Sebenarnya apa salahku sehingga mereka sangat membenciku, bahkan dia tega memperkosa ku dan terus membuatku menderita.
Aku ingin ingin bertanya pada mereka, tapi aku sama sekali tidak punya keberanian. Apakah hidupku akan terus begini. Lalu, bagaimana dengan janin yang ada di kandunganku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'm Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Aneh.
Ayah dan ibu tiriku memberi kabar jika meraka akan tinggal di Eropa untuk beberapa bulan kedepan. Ini sangat aneh, ibu tiriku biasanya tidak pernah bisa jauh dari putra kesayangannya.
"Kakak kok ngelamun sih." Kata Ribi mendekatiku, dan dia duduk di sebelahku. Aku berada di kolam renang sekarang. Merendam kakiku di kolam, menikmati ketenangan yang sangat jarang sekali ku dapatkan.
"Gak papa Ribi. Bagaimana dengan keadaan orang tuamu?"
"Mereka sudah lumayan sehat kak."
"Syukurlah, semoga mereka lekas sembuh."
"Semoga kak."
"Adik-adikmu bagaimana?"
"Mereka sudah bisa sekolah kak. Akhirnya biaya sekolah mereka bisa di lunasi, setelah aku bekerja di sini." Cerita Ribi antusias. Di nampak sangat bahagia, aku pun ikut bahagia melihat Ribi yang bahagia, karena bagiku Ribi juga keluargaku.
"Mereka sudah bisa membaca kak. Aku senang sekali, aku akan berusaha lebih giat agar mereka bisa sekolah lebih tinggi dari aku." Lanjut Ribi.
"Kakak juga akan membantumu."
"Lebih baik uang yang kakak punya di simpan saja kak. Ribi tidak apa-apa kok."
"Tidak apa-apa Ribi. Kakak senang membantu mu"
"Terima kasih kak. Kakak baik sekali."
Aku memeluk Ribi dengan penuh kasih sayang. Aku akan melindunginya sebisaku, tidak akan ku biarkan ada orang yang menyakitinya.
Setelah dari kolam renang, aku membantu bu Lela untuk memasak untuk makan siang. Bu Lela sempat menolak, tapi aku memaksa.
"Ayamnya di goreng lebih garing lagi bu. Kak Xavier suka ayam yang garing." Kataku saat melihat ayam yang di goreng bu Lela kurang garing, tapi bu Lela sudah mau mengangkat ayamnya.
"Menang tuan muda suka makan apa nak?"
"Kak Xavier sangat suka ayam dan jamur bu. Dia sebenarnya bukan orang yang rewel soal makan. Kak Xavier akan memakan apa saja, selama makanan itu bisa di makan."
"Tuan unik juga ya nak!"
"Kak Xavier hanya susah makan jika sedang sakit." Kataku lagi.
"Kalau sakit jangan hidangkan bubur. Dia sangat tidak suka." Lanjutku.
"Harus di kasih apa non?" Tanya bu Lela penasaran.
"Berikan saja kentang yang di tumbuk di beri sedikit garam dan merica"
Buk Lela tampak tersenyum dengar penjelasku. saat aku berbalik untuk mengambil piring, betapa terkejutnya aku melihat Xavier yang sudah bersandar di dinding. Entah sejak kapan dia disana, tapi sepertinya suasana hatinya sedang baik.
"K-kakak butuh sesuatu?" Tanyaku gugup. Salah-salah dia bisa mengamuk.
" Tinggalkan kami berdua bik!" perintah Xavier. Aku langsung memberi kode agar bu Lela mematuhi perintah Xavier.
Setelah bu Lele meninggalkan kami. Xavier duduk di meja makan.
"Gw mau makan. Cepat ambil!" Aku segera melaksanakan perintah Xavier.
"Tarok."
"Biak kak." aku mengambil piring dan meletakan nasi di piring Xavier. Aku juga meletakan ayam goreng dan sayur capcay, tapi aku menyisihkan wartelnya. Xavier sangat tidak suka pada wartel.
"Ini kak." Aku meletakan piring uang berisi makan ke depan Xavier.
"Apa aku seperti monster?" Tanyanya menaikan sebelah alisnya.
"Gak kak."
"Trus kenapa badan lo gemetaran."
"Maaf kak."
"Karena suasana hati gw baik sekarang, lo gw maafin."
Syukurlah Xavier tidak marah padaku, Xavier melanjutkan makanya dengan pelahan. Dengan isyarat dari matanya, dia menyuruhku duduk di sampingnya. Aku pun duduk di sampingnya dan menuangkan air pada gelas dan memberikannya padanya.
Selama makan Xavier tidak berbicara lagi, dan aku pun tidak berani memuai pembicaraan dengannya.
"Apa hubungan lo dengan Nuga?" Tanyanya membuatku kaget setengah mati. Kenapa Xavier bertanya seperti itu?
"Tidaka ada kak." Kataku sejujurnya.
"Lo pasti suka dia kan?" Dari pada bertanya, kalimat yang keluar dari mulut Xavier lebih mengarah pada tuduhan.
"Gak kak." Kataku tegas. Saat menyadari jika aku menaikan nada bicaraku padanya, aku langsung membekap mulutku.
"Ingat lo gak pantas buat dia."
Setelah mengatakan hal itu, Xavier menyudahi makanya dan beranjak dari meja makan. Setelah ke pergian Xavier, bu Lela dan Ribi datang dengan wajah khawatir.
" Syukurlah kakak tidak apa-apa." Kata Ribi dengan nada lega, bu Lela sama leganya dengan Ribi.
"Aku tidak apa-apa. Suasana hati kak Xavier hari ini sedang baik."
Mereka tersenyum mendengar penjelasanku. Semoga Xavier terus memiliki suasana hati yang baik untuk kedepannya.
"Kak tadi ada yang nelpon. Orang itu memacari kakak!"
"Nilam?" Tabakku. Ribi menggeleng, selain Nilam siapa lagi yang mencari ku.
"Seorang laki-laki kak. Namanya Nu......... Maaf kak aku lupa."
"Tidak apa-apa."
Bu Lela membersihkan meja makan dan Ribi membantunya. Kenapa Nuga mencari ku, ada apa sebenarnya?
Saat aku melihat telepon ingin sekali aku menelepon Nuga dan bertanya padanya, tapi aku tidak punya nomor handphone nya ataupun nomor telepon rumahnya. Aku tidak di izinkan mengunakan handphone. Berhubungan dengan Nilam saja mengunakan telepon rumah.
"Ribi, apakah Nuga mengatakan sesuatu?" Tanyaku membaut bu Lela dan Ribi menoleh kearahku.
"Tidak kak."
"Nuga siapa nak?" Tanya bu Lela penasaran.
"Dia teman kak Xavier bu. Mereka sering berkumpul bersama."
Ribi dan bu Lela hanya mengatakan o secara bersamaan. Mereka pasti mengira jika Nuga orang yang sama kejamnya dengan Xavier hingga malas bertanya lagi.
**********
Aku terus berfikir kenapa Nuga mencariku. Apakah dia juga merencanakan hal yang jahat padaku, tapi rasanya tidak mungkin. Nuga orang yang baik, aku sering melihatnya membantu orang dulu.
"Ada apa sebenarnya?" Bisik ku lirih. Semoga ini bukan hal yang buruk.
Pintu kamarku tiba-tiba terbuka, dan Xavier yang melakukanya. Xavier membawa banyak sekali buku, melihat dari covernya itu komik dan novel. Dia melempar buku itu ke lantai, dan menimbulkan suara yang kuat. Tubuhku sampai tersentak mendengar suara buku yang di lempar olehnya.
"Buat lo. Banyak buku di rumah baca, jadi gw pilih yang udah gak guna lagi." Katanya pelan. Matanya menatap tajam padaku, jangan bilang Xavier marah lagi. Tubuhku gemetar melihat dia maju kearahku.
"Lo gak mau?"
"Mau kak." Aku langsung mengambil buku-buku itu dari lantai dan meletakannya di meja belajarku. Buku ini masih terlihat baru.
"Terima kasih kak."
"Em........." Balasnya lalu pergi.
Xavier sangat aneh hari ini. Tidak biasnya dia berbaik hati, mungkin suasana hatinya memang benar-benar sedang sangat baik. Walau begitu aku tetap merasa Xavier sangat aneh.
Aku memeriksa buku yang di berikan Xavier. Buku ini terdiri dari novel yang populer dan bahkan ada komik yang viral tahun ini. Dia mungkin tidak membutuhkan buku-buku ini lagi, lagipula Xavier dapat membeli buku baru dengan uang yang dia milik. Xavier tidak pernah kekurangan apapun, Ayah kandungnya adalah seorang milyarder.
Aku tidak ingin berpikir tentang keanehan Xavier lagi. Lebih baik aku membaca buku saja. Kebetulan semua buku ini, aku ingin membelinya tapi aku tidak punya cukup uang. Harga buku-buku ini sangat mahal, jadi malam ini aku akan menikmati buku-buku ini.
ngapain juga masih disitu...😡😡
hahahah