NovelToon NovelToon
Rosaline

Rosaline

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 4.8
Nama Author: Nindy alivia

Semenjak kejadian malam itu, kehidupan Rosaline berubah 180 derajat, ketika Rosaline mengetahui dirinya hamil. Dirgantara Delta Lelaki tampan nan arogan itu, tidak mengakui janin yang dikandung oleh Rosaline. Sehingga membuat Rosaline harus pergi jauh dari Dirga.

Dirga mulai mencari Rosaline, tapi Rosaline tidak kunjung ia temukan, bagaikan hilang di telan bumi.

Dan selama pencarian Rosaline, ada seseorang yang mengisi kekosongan dalam hidup Rosaline. Yaitu, mantan kekasihnya sewaktu dulu. Cosmos Orlando. Dan hari hari Rosaline, mulai hidup kembali dengan kedatangan Cosmos. Cosmos datang dan menyamar luka pada diri Rosaline.


(sapa author via Instagram : @nindyalivia_)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nindy alivia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jantung yang berdegup kencang

Steffi mendongakkan kepalanya berusaha untuk memberhentikan air matanya yang turun secara bebas. Namun, usahanya tak membuahkan hasil. Steffi menaruh kepalanya diatas stir.

Tinnnnnn.

Suara klakson dibunyikan panjang. Steffi mendongakkan kepalanya karena kaget. Menyadari itu adalah ulahnya dan itu membuat dia meringis.

Tok... Tok... Tok...

Steffi menoleh kearah kaca mobil yang di ketuk oleh seseorang. Lalu Steffi menurunkan kaca mobilnya dan melihat sosok yang ia rindukan.

"Jayden Martin". Ucap Steffi dengan pelan. Namun masih bisa didengar oleh sang pemilik nama. Dan pemilik nama itu juga terkejut, karena melihat gadis yang ia rindukan sejak dulu. Akhirnya ia memukan gadisnya.

***

Kini Steffi dan Jayden tengah berada di salahsatu cafe yang yang berada di kawasan Jakarta. Mereka sama sama saling menatap, tanpa mau mengeluarkan satu kata pun.

Steffi menatap Jayden dengan datar, begitu juga dengan Jayden. Hawa tegang menyelimuti mereka. Mereka hanya tidak tau caranya untuk saling bertegur sapa ataupun sekedar untuk bertanya.

Jayden berdehem lalu berusaha untuk mencairkan suasana yang tegang.

"Ha...hai," Ucap Jayden dengan mengangkat satu tangannya dengan kaku.

Steffi menelan Salivanya dengan susah payah dan berkata dengan berat.

"Hai..." lalu Steffi tersenyum kikuk.

"Apa kabar?" ucap Jayden dengan gugup.

"Baik, kau sendiri. Apa kabar?" tanya kembali Steffi dengan wajah tegangan.

Jayden membuang nafasnya, ia merasa kalau sekarang adalah bukan dirinya sendiri. Steffi juga membuang nafasnya secara perlahan, lalu membuang arah pandangnya keluar jendela cafe. Suasana hening kembali menyelimuti mereka. Mereka hanya belum siap untuk bertemu dan bahkan untuk saling berbincang. Jantung mereka sama sama berdegup dengan kencang. Karena suasana mulai aneh, Jayden dan Steffi pun mulai membuka pembicaraan secara bersamaan.

"Aku..."

"Kau..."

Ucap mereka secara bersamaan lalu mereka tertawa dengan garing.

"Kau duluan," Ucap Jayden.

"Aku... Aku..." sebenarnya Steffi ingin bertanya. Apa alasan Jayden meninggalkannya pada saat ia masih mencintainya. Hanya saja mulut Steffi terasa berat untuk mengucapkannya.

Jayden menatap Steffi dengan serius, Jayden menunggu kalimat yang ingin diucapkan oleh Steffi.

"Aku merindukanmu," ucap Steffi lalu menundukkan kepalanya karena malu. Ia memang merindukan sosok Jayden, namun belakangan ini ia bisa melupakan sosok Jayden sebentar, karena Steffi telah mendapatkan sosok pengantinya. Yaitu Dirga.

Jayden mebelakakan matanya. Ia terkejut mendengar ucapan Steffi yang terbilang berani, ia juga rindu kepada Steffinya. Baru ingin mengucapkan kata rindu, Steffi lebih dulu bersuara.

"Tapi itu dulu..." lanjut Steffi.

Jayden terdiam, ia memang salah karena meninggalkan Steffi tanpa sebuah alasan.

"Ada banyak kata 'kenapa' yang ingin aku tanyakan kepadamu. Tapi aku tidak yakin kalau kamu bisa menjawab semua pertanyaan ku?" ucap Steffi dengan mata yang sudah memerah. Steffi menyadari, jatungnya berdegup kencang pada saat berdekatan dengan Jayden dan itu masih berlaku sampai sekarang.

"Apa yang ingin kau tanyakan? aku akan dengan senang hati menjawabnya," Ucap Jayden sembari menatap Steffi. Ini adalah waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya, ia akan memberitahukan alasan kenapa ia pergi begitu saja dari Steffi.

"Kenapa kau meninggalkanku? Kenapa kau tiba tiba menghilang? Kenapa kau datang ketika aku berusaha melupakanmu? Kenapa kau datang disaat seperti ini?" ucap Steffi dengan airmata yang sudah luruh. Pertanyaan yang menurutnya tidak akan pernah ia lontarkan kepada Jayden, akhirnya ia lontarkan juga. Sepertinya hal yang mengganjal dipikirnya hilang juga.

Mendengar pertanyaan Steffi membuat hati Jayden berdenyut nyeri. Ia tidak menyangka meninggalkan Steffi seperti ini adalah sebuah kesalahan yang ia buat. Jayden megenggam tangan Steffi lalu menatap mata Steffi dengan dalam.

"I'm sorry, baby. Aku gak bermaksud buat ninggalin kamu. Kamu tau? Pada saat itu, perusahaan aku berada diambang kebangkrutan. Lalu aku pergi ke pusat cabang yang berada Amsterdam. Selama beberapa tahun ini aku berusaha mengembalikan semuanya dan semuanya kembali. Kecuali kamu," Ucap Jayden dengan serius.

Steffi menarik tangannya dan menggelengkan kepalanya dengan tegas.

"Kamu bohong!"

"I'm serious, baby," ucap Jayden kembali.

"Aku harap kamu tidak melupakan aku. Aku harap, kamu belum mempunyai pria lain dalam hidupmu," ucap Jayden dengan sorot mata sendu.

Steffi tersenyum samar dan berkata.

"Tentu aku punya."

Jayden menegangkan tubuhnya dan berkata.

"Aku berusaha untuk mengembalikan keadaan. Dan kamu..." Ucapan Jayden terputus, karena Steffi memotongnya.

"Karena kamu tidak pernah menyuruhku untuk tetap tinggal di sampingmu," Ucap Steffi dengan sedikit emosi. Kenapa seolah olah ia adalah yang salah disini. Pikir Steffi.

Jayden menundukkan kepalanya. Ia memang salah dalam mengerti Steffi atau memang wanita sulit dimengerti.

"Aku hanya ingin membuktikan, aku tidak mau memberimu janji yang tidak bisa aku tepati. ku hanya ingin, ketika kita menikah nanti. Kau dan anak anak kita tidak susah dan kelaparan," ucap Jayden lalu mengangkat kepalanya menatap Steffi.

Steffi terkejut mendengar penuturan dari Jayden. Jayden sukses menyentuh hatinya karena sikapnya itu. Steffi menutup mulutnya, ia tidak bisa berbicara apapun lagi. Steffi binggung. Hatinya menginginkan Dirga, tapi jantung masih berdegup untuk Jayden.

Steffi berdehem lalu berdiri dan berkata.

"Maaf, aku sudah memiliki kekasih. Dan sebentar lagi, aku akan bertunangan,"

Jayden menatap Steffi dengan datar.

'Tak taukan dia, kalau hatiku berdenyut nyeri,'  Batin Jayden.

"Bagaimana bisa, kau memilih dia yang sudah jelas tidak mencintaimu," Ucap Jayden dengan menatap Steffi.

"Bagaimana kau bisa tau? Kalau dia tidak mencintaiku? Jelas saja dia mencintaiku," Ucap Steffi sembari mengangkat dagunya.

Jayden berdesis meremehkan ucapan Steffi.

"Karena aku dan dia sama sama lelaki. Aku tau, bagaimana sikap pria yang mencintai wanitanya dan melihat sikap dia kepada mu, sepertinya dia tidak mencintaimu," Ucap Jayden lalu Jayden menyenderkan tubuhnya ke kursi.

Steffi terdiam dan memikirkan ucapan Jayden. Jayden benar, Dirga memang tidak mencintainya. Namun, dengan tegas Steffi menggelengkan kepalanya.

"Cinta itu pasti tumbuh dengan seiring berjalannya waktu. Kata orang cinta akan tumbuh karena saling memiliki dan kita saling memiliki satu sama lain," Ucap Steffi yang tak mau kalah.

"Itu baru kata orang. Kau hanya memaksakan kehendak. Kau tau? apa yang dipaksakan itu tidak akan baik hasilnya," Ucap Jayden yang sudah gerah dengan materi pembicaraan mereka. Jayden pikir, setelah ia mengajak Steffi untuk bertemu. Mereka akan kembali bersatu, namun pikiran Jayden meleset Jauh.

Steffi mengebrak meja karena kesal lalu Steffi menyampirkan tas selempangnya dibahunya dan berkata.

"Aku benci kamu!"

"Benci dan cinta itu beda tipis. Ya... Aku juga mencintaimu, sayang," ucap Jayden yang diakhiri dengan senyuman.

Steffi berdengus kesal, lalu menghentak kakinya dilantai dan pergi meninggalkan Jayden sendiri. Jayden meraih gelas yang ada dimeja, lalu menyeruput minumannya sembari melihat punggung Steffi yang mulai menghilang dari pandangannya. Setelah minumannya habis,  Jayden menaruh gelas itu diatas meja. Lalu Jayden pergi meninggalkan cafe itu dengan batin yang berbicara.

'Ini waktunya untuk aku berjuang lagi. Aku akan mengembalikan semua yang seharusnya menjadi milikku. Apa yang menjadi milikku, akan tetap menjadi milikku. Termaksud kamu, Steffi ku sayang,'  ucap Jayden dalam hati. Inilah Jayden yang sebenarnya, penuh dengan ambisi.

***

Steffi mengendarai mobilnya dengan tidak fokus. Semua masalah seakan datang secara membabi-buta. Masalahnya bersama Dirga, kakaknya, dan kak Ros, ditambah lagi dengan kehadiran Jayden yang secara tiba tiba. Menambah list masalahnya.

"Kyaaaaaaaa......" teriak Steffi didalam mobil. Ia sangat kesal, ia ingin menumpahkan semua beban masalah, tapi kemana ia harus pergi.

Tanpa Steffi sadari ia menginjak pedal gas dengan sangat dalam.

Krit.

Suara ban yang bergesekan dengan aspal. Steffi kaget, karena melihat segerombolan orang yang sedang mengelilingi sesuatu. Steffi menegakkan tubuhnya, berusaha untuk melihat apa yang orang orang itu lihat.

Karena penasaran tingkat dewa, dia pun membuka seat beltnya lalu turun dari mobilnya. Steffi berjalan menerobos kerumunan orang itu. Steffi membelalakkan matanya lalu dengan refleks ia menutup mulutnya. Kakinya terasa lemas, karena melihat korban kecelakaan itu. Steffi tersungkur jatuh didekat korban itu, Steffi berusaha membangunkan korban itu dengan cara menepuk nepuk pipinya.

"Bangun, kak," ucapnya dengan air mata yang sudah deras.

"Kak Ros... Bangun... Please..." ucap kembali Steffii dengan jatung yang berdebar kencang, Steffi takut terjadi apa apa dengan Ros yang sudah terbujur kaku dengan tubuh yang penuh dengan darah.

Steffi baru teringat akan kandungan Ros. Steffi menatap warga yang berkumpul dan berkata.

"Tolong bantu aku! Masukan dia kedalam mobil! Aku mohon..." Ucap Steffi sembari memohon.

Lalu tak beberapa lama warga pun membantu Steffi untuk mengangkat Ros masuk kedalam mobil.

Steffi mengendarai mobilnya dengan tangan yang bergetar dan jantung yang berdegup dengan kencang. Airmatanya pun tak kunjung berhenti. Ia hanya takut terjadi apa apa dengan Ros dan anaknya.

"Kak Ros, bertahan lah...."

   ***

Steffi terus berjalan mondar mandir didepan ruang dimana Steffi berada. Ia sangat takut sekarang. Steffi baru tersadar, ia harus menghubungi kakaknya. Steffi merogoh tasnya dengan tangan bergetar hebat, lalu ia mulai mencari nomor kakaknya dan mulai mendialnya.

"Halo..." ucap Cosmos dari seberang telepon.

Steffi terisak sembari berkata.

"Tolong... Kak, aku takut... Kak Ros... Kak Ros kak. Tolonglah dia, kak," ucap steffi dengan panik.

"Ada apa?! Beritahu aku? Bicaralah dengan benar."

"Aku menemukan dia dijalan. Dia kecelakaan, kak,"

"Apa?!"

Lalu steffi memberitahukan alamat rumah sakit dimana ia berada sekarang dan tak lama telepon pun mati secara sepihak.

Steffi melepaskan ponselnya dari kupingnya dengan tangan yang lemas. Steffi terus menatap ruangan dimana Ros berada, ruangan itu masih menunjukkan lampu merah. Itu tandanya pasien masih dalam perawatan.

"Bertahanlah, kak," ucap Steffi dengan lemas.

Kring... Kring...

Merasakan Ponselnya bergetar karena telepon masuk. ia pun menggeser tombol hijau yang ada dilayar ponselnya tanpa melihat dulu nama si pemilik nomor itu.

"Kakak!. Cepat datang... Hiks... Aku takut... Bagaimana jika kak Ros..." ucapannya terhenti, karena ia tak sanggup memikirkan kemungkinan yang buruk terjadi.

"Ada apa? Ini aku Dirga," ucap Dirga dengan panik. Steffi tersadar dari lamunannya, lalu menjauhkan ponselnya dan melihat nama yang tertera disana.

'mybae❤'

Airmatanya Steffi turun lagi, namun isakannya lebih kencang. Sehingga terdengar oleh Dirga.

"Halo... Steffi. Kau dimana?"

"Steffi! Jawab aku!"

Steffi menempelkan kembali ponselnya di telinganya dan berkata.

"Aku di Cendikiawan hospitality"

Pip.

Telepon dimatikan secara sepihak. Steffi melepaskan ponselnya dari telinganya dan menatap ponselnya itu dengan miris.

"Siapa yang kau khawatir kan?" tanya steffi pada ponsel yang menampilkan layar hitam.

1
Yulianahh Yuli06
si ros nih begoo knpa dia ga ngomong aja klo udh punya pasangan dan akan menikah gedek
Ryuken
Masih bingung
Enni Etiningsih
penulis mebuat cerita untuk bab ini menggunakan alur mundur, jadi pembaca harus menyimak lebih teliti
Tri Utami Iin
Thor maaf ni ya, mau usul mending buat bubur merah putih gih si cosmos, ganti nama Thor, ga enak banget pas bagian baca namany 😂
Jangan marah ya thor
Tri Utami Iin
cosmos kakaknya miyako kan thor 😅
Love
lah si cosmos kiss sama sepupunya?
Rini Haryati
bingung
Rini Haryati
kerren dan mantap
sukses....semangat
mksh
Amrih Ledjaringtyas
gantungan y
Alfiatun Khasanah
happy ending 👍👍👍
Maria Agustina Bungalay
alasannya kok sama persis seperti alasan Dirga
Maria Agustina Bungalay
ngakak aku thor baca kalimat terakhir
Haruno SYakura
ultramen cosmos hehehe
OnyaF
cerita sekeren ini banyak yang bilang gak jelas ya? padahal menurutku cerita seperti ini sangat bagus dan pantas dibuat film... 🥰

aku bacanya pake perasaan banget sih, jadinya ngena. apalagi baca sambil dengar lagu, uhhh...
nindya: Hii, terimakasih telah menbaca cerita ku ❤️
total 1 replies
OnyaF
keren, kena banget kalo baca sambil dengar lagu free with you 🥰☺️
Bang Zait
Ga jelas ceritanya, gampang sekali mngucapkan kata cerai pdahal baru nikah
ini kesannya memberi dampak - pada pembaca.
Amalia
author season 2 nya mana nih,kok gak di lanjutin
Sulati Cus
nyesek pk bgt salah mu rose yg g tegas sm perasaan mu
Sulati Cus
kau slh Stefi, Dirga bkn malu tp cemburu 😂
Sulati Cus
y ternyata bener dunia cm selebar daun kelor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!