel itu tak terlihat seperti orang yang bertindak seperti itu."
Ana menautkan alisnya. Tuan Samuel? Ana menggelengkan kepalanya. Tak mungkin Samuel yang dikenal, bisa saja itu orang lain. Di dunia ini, kan banyak sekali orang yang bernama Samuel. Tunggu sebentar ... kenapa dia memikirkan Samuel?
"Ana ...." Ana tersadar dan memalingkan wajah ke arah Sheila.
"Kau kenapa? Ayo kita pergi." Sheila dan Ana akhirnya sampai ke kantin lalu dengan cepat memesan makanan.
"Eh iya dari tadi aku dengar tentang gosip pemilik sekolah. Apa itu benar?" Mata Sheila memicing.
"Memangnya kau tak nonton tv, berita itu besar loh di mana-mana. Yah karena Tuan Samuel itu pria yang kaya raya, Presiden Direktur lagi." seloroh Sheila kemudian menyeruput jus strawberry di depannya.
"Dia itu ganteng, mapan. Siapa sih yang tak mau dekat dengannya, aku pun ingin." lanjutnya. Kedua matanya menoleh ke arah tv yang dinyalakan.
"Itu dia," Ana melirik dan menemukan Samuel yang dia kenal. Sontak mata Ana terbuka lebar. "Ap-apa dia orangnya? Pemilik kampus?" tanya Ana gugup.
"Iya, memangnya kenapa? dan lalu kenapa kau terkejut sekali seperti melihat setan." Ana tak mendengar ucapan Sheila kali ini dia lebih memusatkan perhatian dengan pikirannya. Jadi itu sebab kenapa Ana mudah sekali diterima. Samuel adalah pemilik dari universitas tersebut. Universitas DAMAWASA!
Catatan author : maaf ya readers kalau ceritanya kurang berkenan. Author masihlah penulis amatir yang baru belajar menulis. Terima kasih juga atas sarannya!